Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
9. Cara yang Salah



Meja berisi laptop, pulpen, berkas-berkas penting digusur Richard sekali hempas. Berjatuhan semua ke bawah lantai tak bersisa. Tergantikan Alda berada di atasnya.


Kelasah-kelusuh menggelepar tak berdaya, terhanyut hingga tak menyadari jika terbawa permainan Richard yang benar-benar panas. Walau mulutnya menolak, hatinya menerima getaran yang tersalurkan oleh casanova itu. Bahkan kemarahannya luntur dalam hitungan menit. 


“Kau menyukainya?”


“Tidak, ahh … iya. Tidak, tidak. Cukup!” Alda mencengkram rambut Richard sangat kuat.


Otaknya terhambat oleh terjangan gelombang dahsyat. Darahnya mengalir begitu cepat ke seluruh tubuh, memompa jantungnya berlompatan. Saat otaknya terhambat oleh terjangan gelombang dahsyat yang menghilangkan sebagian kewarasannya.


"Alda. Aku mencintaimu... Kau sungguh seksi honey. Tentunya hanya milikku seorang." Richard melanjutkan aktifitasnya lagi dengan mengujarkan gombalan cintanya.


"Oh! Please, please. Stop!" Alda mengumpat tapi juga melolong kencang, saat dirinya melepaskan sesuatu yang ditahannya dari tadi.


"Really? Aku milikmu honey.”


Gila, Alda sulit menolak Richard.


"Aaahhh! Rich lepas. Tolong—” suara Alda mendadak terputus. ”Mmmm..."


Richard tersenyum miring mendapati Alda yang tak menolak sentuhannya. Gadis itu pasrah dan apa ini? Richard pun mendapati miliknya juga kembali hidup. Apakah ini artinya dia kembali normal?


Ini suatu keajaiban, kelainannya sembuh. Semuanya gara-gara Alda, benarkah?


Kalau hanya dipikirkan tanpa dibuktikan mana tahu, antena itu masih bisa berfungsi normal ataukah tidak. Setelah lama vakum, tak mendapatkan setruman listrik.


Alda tak tahu mengapa sisi nalurinya berlawanan, tapi nyawanya telah terkumpul ketika menyadari ini hanyalah kenikmatan semu. Harus berakhir secepat mungkin sebelum Richard bertindak jauh.


"Rich. Hhhh!"


Bukannya didengar, pria itu malah akan mengarahkan antenanya. Alda membolakan mata dengan gelengan kuat. Dadanya terpenuhi sesaknya nafasnya yang memburunya dilanda ketakutan tinggi.


Terbayang sekelebat masa lalu itu yang menyedihkan, seketika berontak dan berusaha melepaskan diri. 


Brukkk.


Tubuh Alda menabrak pajangan manekin di ruangannya, memunguti sisa-sisa ceceran kain yang teronggok. 


“Bunny, kau mau ke mana? Nostalgia sedikit saja, ini sungguh tanggung.”


Tanggung?


Alda pikir jika kini Richard sudah menjelma menjadi iblis tak bermartabat, jika saja Alda tak sadar diri pasti dia sudah lepas kendali. Bagaimana hebatnya pria itu membuatnya tenggelam dalam pusaran gelora, pergerakannya yang panas tadi. Berselancar ke pusat sensitifnya, memang Alda akui ia sempat menikmati itu.


Richard mengejarnya, sekali tarikan memeluk Alda dari belakang. Lantas membekap mulutnya.


"Diamlah manis, hanya sebentar saja. Aku mau membuktikan hanya sebentar. Apakah milikku ini berfungsi normal ataukah tidak? Kau yang membuat aku begini. Jadi kamulah yang harus bertanggung jawab." Richard membisikkan ini ke telinga Alda yang tampak gusar.


“T-tanggung jawab?” sebut Alda dalam bekapan, menggelengkan kepala. "No!"


Ia pun lantas berpikir keras. Bagaimana cara menyelamatkan diri sebelum menjadi bulan-bulanannya. Alda menggigit telapak tangan Richard dengan kuat.


"Hmmmt!”


