Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
32. Terguling



‘Semoga aku tidak akan pernah bertemu kau lagi, Rich!’ Sumpah Alda di dalam hati.


Entakkan boots hitam Alda, sengaja menekan lantai. Menyiratkan saat ini, jiwanya telah dikuasai oleh amarah yang memuncak. Membanting pintu kamar Rich dengan kasar, sebelum ia benar-benar pergi dari sana.


“Terserah!” Rich tidak peduli, seolah-olah ia bisa mendengar suara hati Alda. Walau bibir wanita itu tidak mengucap sepatah kata.


Di gerbong berbeda, tepukan tangan sekelompok orang mengiringi pelafalan lagu shape of you dinyanyikan penuh semangat. Entah kenapa membuat wanita berambut coklat itu, seakan tersindir.


“Hentikan suara cempreng kalian!” Alda  melipat tangan, dadanya naik turun dengan nafas cepat. Lalu menghempaskan punggungnya dengan jengkel ke sandaran bangku kereta tanpa senyum.


Bibir team MUA pun seketika menganga dengan suara yang tak lagi keluar. Tergantikan rasa penasaran, apa penyebab suasana hati Bos mereka jadi memburuk.


“Madame kenapa?” Ale berbisik kepo pada Yessa yang mengedikkan bahu.


Jangankan coba tanyakan alasannya, kalau tidak ingin dipotong gaji atau berakhir kehilangan pekerjaan esok hari. Lebih baik diam dan menganggap seolah tidak melihat apapun.


Hingga ke stasiun pemberhentian terakhir, sikap Alda masih juga sama. Apalagi kini hidupnya merasa sial, ketika bertemu pria bermata zamrud itu lagi.


“Tidak ada jalan lainkah, sampai kau harus lewat pintu keluar ini?” ketus Alda tanpa melihat Rich yang berdesakan keluar dengannya, tanpa ada yang mau mengalah salah satu di antara mereka berdua.


“Mana aku tahu jika kau mau lewat pintu ini. Apa kau pikir aku dukun?”


“Kau menyindirku?!” Alda menatap Rich kesal.


“Jika kau merasa, tapi aku tidak.” Rich berkata dengan santainya, dua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Berdiri acuh tak acuh, lalu membuang muka.


“Minimal lady first lah. Apa kau tak tahu istilah itu?” Alda ngotot. “Sepertinya kau harus mengikuti kepribadian. Supaya kau mengerti apa itu attitude.” Ganti ia menyindir.


“I don't know and don't want to know!" tak peduli Rich dengan ketengilan-nya itu.


“Hish...!” Alda menggeram kesal, giginya mengerat. Kedua tangannya mengepal kuat, rasanya ingin menonjok wajah pria menyebalkan itu.


Sementara di belakang, penumpang lain yang ingin mengantre turun pun mulai kasak-kusuk. Jengah dengan kemacetan yang ditimbulkan dua makhluk yang bernamakan Rich dan Alda.


Belum selesai memperdebatkan egonya masing-masing atau mungkin menganggap dunia milik berdua. Sedang yang lain ngontrak?


“Ooi! Yang di depan kenapa tidak turun? Kalian pikir ini lampu merah di jalanan!” tegur salah seorang penumpang marah-marah.


Rich melemparinya tatapan bak serigala hutan yang kelaparan, dengan taring tajam. Ia sengaja memperlihatkan senjata api di balik jas dark brown nya, yang lengannya digulung ke atas. Seketika mengunci mulut pria itu, tidak berkoar kembali.


Lain lagi kini, seorang Nenek tua diikuti cucunya. Berjalan menekuri tongkat kayu, terlihat gemas-gemas kesal. Membelah Rich dan Alda yang terpaksa menyibak jalan.


“Awas minggir!!” usir Nenek pada Rich dan Alda.


Hingga tanpa sengaja keduanya berdiri sejajar dan Nenek itu, menatap wajah keduanya dengan pandangan emosi. Bahkan menyumpahi mereka yang terdengar seperti kutukan.


“Daripada bertengkar terus dan membuat onar di tempat umum. Lebih baik kalian menikah saja dan berperang bantal di malam pertama! Kalian terlihat serasi, sama-sama pasangan aneh. Hah?!” cibir Nenek sebelum melenggang pergi. Tidak lupa menggetok kepala Alda dan Rich dengan tongkat kayunya sebagai hukuman.


“Auw!” desis Alda meringis sembari mengelus kepalanya yang agak sakit.


Sedangkan Rich tidak menampilkan reaksi apapun. Ketika pukulan dari Nenek itu bukan membuatnya sakit, tapi membekaskan rasa malu.


Apalagi terlihat oleh Yessa dan team MUA-nya, juga anak buah Rich sendiri. Belum lagi penumpang lain yang melewatinya, terlihat menertawai puas.


Saat melirik wajah cemberut Rich dan Alda yang kini saling memisahkan diri, setelah turun dari kereta.


***


Sebulan kemudian...


Memang keduanya jarang bertemu lagi setelah tragedi di kereta. Hal itu di karenakan Rich dan Alda disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing.


