Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
34. Ikatan Hati



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Raut kencang dari Efrain mengendur, ketika panggilan teleponnya terhubung berkali-kali ke ponsel Alda yang tak diangkat.


Harusnya ia menjemput Alda tengah hari itu, tapi karena klien bisnis dari Belanda ingin bertemu. Maka terpaksa dia tak bisa menjemput Alda di Bandara Kinshasa.


"Ck, kau di mana sih, Al?" Efrain menyugar rambutnya dengan kasar. Membanting tubuhnya ke kasur dan terlentang.


Sudah tengah malam tapi kekasihnya itu belum juga mengangkat telepon darinya. Padahal sejak siang tadi, Alda dan Efrain sudah janjian akan video call setelah Alda memiliki waktu senggang.


Ternyata Alda mengingkari janji dan entah kenapa Efrain menjadi tak tenang. Ia masih terus mencoba untuk menelepon, walau tak kunjung diangkat.


Drrt, drrt ...


Ponsel milik Alda bergetar di atas meja dekat laptop yang masih on itu. Tak berdering karena wanita itu mengaktifkannya dengan mode silent.


Kegelisahan sama dirasakan Richard di Sweedie Bar. Di sebelah kanan dan kirinya sudah ditemani dua wanita cantik nan seksi yang bergantian mengeksploitasi miliknya. Namun, Rich menampilkan raut ketidak puasan.


Firheith merasa kali ini Rich tampak kusut. "Ada apa denganmu, Rich? Permainan mereka kurang hot?"


Wajah Rich terangkat, mengerling ke Firheith dengan datar. Sebelum memusat lagi pada dua iblis ini.


"Pergilah!" suruh Rich meminta kedua wanita gila lollypop itu berhenti.


Wajah mereka tampak kecewa, tapi lemparan uang di pahanya membuat mereka kembali berbunga-bunga.


"Terima kasih sayang," genit mereka akan mencium pipi Rich tapi pria ini menyingkir.


"Jangan sentuh aku!" sarkasnya membuat Firhaith menaikkan alis.


Biasanya Rich tak pernah absen mengetes barang baru masuk dan justru ia lah yang paling berambisi, menerbitkan peraturan itu.


Aneh!


Sementara Firheith sudah puas menurunkan tegangan suhunya di salah satu bilik di sweedie bar. Kini ia ingin mengobrol berdua dengan Rich saja untuk minum-minum.


"Kau mau tequila lagi?" tawar Firheith mengangkat shot glass. "Cheers!"


"No." Rich menggeleng, punggungnya dihempaskan ke sandaran kursi sambil menyulut rokok.


"Kau memikirkan Tuan Megalodon yang membatalkan transaksi malam ini?" tanya Firheith berpikir itu.


"Bukan. Dia hanya menunda dan tidak membatalkan," jawab Rich. "Dia tak akan berani macam-macam denganku atau besok namanya akan tertulis di batu nisan!"


Firheith mengangguk.


"Lantas memikirkan apa?" heran Firheith yang ikut merokok. "Bagi koreknya padaku?"


"Ambillah atau kau ingin menyulutnya dengan tabung gas elpiji?"


"Sudah tak waras sepertinya kau ini, Rich. Kau ingin aku meledak?" Firheith mendengkus kesal, Rich selalu berkata semena-mena.


Tarikan di bibirnya mengeluarkan kekehan. Rich kemudian acuh sambil membawa pandangannya ke awang-awang.


"Wahai pujangga sek*. Kau ini pasti sedang galau, bukan? Mengaku saja!" desak Firheith jengah akan sikap Rich yang abu-abu.


"Entahlah hatiku rasanya tak tenang." Rich agak malas melakukan apa pun, rokoknya masih utuh tapi dimatikan-nya ke asbak. "Bahkan rokok dan tequila hari ini rasanya hambar!"


"Termasuk duo racun tadi?"


"Maybe yes, maybe no."


Firheith berdecak dan tak habis pikir, lantas menghisap rokoknya lalu mengepulkan asapnya ke udara.


"Apa wanita itu jawabannya?" tebak Firheith merasa yakin, jika Rich belum sanggup melupakan bidadari seksinya itu. Terlebih siang tadi namanya terus menjadi perbincangan.


"Cello?" ungkap Rich.


"Bukan!" geleng Firheith takut mengutarakan, jika nantinya membuat Rich tersinggung.


"Siapa? Aku tak punya teman kencan spesial selain dia," ucap Rich sambil memijat kepala.


"Berinisial AA yang pernah sebulan lalu kau tolong di kereta."


Rich terlihat tak senang Firheith membahas


wanita itu.


"Jangan sebut dia lagi! Aku sudah muak dengannya."


Setelah berucap itu, Rich beringsut dari tempatnya dan meraih kunci mobil di antara botol alkohol yang berjejer.