“Aaaarghh!” Richard mengerang sangat keras, terpaksa melepas bekapannya ke mulut Alda. Meringis kesakitan, mengibaskan tangan. “Kau gila Alda!” rutuknya.


“Kau yang gila.”


“Ya, aku tergila-gila padamu. Puas!” koar Richard mengeluarkan beban beratnya, bahwa selama ini ia tersiksa berjauhan dengan Alda.


Menjadi terpuruk dan memendam kesedihan ini sendiri berteman sepi. Tak menceritakan pada siapapun. Berusaha move on walau sulit. Tapi kedatangan Alda, membuat obornya yang padam kembali menyala.


Entah kenapa Alda resah setelah mendengarnya. Richard menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin. Mendorong Alda ke tembok dan mengarahkan sesuatu yang ingin dibuktikan.


“Jangan Rich! Kumohon …" pinta Alda merasa Richard sudah keterlaluan.


Richard menulikan telinga. Bahkan permohonan ampun dari Alda, supaya Richard berhenti pun tak digubris. Alda menangis sejadi-jadinya, merutuki kebodohannya sendiri. 


Kenapa tak waspada pada Richard atau mencurigai gelagat buruknya sewaktu bertemu di resepsi pernikahan kliennya waktu itu. Jika Richard tak akan pernah melepaskannya.


Tuhan... Kirim seseorang menolong Alda. Jeritnya dalam hati, tanpa sadar pelupuknya yang penuh meneteskan buliran bening dari sudutnya.


Alda semakin gemetaran. Sedikit lagi semuanya akan hancur. Alda tak mau kecolongan untuk kedua kalinya. Berontak dengan sekuat tenaga, menghindari pria kesetanan ini.


Drrt, drrt …


Terdengar bunyi ponsel milik Alda bergetar di atas meja secara berulang-ulang. Menyita perhatian keduanya saling menoleh ke sana dan Alda menggunakan waktu sempit ini, untuk menggigit telapak tangan Richard lagi.


"Aaarrgh! Honey, kau hobi sekali menggigitku!" erang Richard melepas tangannya segera, sambil meniup tangannya yang kesakitan.


“Hallo Ef, t-tolong aku. Kemarilah! Bantu aku. Hiks, Rich telah—”


Richard menggeleng pada Alda sebagai isyarat, supaya tak memberitahukan kejadian ini pada Efrain. Ketika dia sekilas menolehnya. Tapi Alda tak mau tahu, dengan terbata-bata dan tangan gemetar ia memberitahunya. Ia harus menyelamatkan dirinya dari Richard.


[Jangan takut, Alda. Kini aku kebetulan berada di studio make up mu! Aku akan menolongmu]


Richard murka, wajahnya merah padam setelahnya. Kemudian berjalan penuh kemarahan  menghampiri Alda. Karena gadis ini tak mau menurut.


"Aku sudah memintamu baik-baik, tapi kau sepertinya suka cara kasar. Hah?!" geram Richard menghempas tubuh Alda ke atas sofa.


"Auwh!” pekiknya tersentak dengan wajah ketakutan dan terus menangis sambil melawan pria itu.


Barangkali Richard mau mendengarnya kali ini dan bertindak waras.


"Sadarlah, bukan seperti ini caranya mencintai seseorang. Kau sudah melukaiku dan sebelum luka ini sembuh. Kau membuat luka baru lagi. Kumohon jangan lakukan ini lagi?" Alda menghalangi Richard dengan kedua tangannya, menopang tubuh besar pria itu akan menendang.


"Luka. Apa itu? Kau yang egois. Sudah tahu aku menggilaimu tapi kau selalu mengabaikan aku dan lebih memilih, Ef. Aku bisa membahagiakanmu Alda. Tapi kau tak pernah memberiku kesempatan!" bentak Richard meluapkan kecewanya yang terpendam.


Plaakk.


"Aaahh. Hiks, sakit Rich. K-kenapa kau malah menamparku?" Alda memandang Richard dengan sorot sendu, seraya memegangi pipinya yang terasa perih.


“Kau harus merasakan ini wanita murahan.” Richard mengurung tubuh Alda dan memaksakan sesuatu darinya pada wanita itu. Hampir terjadi, semuanya akan berjalan sesuai keinginan Richard.