Rich yang sukses membangun bisnisnya, sebagai owner majalah sekaligus brand fashion Fire Base kini tak hanya terkenal di Kongo saja. Namun, ketenaran-nya mencapai Eropa yang hampir menyamai Gucci, Louis Vuitton, Hermes, Channel, Dior dan lain sebagainya.


Ya, kendati hanya dijadikan kamuflase belaka untuk menutupi bisnis gelapnya sebagai mafia. Sementara Alda sendiri baru kembali dari Indonesia, setelah liburan panjang.


Tapi siapa sangka, ada saja kejadian yang menyangkut pautkan Rich dan Alda. Acapkali harus bertatap muka tanpa mereka sadari.


**


Pesawat dari Indonesia Airlines dan Air Chicago baru saja landing di Bandara Kinshasa sore itu. Seorang wanita cantik mengenakan blazer panjang beige, berambut kecoklatan yang sengaja digerai dengan topi bundar warna abu-abu itu, terlalu serius mengamati ponselnya.



Tak berada jauh, dari lorong searah. Selebriti, sebut saja begitu. Karena nama dan wajahnya yang belakangan ini kerap menghiasi layar kaca dan media sosial.


Memiliki puluhan juta followers instagram dan menjadi trend center kaula Adam tahun 2023 ini. Dikawal secara ketat oleh bodyguard-nya, demi menghindari serbuan blitz kamera. Dari wartawan dan paparazi yang telah menunggunya sedari petang.


"Itu dia datang!" pekik salah seorang wartawan mengetahui selebriti itu.


Di tambah jerit menghebohkan dari para gadis yang berkerumun di pagar pembatas, bersiap untuk meminta foto dan tanda tangan.


"Aaaaahhh!" Tampannya?"


"Please, aku butuh asupan oksigen dari tabung nebulizer!"


"Semprotan asmaku di mana? Tolong ... Aku sesak nafas, tak kuat melihat Richard Louis yang tampan itu!" lanjut seorang gadis dengan pandangan puppy eyes melihat Rich dari jauh akan segera mendekat.


Mereka saling berdesakan dan bertabrakan ingin duluan, bisa menggapai idola mereka. Jangan sampai lolos karena bertemu Rich itu sangat langka.


Sementara Bodyguard menghalangi mereka lewat, tubuh mereka yang sangat besar khas orang Negro. Mampu menutupi jarak pandang mereka.


Bersiaga di sisi belakang, kiri dan kanan Richard. Sehingga Rich bisa melenggang bebas.


"Sir, Anda harus menemui klien dari Belgia yang mengajak kerjasama dengan majalah Fire Base satu jam lagi," ucap asisten pribadinya, Gavin memberitahu.


"Persiapkan saja, nanti aku pasti datang!" kata Rich sambil mengenakan kacamata hitam yang tadinya bertengger di bawah leher.


"Baik. Malam nanti pukul sebelas, Tuan Megalodon ingin mengadakan transaksi," kali ini Gavin mensenyapkan suaranya dengan berbisik ke telinga Rich, saat pria itu memasang wajah cool dengan sesekali melempar senyum pada para fans.


"Oke!" singkat Rich setuju.


Richard begitu sibuk, padahal ia baru saja kembali dari Prancis dan New York. Menghadiri Met Gala bersama Selebriti papan atas di red karpet. Tak sempat untuk beristirahat atau sekadar melepas lelah.


Karena jadwalnya yang padat merayap. Mengharuskannya tetap stay on di segala suasana dan kondisi.


"Gavin minggirlah sedikit, aku mau tebar-tebar pesona!" sarkas Rich menggeser asistennya itu ke tepi.


Gavin mengangguk pasrah. Rich menyembul keluar sehingga wajahnya yang tampan dengan style yang membius para fans nya itu dapat terlihat jelas. Tak lupa ia memberikan bonus kiss bye, serta lambaian tangan. Juga senyumnya yang menawan.


"Emmuach!"


Cekrek!



Cekrekk!


Berbagai pose foto pun diambil para wartawan dan paparazi ketika Rich sedang berjalan, berkacak pinggang, memegang dagunya sambil mengedepankan tubuhnya yang gagah itu supaya lebih terekspos.


Dan yang terakhir saat Rich bersandar sedikit ke tembok, sambil memasukkan satu tangannya ke saku celana dan sebelah tangannya lagi memegang kacamata.


"Aaaahhh!"


"Rich!"


"I love you, Rich!”


Semua bertambah menggila. Rich begitu disukai mereka yang kini semakin menjerit histeris. Mewarnai kala Rich akan mendekat untuk memberikan para fans nya itu tanda tangan.


Bertepatan Alda lewat yang tak melihat jalan karena sibuk mengamati ponsel, seketika menubruk tubuh Rich dengan sangat keras. Hingga keduanya sama-sama terjatuh.


Rich mengukung Alda di atasnya, sedangkan Alda berada di bawah melebarkan mata sangat terkejut.


"K ... Kau Rich!"


"Tidak usah berlebihan. Jujur saja kalau kau senang kan, bisa bertemu denganku lagi?" ucap Rich yakin.


"Iya."