
Rasa khawatir membuat Richard dan Efrain saling berlarian menghampiri Abelle yang pingsan. Namun, kecaman sinis dari mata amber Cal dan todongan senjata ke arah mereka berdua menghentikan langkahnya beraut tegang.
”Aku paling tidak suka gara-gara wanita anak-anakku saling bermusuhan. Lebih baik kalian mati saja dari pada hidup. Tapi, diantara kalian saling menyakiti satu sama lain!” sentak Cal menyorotinya dingin. "Atau kalian ingin melihat Daddy mati duluan, hah?"
Cal membalik arah senjata api itu dan menodongkan sendiri di keningnya. Tidak sedikit pun gentar, bahkan jari telunjuknya perlahan menarik pelatuk itu bersiap akan menembak. Menyentak tubuh Richard dan Efrain dengan mata terbelalak lebar, seketika memajukan kaki.
"Daddy!" serempak kedua putra kembarnya itu tampak cemas.
"Sayang jangan!" Trecy menjerit, hatinya terperih. Tanpa pikir panjang kakinya diseret ke dekat Cal untuk menghentikan tindakan bodohnya.
"Berhenti di sana honey."
Cal berkata sarkas. Menoleh tegas hingga tubuh Trecy membeku. Namun, ia bisa merasakan dari pantulan bola mata suaminya yang berkaca.
Jelas dipenuhi air. Bukan air hujan atau tetesan atap yang bocor. Melainkan air mata kesedihan.
Menunjukkan bahwa pria yang dicintainya dengan segenap jiwa dan raga ini. Sangat menaruh kecewa pada kedua putranya yang selama ini ia bangga-banggakan.
"Sayang... jangan gegabah. Kita bicarakan ini baik-baik. Oke?" bibir Trecy bergetar kala memintanya dengan lembut.
Cal terdiam dengan pistol yang masih menancap.
"Kalau kau tiada bagaimana denganku? Apa kau tidak memikirkanku sayang, bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu? Jangan lakukan ini sayang. Aku mohon..." Trecy menggeleng, wajahnya telah basah dengan air mata.
"Betul kata mommy, Dad. Kami sangat menyayangi, Daddy." Efrain turut membujuk, suaranya bahkan terdengar serak kala ia berusaha menahan air matanya supaya tak jatuh.
Namun, beribu alasan sulit menghentikan Cal yang keras kepala. Sementara Richard terdiam namun matanya tak teralihkan dari Cal.
Otaknya berkecamuk dengan berbagai abjad, huruf yang berputar di tambah rumus kimia dan fisika menjejal. Seolah sedang menusuk bahkan memalu kepalanya terus menerus.
"Maid! Angkat Abelle ke kamar!” Cal menyuruh, sementara ia tetap bergeming.
"B-baik Tuan besar."
Maid membawa Abelle ke kamar sesuai permintaan Cal. Tinggallah mereka berempat yang saling tertunduk diiringi isak tangis Trecy.
Setelahnya, Trecy dan kedua putranya berwajah pucat sampai Trecy kesulitan bernafas. Ketika Cal benar-benar menarik pelatuk senjata itu.
Bola mata mereka seakan berlompatan keluar. Tubuh Trecy melemas, kehilangan tenaga.
"Sayang..." dan hampir rubuh jika Efrain tak segera menahan. Bersamaan juga dengan bunyi klik dari tarikan pelatuk yang dibuat Cal.
"Daddy!" Efrain menjerit, dunia seakan berhenti berputar. Mengira Cal akan kehilangan nyawa.
"Damn devil!" sorot menghunus Cal layaknya psikopat, tertuju pada Richard. "Anak durhaka kau. Senjata ini kosong tidak berisi peluru!" geramnya marah.
Kening Rich melipat, wajahnya menyimpan beban berat. Lewat tatapan mata, Cal berinteraksi dengannya.
"Kamu sengaja membawa senjata itu untuk menakuti Ef. Apa yang kau inginkan darinya?"
Rich masih saja diam.
Cal membentak, "jawab!"
Tubuh Efrain sampai berjingkat mendengar suara keras dari Cal. Baru kali kedua ini, mereka semua melihat Cal marah pada putranya sendiri setelah lama.
