Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
60. Akankah Ada Pelangi Setelah Badai?



Bulir-bulir kesedihan Cello terjun ke pipi. Menampik kasar pisau itu hingga terlepas dari genggaman Rich dan terjatuh ke bawah lantai.


"Please, Baby! Jangan bertindak konyol!" larang Cello tak ingin kehilangan Rich.



Rich memalingkan wajah. Enggan selintas pun melihat wajah Cello yang memuakkan. Wanita itu sangat licik, egois dan bertopeng seribu kepalsuan.


"Lalu apa maksudmu bisa berbuat nekat, hah? Bukankah itu tandanya kau ingin menghabisiku!" Rich menghardik Cello seraya membungkukkan tubuh akan mengambil pisau itu lagi. Namun, Cello malah mendorongnya jatuh berdua ke atas sofa.


Cello berada di atas tubuh Rich dan memeluknya sangat erat. "Aku mencintaimu Richard, my Rich. Hanya kau yang bisa membuatku bahagia di dunia ini. Mana mungkin aku tega menghabisi nyawamu, sedangkan tanpamu saja aku seperti tak bernyawa?” tatapan Cello mendasarkan makna sebuah pengharapan besar dalam iris matanya yang berkaca-kaca.


Rich memiringkan bibir, mendengar bualan Cello dan tertawa rendah. “Hahaha.”


“Kenapa kau malah tertawa, Baby?” tanya Cello dengan kening mengerut, memandangi Rich yang belum berhenti tertawa dan Cello menekan suaranya keras-keras. “Aku serius!”


“Sejak kapan kau pintar menggombal?” Rich memegangi kedua bahu Cello dengan gaya tengilnya yang menyebalkan, mengerucutkan bibir seolah menyepelekan wanita itu.


Tetapi Cello malah memejamkan matanya dengan bibir maju ingin menenggelamkan ciuman di bibir Rich yang menggiurkan.


"Dasar otak mesum!" Rich menyentil kening Cello dengan keras, hingga wanita itu mendedahkan paksa kelopak matanya.


"Ouch!" Cello memekik sakit, mengusap keningnya. Kesal lalu merengek manja. "Rich?"


Tubuh Cello didorongnya perlahan menyingkir dari tubuhnya. Rich kemudian duduk sembari memijat kepalanya dan menoleh ke Cello yang telah memeluk lengannya erat bagai lilitan gurita. “Kau pikir aku terharu lalu mengatakan." Tambahnya dengan gaya menye-menye. "Oh ...! Baby, maafkan aku. Selama ini, aku begitu menyesal karena telah menyia-nyiakan wanita baik sepertimu. Harusnya aku menyadari ini dari awal. Saling berpelukan mesra ... Kemudian kissing, berlanjut bercinta di atas ranjang begitu kan, maumu?"


Mata Cello bersinar terang, kesedihan pun musnah tergantikan senyuman lepas dan mengangguki benar pernyataan Rich. Tanpa diduga, Rich mematahkan harapannya dengan ucapan sadis yang menyesakkan dada Cello. Hidungnya kembang kempis menahan amarah.


"Mimpi saja kau Cello!”


“Jahatnya ...!” Cello kesal. Ia memukul-mukul dada Rich yang padat itu dengan sekuat tenaga. Namun, pukulan Cello yang mirip tepukan balita tak berefek apa-apa pada Rich.


“Masa bodoh!" Rich menahan kedua tangan Cello dan meremasnya sangat kasar, tak peduli bahkan wanita itu meringis kesakitan.


"Auw! Lepaskan aku Rich. Aahh! Kau menyakktiku, hiks ..."


Rich membentak Cello. “Dengar! Aku bukan barang yang bisa kau perebutkan. Meski aku tunduk pada Tuan Izakh, bukan berarti kau bisa memperlakukanku seenaknya dan jika kau terus menekanku begini. Jangan salahkan aku, jika suatu hari nanti, kau akan melihat watak asliku yang sebenarnya! Jadi jangan banyak tingkah. Paham!” 


"Apa maksudmu, Rich? Aku hanya meminta hakku. Ini perjanjian—"


"Halah. Perjanjian setan! Aku tak peduli!" terlalu gregetan. Rich mengguncang-guncang bahu Cello, hingga tubuh wanita itu pun terayun-ayun kencang. 


“Sa-sakit, Rich! Aw! Aaaah!” jerit Cello lagi, sebelum Rich mendorongnya dengan kasar, membal ke atas sofa. Lalu ditinggalkan oleh Rich begitu saja, keluar dari ruangannya.


BRAKKK!