"Kau mau ke mana?" tanya Firheith melihat Rich akan pergi. Ia tergerak menyusul dari belakang.


"Mau pulang," putus Rich menoleh.


"Ikut, Rich! Aku malas pulang ke rumah!" seru Firheith menyusul.


"Apa takut mamamu marah?" tanya Rich.


"Dia seperti nenek sihir jika marah. Mengerikan dan kau tahu papaku? Kasihan sekali, dia tak berani melawan. Seperti suami-suami takut istri, aku tak suka menyaksikan itu. Papaku terlalu pengecut!" kesal Firheith mengingatnya.


Rich menepuk pundak Firheith, menarik senyum simpul.


"Tapi yang lebih penting, mereka menyayangimu."


"Hanya papa saja, mama tidak! Dia terlalu jahat, I see." Firheith mengatakannya berapi-api.


Nafas Rich mendesah berat, ia berusaha mencairkan suasana. "Come on, Buddy." Rich melempar kuncinya yang kemudian ditangkap oleh Firheith. "Kau yang menyetir!"


"Beres, Bos."


***


Security komplek perumahan elite Leafusto Agbghyt, mengangguk hormat pada Rich setelah membuka gerbang utama.


Mobil Pagani Huayra Tricoler milik Rich melenggang pelan ketika memasuki kawasan itu yang renggang tetangga.


Hingga pada saat mobilnya mendekati sebuah rumah di paling ujung. Tatapan Rich tersita akan nyala lampu Legato, plus tersiar penasaran akan suara musik jedag-jedug itu.


"Rich! Rumah di pojokan itu kelihatannya mengadakan sebuah party!" seru Firheith menunjuk sambil menyetir.


"Itu rumah temanku, Hudson. Dia baru saja pindah hari ini, makanya dia mengadakan party," ungkap Rich tak membuang pusatnya mata ke rumah itu dengan perasaan caruk maruk.


"Kenapa kita tidak bergabung saja?" tanya Firheith. "Sepertinya party sebelum tidur akan menyenangkan, di tambah lagi ada para wanita. Huh!" Pria ini mengedik senang.


"Dasar kadal!" maki Rich.


"Kau pun buaya! Sesama jenis reptil dilarang saling menghina!" balas Firheith tak terima.


"Ah, sudahlah. Aku sedang tak ingin berdebat, tapi boleh juga kalau kita mampir. Kalau diusir kita berkelahi saja, omong-omong tanganku gatal karena sudah lama tak senam jari. "Do you agree with me, Buddy?" tanyanya.


"Sure!" Firheith membelokkan mobil pagani itu ke pinggiran jalan rumah milik Hudson.


Rich dan Firheith beriring langkah tegap menuju pintu dan jantung Rich semakin terpacu begitu telinganya mendengar jeritan wanita di dalam.


"Itu?" Rich menyebut dengan mata membulat sempurna, lalu menoleh pias kepada Firheith.


"Itu apa?" Firheith mengedikkan dagu sebagai tanya.


Tanpa menjawab lagi, Rich merasa yakin siapa pemilik suara itu. Dia seketika menerobos masuk tanpa permisi.


BRAKKK!


Sekali tendangan, Rich menjebol pintu itu. Penghuni di dalam terkesiap dan mengerubungi Rich. Firheith langsung bersiap memegang pistol untuk berjaga-jaga.


"Siapa kalian?" tanya mereka tak ramah.


"Kami juga tamu," jawab Firheith.


"Tamu tak diundang?" sengitnya memasang kuda-kuda akan menyerang.


"Aku teman dari Hudson, di mana dia?" Rich tak melihat Hudson berada di antara mereka.


Mereka tertawa keras, meleburkan suara Alda yang tersadar dari pingsan. Sedang memperjuangkan harkat martabatnya dari Hudson yang memaksakan kehendak. Walau ia harus berdarah-darah karena sempat dipukul oleh pria itu.


"Hudson sedang bercinta di kamar. Tunggulah sebentar dan nikmati sajian ini? Mau yang merah, kuning, hijau atau biru?" tawar mereka pada setiap wanita seksi yang mengenakan pakaian berwarna jenis itu.


"Damn it! Mereka sudah seperti pelangi saja!" geleng Firheith tak percaya melihat wanita itu, yang sedang memberi tatapan genit terutama pada Rich.


Rich semakin yakin, jika itu Alda. Karena ia hafal bagaimana suara wanita tersebut, walau pelan atau pun keras.


"Fir, lindungi aku!" perintah Rich menoleh datar ke Firheith yang paham harus apa.


Kepala Firheith mengangguk, Rich melenggang bebas menuju kamar tertutup yang sangat ia yakini. Jika belahan hatinya berada di dalam sana.


Rich mendobrak pintu itu dengan tendangan taekwondo daseos dollyo chagi yang dikuasai.


"Kyaaa!"


BRAKKK!


