
Alda memandang Rich yang tampak datar dan dingin. Dari tadi berbicara, Rich tak sekali pun merespon. Mulai menggendongnya dari dalam rumah Hudson hingga keluar teras. Rich terus mendiamkan Alda.
"Please, Rich. Jawablah ... Apakah kau mendengarku? Kenapa hanya diam?" tanya Alda dengan suara lemah, ,diiringi rintihannya menahan sakit di sekujur tubuh.
Rich menghela nafas panjang lalu bicara, "di mana aku harus mengantarmu pulang? Ini sudah hampir dini hari. Selain luka-lukamu harus segera diobati, kau juga harus beristirahat."
Alda gigit jari karena Rich mengalihkan topik. Padahal bukan itu jawaban yang diinginkan.
‘Mungkin Rich masih marah dan kecewa padaku, atas kejadian dulu. Astaga! Kenapa aku semurah ini? Seharusnya aku sadar, jika aku sudah memiliki Ef dan aku tak boleh mengkhianatinya.’ Pikir Alda.
"Sekarang kau yang malah diam? Cepat katakan di mana alamatmu, Alda? Aku tak punya banyak waktu," desak Rich, dengan sikap tenang tak sekasar biasanya.
"Dua rumah dari sini. Di sebelah kanan no. 45," jawab Alda pelan.
"Kau bertetangga dengan si keparat itu?" Rich terkejut, sontak menatap Alda yang ternyata memandanginya dari tadi.
Hampir saja, Rich tenggelam dalam pesona Alda. Tapi dia buru-buru memalingkan wajah dan memasang gestur tenang, walau gugup.
"Oke, tak usah naik mobil. Aku akan mengantarmu pulang dengan berjalan kaki," putus Rich, merasa jarak rumah itu begitu dekat.
**
Kini mereka berdua telah sampai di depan pintu rumah Alda. Rich menurunkan wanita itu perlahan dan berdiri. Namun, tenaga Alda yang terkuras habis karena tragedi tadi. Membuat Alda hampir saja roboh jika Rich tak sigap menahan pinggangnya.
"Wajahmu pucat sekali?" Rich cemas, tangannya refleks membelai pipi Alda.
Mata Alda terpejam, menghayati setiap sentuhan Rich. Tubuhnya merasakan getaran lain. Ada kenyamanan, kehangatan dan tak ingin jauh.
Apakah ini yang di namakan jatuh cinta? Bila berada di dekat si dia, banyak bunga bermekaran dan kupu-kupu saling berterbangan di dalam hati yang memicu jantung berdisko?
"Aku tidak apa-apa," kilah Alda tak ingin merepotkannya lagi, bercampur gugup.
"Mana kunci rumahmu, biar aku yang membuka?"
Alda memberikan kuncinya dengan tangan gemetar. Rich membukanya sambil menahan pinggang Alda, lalu memapahnya ke dalam dan mendudukkan Alda ke sofa.
"Terima kasih banyak, Rich." Alda berucap lirih sambil menyeka peluhnya di kening.
Rich mengangguk dan tersenyum simpul. Alda semakin tak karuan melihat wajah Rich yang begitu tampan.
"Kau tinggal sendirian di sini?" tanya Rich setelah melihat kondisi rumah Alda yang sepi.
"Iya, tapi malam ini ada asistenku yang menginap. Kau mau minum apa, Rich? Biar aku buatkan," tawar Alda yang beringsut akan ke dapur.
Rich baru akan menjawab, tiba-tiba Alda menghempaskan bokongnya lagi ke sofa dan memekik kesakitan.
"Auw!"
"Sudahlah tidak usah!" tolak Rich yang kemudian terlihat menelepon seorang dokter.
Alda sebenarnya tak ingin merepotkan sejauh ini. Begitu telepon itu selesai, ia langsung memberondong Rich.
"Rich ..."
"Tunggu sebentar. Itu pasti dokternya sudah datang!" Rich menjeda ucapan Alda.
Rich keluar menemui dokter lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Seorang wanita setengah baya berpakaian santai, tengah menyapa Alda dengan anggukan sopan dengan menenteng tas perlengkapan medis.
"Ini dr. Xena, Al. Dia yang akan memeriksa dan mengobatimu," kata Rich memperkenalkan nya pada Alda.
"Hai, dok." Alda tersenyum ramah, meski dengan kepala yang agak berat.
"Hallo, bisakah kita melakukan pemeriksaan padamu sekarang? Kelihatannya kau semakin pucat," pinta dr. Xena.
"Aku setuju denganmu, dok. Ayo biar aku membantumu ke kamar, Al?" tawar Rich yang tak ditolak Alda.
"Papah aku saja?"
"Oh, baiklah." Rich tersenyum, berhati-hati mengantar Alda ke kamar diikuti dr. Xena dari belakang.