"Ya, aku memang mau mengancamnya. Supaya pria brengsek itu menjauhi Alda. Aku mencintainya, Dad!" teriak Richard menekan emosinya sambil memukul dada.
BLANG!
Cal melempar senjata itu sangat murka, menghantam wajah Richard. Tepat setelah perkataannya selesai. Darah mengalir dari dahi, pipi dan sudut bibir putranya. Tepat setelah perkataan-nya selesai.
"Kurang ajar. Beraninya kau berniat membunuh saudaramu sendiri. Aku dan mommy-mu tak pernah mengajarkan itu. Dasar anak durhaka!” hardik Cal menghentak kaki, lalu mencengkram kemeja Richard lebih kuat.
Luapan api di dada Cal meledak-ledak. Dengan kemurkaannya ia menghajar Richard habis-habisan tanpa perlawanan. Richard seakan pasrah menerima serangan darinya.
BUKH!
"Dad, sudah Dad. Jangan pukuli Rich lagi. Aku mohon." Efrain memasang badan, ia tak tega melihat Richard babak - belur. Walau ia berselisih paham. Rasa sayangnya pada Richard tak akan pernah padam.
"Minggir!"
Cal menghempas Efrain sampai jatuh. Sementara Trecy yang mulai tersadar dari pingsan. Mendapati Cal berubah jadi sosok iblis, ia pun segera bangkit dan memeluknya dari belakang.
"Hentikan sayang. Apa kau mau membuat Rich meninggal? Dia darah dagingmu. Cukup!" sergah Trecy dengan teriakannya sambil memohon.
Cal menurunkan kepalan tangannya yang kini berada tepat di wajah Richard. Ia mendorong putranya hingga hampir terjerembab bila tak ditahan oleh Efrain.
Cal sudah muak dengan tingkahnya jika tak dihalangi Trecy.
"Rich. Jaga sikapmu pada saudaramu. Berbaikan lah dengan Ef!" suruh Cal.
Mata hatinya sudah dikuasai kemarahan dan kebencian. Richard bergeming, enggan menuruti perintah daddy-nya. Mengokohkan tubuh walau sempoyongan, kakinya berlawanan dan berjalan menjauhi mereka semua.
"Rich. Mau kemana kamu, Nak?" tanya Trecy menyadari kepergiaannya dengan isakan tangis.
"Aku pergi dari castle ini. Kalian tidak sayang lagi padaku. Terutama daddy yang hanya mempedulikan Ef. Daddy pilih kasih!" jawabnya penuh kekesalan.
Cal mendelik tajam, menghembuskan nafas kasar.
"Selangkah kau pergi dari castle ini. Aku tak akan pernah menerimamu kembali!" Cal mengancam sarkastik.
Kaki Rich tercekat tapi posisinya bergeming masih membelakangi mereka, sambil menyeka air matanya. Berusaha tegar menatap ke atas dengan senyum getir. Lalu ia meneruskan langkahnya tanpa menggubris Cal.
"Berhenti Rich. Mommy mohon..." Trecy kian histeris. Ia hendak mengejar tapi Cal menahan lengannya lalu menggeleng menatap Trecy.
"Tinggalkan C&L Diamond yang di Amerika dan semua fasilitas yang pernah aku berikan. Sepeserpun aku tak akan memberimu hak waris. Jika kau bersikeras keluar dari rumah ini!" Cal mengancamnya lagi sambil menahan gemuruh di dadanya yang terasa sesak.
"Baik, Dad. Aku pergi dengan tangan kosong. Hanya membawa satu benda, yakni pakaian yang aku kenakan. Namun, jika Daddy mau pakaian ini juga. Aku bisa pergi dalam keadaan polos." Richard semakin mengiris hati Cal dengan ucapannya.
Ef menahan kepergiannya dengan segala cara.
"Rich, aku minta maaf. Jangan pergi dari rumah ini saudaraku. Tetaplah disini, biar aku yang pergi saja."
"Ef, apa-apaan kau!" sentak Cal marah, "jangan ikut gila seperti dia! Cukup satu anakku saja yang tak waras kau pun jangan!"