Tubuh Cello berjengit, usai mendengar Rich membanting pintu sangat keras yang meledakkan air mata Cello tak berkesudahan. “Hiks, hiks!” Cello terisak-isak seraya merogoh ponselnya di dalam tas hermesnya. Mengadukan perbuatan tidak menyenangkan dari Rich pada Moreno Izakh. “Daddy? Rich sekarang sudah berani melawan.”


“Jangan sedih sayang. Pulanglah! Daddy akan menangani berandalan itu!” 


...----------------...


The paradise of island, Bali.


Itu hanya salah satu dari julukan Bali yang memiliki arti pulau surga karena bentangan alamnya yang indah bagaikan sebuah surga. Terkenal di seluruh dunia yang menjadi idaman destinasi wisata turis lokal maupun mancanegara.


Di sinilah, Alda memperoleh ketentraman jiwa. Melihat tanaman padi yang membentang hijau menyegarkan mata. Menikmati indahnya persawahan subak yang setiap petak sawahnya berbentuk undakan– tangga.



Kendati sejak dahulu kala sudah menjadi ciri khas kearifan lokal sistem pertanian di Bali. Yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya sejak 29 Juni 2012 di kota Saint Petersburg, Rusia. Pada umumnya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik atau Pura Bedugul, khusus diperuntukkan bagi Dewi Sri (Dewi kemakmuran dan kesuburan, menurut kepercayaan di Bali).


Berupaya keras  menguraikan butir kenangan pahit, asam, manisnya rasa di hatinya yang masih tersangkut di Kongo. Pada seorang pria yang memiliki bola mata berkelir hijau zamrud, bergurat tegas dengan ketampanan maksimal. Sayang, selain terkenal dengan julukan  si trouble maker. Pria itu juga minus akhlak.


“Alda … Yuhu!” 


Seorang gadis berteriak dari kejauhan, melambaikan tangan pada Alda yang termenung duduk di pinggiran sawah.



Mengamati papinya— Morren yang sedang mengawasi buruh tani sedang bekerja. Ada yang membajak sawah dengan kerbau, menanam padi dan di sisi lain tengah mengangkut hasil bumi berupa sayur- mayur.



“Hey, kau melamun saja. Nanti kesambet?” bicara gadis itu dengan logat khas Bali, langsung duduk di sebelah Alda sambil merangkul bahunya.



Alda mengulas senyum pada teman masa kecilnya itu yang selalu ceria di segala suasana. Tak pernah ia melihatnya sedih atau menangis. Hingga terkadang Alda keheranan dan sempat iri. Bahkan, pernah berpikir kalau Mutia tak pernah punya masalah dalam hidupnya.


“Sudah tiga hari pulang ke Indonesia tapi nggak berkabar-kabar?” Mutia yang jengkel memanyunkan bibir pada sahabatnya itu.


“Maaf, Mumut. Aku nggak sempat? Maklum, aku lagi banyak pikiran.” Alda menjawab dengan suara lemah.


Kedua tangan Mutia menangkup wajah Alda dan memutar kepala Alda yang tertunduk itu untuk menghadapnya.


“Jangan berat-berat memikul masalah! Cukup serahkan saja pada Dewata. Kita nikmati hidup yang cuma sekali, betul?” Mutia tersenyum lebar, tujuannya menghibur Alda supaya tak sedih lagi.


“Nggak betul, nggak betul. Emangnya kau yang nggak pernah punya masalah?” Alda membalik ucapan Mutia.


Mutia langsung menyangkal. “Eh! Siapa bilang aku nggak punya masalah! Di rumah, ibuku marah-marah terus. Kupingku panas, makanya tahu kau pulang ke Gianyar– Ubud. Aku langsung kabur ke rumahmu? Kata Wa Rukma— Bibi Rukma— ibunya Alda. Kau pergi ke sawah dengan Uncle Morren.”


“Wa Kadek— ibunya Mutia, kenapa marah-marah, Mut?” tanya Alda sambil memperhatikan Mutia yang menerocos. Entah ada-ada saja yang dibahas jika bertemu dengannya. “Biasanya Wa Kadek nggak pernah gitu." Alda menepuk jarinya ke dagu. "Nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api?” tuding Alda yang tak langsung percaya, karena ia tahu jika Wa Kadek itu penyabar.


Mutia menghela napas panjang, melampiaskan kesalnya dengan mencabuti rumput. “Aku disuruh ibu menikah dengan anak dari Juragan sapi yang dari desa sebelah?” bibir Mutia manyun lebih panjang dari semula.


Alda menoleh dengan kening berlipat-lipat. “Juragan Indra yang sapinya gede-gede itu?”


