
Alda terlihat meringis kikuk dan cengar-cengir tak jelas. Dia sudah persis orang gila setelah Eve menanyakan tanda merah itu di lehernya.
“Tanda merah ini?” tunjuk Alda ke lehernya, dengan tersenyum begitu percaya diri tinggi. Mengingat bagaimana cara Richard membuat tanda itu, aliran darahnya berdesir cepat. “Aku sudah melakukan itu dengan Richard.”
Kemudian tanpa ragu, Alda menceritakan pengalaman seranjangnya kali ini tanpa paksaan. Awal mula hingga janji hanyalah dia seorang yang dijadikan ratu di dalam hatinya.
“Oh my God, Alda?” Eve memekik, membenarkan prasangkanya yang ternyata benar. Hanya saja, Eve tak mengira jika Alda mau diajak untuk berhubungan sejauh itu.
“Kau sepertinya kurang suka dengan, Rich. Apa salahnya dia, Eve. Kau belum tahu Rich itu sebenarnya baik, manis, penyayang dan perhatian. Sampai-sampai aku merasa nyaman bila berada di dekatnya.”
"Ya ampun Alda, kau sudah dibutakan oleh cinta. Dia kan, playboy. Sudah sering bercinta pula dengan banyak wanita di luaran. Apa kau tak takut tertular H*v atau hanya dibuat mainan olehnya?" tujuan Eve baik untuk memperingatkan.
"Hush! Jangan menuduh sembarangan. Itu dulu, sekarang Rich berbeda," sangkal Alda.
"Dan kau dengan mudahnya percaya mulut buayanya yang suka mengobral janji? Yakin hanya kau saja yang dijadikan teman seranjang atau jangan-jangan ..."
"Cukup Eve. Rich itu mencintaiku luar dan dalam. Jika kau hanya ingin menghina Rich, aku tidak mau mendengarnya!" Alda marah dan tersinggung.
Dia tidak terima siapa pun menghina Rich, karena ia yakin seratus persen kalau Rich tak akan pernah mengkhianatinya.
...----------------...
Akan tetapi, mungkin keyakinan Alda bisa berubah 50:50 atau bahkan minus di bawah nol derajat celcius. Seandainya dia tahu yang sebenarnya tentang Richard Louis. Banyak rahasia di dalam Richard, memicu Alda suatu hari nanti bisa membencinya karena rasa kecewanya yang menggunung.
"Cello, aku datang!" Richard mengetuk pintu kamar wanita itu, setibanya di mansion-nya. Jadi, anak buah Cello batal mencarinya di resort terapung saat Richard datang sendiri.
"Rich." Cello tersenyum lega, akhirnya pria yang ditunggu-tunggu datang menemuinya. Lantas ia pun berdiri penuh semangat dari ranjang dan tak ragu membuka pintu dengan sorot mata yang menampilkan kebahagiaan tak terkira. "Baby, aku rindu!"
Sosok Richard yang berdiri di ambang pintu, langsung disambutnya dengan pelukan hangat. Dia yang lebih mendominasi, tapi Richard tak sekali pun membalas pelukannya.
"Apa kita terus saja begini dan kau tak mempersilakanku masuk?" tanya Rich, begitu Cello tak melepas pelukannya dan semakin membuatnya sesak nafas.
"Oh, tentu tidak baby. Ayo masuklah!" Cello memeluk lengan Richard sangat rekat, seakan-akan takut Richard pergi lagi.
"Aku ada banyak urusan akhir-akhir ini," ungkap Richard cenderung malas sambil duduk di sofa menyilangkan kaki.
"Pantas saja kau susah dihubungi?" Cello tidak masalah. Masih memeluknya, kini Cello berusaha menggapai wajah Richard. Setelah mencium pipinya, dia tergoda akan bibir Richard yang merah itu dan dia bergeser akan menciumnya sambil memejam mata.
Namun, Richard yang tahu segera menghindar dan mengalihkan diri dengan berjalan ke dekat jendela yang memperlihatkan kolam ikan di luar. Bibir wanita mana pun tak memancing gairahnya, karena otaknya hanya mengirim sinyal refleks menerima jika itu adalah bibir Alda.
Cello terjungkal ke depan dudukan bekas Richard, saat ia hanya merasakan udara yang dicium. "Sial!" umpatnya ketika menyadari Richard tak ada di sisinya. "Baby!"
Rengeknya manja, menghampiri Richard di sana dan memeluknya lagi walau Richard begitu risih. Kerap ditepis tapi percuma, Cello terlalu gatal minta digaruk.
Demi membuat Richard tertarik, segala cara dilakukan. Cello sengaja membuka atasnya dan memainkan pucuk itu di depan mata Richard.
"Ahhh! Baby, sentuh aku ..." Cello belingsatan dan menggigit bibir, tangannya merayap ke bagian sensitif Richard dengan suaranya yang teramat manja. Sudah dua hari dia libur dari terjangan tongkat sakti yang begitu dia rindukan, maka itu dia tak tahan dan terus menggoda Richard.
