Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
40. Berpamitan



Keesokan harinya,


“Eve, ini kunci cadangan rumah dan kunci Danurdara Studio MUA milikku. Semuanya aku titipkan padamu, maaf jika selama ini aku merepotkan—”


“Kau serius mau pulang, Al?” tanya Eve yang menitikkan air mata tiba-tiba, lalu memeluk Alda dengan erat kendati tak ingin berpisah.


“Iya,” jawab Alda lemas.


“Kupikir kau hanya bercanda. Jangan begini Alda? Please...” Eve memohon supaya Alda mengurungkan niatnya. "Jangan pulang ke Indonesia? Tetaplah di Kongo?"


“Aku tidak suka bercanda Eve, setelah berpikir semalaman. Hal inilah yang kurasa tepat, jadi aku akan datang pada Rich hanya untuk berpamitan.”


Meledaklah tangis Eve, diikuti Alda yang larut bersama-sama mengurai tangis. Eve tahu benar rapuhnya Alda saat ini. Tapi ia pun tak bisa berbuat banyak. Jika Alda sudah mengambil keputusan bulat, maka sulit bagi siapa saja menggoyahkannya.


“Jangan menangis lagi Eve, katamu aku harus tegar. Kenapa sekarang kau yang cengeng?” Alda menghapus air mata di wajah sahabatnya itu, menguraikan senyum tipis.


“Ya, aku memang cengeng. Tapi jangan pernah lupakan aku Alda, kau sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Nanti kalau aku ada waktu, pasti aku ke Indonesia mengunjungimu,” kata Eve yang mulai akan menangis lagi.


“Aku menunggu untuk itu, bye Eve. Jaga dirimu baik-baik.”


Tangan Alda melambai, Eve menatap getir dan berat dari pintu apartemen. Bagaimana wanita itu  berpura-pura tegar. Caranya berjalan agak lemas, wajahnya pun kuyu dan sembab. Karena ia tahu jika semalaman Alda tidak tidur memikirkan semua ini.


...----------------...


Fire Base Model dan Agency


Bangunan tinggi itu Alda pandang di bawah teriknya mentari pagi. Bibirnya tersenyum tipis, mengiringi jalan tegapnya tubuh semampainya untuk memasuki kantor itu dan menuju bagian lobi.


“Apakah bisa saya bertemu dengan Senor Rich?” tanya Alda pada wanita yang menjadi resepsionis di sana. Usai dia menyebutkan nama.


Kantor Fire Base cukup ramai, banyak model berseliweran dan selain pekerja. Beberapa bulan lalu, Alda pernah kemari bersama team-nya, merias beberapa model.


Membuatnya seketika teringat akan tragedi masa itu atas kelalaiannya. Menghanguskan rambut seorang model yang bernama Messy.


"Ah, semoga aku tak bertemu dia lagi?" gumam Alda sambil memperhatikan sekitar. Ia baru mengetahui jika Richard Louis adalah owner dari Fire Base ini, dari iklan ads yang muncul di instagram.


Pantas saja, Richard bisa menyelesaikan masalahnya dengan sekali perintah. Ternyata selama ini, pria yang tengah berkecamuk di hatinya bukan pria sembarangan dan penuh dengan kejutan.


“Ada perlu apa? Maksud saya dari  instansi mana? Maaf, Ms. Alda  apa sudah membuat janji lebih dulu dengan Senor. Soalnya tidak sembarang orang bisa bertemu dengannya,” terang resepsionis—bernama Ilona ramah. Seketika membuyarkan lamunan Alda.


“Oh begitu, lalu bagaimana?” tanya Alda yang tidak punya nomor ponsel Rich sama sekali karena dulu sempat ia blokir. “Tapi dia ada di tempat, bukan?” lanjutnya sambil melirik jauh ke lantai atas, dimana ruangan Rich berada. Seperti informasi yang didapatnya dari security di luar gedung.


“Beliau sibuk, Miss. Sedang ada kunjungan di luar kota,” terang Ilona bekerja secara profesional.


Ia tidak diperkenankan sembarangan menyebar informasi kepada orang lain, karena Rich butuh privasi dan selain untuk menghindari paparazi yang belakangan ini suka mengincarnya untuk menjadi bahan gosip.


Alda mengerti, dia tidak juga memaksa. Kemudian dia menghela nafas sesaat, dengan wajah tertunduk. Terpaksa memutuskan pergi dari sana dengan tangan kosong. Entah kenapa tiba-tiba hati Ilona tergerak iba, kasihan melihat wajah Alda yang memelas itu.


"Ya sudah kalau begitu. Saya permisi dulu, Nona Ilona," pamit Alda berlalu pergi.


Ilona memutari meja resepsionis dan menyusul Alda. “Miss?”


