
Eve juga datang ke hotel Santiano, selain Yessa. Menjemput Alda untuk pulang ke rumah setelah membuat Alda cukup tenang dalam situasi ini.
"Jangan-jangan si Nyonya Prancis dan Bom Meriam itu menjebakmu, Al?" Eve menebak. "Pasalnya semua rentetan peristiwanya aneh. Tidak ada yang menginap atas nama mereka dan sepertinya janggal. Cek pembayaran untuk make up fashion show dari mereka pun tiba-tiba raib."
"Sepertinya, sengaja dihilangkan supaya kita tak punya barang bukti menuduh mereka, Madam Eve?" tambah Yessa beranggapan, lalu dia pun meminta maaf karena terlambat menemui Alda di hotel itu.
"Tidak apa-apa, Yessa. Kau melakukannya tanpa disengaja, harusnya mereka yang patut di salahkan," balas Eve membuat Yessa tenang dan Alda pun sudah tak ingin mengungkit hal itu.
...----------------...
Bukan insomnia, tidak juga habis minum kopi kebanyakan. Namun, hingga pukul dua belas malam. Alda masih belum mengantuk. Dia keluar dari kamar dan membuka pintu kamar Eve, bermaksud ingin mengajaknya mengobrol. Sayangnya Eve sudah tidur, begitu pun Yessa yang terlihat mendengkur halus.
"Kenapa mendadak hatiku sangat gelisah?" gumam Alda merasa tak tenang. Iseng-iseng coba membuka pesan dari Rich waktu lalu, semua berisi permohonan maaf dan Rich memintanya untuk berbaikan. "Tapi kenapa rasanya sungguh sulit memaafkanmu, Rich?" teringat Alda akan percumbuan dia waktu itu bersama Cello.
Alda menarik nafas dalam-dalam. Entah apa yang terjadi dengan kakinya. Tiba-tiba bergerak tanpa sadar, melangkah pergi mengendarai motornya dan berhenti di depan rumah Rich.
'Rumahnya tampak sepi, lampunya juga padam. Apakah Rich sedang tidak di rumah atau keluar negeri?' batin Alda, ternyata dalam hati kecilnya berharap bisa melihat Rich walau hanya sekadar bayangan saja.
Gubrak.
Alda terkesiap gelagapan, bingung takut ketahuan oleh Rich. Dia malah menuntun motornya tanpa dinyalakan. Hingga berada agak jauh, ia melihat kucing bertengkar di depan rumah Rich.
"Oh Tuhan. Ternyata tadi itu suara kucing? Aku kira Rich?" Alda tersenyum mengingat kekonyolannya sendiri.
Senyumnya itu terbawa hingga pulang ke rumah, mendadak Alda rindu padanya. Dibukalah fotonya bersama Rich yang tengah berselfi. Tak terasa setelah memeluk foto itu pun, dia terlelap.
°°
°°
Teriakan Eve menyambut pagi, lengkingannya yang begitu keras seketika mengejutkan Alda dan Yessa terbangun dari mimpi. Berlari tergesa menemuinya di kamar yang kemudian menghampiri Alda di ambang pintu dengan wajah pucat.
"Ada apa, Eve?" tanya Alda begitu cemas, melihat Eve yang ketakutan seperti habis melihat hantu.
Eve menghela nafas panjang sebelum bicara. Tangannya erat menggenggam tangan Alda dengan tatapan sendu. Tetapi, fokusnya buyar ketika mendengar Yessa menyerahkan segelas air untuknya minum.
"Terima kasih, Yessa," ucap Eve yang kemudian diajak Alda duduk kembali ke atas ranjang.
"Sekarang tarik nafas dulu. Tenang ... Dan ceritakan apa yang terjadi sampai kau bisa histeris pagi-pagi buta begini, Eve?" tanya Alda dengan suaranya yang lembut menatap Eve.
Eve tak menjawab, kendati bingung harus mengungkapkannya atau tidak. Dia takut Alda syok setelah tahu semuanya. Berhubung ini gawat, meskipun tangannya gemetar. Ponselnya pun diperlihatkannya pada Alda.
°°
Drrt, drrt ...
Ponsel milik Rich terus berdering sehingga memaksanya untuk membuka sedikit matanya walau malas. Tangannya meraba-raba meja di sebelah ranjang lalu menempelkan ponsel ke telinga.