Bukannya selera dan tergoda. Richard hanya memandangnya dengan kening mengerut malah menganggap Cello tak waras.
Dasar wanita haus belaian! Kau pikir aku gig*l*? Segala punyamu tidak menantang dan biasa saja. Sorry aku tak berminat!
"Cello, aku sedang tidak ingin. Aku lelah, lain kali saja." Richard menurunkan tangan Cello.
Tampak kekecewaan tergambar di wajah Cello yang mengerang kesal, saat Richard menolak. Namun, dengan rasa cintanya yang tak ternilai pada pria itu. Dia masih bersabar dan kembali menarik segala puncak gairahnya walau terpaksa.
"Oh, tidak apa-apa baby. Istirahatlah dulu di kamarku, akan kusuruh maid membuatkanmu makanan jika kau bangun tidur nanti." Cello menuntun Richard ke ranjang.
Richard lega, kali ini bisa menghindari belitan gurita. Tapi tidak, cara Cello yang dikatakannya barusan adalah cara klasik. Dia hafal bagaimana urutan Cello memperdayanya dan biasanya hanya kepalsuan untuk menyuruhnya beristirahat di kamar. Karena saat Richard terbangun berikut lelahnya yang sirna, wanita itu akan menerjangnya tanpa ampun.
"Terima kasih atas tawaranmu, Cello. Berhubung aku ada urusan lagi di sweedie bark, aku harus pergi. Maaf," Richard beralasan.
"Ya? Padahal aku sudah menyiapkan teh hangat, minumlah dulu, Baby?" bujuk Cello sambil menunjuk cangkir di atas meja, wajahnya begitu sedih dan Richard pun tak ingin membuat Cello curiga jika ia kembali menolak.
"Baiklah, akan kuminum."
Akhirnya Richard meminum teh itu beberapa teguk, kepala Richard mendadak pusing dengan mata berkunang-kunang. Dia lupa jika Cello selain agresif juga wanita yang cerdik dan licik.
Richard terjerat, malam itu dia terkurung dalam sangkar emas Cello dan tergerus pusaran gairah wanita itu yang menikmati tubuhnya dalam keadaan tak sadar.
...----------------...
Sementara Eve memperhatikan Alda di ruang kerjanya yang terlihat gelisah dan tak fokus di layar laptop, malah kerap memperhatikan ponselnya yang bergeming.
"Dia belum juga meneleponmu, Al?" tanya Eve sambil menaruh segelas jus apel. "Aku baru membuatnya, cobalah! Ini enak, tadi aku menambahkan yogurt dan sedikit es batu."
"Hum, terima kasih." Alda meminumnya sedikit. "Iya, Rich belum juga meneleponku. Padahal dia sudah janji."
Jam dinding ditengok sudah mengarah ke pukul sebelas malam, matanya ingin terpejam. Tapi dia terjaga karena takut jika ia terlewat telepon dari Richard. Sementara Eve memutar bola matanya sambil mengusap punggung Alda yang kini menatapnya tak bersemangat.
"Apa kau masih percaya saja dengannya?" tiba-tiba Eve membuka obrolan tadi siang.
"Kenapa kau selalu berprasangka buruk pada Rich, Eve? Mungkin saja dia sedang sibuk. Rich sekarang menjadi orang penting dan aku tahu sendiri," yakinnya positif thinking.
"Tapi kau menyarankanku memilih dia, bukan?!" kini Alda menyudutkan Eve balik.
"Iya, mulanya begitu. Lalu setelah kau memutuskan tidak memilih keduanya aku lega karena mereka berdua itu sulit dijangkau."
Eve berniat baik tapi Alda rupanya salah paham. Setiap apa yang dikatakan tentang Richard selalu disangkal dan keduanya jadi beradu mulut. Alda yang yakin hatinya mengatakan Richard setia, tidak Eve yang membelokkan hatinya.
"Lihat cincin ini! Dia melamarku walau belum resmi!" sentak Alda pada Eve yang kekeh menjelekkan Ricahard, ia sudah kehabisan kata dan lelah berdebat. Ia mau Eve percaya dan tak meragukan Richard lagi.
"My bestie ... Bukan aku berniat buruk dan iri akan hubungan kalian berdua. Tidak! Aku hanya peduli padamu dan tak ingin kau tersesat jalan untuk kedua kalinya karena salah pilih pendamping. Seharusnya kalau dia gentle melamar, temui papi dan ibumu di Indonesia. Dia pun harus bersikap tegas dalam memilih, kau atau Cello? Tanpa menunggu waktu lama. Kalau begini, siapa pun pastilah tak percaya dan berpikir kau hanya dipermainkan," ungkap Eve mengutarakan pemikirannya.
