Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
48. Terkejut



Segala upaya dilakukan Eve untuk menyadarkan Alda dari pingsan, termasuk membalurkan minyak angin ke telapak kaki dan membaukan ke hidung.


"Bangun Alda, please. Tuhan tolong sadarkan Alda ..." Eve begitu sedih dan menitikkan air mata sambil menepuk-nepuk ringan kedua pipi Alda. Membayangkan apa yang terjadi dengan sahabatnya itu sangatlah buruk dan ia berharap Alda nantinya kuat menerima cobaan ini.


"Ms. Eve," sapa Yessa yang baru saja tiba, setelah diminta Eve datang untuk menemani Alda sementara waktu. Dia lekas menemuinya ke dalam kamar. "Bagaimana keadaan Madam Dara?" cemasnya.


Eve menggeleng.


"Sudah dua puluh menit tapi Alda masih juga belum siuman," jawab Eve dengan mata sembab.


"Kita panggilkan dokter saja, Miss?" saran Yessa yang ternyata tak terpikir oleh Eve sedari tadi karena kalut.


"Aku setuju, cepat telepon dokter sekarang!" suruh Eve.


"Baik, Miss."


Yessa akan bergegas menelepon sebuah rumah sakit, tetapi baru menempelkan ponsel ke telinga. Ia dan Eve mendengar rintihan Alda yang terdengar lemah. Mereka melihat Alda yang perlahan bangun. Sehingga Eve dan Yessa pun mengurungkan niat untuk memanggil dokter.


"Eve, Yessa," sebut Alda ketika mengetahui mereka berdua telah berada di sisinya selama pingsan.


Yessa dan Eve mengangguk, lalu Eve mengangsurkan segelas air putih pada Alda.


"Minumlah dulu."


Setelah minum, Alda kemudian terlihat sedih dengan tatapan hampa saat foto-foto mesum Richard dan Cello kembali terlintas. Alda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Sabar Alda." Eve mengusap bahu Alda dengan lembut, dia tahu jika Alda tengah menangis. "Tenangkan dirimu dan jangan pikirkan itu dulu ..."


"Bagaimana aku bisa tenang Eve!" sentaknya refleks membuka wajah dengan mata merahnya yang terisi banyak buliran air mata. "Dia telah mengkhianatiku dan membuatku seperti wanita yang tak punya harga diri. Harusnya dari awal aku tak mempercayainya dan pulang saja ke Indonesia, tapi apa? Aku terlalu bodoh dan dibutakan cinta ..." raungnya lebih keras sambil mengumpati Richard penuh kecewa.


Menyesal telah mau ditiduri dan dijamah oleh Richard. Bahkan tak hanya tubuh, hatinya pun telah diserahkan sepenuhnya.


"Yessa, bisa tolong tinggalkan kami?" pinta Eve yang ingin bicara secara pribadi dengan Alda.


"Tentu, Ms. Eve," kata Yessa kemudian pergi.


Hanya ada Alda dan Eve yang menyambungkan lagi obrolan itu. Dengan Eve lebih cenderung diam, menjadi pendengar setia Alda yang mencurahkan segala isi hatinya.


Ketika Alda yang merasa hancur, sudah hilang kepercayaan dan ia membiarkan Alda menumpahkan air mata, supaya lebih tenang.


"Lalu apa keputusanmu selanjutnya?" tanya Eve, melihat Alda sudah hilang respect pada Richard.


"Aku akan memutuskan hubunganku dengannya dan mengembalikan ini," kata Alda yang melepas cincin pemberian Richard. Setelah itu Alda akan menjauh darinya dan tak ingin bertemu dia lagi.


Mata Eve terbelalak, bibirnya pun terkunci saat ia pun membenarkan keputusan Alda yang dirasa tepat. Alda berhak bahagia karena selama ini dia sudah banyak menderita oleh pria itu.


...----------------...


Tubuh Richard agak gerah, lengket sekali dengan peluh yang dirasanya aneh ketika berada di ruangan ber Ac. Lagi pula geraknya juga tak bebas.


"What! Cello?" terkejut Richard setengah mati, melihat tubuhnya polos dan wanita itu memeluknya begitu erat. "Damn it!" kesalnya sambil menghempas tubuhnya dari Cello.


"Baby, nngh! Kau mau ke mana?" tanya Cello begitu melihat Richard yang mengenakan pakaian dengan terburu-buru dan tidak menjawab. "Baby ..." rengeknya memeluk Richard dari belakang.


"Lepas!" bentak Richard dengan kilatan tajam.


"Kenapa kau membentakku, Rich?" Cello memasang wajah sedih, namun sedikit pun Richard tak kasihan dan malah muak.


"Tanpa sepengetahuanku, kau sudah meniduriku dan aku tak punya hak untuk marah? Dasar gatal! Kau tahu aku tak suka dipermainkan!" Richard memarahi Cello habis-habisan.


