Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
88. Pov Alda ( Perjuangan Saat Hamil )



Tujuh tahun silam, 


Tak ada yang menyangka, jika kelengahanku menjadi petaka terbesar bagiku setelah seseorang mencampurkan obat perangsang ke minumanku. Saat aku menghadiri acara ulang tahun temanku, di sebuah cafe di kota Kinshasa.


Keperawananku direnggut secara licik oleh pria yang selama ini mengejar-ngejarku. Bahkan, secara terang-terangan pernah mengutarakan cintanya padaku dengan mengumumkannya di seantero kampus. Hingga sebagian teman-teman kami yang menyaksikannya pun menganggap ku beruntung.


Tidak para gadis yang selama ini menjadi korbannya atau yang gigit jari karena pernah ditolak oleh pria itu. Justru tak terima dan balik menyerangku lalu membully ku habis-habisan. Nahasnya, gara-gara itu pun aku mendapat teguran dari pihak kampus yang mengecamku untuk didrop out.


Aku merasa benar-benar hancur, tubuhku kotor dan sangat malu. Mentalku down karena tak ada lagi yang bisa aku banggakan sebagai seorang wanita setelahnya, ketika aku tahu yang merenggut keperawananku bukanlah Efrain tapi Richard Louis.


"Aku akan bertanggung jawab, Alda. Setelah ini aku akan menikahimu, karena aku sangat mencintaimu.” Rich coba meyakinkanku dengan segala cara.


“Tidak! Aku tak mau menikah denganmu. Apalagi setelah cara licikmu yang seperti ini, membuatku kehilangan respect. Bahkan aku sangat membencimu, Rich!” tegasku menolak ajakannya untuk menikah. Karena kupikir, dia hanya berbohong seperti pada wanita yang dikencani sebelumnya. 


Rich tampak frustasi. Kelihatannya dia sangat menyesali cara kunonya yang tak mempan padaku dan setelah perdebatan panjang dengannya. Aku memutuskan untuk pergi sejauh mungkin dari hidupnya, menghilang seperti ditelan bumi. 


......................


Kemudian aku kembali pulang ke Indonesia, tepatnya di Bali tempat tinggalku berada. Bahkan karena malu dan takut mendapat kemurkaan papiku. Aku sengaja merahasiakan kemalangan itu pada mereka dan hanya berani menceritakannya pada sahabatku, Mutia.


“Kenapa kau kembali dari Harvard, Sayang? Bagaimana dengan beasiswamu?” tanya papi saat itu menyayangkan, karena dia tahu jika aku mendambakan kuliah di sana semenjak lama. 


Aku terpaksa berbohong dan mengatakan tak betah tinggal di sana. “Aku merindukan kalian semua,” suaraku bergetar menahan sesaknya air mata dalam dada, ketika pertama kalinya aku tak bicara jujur pada keluargaku.


Ibu lalu memelukku sangat erat dan aku pun menumpahkan segala keluh kesahku sekaligus penderitaanku melalui banjir air mata dipelukannya.


"Sudah sayang, jangan menangis. Nanti kami akan mendaftarkanmu kuliah di sekitar Bali saja. Oke?" tawar Ibu dengan bijaksana. 


"Terima kasih, Bu." Aku memeluknya lagi, karena ibu selalu memahami perasaanku tanpa aku mengutarakannya. 


Semua percaya dan kehidupan kami berjalan normal seperti biasanya. Hingga sebulan kemudian, aku dinyatakan hamil oleh dokter di sebuah rumah sakit. Setelah teman-teman di kampus menemukanku dalam keadaan pingsan di perpustakaan.


“Katakan! Kau hamil anak siapa?” papi benar-benar sangat murka waktu itu. “Aku menyekolahkanmu untuk belajar, Alda. Bukan untuk menjajakan tubuhmu kepada para lelaki? Mau ditaruh di mana muka papi ini, hah?”


“Pi, maafkan aku. Sungguh! Aku tak pernah macam-macam, Pi … Aku …"


PLAKK. 


Tangan papi melayangkan tamparan keras di wajahku, hingga membuat tubuhku jatuh tersungkur sangat keras ke lantai.