Perlahan-lahan mulai mempengaruhi keteguhan hati Alda pada Richard. Terlebih Richard mengingkari janji pertamanya saat baru saja jadian.
"Cobalah telepon dia sekarang. Jangan menunggu ditelepon!" saran Eve.
Alda menganggukkan kepala dan melakukan apa yang disarankan oleh Eve. Teleponnya tersambung tapi Richard tak mengangkat.
"Bagaimana?" tanya Eve sambil mengedikkan dagu ingin tahu hasilnya.
Alda menggeleng, "Rich, tak mengangkatnya? Apa dia benar sibuk atau ..." mendadak hati Alda tak tenang ketika pikiran buruk saling merasuk memenuhi otak dan hati.
"Telepon sekali lagi. Jika tidak diangkat, coba besok kau hubungi dia atau temuilah Rich di kantor Fire Base."
"Ya, Eve." Kali ini Alda menghubunginya dan diriject.
Mata Alda membola, Eve memeluknya saat melihat air mata terlihat menggenang di sana.
"Jangan takut, Alda. Telepon lagi? Paling dia salah pencet?" Eve berusaha menenangkan walau ia merasa firasatnya akan terbukti.
Drrrt ...
"Siapa sih, yang menelepon? Mengganggu saja!" kesal Cello memperhatikan kontak nama hanya bertuliskan inisial satu huruf 'A' di ponsel Richard yang dari tadi terus menelepon.
Dia sudah nak*d dan akan menerjang Richard yang telah dilucuti. Sementara Pria itu terlelap, masih tak sadar karena obat tidur yang diberikan oleh Cello.
"Hallo? Ini siapa?" Cello mengangkat teleponnya dengan nada emosi dan ketus.
Alda dan Eve saling berpandangan, mendengar suara Cello yang diloudspeaker. Terutama Alda yang langsung syok, tubuhnya seketika membeku dengan kulitnya yang terasa dingin saat Eve memeluk tangannya.
"K-Kau siapa? Di mana Rich?" tanya Alda gugup menelan ludah. Dadanya berdentuman tak karuan, menanti jawaban dari Cello.
"Aku kekasihnya dan siapa kau?" balik Cello membuat Alda tercekat seolah menelan duri ikan di tenggorokan.
Alda memandangi Eve dengan mata berkaca-kaca, tapi Eve memberinya kekuatan lewat genggaman tangannya supaya Alda kuat dan meneruskan obrolan rancu ini.
"Tidak mungkin, akulah kekasihnya. Katakan pada Rich, aku mau bicara! Jangan bohong kau atau setelah Rich tahu. Kau pasti akan menanggung malu!" kecam Alda tak mau kalah dan menjelaskan semua bahwa dia baru saja jadian. Bahkan di resort telah melakukan hal jauh pun diceritakannya secara lantang.
Hingga kepala Cello mendidih, melihat Richard rasanya ingin mencekik atau tak akan melepaskannya lagi selama-lamanya.
"Dasar keparat!" geram Cello tak terima lalu terpikir sesuatu yang licik. Kini semuanya terbongkar dan tidak ada wanita mana pun yang boleh memiliki Richard selain dia.
"Kau yang perebut kekasih orang!" tuduh Alda. "Berian ponselnya pada Rich, aku tak percaya jika kau kekasihnya. Pasti kau hanya terobsesi padanya, kan? Mana, Rich? Rich, Rich!" teriak Alda dengan hati tercabik sangat sakit namun berusaha tegar.
"Oke kalau kau mau bukti. Tunggu sebentar!" tunda Cello.
Menempatkan posisi pengambilan foto yang pas, di mana ia tidur di sebelah Richard yang sama-sama polos. Cello memeluknya sangat erat, lalu menekan tombol kamera di ponsel Richard untuk berselfi.
CEKREK!
CEKREK!
Banyak posisi diambil, semuanya tak pantas dilihat. Ketika Cello berada di bawah pusarnya tengah memasukkan pusaka itu ke mulutnya dan ...
Sent.
Sent.
Yang membuat Alda langsung lemas lagi-lagi pose Cello memberi Richard milky gratisan.
PRAKKK!
Tangan Alda tak bertenaga lagi, memegang ponselnya dan refleks terjatuh ke bawah lantai. Ia tak kuasa melihat Richard tega melakukan hal sekeji itu dengan Cello bahkan tak pernah terpikir akan menduakannya.
"Rich ..." gemetar Alda menyebut nama pria itu dengan terisak dan napas terputus-putus.
Air mata yang ditahannya kini runtuh bagaikan hujan deras mengguyur. Semakin tergugu tangisannya mengencang. Sesak mencekik dada dan seluruh tenggorokannya tak bisa bernafas dengan kepala yang teramat berat.
Kecewa, hancur, sakit di hatinya membuat tubuh Alda tak lagi mampu menopang. Ambruk terjatuh kemudian pingsan.
"Alda, bangun!" pekik Eve sangat panik.