Alda mengangkat wajahnya yang sembab. Untung sudah tertutupi oleh make up nya itu, sehingga tidak kentara.


“Ya, ada apa Nona Ilona?"


“Saya akan memberitahu Anda sesuatu. Tapi jangan bilang pada siapa-siapa. Kalau saya yang memberitahu Anda. Karena jika saya ketahuan, pasti saya akan dipecat, maka dari itu. Tolong beri saya satu alasan tepat. Tujuan Anda ingin menemui Senor Rich?” tanya Ilona lebih ke berbisik.


“Hanya berpamitan sebelum pergi,” jawab Alda singkat.


Ilona terheran-heran. “Itu saja?”


“Hanya itu, Ms. Ilona. Saya teman lama Senor Rich. Mungkin jika Anda menghubunginya dan menyebutkan nama saya, dia sedikit ingat.” Alda tersenyum kecut.


Ilona mengangguk paham. Tangannya menulis sesuatu di secarik kertas yang ia serahkan kepada Alda.


“Terima kasih banyak atas bantuan Anda Ms. Ilona,” ucap Alda tersenyum menatap wajah gadis manis itu. "Demi saya, Anda rela seperti ini. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan Nona."


Ilona membalas senyumnya. "Amen."


Alda pun keluar dari gedung Fire Base. Menaiki taksi menuju Parama Hotel seperti yang tertera di alamat yang Ilona berikan.


Menurut pihak hotel, meeting antar seluruh persatuan pemilik Agency model terkemuka dan media cetak. Baru akan selesai pukul satu siang. Sementara waktu Alda hanya tersisa satu jam lagi, sebelum jam tiga sore ia harus sampai di bandara Kinshasa agar tak ketinggalan pesawat.


"Baiklah, aku akan melakukan sesuatu sambil menunggu Rich selesai meeting." Alda tak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Waktunya ia habiskan dengan melakukan meeting singkat bersama team MUA—nya secara zoom.


Lebih ke berpamitan dan memberitahu pengalihan kepemimpinan sementara pada Eve Ritter—sahabatnya. Kendati Yessa lah yang paling sedih, harus berpisah dengan bosnya itu yang sudah dianggap sebagai keluarga.


Yessa adalah saksi hidup, bagaimana perjuangan keras Alda dalam membangun MUA studionya. Mulai dari nol hingga sukses seperti sekarang.


“Baiklah Senor, kami senang bekerjasama dengan Anda. Semoga proyek ini berjalan lancar,” pemilik agency lain tampak menjabat tangan Rich, ketika baru pria itu baru saja keluar dari  ballroom.


Memandang bangga pada pria itu yang semakin berwibawa dengan tuxedo hitam dan penampilannya yang sangat high class. Tanpa sadar ia pun tersenyum lepas dan hendak mengurungkan niatnya untuk bertemu.


Alda berbalik badan, mengambil clutch bag miliknya dari sofa dengan sedikit membungkuk. Netra zamrud Rich mengelebat tidak sengaja menangkap keberadaannya.


Melihat kaki jenjangnya yang putih mulus, postur tubuhnya yang semampai seksi dari belakang. Rich hafal betul jika itu adalah Alda. Tangannya menepuk punggung wanita itu yang kini berbalik agak terkejut, mengiranya tepukan itu dari orang lain.


“Ya, ada apa?” tanya Alda, seketika pupilnya melebar penuh. Mengetahui jika yang menepuknya adalah pria yang ia tunggu dari tadi. “Rich...”


“Kau sedang ada urusan di sini juga?” tanya Rich datar, ekor matanya mengedar. Tengah mencari sesuatu, bersikap netral seolah dia bertemu teman lama. “Datang bersama siapa, Al?” perasaannya juga ingin tahu, namun tidak diperjelas.


Alda menatapnya lekat, sejurus kemudian ia berpaling demi menghapus butiran air di matanya yang jatuh. Kembali menghadap Rich dengan senyuman tipis.


“Sendiri, untuk menemuimu.”


"What?" Rich memiringkan kepala dengan alis terangkat naik.


Entahlah bagi Rich ini sebuah surprise atau salah pendengaran. Tapi hatinya sedikit berbunga mendengar itu.


“Aku?” Rich menunjuk dirinya.


Alda mengangguk pelan, berjalan lebih mendekati Rich. Walau  jujur sekarang jantungnya berdetak cepat dan ia begitu nervous.


“Berpamitan—”


“Tunggu! Maksudnya bagaimana aku tidak paham?” Rich menajamkan matanya dan memperhatikan gurat kesedihan di wajah Alda. Meskipun Alda telah menutupi wajahnya yang sembab itu dengan make up sempurna.