Di kamar yang ditunjuk Alda. Rich merebahkan Alda dengan hati-hati, perhatiannya sungguh membuat Alda tersentuh dan diam-diam tanpa sepengetahuan Rich. Alda terus memperhatikannya.
"Aku akan menunggu di luar," pamit Rich pada dr. Xena, karena ia tak ingin tergoda melihat kemolekan tubuh Alda yang bisa saja menaikkan suhu tubuhnya nanti.
Dr. Xena mengangguk, sedangkan Alda tersenyum pada Rich yang kemudian dibalasnya juga sebelum berlalu.
Lima belas menit berlalu, dr. Xena memanggil Rich untuk masuk. Pemeriksaan telah selesai dan ia ingin memberitahukannya.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Rich yang melirik Alda ternyata sudah tertidur nyenyak di atas ranjang.
"Anda tak usah cemas, Tuan Rich. Nona Alda hanya sedikit syok dan kelelahan saja. Untunglah tidak saya temukan juga kerusakan di organ vitalnya, akibat kejadian nahas itu. Sepertinya ia berusaha keras melindungi dirinya!" jelas dr. Xena membuat Rich lega, ternyata Alda tak sempat diperk*sa dan dia tepat waktu untuk menyelamatkannya.
"Syukurlah," ucap Rich begitu lega.
"Nona Alda saya beri suntikan anti infeksi yang mengandung obat tidur. Selain itu, luka-lukanya juga sudah saya obati," lapor dokter.
"Oke, dok. Terima kasih banyak atas bantuan Anda," kata Rich sambil mengantar dokter keluar.
Sekembalinya Rich ke kamar Alda, Rich melihat wanita itu tengah meringkuk kedinginan. Rich kasihan lalu menarik selimut untuk menghangatkan tubuh Alda.
"Kau selalu gegabah mengambil keputusan, Al. Kau terlalu berani sebagai seorang wanita. Di mana Ef? Dia malah tak datang melindungimu saat kau dalam bahaya!" geram Rich menghembuskan nafas besar, saat memperhatikan bekas tamparan di pipi wanita itu.
Hatinya sakit sekali, membayangkan bagaimana waktu itu Alda berjuang sendirian melawan Hudson. Untung saja dia melintasi jalanan komplek itu. Jika tidak!
Rich pasti akan menyesal, mengingat kesalahannya di masa lalu yang juga pernah membuat Alda di posisi sama.
"Padahal aku sudah mengikhlaskanmu untuk, Efrain. Tapi kni, dia telah membuatku kecewa," lirih Rich sambil mengusap pipi Alda perlahan-lahan.
Ada pesan masuk di ponsel Rich. Ia pun seketika membaca pesan dari Firheith. Temannya itu mengirimkan sebuah kabar menggembirakan, tentang mayat Hudson yang telah ia bereskan.
"Good, Firheith!" puji Rich sekalian mengirim pesan balasan.
Rich menengok jam di tangannya. Sudah pukul empat dini hari dan ia harus segera pulang. Lagi pula, ia lihat Alda keadaannya berangsur pulih.
Wanita itu tidur sangat nyenyak , sangat cantik dengan posisi itu. Mendadak Rich gemas ingin mengecup pipinya. Tapi, urung dia lakukan. Mengingat Alda telah menjadi milik saudara kembarnya.
"Pasti Alda tak membutuhkan aku lagi setelah ini," pikir Rich akan segera pergi. Kebetulan siang nanti pun ia banyak kesibukan. Salah satunya, harus meeting penting dengan para desainer papan atas.
Mulanya Rich ragu untuk menekan nomor Efrain, tetapi ia harus menghubunginya segera dan memberitahu keadaan Alda yang sebenarnya
...----------------...
Pagi itu, Alda telah bangun. Terduduk di atas ranjang, dengan keadaan yang berangsur membaik.
Sebaik perasaannya kali ini yang cerah layaknya mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya.
Ketika melihat Rich yang wajahnya tertelungkup ke permukaan ranjang. Di sebelahnya tengah tertidur. Hati Alda pun kian berdebar-debar tak menentu.
Senyumnya merekah bagai kelopak mawar, rona wajahnya bersemburat merah karena tersipu.
"Dia menjagaku sepanjang malam?" gumam Alda sembari menggigit bibir.
Tangannya terulur ragu pada pria itu. Sedetik kemudian ia berperang pikir, akhirnya memberanikan diri untuk mengguncang bahunya dengan perlahan.
"Rich, bangunlah ... Rich!"
Hingga terangkatlah wajah pria itu yang membuat Alda tersentak lemas dan membulatkan mata. Teringat warna bola mata biru itu yang tak diharapkan kehadirannya.
Tapi warna bola mata lain yang semalam telah menyihirnya dalam beberapa saat, hingga menorobos paksa ke alam mimpi.