"Alda?" Ibu dan Kak Jennifer memekik sedih, cepat menyongsongku dan memelukku yang terisak-isak.


"Sayang, tolong katakan pada Ibu, siapa yang sebenarnya sudah menghamilimu? Jangan takut," pinta Ibu dengan lembut, walau aku tahu dari pantulan matanya terbesit rasa kecewa padaku.


"A-aku diperk*sa, Bu. Dia ... Richard Louis, hiks..." dengan terbata-bata dan terisak, aku menceritakan semua yang terjadi.


Papi sangat marah hingga dia hendak pergi ke Kongo untuk menemui Rich dan ingin memberinya pelajaran. Tapi aku mencegahnya, karena Rich pernah mengatakan. Jika daddy-nya adalah orang yang sangat berpengaruh di Kongo dan tak tersentuh hukum. Sehingga Papi mengurungkan niatnya, karena selain kondisi ekonomi kami yang sulit waktu itu. Aku melakukan kebodohan lagi yang hampir menghilangkan nyawaku sendiri.


"Aaaahh!" jerit histeris Ibu, mengundang kedatangan Papi dan Kak Jennifer ke dalam kamarku.


"Ada apa honey?"


Papi bertanya bernada khawatir pada ibu, sementara Kak Jennifer membolakan mata dan berteriak kencang sambil menunjuk tubuhku yang tergeletak pingsan dengan mulut berbusa.


"Alda mencoba bunuh diri lagi, Sayang ... Kau terlalu keras padanya!" Ibu menangis tersedu-sedu dengan mata terpejam.


Papi menunduk sedih, langsung menggendongku dan tanpa sepatah kata. Ia membawa pergi ke rumah sakit terdekat supaya mendapat pertolongan segera.


...----------------...


Ibu dan Kak Jennifer paling cemas, bersamaan menanyai dokter. "Janin dalam kandungannya bagaimana, dok?"


"Ini sudah kali kedua pasien mencoba bunuh diri. Janin itu selamat, Tuhan masih melindungi mereka berdua. Karena racun serangga yang diminum pasien belum masuk ke dalam lambung. Jadi kami masih bisa menyelamatkannya," papar dokter serius.


Ibu, Papi dan Kak Jennifer bernafas lega. Namun, pernyataan dokter selanjutnya membuat mereka was-was.


"Kondisi psikis pasien tidak stabil, terlebih saat mengandung seperti ini rawan depresi. Sehingga dia bisa mencelakai dirinya lagi dengan cara yang lebih ekstrem. Untuk itu pasien memerlukan perhatian ekstra, jangan biarkan dia sendiri hingga mentalnya kembali normal. Usahakan tidak menyinggung hal-hal yang membuat pasien tertekan dan meminum obatnya secara rutin." Dokter berpesan.


Mulai saat itu, papi sangat menyesal dan merendahkan egonya. Perlahan-lahan dia mulai menerima keadaanku yang berbadan dua, merawatku dengan tangannya sendiri dan segala kasih sayangnya. Hingga mentalku perlahan kembali pulih dan perutku pun semakin membesar ketika kehamilanku menginjak usia 7 bulan.


Bahkan demi menghindari gunjingan tetangga yang sering menghinaku sebagai wanita murahan dan tak sedikit mengasihaniku sebagai korban pemerkos**n. Papi terpaksa mengajak kami semua pindah ke Ubud dan menyewakan rumah kami sebelumnya yang sempat didatangi oleh Rich waktu itu, untuk mencariku dan meminta maaf.


Namun, papi dan ibu takut mentalku kembali down. Begitu warga di tempat baru tahu keaadanku yang sebenarnya. Sehingga papi terpaksa mengirimku untuk ikut tinggal bersama Kak Jennifer di Kanada sampai bayiku lahir.


Enam bulan kemudian,


Aku kembali ke Ubud, dengan bayiku yang berjenis kelamin laki-laki. Papi yang keras hati seketika luluh, setelah melihat cucunya yang tampan dan berwajah blasteran itu.