Sesaat Alda memejamkan matanya kuat-kuat, mengambil nafas dalam-dalam lalu melanjutkan bicara.


“Rich, aku minta maaf jika selama ini pernah mengecewakanmu. Tapi aku sekarang menyesal dan ingin memperbaiki hubungan ini,” Alda menjeda saat dadanya terasa sesak tidak kuat meneruskan ucapannya. Kala serbuan gelombang air mata yang akan meluncur.


Tahan Alda, jangan menangis di depannya?


Mata Alda menatap langit-langit kemudian meneruskan kalimatnya lagi. Sementara Rich memberinya kesempatan bicara tanpa menyela.


Namun, tanpa Alda sangka. Rich menariknya pergelangan tangannya dan mengajaknya ke sebuah tempat. Berupa  sweet room yang hanya ada mereka berdua di sana, duduk di sofa berhadapan.


“Jangan berpikiran macam-macam, aku hanya  tidak ingin reputasiku rusak. Di luar banyak paparazi, well. Aku hanya tidak ingin ada gosip di luaran mengenai kita, ” ucap Rich mengawali  pembicaraan yang tertunda.


“Kau benar Rich. Ternyata kini kau semakin dewasa,” timpal Alda membuat Rich tersenyum tipis sambil menawarkan sebotol air mineral.


“Terima kasih Rich, aku tidak haus.” Alda menolaknya sopan.


“Hmm, tenang saja. Di dalamnya hanya berisi air, aku tidak mencampurinya obat perangsang seperti dulu. Jadi, kau tidak usah khawatir,” Rich mengatakannya to the point.


Tentu saja Alda kaget mengetahui fakta itu. Benar selama ini dugaannya jika Rich berbuat licik saat memperk*sanya. Sekarang buat apa dia marah? Tidak ada gunanya. Nasi sudah menjadi bubur. Sobekan kertas bisa disambung, keperawanan tidak akan pernah kembali.


“Aku tidak berpikir sampai ke sana. Tapi terimakasih sudah jujur padaku,” kata Alda.


Rich tidak melihat kemarahan dalam diri Alda. Itu sangat aneh! Biasanya wanita ini akan mengamuk dan entahlah Rich suka gayanya yang seperti itu. Dari pada mendadak Alda jadi pendiam.


“Oia, omong-omong soal kedewasaan ku. Keadaan lah yang memaksaku jadi begini. Lagi pula aku sudah bosan bersenang-senang. Kini saatnya aku menata hidup yang lebih baik, termasuk berkeluarga nantinya,” ucap  Rich dengan tiba-tiba.


Alda menanggapinya biasa. Walau jujur dalam lubuk hatinya, ia menginginkan hal yang sama dengan pria itu. Tapi, rasanya tidak pantas. Mengingat dirinya yang terlalu picik dan buruk.


“Maaf, aku terlalu banyak membual. You  know? Sebejat-bejatnya lelaki di dunia ini pasti menginginkan itu, bukan?” Rich menatap Alda yang tersenyum simpul.


“Ya, itu wajar. Apakah  kau sudah ada calonnya?” tanya Alda menahan nafas.


Rich terdiam sejenak.


“Sudah ada.”


“Aku harap semoga nanti acara pernikahanmu berjalan dengan lancar Rich,” ucap Alda mengatakan itu berat hati. Sangat sakit dan rasanya sesak, ia  memaksakan senyum demi membuat image nya agar tidak diremehkan.


Rich hanya tersenyum dan tidak menjawab.


“Oia, tadi kau mau mengatakan sesuatu dan berpamitan?” tanya Rich mengingatkan.


Alda kini memandanginya intens, serius mengatakannya dengan hati yang tulus. Sementara Rich yang penasaran akan ucapannya, masih setia menunggu.


“Benar. Apakah kau mau memaafkan kesalahanku Rich dan... Kembali ke keluargamu lagi? Dengan cara apa supaya aku bisa menebus kesalahanku?” tanya Alda membuat Rich keheranan.


“Kau bicara apa Alda? Itu tidak ada hubungannya denganmu,” elaknya cepat agak membenarkan duduk.  Tidak nyaman jika membahas soal itu.


“Aku sudah putus dari, Ef. Apakah itu sudah bisa membuatmu kembali pada keluargamu dan kau bisa berbaikan lagi dengan, Ef?” Alda merasa sangat bersalah dan berpikir dengan cara ini lah Rich mau kembali pada keluarganya.


“Putus??” Rich begitu terkejut setengah mati.


“Ya, aku kemari menemuimu dengan sengaja, Rich. Selain meminta maaf, aku juga mau berpamitan. Karena aku akan kembali ke Indonesia untuk selama-lamanya," putus Alda membuat Rich kembali