Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
90. Pesona Papi Bule



Biasanya hari sabtu dan minggu, menjadi hari favorit bagi Noah. Lain hari ini yang menurutnya paling istimewa, karena untuk pertama kalinya. Noah diantar sang Papi pergi ke sekolah dan kebahagiaannya itu terbukti, dari bibir mungilnya yang tak berhenti tersenyum. Sejak berangkat dari rumah hingga tiba di sekolah. 


"Pi, parkir di sini saja!" tunjuk Noah ke pinggir gerbang sekolah dekat pos satpam, lalu turun dari motor dengan tak sabar. 


"Awas, hati-hati sayang! Papi baru saja mau menurunkanmu, tapi kau sudah turun duluan?" Rich menggeleng melihat sikap putranya yang buru-buru. 


Noah nyengir menunjukkan senyum pepsodent, tak segera masuk ke dalam area sekolah dan malah menunggu Rich turun dari motor. Rich sendiri bahkan tak menyangka dengan hal kecil seperti ini saja, mengantar ke sekolah. Sudah membuat putranya tampak begitu bahagia. 


"Papi masih ingat janjinya, kan? Buat antar aku sampai masuk ke depan kelas?" tagih Noah yang takut Rich ingkar janji. 


"Oia jelas, Sayangku. Ayo kita masuk!" Rich menggandeng erat tangan Noah, berjalan dengan rasa bangga beriringan.


Namun, satpam tiba-tiba menghadang Rich dan Noah. Sehingga membuat Rich kesal, karena arah jam di arlojinya menunjukkan pukul tujuh hampir lewat. Jangan sampai putranya terlambat gara-gara halangan ini, dan dihukum oleh gurunya tak boleh masuk ke dalam kelas. 


"Peraturan di sekolah ini, batas pengantar anak-anak hanya sampai depan gerbang sekolah Mister," jelas satpam melarang. 


"Sekali saja tak boleh dilanggar?" 


Rich coba berunding dengan nada suaranya yang sengau, ketika melafalkan bahasa Indonesia. Tangannya sambil merogoh dompet dan mengibaskan uang lembaran seratus ribu ke wajah satpam. 


"Ya, ya. Pengecualian buat Mister, tapi jangan bilang siapa-siapa kalau saya mengizinkan, ya?" bisik satpam menerima uangnya dengan senyum sumringah. 


Lumayan, dapat uang rokok pikir satpam yang menciumi uang seratus ribuan itu. Sementara Rich dan Noah melenggang bebas ke dalam area sekolah berkat sogokan. 


"Beres 'kan, Sayang." Rich mengedipkan sebelah matanya pada sang putra. "Lain kali jika  ada penghalang seperti itu, uang yang akan membereskan segalanya."


Noah yang polos manggut-manggut, menerima ajaran dari Rich. 


"Oh … Gitu ya, Pi. Jadi kalau ada fullus, semuanya pasti beres?" 


"Ya, dong." Rich mencubit gemas pipi putranya yang pintar. "Omong-omong di mana ruang kelasmu sayang? Kalau lelah bilang ke papi. Papi akan menggendongmu?" 


Noah menggeleng lalu menunjuk ke pintu kelas yang di atasnya terdapat plang kayu bertuliskan huruf dan angka, kelas IIIA. Noah yang pintar dan cerdas menuruni gen dari Rich. Sehingga ia bisa lompat kelas yang seharusnya kini masih kelas satu sekolah dasar. 


"Di sebelah sana?"


"Ya, Pi. Itu ruang kelasku," kata Noah meyakinkan. 


"Oke, let's go Noah!" Rich mengajak putranya sambil berlarian kecil, sementara Noah mengimbanginya dengan tertawa lepas. 


Tawa dari bibir mungil sang putra, seketika menyejukkan hati Rich. Kini hidupnya lebih berwarna, bahkan Rich tak membutuhkan apa pun lagi setelah ini. Setelah kehadiran Noah dan Alda yang telah menyempurnakan hidupnya. 


"Eh, kok ada bule?" seorang guru terkejut saat ia tak sengaja melihat Rich dan Noah hendak memasuki kelas. Lalu  ia pun menahannya, "tunggu! Berhenti sebentar."


Noah tahu siapa guru itu lalu menyapa dan mencium punggung tangan guru matematikanya itu. 


"Hai, Bu Siska. Selamat pagi."


Bu Siska mengernyitkan kening sambil menunjuk Rich. Tapi matanya enggan berpindah memandangi Rich yang sangat tampan dan menggoda.


"Aduh tampannya?" gumam Bu Siska tersipu malu sendiri padahal Rich biasa saja, lalu ia melanjutkan pertanyaannya, "dia siapa Noah? Kenapa bisa bersamamu masuk ke dalam area sekolah? Harusnya kan, tidak boleh?" 


Wajah Noah langsung cemberut mendengar hal itu, dengan sekuat tenaga menarik tubuh kekar sang Papi berlindung ke belakangnya tubuh mungilnya dan Rich yang paham aksinya itu hanya bisa mengulum senyum. 


"Ini papinya Noah, Bu Siska!" ucap Noah dengan tegas. 


"Hah?" 


Mata Siska membulat penuh. Ia terkejut bukan main, masih tak percaya. Karena selain tak ada satupun pihak sekolah yang diundang ke acara resepsi pernikahan Rich dan Alda. Selama ini tersiar kabar, jika papinya Noah telah meninggal dunia. Lagi pula bulenya masih muda begitu, masa sudah punya anak umur tujuh tahunan? 


Rich memeluk tubuh Noah dengan erat dan mengambil ponselnya dari saku belakang celana. Mencari foto pernikahannya dengan Alda di galeri, lalu menunjukkan pada guru matematika itu. 