"Hallo, siapa?"
[Firheith. Apa kau sudah selesai dengan dua pelacurmu itu? Ada hal penting yang ingin kusampaikan jika sudah. Kutunggu kau di restoran biasa sekalian sarapan pagi.]
Melihat dua tubuh polos yang meringkuk di pojokan kamar dengan wajah sembab dan penuh luka. Bekas penyiksaan-nya semalaman, membuat Rich muak dan segera berpaling.
"Ambil bayaranmu dan keluar dari kamarku. Kalian semua tidak berguna! Rasanya tidak enak! Pergi sebelum aku mencambuk kalian lagi!" usir Rich sambil melempar uang tunai ke wajah mereka.
Uangnya berhamburan jatuh dan mereka pun segera memungutinya. Setelahnya pergi terbirit-birit keluar dengan memeluk pakaiannya tanpa sempat mengenakan.
°°
Rich menemui Firheith di restoran tak lama, wajahnya yang kusut dan lingkaran hitam di bawah matanya itu membuat Firheith semakin khawatir.
"Apa semalam kau begadang dengan mereka?" tanya Firheith.
"Tidak. Aku hanya bersenang-senang sebentar lalu mereka kutinggal tidur," jawab Rich agak malas. "Ada kabar buruk apa sampai kau mengganggu tidurku?"
"Hmm. Apa kau belum dengar jika foto-foto kekasihmu dengan pria itu di hotel telah tersebar di dunia maya, televisi dan surat kabar?" tanya Firheith sambil menschrooll layar ponselnya.
Rich tak suka membahas Alda dan dia tak mengakui lagi jika wanita itu kekasihnya.
"Kau tuli apa bodoh? Dia kan, hanya mantan. Terserah aku tak peduli! Itu deritanya bukan deritaku!" ucap Rich kemudian pergi begitu saja meninggalkan Fitheith yang mematung.
"Rich, tunggu!" Firheith mengejarnya dan menyerobot masuk ke dalam mobil Rich tanpa permisi.
"Jika kau hanya ingin membahas wanita itu lagi. Turun!" suruh Rich.
Sakit hatinya pada Alda sudah tak bisa ditolerir lagi. Kebenciannya telah mendarah daging dan ia sangat kecewa berat. Baginya Alda adalah masa lalu dan ia harus bisa melupakannya secepat mungkin.
"Oke, Rich. Lebih baik kita berdiskusi soal pengiriman barang ke Singapura, dengar-dengar di sana banyak peminat produk kita."
Rich cuma mengangguk dan mencerna semua perkataan Firheith selama perjalanan. Dia kini berubah dingin kembali, kaku dan hanyut dalam dunianya sendiri tanpa peduli pada orang lain.
°°
Sementara Alda begitu syok dan tak berhenti menangis, ketika melihat foto-foto tak senonohnya disebar luaskan oleh pihak tak bertanggung jawab.
Alda tak berani keluar dari rumahnya karena para wartawan mengepung di luar. Setiap hari berdatangan seperti lalat dan mengincar Alda sebagai topik utama.
Bahkan untuk menghentikan gosip murahan itu, Eve juga sudah meminta tolong pada koneksinya yang bekerja di media massa. Sayangnya, bukan gosip itu tenggelam seiring waktu. Malah meluas dan berimbas buruk pada usaha Studio Danurdara Make Up milik Alda.
"Semua klien menarik kerjasamanya, Madam Dara. Bagaimana ini?" lapor Yessa. "Kita tak ada pemasukan," sedihnya merasa kalut.
"Mereka juga meminta uangnya kembali," imbuh Eve yang turut menangani studio make up nya semenjak Alda mengurung diri di rumah.
"Ya, sudah kita kembalikan saja uangnya," kata Alda yang pasrah. Dia sudah kehilangan harga diri dan usahanya akan segera bangkrut.
Tabungannya juga menipis, sehingga terpaksa menjual rumah yang di tempatinya sekarang. Lalu mengatur sisa uangnya untuk menggaji para karyawannya. Alda sudah tak punya apa pun, usahanya yang dirintis dari nol kini hancur dalam sekejap dan dia tak tahu siapa dalang di balik ini semua.
"Lalu apa rencanamu sekarang, Al?" tanya Eve yang melihat Alda semakin kurusan.
"Papaku menyuruhku pulang ke Indonesia, Eve."