
"Apa maksud dari perkataanmu, Rich? Jadi kau tak ikhlas memberiku tumpangan begitu?”
Richard melempar senyum menatap Alda yang tampak kesal dan bukannya dijawab. Richard malah pergi meninggalkan Alda begitu saja.
“Hey, Rich. Aaaarhh! Dasar brengsek! Kadal buntung!” Alda meneriaki Richard dari jauh yang disambut tawa dari pria itu tanpa sekalipun menoleh.
Alda bernafas besar, mengepalkan kedua tangannya melihat punggung Richard dari lobi. Setelah dia juga telah berada di dalam, tak lama masuk.
Bahkan ketika tak sengaja berpapasan. Pria itu pun seakan tak peduli, walau tadi sudah menikam Alda dengan kecaman itu.
Lihatlah! Richard tanpa merasa bersalah, melenggang santai bersama dua wanita seksi yang sudah tak sabar menunggu kedatangannya. Lalu tampak diarahkannya, untuk berbelok ke ruangan lain di gedung Firebase agency.
Ping!
Bunyi pesan masuk di ponsel Alda, dari Yessa. Berisi pesan jika ia harus segera datang ke ruang ganti, karena sudah ditunggu oleh para model yang akan di make up. Sehingga Alda tergesa memutar haluannya ke lorong berbeda dan tak lagi memikirkan soal Richard.
**
Fitting room,
Apakah semudah itu? Oh, tentu saja tidak.
Buktinya, terjadi sebuah tragedi yang memicu keributan di fitting room. Antara Alda dan seorang model yang ia rias. Karena suatu kesalahan kecilnya yang tanpa disengaja.
“Aaaahh! Kau bisa make up tidak, sih!” maki seorang model pada Alda sambil berteriak dan berkacak pinggang.
“Maaf, Nona Messy. Aku … benar-benar minta maaf, a-aku tak berniat merusak rambutmu?” sesal Alda menyatukan tangan dengan ekspresi ketakutan, gara-gara ia melamun dan terngiang-ngiang ucapan Richard tadi soal tidak gratis.
Alda terus kepikiran dan tak bisa berkonsentrasi, fatalnya saat dia sedang mencatok rambut Messy. Catok yang panas itu, dibiarkan menjepit bawah rambut sang model lumayan lama.
Tercium aroma hangus kala itu, disadari lebih dulu oleh Yessa yang mengendus bau hangusnya. Berusaha segera menyadarkan Alda dari lamunan.
“Madam, psst …” panggilnya pelan supaya tak ketahuan Messy, sambil menarik-narik lengan Alda.
“Ya?”
Netra Alda membola penuh dengan jantung nyaris berhenti berdetak. Melihat kesalahannya, menggigit bibir dan ke sepuluh jarinya tertekuk gemetar di antara sudut bibir. Sayangnya sudah terlambat, ujung rambut indah Messy yang berwarna pirang keemasan itu berubah gosong.
“Pokoknya aku tak terima. Kau sudah merusak rambut indahku, Madam Dara. Aarrh! Sialan kau!” jerit Messy benar-benar marah.
Semua model yang tengah dirias pun, terpicu akan keributan yang dibuat Messy. Alda tak diberinya kesempatan membela diri, walaupun wanita itu berkali-kali mengutarakan maaf.
“Aku berjanji akan mengganti rugi rambutmu, Nona Messy?” bujuk Alda.
“No! Kau pasti akan semakin merusak rambutku dan membuatku botak!” sungut Messy tak percaya, mematut dirinya di depan cermin penuh kekesalan dan meraung-raung.
“Ya, ya. Kami akan mereparasi rambutmu dan akan membuatnya lebih baik,” Yessa ikut meyakinkan Messy yang terus berteriak-teriak.
Lengkingan oktaf Messy bahkan membuat fitting room gaduh dan orang-orang di luar pun yang penasaran jadi turut masuk. Kasak kusuk bertanya pada model lain tentang apa yang terjadi.
“Gara-gara kau. Ih!” geram Messy menuding Alda yang menunduk sambil mengeratkan gigi, rasanya ingin mencakar wajah wanita cantik di hadapannya ini supaya impas. “Asal kau tahu, akibat kelalaian mu ini. Aku rugi besar, bodoh. Tak akan ada agency yang menggunakan jasaku, semuanya hancur dan kau hanya menjanjikan rambutku kembali bagus. Cih!”
“Akan kuganti biaya kerugianmu, Nona? Tapi tolong maafkan aku,” Alda coba bernegosiasi.
“Dengan cara apa, hah?” remehnya. “Magic? Detik ini juga rambutku akan seperti semula. Hallo Madam, lima menit lagi aku perform.” Messy menertawai Alda sambil menjentikkan jari.
Alda semakin tersudut, pembelaaan apapun tak akan pernah berhasil.
“Sudahlah Messy, tenang dulu,” halau teman model lain, berusaha meredakan suasana panas itu.
Chariot manager agency itu baru saja tiba di fitting room, setelah mendapat laporan dari orang-orangnya. Bahwa telah terjadi keributan di sana dan ia harus mengeceknya langsung.