Pintunya jebol ke dalam dan gebrakannya membuat Hudson yang berada di atas Alda, sedang berusaha memperk*sa pun menoleh nanap ke arahnya.


"Rich ..." lirih Alda menjatuhkan titik basah itu, lega superhero nya datang menolong.


Sempat mengerling pada Alda yang miris itu, mata zamrud hijaunya kini memancarkan kilat bak mata pedang. Hati Rich seakan tersiram air keras yang membuatnya kalap.


Rich mengangkat dan mencengkram kerah belakang Hudson lalu menghempasnya ke dinding. Tubuh Hudson bertabrakan dengan dus, meja dan kursi yang seketika hancur.


"Aarggh!" Hudson mengerang ketika tulangnya terasa ikut rontok satu persatu, karena Rich menggunakan tendangan dollyo chagi ke punggungnya.


Krethekk!


Lengan Rich memiting leher Hudson dan memutar kepalanya beberapa derajat. Pergerakan Rich yang gesit membuat Hudson kewalahan dan tak bisa memprediksi, untuk menghindar atau melawan.


"A ... Ampun Rich ... Jangan bunuh aku ..." pinta Hudson yang terbujur di bawah lantai. Dahi, lubang hidung dan mulutnya tampak mengeluarkan darah karena luka dalam. Dari pukulan dan tendangan Rich yang mematikan.


"Jangan berpikir aku akan mengampunimu setan! Kau sudah menyentuh seseorang yang berarti dalam hidupku!" teriak Rich membentak keras pada Hudson yang ketakutan.


Tubuh Alda bergetar mendengar itu, buliran bening bak hujan mengalir dari mata legamnya. Mengangkut rasa penyesalan berlebih, juga sakit bercampur haru dan bahagia. Dalam keterpurukannya yang membuatnya kini tak sanggup bangun dengan tubuh lemah.


Rich ...


Sebesar dan setulus itu kau mencintaiku ...


"D-dia kekasihmu?" tanya Hudson menebak dengan mata membulat, jikalau benar. Berarti tamatlah riwayatnya, siapapun tahu jika Rich adalah pria berbahaya.


Selain sikapnya yang terlihat happy man dari luar, dia mafia sadis yang tak suka bermain lama akan nyawa.


"Tak usah banyak omong, ****!" Rich mengeluarkan senjata api dari balik kaosnya, mengarahkan ke mulut Hudson dan menarik tuas itu.


Doorr!


Peluru itu berenang ke tenggorokan Hudson, dia seketika menjemput ajal dalam damai. Sementara Alda syok melihat itu hingga membeku.


Berikut Firheith yang tergemap di ambang pintu, menyaksikan detik-detik penghabisan Hudson dari tangan Rich. Setelah ia sendiri melunakkan tulang teman-teman Hudson di luar.


"Kenapa kau menghabisinya?" Firheith mendekati Rich, bertanya heran.


"Jika tidak kuhabisi, dia akan membalas dendam pada Alda dan aku tak mau Alda celaka," jawab Rich yang tak bicara apapun lagi.


Berlalu ke atas ranjang, duduk di sebelah Alda lalu memperhatikan sedih keadaan wanita itu. Robekan kain di bagian dada, bekas tamparan di wajah dan luka di lengan wanita ini meremas perih hati Rich.


"Kau sudah aman sekarang," ucap Rich memandang Alda yang juga memandangnya.


Setelah itu Rich berpaling dan melepas jaket boomber nya yang kemudian, dikenakannya kini pada Alda. Agar bagian polos dari tubuh wanita itu, tak terlihat oleh pria lain. "Urus mayat Hudson dan antarkan Alda kembali ke rumahnya, Fir."


"Ya," sahut Firheith.


Rich menarik nafas panjang, beringsut lesu. Alda menggeleng tak ingin melihat Rich pergi, Dengan sekuat tenaga ia bangun, Firheith yang hendak menggendongnya pun urung.


Saat menyaksikan Alda tertatih kaki dengan susah payah, untuk menyusul Rich. Kini wanita itu berhasil mencekal lengan Rich dari belakang.


"Tu—tunggu Rich."


Sergahan dari Alda secara tak sadar, menggerakkan motorik halus dari tubuh Rich berhenti di tempat.


"Pergilah bersama Firheith," pelan suara Rich, memandangi Alda yang kini berdiri di hadapannya dengan berlinangan air mata.


Alda menggeleng. "Apakah semua yang kau katakan tadi adalah benar?"


"Aku tak berkata apapun."


"Jujurlah Rich, apakah kau masih mencintaiku?" tanya Alda berharap itu kian besar.


Tak menjawab, Rich malah menggendongnya. Alda terhenyak memandang pria itu dengan gemuruh di dada dan jantungnya semakin berloncatan. Hingga yang mulanya ragu, perlahan ia mulai nyaman untuk mempererat pelukannya ke dada Rich.