"Maaf, baby ..." ucap Cello lembut, berharap Richard luluh.


"Baby, baby!" teriak Cello mengejar Richard sampai keluar halaman, dengan hanya berbalut selimut.


Dia belum sempat mandi atau berganti pakaian. Tak peduli tatapan semua orang di mansion yang dianggapnya hanya patung. Baginya yang penting, berhasil mencegah kepergian Richard.


BRUMM.


"Rich!" teriak Cello ketika Richard mengabaikan dengan mobil Porsche nya yang melesat cepat. "Aaaaaah! Kurang ajar!" raungnya sangat kesal.


Cello benar-benar tersinggung, hatinya panas dan tak terima. Tapi bukan pada Richard, melainkan pada Alda yang dianggapnya sebagai pemicu Richard berubah kasar padanya.


"Tunggu pembalasanku wanita perebut kekasih orang!" geram Cello kemudian tersenyum licik.


**


Sambil berkendara Richard berusaha menghubungi Alda karena teringat janjinya semalam yang akan menelepon. Panggilannya terhubung tapi Alda tak mengangkat.


"Pasti dia marah karena aku sudah ingkar janji!" Richard berteriak marah memukul setir. "Ini semua gara-gara si wanita keparat itu. Harusnya aku tak minum tehnya yang sudah pasti diberikan obat. Bodoh kau Rich!"


Lalu Richard memutar haluan yang akan menuju rumahnya. Kebetulan dia dan Alda adalah tetangga yang berbeda gang. Namun, rumah Alda terlihat sepi dari luar dan mobilnya pun tak ada di parkiran.


Richard menurunkan kaca mobil, matanya yang jeli melihat Yessa tertutupi jemuran sedang menyiram tanaman di lorong taman. Wajah Yessa langsung berubah pucat, dia hendak kabur tapi terburu ketahuan Richard yang memanggilnya untuk mendekat sehingga ia terpaksa menemuinya.


"Hei, Nona Yessa. Kau asisten Alda, kan?"


"I-iya, Tuan." Yessa menjawab gugup.


"Di mana bosmu? Apa dia ada di rumah?" tanya Richard sambil mencuri-curi lihat ke dalam kaca rumah.


Yessa menggeleng. Nahas! Setelahnya malah suara Alda terdengar meminta bantuan.


"Tolong angkat penggorengannya Yessa! Tanganku penuh tepung!"


Richard berseringai tajam. "Kau mencoba menipuku?"


Mata Yessa terpejam takut dan menggigit bibir lalu menjawab dengan suara gemetar. "Ti-tidak begitu maksudku, Senor ... Akh!" pekiknya setelah Richard mencengkram kemejanya.


"Jangan masuk dan tunggu di luar, selama aku berada di dalam. Mengerti!" bentak Richard mengecam.


"Ba-baik, Senor."


Richard masuk tanpa ketukan kaki dan langsung menuju dapur. Ketika suasana sepi di rumah Alda semakin mendukung. Sebab Eve keluar sebentar ke supermarket.


"Yessa, cepat angkat penggorengannya! Nanti ayamnya bisa gosong dan kita tak jadi makan siang!" peringat Alda lagi terdengar kesal, menganggap Yessa lelet.


Richard tersenyum melihat kekasihnya yang mengenakan appron itu. Alda sangat menggemaskan dan sudah seperti ibu rumah tangga heboh, yang takut terlewat memasakkan hidangan untuk suaminya pulang bekerja.


Penggorengan diangkat Richard. Alda masih sibuk menguleni tepung. Tak tahu jika sekarang bukan Yessa yang membantu di belakangnya, melainkan orang lain.


"Yessa, tolong ambilkan bubuk cokelat di laci kitchen atas kepalaku ini, selain tanganku tak sampai tanganku juga penuh tepung. Pakailah kursi untuk naik!" suruh Alda lagi.


Tanpa menjawab, Richard mengulurkan tangannya melewati kepala Alda. Tubuhnya yang tinggi tak membutuhkan kursi. Namun, Alda merasa aneh ketika aroma parfum Yessa yang diendusnya tergantikan aroma lain yang begitu dia hafal. Hingga ia cepat berbalik badan untuk memastikan feelingnya tak salah.


Alda sangat terkejut bukan main, saat melihat bukan Yessa yang sedari tadi membantunya tetapi ... "Ah! R-Rich?"


Posisi keduanya yang sangat dekat, wajah keduanya berhadapan langsung. Sehingga Alda bisa merasakan hembusan nafas hangat mint dari Richard menerpa permukaan wajahnya, yang sontak membekukan tubuh Alda dengan sangat gugup.


"Bunny ... Apa lagi yang harus aku bantu untukmu?" Richard menarik pinggang Alda tiba-tiba yang membuat tubuh keduanya saling menempel.