Tapi tiba-tiba...


BRAKKK!!


Pintu ruangan Alda didobrak dari luar hingga engselnya terlepas. Muncullah Efrain dari sana dengan luap kemurkaan menggebu. Menatap Rich dengan lebaran mata birunya berkobar api. Saat mendapatinya on fire berada di atas tubuh Alda.


Bak tiupan angin, tinjuan Efrain pun melayang ke wajah Richard. Tanpa memberi kesempatan Richard membenahi tubuhnya yang tak berhelai.


BUKH!


"Dasar brengs*k kau, Rich!"


"Ef, dengar penjelasanku dulu."


"Persetan. **** you *******! Kau sudah gila, berani-beraninya melakukan ini pada wanita baik-baik. Aku malu mengakuimu sebagai saudara!" murka Efrain mengumpat Richard penuh kekecewaan.


BUKH! 


Richard terjatuh ke lantai mengerang, dia sulit mengimbangi tubuhnya berdiri. Ketika bersamaan mengenakan pakaian, Efrain menghajarnya habis-habisan.


"Sudah kubilang beri waktu aku berpakaian dulu sialan!" teriak Richard menderam nyalang pada Efrain.


Duggh!


Tubuh Efrain sekarang malah terhempas kencang, menjorok kuat dan menabrak rak buku hingga buku itu pun berjatuhan menimpanya. Setelah Rich menendang perut saudara—kembarnya dengan sangat keras.


Alda menuruni sofa dan menyeret kakinya seraya terisak mendekati Efrain. Menolong pria yang terkapar ini, tampak memegangi kepalanya terasa pusing. Tepat setelah Richard berhasil mengenakan celananya dengan buru-buru dan nafasnya terengah-engah.


Ternyata keributan yang mereka timbulkan. Memancing para staf Alda dan pengunjung studionya, beramai-ramai menonton mereka sangat terkejut di depan pintu yang jebol.


"Damn it! Pergi kalian bedebah. Bubar!" teriak Richard sangat murka, lalu melempari mereka dengan benda apa saja yang dijumpai.


Mereka tentu ketakutan dan kabur menyelamatkan dirinya masing-masing. Tak menyangka jika pria tampan yang dianggapnya tenang dan calm down. Ternyata sangat menakutkan jika sedang marah besar.


"Jangan ada yang keluar dari studio ini atau lapor polisi! Mengerti!" ancam Richard menatap mereka dengan nafas memburu. Seolah hendak menelan mereka hidup-hidup.


Tanpa suara mereka mengangguki ancaman Richard dengan wajah pucat. Namun, salah seorang dari mereka yang tersisa kemudian terlihat sembunyi-sembunyi membelakangi Richard dan menekan tombol di ponselnya.


Richard menduga jika orang itu akan menelepon Polisi dan sebelum hal itu terjadi, Richard melempar vas bunga tepat mengenai ponselnya hingga terjatuh ke lantai. 


PRAKK.


Ponsel iphone itu terlepas dari casingnya dan pecah berkeping-keping.


"Itu peringatan untukmu brengs*k. Tapi jika kau berani lapor polisi, aku tak segan menghabisimu sekarang juga!" Richard menempeleng pria itu hingga tersungkur.


"Rich!" teriak Alda sarkas. Menolehkan kesal pria itu ke arahnya. "Pergi kau dari sini dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Karena jika kau tak mau pergi. Aku yang akan melaporkanmu sendiri ke polisi, atas tuduhan pelecehan dan berbuat keonaran di tempatku!" bentaknya seraya menunjukkan nomor polisi terpampang di layar ponselnya.


Hanya tinggal menekannya saja, dalam hitungan menit polisi akan datang meringkus. Richard terkesiap menatap Alda penuh kecewa. Bukan takut dilaporkan ke Polisi. Namun karena sekarang, Alda lebih perhatian pada Efrain dan memeluk kembarannya sangat erat.


Richard terbakar cemburu, ia mendengus kesal dan berlalu dari sana. Meninggalkan kemarahan yang membekas. Dapat menghanguskan seperti abu. Bahkan jika racikan bom ini siap, tinggal menunggu waktu saja untuk meledakkan semuanya.