"Lihat baik-baik Bu guru. Siapa yang ada di dalam foto? Itu aku dan maminya Noah, istriku Alda Danurdara Louis. Sedangkan di sebelahnya ada Noah Louis, putraku!" ucap Rich dengan lantang, membeberkan bukti. 


"Wah! Noah benar-benar tak bohong dan menepati janjinya. Ternyata dia benar, papinya seorang bule tulen. Tampan lagi!" cetus mereka didengar oleh Noah dan Rich. 


Malahan, Noah sengaja menaikkan kerahnya dengan gaya tengil dan melirik diringi senyum remeh pada teman-temannya yang selama ini mengejeknya tak punya Papi. Sementara Rich yang melihat hal itu kini paham. jika Noah mengajaknya ke depan kelasnya itu, memiliki tujuan terselubung dan itu sengaja  untuk pamer. 


"Oh, astaga anakku?" gumam Rich pelan, menepuk kening. Kemudian berbisik ke telinga Noah. "Kenapa tak mengatakan pada papi dari awal jika kau merencanakan semua ini? Tahu begitu, Papi sekalian mengantarmu ke sekolah dengan mobil ferrari."


"Tidak usah, Pi. Begini saja sudah cukup membuat mereka sport jantung," oceh Noah yang membuat Rich kembali terkagum-kagum akan kecerdasannya. 


"Oh … Ternyata Mister bule ganteng ini papimu, Noah?" lemas wali kelasnya itu mendadak wajahnya murung dan menarik dirinya mundur. Padahal ia sudah bersiap mengeluarkan ponsel untuk meminta selfie berdua. 


"Ya, Bu Siska. Ini papinya Noah. Ingat, ya! Papiku!" tekannya membuat Rich menahan senyum. 


Rich tak menyangka jika putranya seposesif itu. Bahkan melebihi dirinya yang tak terima jika ada pria lain mendekati Alda. Ah! Buah memang tak jatuh dari pohonnya. Tak perlu tes DNA untuk membuktikan jika Noah adalah darah dagingnya atau bukan. Jika ingin tahu masa kecil Rich seperti apa? Lihat saja Noah. 


"Ya, sudah tidak apa-apa. Sekarang masuklah ke dalam kelas, sebab pelajaran akan segera di mulai." 


"Berarti aku tidak dihukum 'kan, Bu?" tanya Noah memastikan, mumpung masih ada papinya yang akan membereskan semua masalahnya. 


Wali kelas itu menarik nafas panjang sebelum bicara. Noah ini anak yang cerdik dan pintar memanfaatkan situasi. 


"Hmm, ya. Untuk kali ini saja," kata Bu Siska terpaksa. 


"Yeay!" Noah melompat girang lalu memeluk kaki Rich dan memintanya agar membungkuk supaya dia bisa mencium pipinya. "Makasih papi sudah mengantarku ke sekolah. Nanti pulangnya tolong dijemput lagi, ya?" 


Rich mengangguk, "siap kesayangan Papi. Belajar yang pintar ya, Sayang! Buatlah papi dan mami bangga."


"Ya, Pi. Noah janji," ucap Noah sambil tersenyum. 


Sehingga Rich gemas lalu mencium kedua pipi Noah. Mengacak rambutnya perlahan dan menitipkannya pada wali kelas itu supaya mendidik Noah dengan baik selama di sekolah. 


**


**


Namun, siapa sangka ketika Rich hendak keluar dari gerbang sekolah. Satpam kembali menghadang  dengan tampangnya yang terlihat serius dan nafas terengah-engah. 


"Kenapa kau mengejarku sampai berlari begitu, Pak satpam?" tanya Rich diringi tawa pelan. 


"Anda dipanggil kepala sekolah untuk menghadap Mister," lapor satpam sambil menyeka keringatnya dengan sapu tangan. 


"Soal apa?"


"Nanti Mister akan tahu sendiri dari kepala sekolah. Mari saya antar menuju ke ruangannya!" ajak satpam diikuti Rich bersisian jalan menuju ke sana. 


Ternyata Rich dipanggil kepala sekolah, mengenai hal yang berhubungan dengan status Noah yang sempat geger hanya dalam hitungan menit dan kepala sekolah merasa rumor tak sedap itu harus segera diredam sebelum menjadi kacau. 


"Saya dan maminya Noah sempat berpisah karena masalah pribadi, Pak kepsek. Kini masalahnya telah selesai lalu saya menikahi maminya Noah. Lagi pula, saya pun baru tahu jika sewaktu istri saya pergi dalam keadaan hamil Noah. You know lah, Pak Kepsek. Sebagai penebus rasa bersalah saya, apa pun demi kebahagiaan mereka berdua akan saya lakukan," ungkap Rich santai tapi meyakinkan. 


"Lantas soal makam palsu itu?" tanya kepala sekolah lagi.


"Makam palsu itu hanya dibuat untuk melindungi mental Noah yang kerap di bully teman-temannya, karena dianggap tak punya papi," lanjut Rich meyakinkan.


Kepala sekolah tampak terharu mendengarnya. Sejenak ia menyeka air matanya yang jatuh kemudian tersenyum pada Rich. 


"Baiklah, Mr. Richard. Sekarang semuanya clear dan tak ada kesimpangsiuran lagi soal hubungan Anda dan Noah. Tapi saya minta tolong, segera rubah status Noah yang tertera di kartu keluarga dan akte kelahirannya. Supaya di rapor nya nanti saya bisa mencoret status …" tak enak kepala sekolah itu mengatakan. 


"Status apa, Pak?" tanya Rich bingung. 


"Status nama Mr. Rich yang ada embel-embel belakang mendiang itu," jelas Kepala sekolah bicara dengan hati-hati, sebab ia melihat perubahan warna merah padam dari wajah Rich.