
"Kenapa dokter belum menjawab pertanyaan saya?"
Mulanya dokter akan memberitahu Rich, soal jenis kelamin bayinya. Namun, dokter tampak menggerakkan ekor matanya ke arah Alda yang memberinya isyarat. Melarang hal itu dengan tanpa Alda sadari terlihat oleh Rich.
Perlahan pria itu lalu mendekatinya duduk di atas bed hospital. Mengejutkan Alda dengan merengkuh pinggangnya yang seketika ditarik merapat ke tubuh Rich.
"Oh, sweety. Ternyata kau yang melarang dokter memberitahuku? Dasar ya istri nakal!" Rich gemas lalu menggelitikinya.
"Aw! Cukup, Boo. Ini geli sekali," kata Alda, mengatur nafasnya yang tersengal. "Maaf ... bukan maksudku melarang. Maksudku biarkan jenis kelamin bayi itu, kita ketahui saat dia lahir saja supaya nantinya menjadi surprise buat kita. Kau tak masalah, bukan? Misalnya bayi kita terlahir perempuan atau laki-laki?"
Berdebar cemas dirasakan Alda, menanti jawaban dari Rich yang terdiam. Detik berikutnya, tersenyum lalu mengangguk sambil menatap intens pada Alda dengan sebuah kecupan yang lama di keningnya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku malah kagum padamu karena aku sendiri tidak terpikir soal itu sweety. Aku hanya berharap persalinanmu nanti lancar, kau dan bayi kita sehat."
Alda tersenyum sambil mengusap rahang Rich dengan tatapan penuh cinta.
"Tenang saja, Bli. Bayi kalian sehat dan pertumbuhannya juga saya lihat sangat bagus!" timpal dokter membuat Alda dan Rich menoleh.
"Sungguh dokter?" tanya Rich dengan mata berbinar.
"Iya, Bli," jawab dokter tersenyum.
Rich tampak senang sekali mendengarnya hingga ia langsung mengangkat dan menggendong Alda.
"Terima kasih sweety, kau memperlengkap hidupku. Aku jadi tidak sabar menunggu kehadirannya," ucap Rich sangat bahagia berpandangan dengan Alda.
"Boo, tinggal dua bulan lagi. Kesabaranmu akan terbayar lunas."
"Boo, lihatlah box bayi ini! Cantik, bukan?" tunjuk Alda tampak antusias pada sebuah box bayi berwarna pink.
"Kenapa harus warna pink sweety? Di sebelah sana juga ada box bayi yang warna lain, bagaimana kalau warna netral saja?" tawar Rich yang paling anti dengan warna pink, melihat warna itu dirinya seperti tengah dikerumuni para banci.
Alda menjebik. "Tapi aku maunya yang warna pink, Boo? Aku sangat menyukainya, di bawah ada lacinya juga di atasnya ada semacam rak yang bisa untuk menaruh perlengkapannya nanti. Please, boleh ya?"
"Hmmm ..." Rich memijat pelipis sambil mendesahkan nafas panjang, saat tubuhnya digelayuti oleh Alda berikut guncangan tubuhnya dan tahan lagi mendengar rengekannya itu. Akhirnya Rich terpaksa mengalah. "Oke, ambil saja."
Bibir Alda yang menekuk seketika mengembang membentuk senyuman lebar, lalu mencium pipi Rich sambil memeluknya erat.
"Terima kasih, Boo. Kau memang suami yang sangat baik! I love you so much!" ucap Alda begitu senang keinginannya dituruti.
"Sama-sama sweety. Apa ada barang lain yang mau kau beli?"
"Aku ingin membeli beberapa potong pakaian, mainan juga untuk Noah."
"Baiklah, ambil semua yang kau mau."
Rich menyerahkan black card yang kemudian diterima Alda untuk membayar semua barang yang sudah ia ambil.
Memasukkan sebagian barang itu ke bagasi dan sebagian lagi seperti ranjang, tokonya sendiri yang akan mengantarkan ke rumah mereka berdua.
***