"Apakah kau sudah memberinya nama, Sayang?" tanya Papi yang menggendong bayiku.


"Belum, Pi. Aku dan Kak Jennifer hanya memanggilnya baby boy saja," kataku yang sudah dikuatkan oleh keadaan.


"Papi punya ide. Bagaimana kalau namanya Noah?" cetus papi.


"Ibu setuju! Nama yang bagus seperti nama band idola papimu," kekehnya mengurai keharuan sambil mengelus lembut pipi cucu keduanya itu.


Aku tersenyum, mengangguk setuju. Pemberian nama dari orang tua adalah doa. Walau nama Noah tanpa embel-embel nama belakang ayahnya. Ternyata bayi mungilku itu perlahan-lahan tumbuh menjadi anak yang ceria, manis, periang, tak pendendam dan membawa kedamaian seperti arti dari namanya.


Hingga setelah aku lulus mengambil pendidikan tata rias di Bali. Aku mendapat tawaran lowongan menjadi asisten MUA dengan bayaran menjanjikan, dari sahabatku Eve yang berada di Kongo.


Mulanya papi tak setuju, karena Noah masih berumur lima tahun saat itu. Tapi aku berhasil meyakinkan mereka semua. Terlebih Mutia yang kemudian sangat menyayangi Noah seperti putranya sendiri, sehingga Noah menyebutnya "Mami" sama sepertiku.


"Ini demi masa depan Noah, Pi. Aku harus bekerja keras, putraku harus hidup yang lebih baik." Aku berusaha meyakinkan sehingga papi dan Ibu akhirnya mengizinkanku.


"Bagaimana dengan Noah?" tanya Papi yang kasihan melihat cucunya akan kutinggal lama dan baru dua tahun akan kembali lagi ke Indonesia.


"Noah di sini sama Mami Mutia, Nono. Mami Alda bial cali duit yang banyak buat beli es krim dan mainan untuk Noah," ucap putraku yang gembil itu masih cadel. Ternyata lebih cepat dewasa dari usianya.


Karena aku selalu mengajarkannya untuk mandiri dan pemberani dalam menghadapi masalah. Setelah aku tahu, masa kecil yang dilaluinya tidaklah mudah. Saat teman sepermainannya mengolok-oloknya karena Noah hanya memiliki seorang Ibu tanpa ayah. Sehingga demi kebaikan Noah, aku dan keluargaku sepakat membuatkan makam palsu lalu mengatakannya sebagai makam papinya.


Mulai saat itu, tak ada lagi pertanyaan dan hinaan yang diterima Noah. Dia lebih percaya diri dalam bergaul dan siapa sangka?


Setelah dua tahun aku berada di Kongo, takdir mempertemukanku lagi dengan Rich yang ternyata sifatnya masih tetap sama. Ya, dia masih menyandang gelar 'Casanova' menjijikkan. Sehingga aku pun memutuskan untuk merahasiakan keberadaan Noah, sampai aku benar-benar siap mengatakannya setelah nanti melihat perubahan dari sikap Rich yang lebih baik.


...----------------...


Setelah perjuangan panjang, titik lelah dengan penuh air mata dan darah. Nyatanya Tuhan memiliki cara ekstream untuk mempersatukanku lagi dengan Rich. Sedikit demi sedikit kebencianku padanya memudar, tergantikan oleh benih cinta yang datang.


Aku terkesan dia berani memperjuangkanku di depan papiku, datang lagi ke Indonesia dan bersedia menjadi buruh tani yang aku tahu baginya itu sangat sulit. Hingga pengorbanan papiku yang tak pernah aku lupakan sampai kapan pun. Berkat Papi, aku dan Rich mengikat janji suci pernikahan. Aku, Noah dan suamiku yang mesum itu kini hidup berbahagia.


"Terima kasih banyak Papi. Rich, benar-benar menepati janjinya, seperti di saat-saat permintaan terakhir papi akan menuju surga. Beristirahatlah dalam damai Papi, Nono kami ... We love you so much. Your memories, kindness and sincerity will always live in our hearts forever."


💐💐