“Shut up!” bentakan Chariot seketika mengunci mulut para model itu, termasuk Messy dan Alda yang memelankan isakan tangisnya.
Kegaduhan pun selesai. Messy maju pada Chariot, mengadu soal Alda. Ia diberi kesempatan pria gemulai itu dan kini giliran versi Alda yang memang mengaku jika ia bersalah.
Siap menanggung segala resiko, meski nama studio make up nya ikut tercoreng dan memberi dispensasi kerugian materil berupa uang yang tidak sedikit pada Firebase juga pada Messy.
Karena secara tidak langsung, Chariot terpaksa membatalkan perform Messy dan pemilik fashion designer yang gaunnya akan dikenakan Messy kali ini. Juga meminta ganti rugi, produknya terpaksa ditarik saat fashion show.
“Madam, aku kecewa sekali denganmu. Padahal temanku Vanilla telah merekomendasikan kau sebagai MUA terbaik di Kongo ini untuk merias para modelku. Tapi apa? Sayangnya kau tak sesuai ekspektasi, ck!” ungkap Chariot menggeleng.
Alda menghapus air matanya dan mengangguk. “Sekali lagi aku minta maaf sebesar-besarnya Chariot. Tolong jangan sampai berita ini tersebar luas, jika tidak. Studio make up ku akan hancur.”
Chariot menarik nafas panjang sambil mengipaskan tangannya ke wajah lantaran gerah.
“Oke. Sekarang keluar dari Firebase dan setelah kau mengganti rugi semuanya, jangan pernah tunjukkan lagi wajahmu di hadapanku!” kecam Chariot kemudian berlalu dengan berjalan gemulainya itu.
Diikuti para abdi setianya dari belakang dan para model yang akan perform. Menyisakan bekas duka mendalam bagi Alda yang terduduk lemas di kursi, hanya ditemani para tim-nya di ruangan itu.
“Sabar Madam,” Yessa mengusap punggung Alda yang kini tengah menangis dalam sesal. Bosnya itu tampak kacau dengan wajah tertunduk dan tak berkata apapun.
Ale, Vallery dan yang lain pun terisak, sesekali menyeka air matanya. Bukan hanya sedih untuk Alda, tetapi juga masalah ini akan berimbas pada pekerjaan mereka.
“Apakah kita akan sepi job, Madam?”
Pertanyaan Ale langsung mendapat lirikan tajam dari Yessa, ekspresi pucat mengambang pada Ale yang memukul bibirnya lancang karena keceplosan. Alda mendekati Ale dan tersenyum walau terpaksa, lalu mengatakan sesuatu sebelum pergi.
“Kalian tak usah khawatir, masih banyak jalan menuju Roma. Aku akan berusaha keras agar kalian tak menjadi pengangguran.”
“Madam, maafkan aku…” kata Ale menyesal dengan mata berkaca-kaca, memandang lekat pada Alda yang sembab.
Alda cuma mengangguk, bergerak ke arah pintu keluar tanpa bicara apa-apa lagi menuju toilet. Membasuh wajahnya dengan air kran, sekilas bercermin dan tersenyum dalam kepahitan untuk memacu semangat dalam diri.
Tanpa diduga saat dirinya mulai tenang, keluar dari toilet. Secara tak sengaja ia berpapasan dengan Messy. Wanita itu tiba-tiba menyiramkan segelas orange juice dari tangannya ke wajah Alda.
Byuur!
“Auwh!” jerit Alda terhenyak atas perlakuannya. Syok-nya belumlah hilang, Messy lalu menjambak rambutnya dari belakang.
“Kau pantas mendapatkan ini bodoh! Dasar MUA sialan, mata dibalas mata. Rambutku yang kau rusakkan, rambutmu juga harus rusak!” bentak Messy kesetanan. Emosinya sudah di luar batas, menyeret Alda seperti kambing sedang Alda melawan dan bersikeras melepaskan rambutnya dari tangan Messy.
“Tolong, jangan begini Nona Messy. Kau bertindak kurang ajar padaku!”
“Inilah hukuman yang pantas buatmu bodoh!” umpat Messy bersiap dengan gunting di tangan, mata Alda membola selebar-lebarnya. Nafasnya pun tersengal-sengal melihat gunting itu sedikit lagi memotong rambutnya.
“Jangan nekat kau Nona Messy!” pekik Alda berusaha membalik situasi.
Tetapi Messy memutar rambut Alda, sehingga tubuh wanita ini membelakanginya dan pada saat itu Messy menendang bokong Alda hingga ia terjerembab ke lantai.
Brukh!
“Auwh!” desis Alda kesakitan, matanya melotot tajam pada Messy yang sedang mengarahkan gunting.
Kebetulan toilet sepi, tak ada siapapun kecuali Alda dan Messy saja di sana. Hal ini menguntungkan Messy yang tersenyum miring menatap Alda yang sudah berkeringat dingin.
Membayangkan rambutnya botak, hingga terdiam tanpa perlawanan dan tak disangka-sangka pula. Seseorang datang merebut gunting itu dari tangan Messy begitu cepat.