“Hum. Gedenya yang kayak badannya Juragan Indra,” celetuk Mutia yang membuat Alda mengulum senyum dan memicu usil menggoda Mutia.


“Emangnya kau udah dijodohin sama anaknya Juragan Indra belum, sih? Sama anak yang nomor berapa? Kan, soalnya anak juragan Indra banyak, Mut?” 


“Sini deh, aku bisikin!” Mutia agak mencondongkan tubuhnya ke dekat Alda.


Berbisik pelan nama dari calon jodohnya itu yang belum sekalipun diterima oleh Mutia, karena menurutnya pria itu belum memenuhi spesifikasi dan standarisasi. Dari mulai tinggi, berat badan dan penampilan. Menurut Mutia, calon jodohnya itu nggak banget!


“Oooh … Si Agung!” ucap Alda dengan mata membola. Suaranya yang kelepasan keras, sontak mulutnya dibekap langsung oleh Mutia.


"Mulutmu, Al. Lemes amat!" sungutnya yang membuat Alda nyengir, begitu bekapannya dilepas.


"Um, maaf Mumut." Alda menjewer kedua telinganya.


“Hmm. Oke. Kau ingat Agung? Si bau ketek itu yang dijodohkan Juragan Indra sama aku dan yang napasnya bau ******? Hii ..." Mutia bergidik ngeri dengan wajah cemberut, mood nya seketika berantakan saat wajah Agung terlintas tanpa permisi. "Hueekkk!"


"Hahaha!"


Alda malah tertawa. Mutia meliriknya dengan tajam.


“Tertawalah di atas penderitaanku, Al. Puas-puaskanlah sebelum tertawa itu dilarang!”


“Hush! Ngawur. Mati dong, aku? Dasar sableng!” Alda menabok bibir Mutia sehingga temannya itu seketika menjaga jarak dari Alda.


"Coba kalau aku dijodohinnya sama Bli— Kakak Rendra. Udah manis, ganteng, kumisnya tipis-tipis seksis dan selalu wangi. Wah! Aku pasti nggak bakal nolak?" Mutia berandai-andai.


"Ya udah. Ngomong sama Wa Kadek, biar kau dioper jodohnya ke Bli Rendra," putus Alda.


“Nggak semudah itu Marimar!” sanggah Mutia dengan cepat. "Soalnya Bli Rendra dengar-dengar, mau dijodohin sama gadis lain."


"Siapa?"


Mutia mengedikkan bahu.


"Terus si Agung statusnya gimana?" tanya Alda lagi, tertarik mengobrol dengan Mutia dan sejenak lupa akan masalahnya yang rumit. “Kalau masalah bau ketek, kan, ada deodorant atau kau suruh dia buat cukur bulu keteknya."


Mutia mempunyai ide. "Gimana daripada kau nganggur, buka salon di sini dan kau yang cukur itu bulu ketek si Agung?"


Mata Alda seketika melotot dan bereaksi menolak keras. “Heh? Ya, aku nggak mau lah, Fulgoso." Alda menelan ludahnya pahit.


“Hey, Marimar. Jangan sebut aku Fulgoso lagi, ya?” ancam Mutia tak suka. “Atau kupaksa Uncle Morren biar bukain kau salon!” Mutia berkacak pinggang, bersiap mengambil napas panjang dan akan berteriak pada Morren yang berdiri tak jauh dari mereka duduk. “UNCLE MO—, hmmpt!”



Mutia tak bisa berteriak karena mulutnya disumpal Alda dengan piring plastik yang akan dibuat makan di sawah nanti.


“Hmmmpt, lepas!” berontak Mutia yang kemudian berhasil melepas sumpalan piring plastik itu. “Aahaha. Takut ya?” ganti Mutia yang tertawa puas sudah mengerjai Alda. “Atau … Kau saja yang kawin dengan si Agung, gimana?” alis Mutia naik turun.


“Ih! Ogah! Lebih baik jadi perawan tua ketimbang jadi istrinya si Agung Karmalugy. Bisa-bisa aku di ketek setiap hari terus kena bengek. Nggak ah!” tolak Alda sambil bergidik ngeri.


Sejak kecil, keduanya bagai kucing dan tikus yang selalu berdebat jika bertemu. Tetapi  lama kelamaan, akhirnya jika sudah kelelahan berdebat. Mereka berdua akhirnya berbaikan lagi.


“Oia, ngomong-ngomong kau belum cerita. Apa pulang ke sini menetap lama atau kembali lagi ke Kongo?”


"Mungkin selamanya," jawab Alda setengah tak yakin.