Betapa sakitnya hati Richard mendengar itu. Berpikir sendiri, ternyata daddy-nya lebih menyayangi Efrain ketimbang dirinya. Lantas digelapkan kebencian, ia lalu menatap sinis pada Efrain. Berubah memelas sendu ketika melihat Cal yang membenarkan asumsinya bahwa ia pilih kasih.
"Kumohon Rich—" ucapan Efrain terpotong saat tangan Richard malah terangkat hendak meninju Efrain. Membuat Cal semakin marah, akan maju memberinya pelajaran lagi.
Sehingga Efrain memilih mundur dengan air mata yang tak bisa ditahan. Karena ia tak ingin, Richard bertambah salah paham dan memicu Cal terus bertindak gegabah yang membuat Richard semakin membenci mereka.
Richard hanya menoleh pada Trecy yang pelupuk matanya memenuh. Juga ke sekeliling bangunan castle dimana ia lahir dan dibesarkan dengan penuh cinta kasih.
"Mom... jaga diri Mommy baik-baik dan juga daddy. Titip salamku sayangku untuk adik-adikku. Selamat tinggal..." Richard mengucap perpisahan.
Dengan tegak ia menyongsong diri, keluar dari castle itu tanpa membawa apapun.
"Tidak sayang. Rich, jangan pergi, Nak!" Trecy mengejarnya, bahkan tak peduli lagi dengan cekalan Cal yang mengendur saat ini. Di mana suaminya juga tak kalah syok hingga pandangannya berubah kosong.
Namun, Trecy terlambat. Karena Richard telah menaiki taksi yang membawanya pergi dan menghilang dari genggaman mereka untuk selama-lamanya.
***
Jeloish Club and Bar.
Taksi yang ditumpangi Richard, berlalu lalang di jalanan tanpa arah tujuan pasti. Walau Sopir sudah menanyainya berulang, Richard yang melamun hanya menyuruhnya terus berjalan.
"Maafkan saya Tuan Muda. Sebenarnya anda mau ke mana? Ini sudah hampir tengah malam. Saya harus segera pulang, kasihan anak saya sendirian di rumah." Sopir itu memberanikan diri bertanya lagi.
Rich menatapnya kurang bersemangat. "Memangnya tidak ada istrimu yang menjaga anakmu, Pak?"
"Istri saya sudah meninggal Tuan. Anak saya masih berusia 7 tahun saat ini dan kesehariannya bersama tetangga saya. Saya mengupahnya sampai jam 7 malam, untuk dititipi anak saya selama saya bekerja. Kalau tidak begitu, kami harus makan apa?" jujur Sopir itu walau berat mengaku.
Hati Richard terenyuh mendengarnya. Ia bangga pada Sopir ini dan menertawakan dirinya sendiri, yang kini tak memiliki siapapun lagi. Bahkan Sopir ini sangat menyayangi anaknya. Tapi kenapa daddy-nya tidak menyayanginya dan pilih kasih?
"Berhenti di club malam itu!” tunjuk Richard ke depan jalan. Jauh dari Anoola Castel dan Kinshasa.
Walau Richard brengsek, ia masih punya belas kasih pada orang lain. Richard membayar lebih pada Sopir itu. Sampai sang Sopir keheranan dan mengembalikan sisanya.
"Tuan Muda, ini kelebihan?” sergahnya menyusul Richard yang hampir mencapai pintu depan Club.
"Ambil saja untuk kau dan anakmu." Rich tersenyum tipis sambil menepuk pundak Sopir itu kemudian berlalu.
Ia masih memiliki simpanan uang sendiri. Untung ia menabung karena Trecy selalu mengajarkan itu sedari kecil.
Ah! Richard jadi teringat mommy-nya dan merasa rindu walau barusan berpisah.
Demi membuang segala kesialannya serta melupakan kenangan buruknya hari itu. Ia meminum banyak alkohol.
Club malam yang ramai dengan hingar bingar musik dubstep, disertai dance dari orang-orang. Sedikitpun tak membuatnya tertarik karena ia merasa sendiri.
"Mom... Aku rindu." Rich menundukkan wajahnya ke meja. Tertutup di antara dua lengannya. Air matanya merembes keluar tanpa disadari, hingga tepukan dari seseorang. Perlahan membuatnya mengangkat kepala dengan pandangan membayang.