
Mengira Alda keracunan caviar atau alergi pada telur ikan. Rich tak berpikir dua kali lagi untuk melompat dari ranjang. Kecemasan itu membuat ia panik, langsung berlari menghampiri Alda di dalam bathroom yang masih muntah-muntah.
"Hueeek, hueek ...!"
Mendengar Alda yang terus muntah, Rich tak tega lalu memijat lehernya dengan perhatian.
"Sweety ... mana yang sakit? Tunggu di sini, aku akan memanggilkanmu dokter, ya?" tawar Rich tak tega.
Alda menoleh dengan wajahnya yang tampak pucat sambil menyeka bibir. Melihat hal itu, asumsi Rich semakin menguat, bahwa Alda memang keracunan dan sebelum terjadi hal buruk ia harus bertindak cepat. Melangkahkan kakinya keluar dari bathroom, tapi baru selangkah jalan pergelangan tangannya ditahan oleh sang istri.
"Tidak usah, Boo. Aku hanya—"
"Please, Sweety. Aku tak ingin terjadi hal buruk padamu, sebentar lagi aku kembali membawakanmu pakaian dan memanggil dokter kemari," potong Rich dengan terburu dan berwajah tegang.
Gerakannya yang gesit membuat Alda hanya bisa menatap diam, saat Rich sudah menghubungi seorang dokter lewat telepon dan kembali padanya dengan membawa baju ganti. Tidak dikenakan sendiri karena Rich yang membantu mengenakannya. Mulai dari hal yang paling dalam hingga luar.
Ting, tong!
"Itu pasti Gina yang datang—"
"Kok, Gina? Bukannya kau memanggil dokter untukku? Jangan katakan kalau kau membawa selingkuhanmu kemari ya, Boo ... awas—"
"Eits! Sweety, jangan salah paham dulu!" cegah Rich tak ingin Alda salah paham. "Gina itu dokter jaga di kapal pesiar ini. Dia temanku, makanya aku tak menyebut gelarnya dan hanya menyebutkan nama saja. Jangan cemburu, ya. Cintaku hanya untukmu seorang, hum?"
Rich menggenggam erat tangan Alda, menatap mimiknya yang menunjukkan kemarahan kini perlahan berubah tenang setelah mendapat penjelasannya.
"Benarkah kau tak berbohong? Mengingat mantanmu banyak, jadi aku sulit percaya itu wajar," tukas Alda menjebik.
"Ayolah sweety! Kali ini tidak. Itu hanya masa lalu? Percayalah ..." bujuk Rich mati-matian pada Alda yang membuang muka.
Ting, tong.
Ting, tong.
Bell itu terus berbunyi karena dr. Gina terus menekan bell dan setelah Rich memperoleh kepercayaan dari Alda, akhirnya kini ia bisa membuka pintu itu.
"Malam, Rich. Lama sekali? Memangnya kau sedang itu ya?" terka dr. Gina sambil menahan senyum, memperhatikan rambut Rich yang masih acak-acakan.
Jejak bersejarah berupa tanda merah, banyak dijumpai menghiasi leher, dada temannya itu dan yang lebih membuat dr. Gina ingin menghujatnya karena bekas lipstik juga masih tertempel di pipinya.
"Hush! Kau itu seorang dokter apa wartawan? Cepat masuk! Kasihan istriku sudah menunggu dan kalau sampai terjadi sesuatu padanya, gara-gara kau terlambat memeriksa. Aku akan memastikan membuangmu ke laut supaya dimakan hiu!" ancamnya sedikit emosi.
"Hi, takut!" ucap dr. Gina bergidik ngeri sekadar pura-pura, sebab tahu kalau Rich hanya menggertak.
"Sial! Kau menggodaku!" umpatnya saat melihat dr. Gina melewatinya begitu saja.
Wanita seusia Rich itu duduk di sebelah Alda, tersenyum menyapa ketika Alda pun melakukan hal sama.
"Hai, Alda," sapanya ramah.
"dr. Gina? Halo, salam kenal," balas Alda setelah keduanya berjabat tangan.
"Rich pasti sudah menceritakan siapa aku. Tenang saja, aku bukan mantan korban suamimu yang playboy itu karena aku sudah menikah dan punya anak," ucap dr. Gina sambil mengeluarkan peralatan medis dari dalam tasnya.
Mengetahui suaminya jujur, Alda merasa lega. Di sela dokter Gina memeriksanya dengan stetoskop, lalu sedikit menekan denyut nadi di pergelangan tangan. Tak ayal beberapa detik kemudian, bibir dokter itu tersenyum menatap Rich.
"Apa maksudmu kita harus membawa istriku opname di rumah sakit? Kalau begitu, ayo! Aku akan menelpon Hendrik untuk membawa helikopter ke sini!" panik Rich yang malah disambut tawa keras dari dr. Gina.
Rich dan Alda saling bertatapan heran maksudnya apa. Tapi setelah tawa dr. Gina lenyap, sesuatu mulai dikatakan olehnya.
"Tenang calon Papi, kau tak usah membawa Alda opname atau kau menyuruh Hendrik membawa helikopter kemari. Karena istrimu tak keracunan, melainkan positif hamil," ungkap dr. Ghina membuat Rich bengong.
"Apa, apa? Ha—hamil? Istriku, Alda hamil? Benarkah itu?" tanya Rich dengan senyuman lebar bercampur tak percaya, bahagia, terharu menjadi satu rasa.
Pria itu berlari dan menaiki ranjang. Seketika memeluk Alda sangat erat, memberi hadiah ciuman bibir berkali kali, sambung menyambung hingga dr. Gina memutar bola matanya malas karena merasa jadi obat nyamuk.
"Bagaimana kau bisa berpikiran bodoh mengira istrimu keracunan? Tak tahukah kalau istrimu sudah telat tiga minggu?" sela dr. Gina, sukses mengejutkan Rich lagi.
"Hah? Ti—tiga minggu dan aku baru tahu sekarang?" Rich membulatkan mata, menelengkan kepala dengan pandangan menuju Alda yang mengedikkan bahu. Ia merasa kecewa, terlambat mengetahuinya.
"Maaf, karena kau sering meminta jatah terus. Aku sampai lupa kalau telat datang bulan, hehe ..." jawab Alda nyengir.
"Ya ampun sweety! Kalau tahu kau hamil, pasti aku akan sedikit pelan-pelan memasukkan ..." ucapan Rich batal karena melihat gelengan dari dr. Gina. "Kau masih di sini Gina?"
"Loh! Kan, aku belum memberi istrimu vitamin dan obat untuk mengurangi mualnya? Jadilah aku belum pergi. Tapi kau yang kasmaran dan mesumnya berlebihan itu tak kenal situasi, malah tak mempedulikan keberadaanku!" desis dr. Gina sambil memberikan klip berisi obat dan botol vitamin pada Alda yang mengulum senyum.
Rich meminta maaf berikut Alda. Berhubung dr. Gina hanya bercanda, mereka bertiga tertawa setelah itu. Sebelum dokter tersebut pergi meninggalkan keduanya di kamar.
"Terima kasih banyak Tuhan, akhirnya rahim istriku berisi benih premiumku," ucap Rich sangat bahagia, hingga tak berhenti bersyukur dan menciumi seluruh wajah Alda.
Bahkan malam itu diputuskan nya menjadi malam terakhir mereka setelah selesai dari Maldives. Karena tergesa ingin menyampaikan langsung kabar bahagia itu kepada keluarganya. Memutuskan ikut menyusul Noah yang masih berada di Hongkong menikmati liburannya di disney land.
Ternyata kabar itu disambut antusias oleh semua keluarganya, Noah terutama yang tak sabar menantikan kelahiran adiknya. Bocah tampan itu perhatiannya melebihi Rich, kerap mengelus perut Alda dan mengajak bicara perut maminya itu yang masih datar.
"Kapan adik bayi lahir mami?" tanyanya sambil memeluk Alda, tidur di tengah-tengah kedua orang tuanya semenjak dua minggu kepulangannya dari disney land. Mereka berempat memutuskan kembali ke Bali.
"Nanti setelah sembilan bulan, Sayang."
"Lama sekali?" kata Noah tampak kecewa. "Aku tidak bisa main dengan adik bayi, deh!"
"Main sama papi saja kalau begitu? Kita tanding game, bagaimana?" tawar Rich yang kini cosplay menjadi suami dan papa yang siaga.
Tentu saja Noah tak menolak tawaran papinya dan bermain itu hanya satu jam, sebelum menidurkannya di kamar setelah Rich membacakan dongeng.
"Noah sudah tidur, Boo?" tanya Alda, melihat Rich memasuki kamar dengan membawa segelas susu.
"Iya sweety, nah! Sekarang giliranku memanjakan maminya anak-anakku. Minumlah susunya istriku," kata Rich begitu lembut..
Alda tersenyum manis, meminum susunya perlahan di samping Rich duduk. Meletakkan lagi gelas kosong itu di meja lalu memeluknya dan membuka dress Alda perlahan.
"Mau apa boo?" tanya Alda, keningnya mengerut saat Rich sudah bersiap menundukkan kepala dan memegang kedua bongkahan itu yang ukurannya semakin besar.
"Anaknya sudah minum susu, maminya sudah, sekarang giliran papinya dong?"
"Dasar bayi mesum!"
"Oh ... kau menyebutku bayi mesum? Rasakan ini!" ancam Rich yang membuktikan langsung melahapnya sangat rakus hingga Alda meminta ampun.