Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
81. Pesan Terakhir



"Hey, diam!!" Cal meninggikan suaranya hingga Izakh mengatupkan bibir. "Berapa harga yang kau inginkan untuk menebus putraku darimu! Sebutkan berapapun!"


Izakh masih diam mencari alasan, Cello menarik-narik ujung jasnya dengan rengekan yang tak usai hingga kepalanya pening.


"Satu C&L Diamond pun jika kau tak serakah, dua akan kuberi demi kebebasan putraku!" tajam Cal.


Morren pun berusaha membujuk Izakh. "Izakh, jangan pisahkan dua orang yang saling mencintai? Cello akan sembuh dan mendapatkan pria lain ..."


"Kau tak tahu Morren! Umur Cello hanya tinggal beberapa bulan lagi? Dia sakit keras!" sentaknya sambil menunjuk wajah Cello yang semakin pucat. "Semua Ayah di dunia ini pasti egois mementingkan kebahagiaan anaknya sendiri. Morren. Tak terkecuali kau dan Cal!!" tunjuknya menggebu-gebu. "Aku pun sama. Tidakkah kalian tahu? Hanya Cello yang kumiliki di dunia ini, setelah Leandra pun pernah mengalami sakit yang sama dengan Cello!" tiba-tiba Izakh merendahkan nada suaranya yang tersirat memendam duka.


Cello terisak isak memeluk Izakh. "Daddy, aku tak akan mati. Aku akan selalu menemanimu."


"Sayang ..." Izakh menggetarkan bibir.


Mendadak gara-gara menyaksikan itu, jiwa Rich tergerak iba. Tapi, di sisi lain. Ia pun enggan meninggalkan Alda dan Noah yang sangat ia cintai lebih dari dirinya sendiri.


"Izakh." Cal memanggil. "Aku akan membantumu mengobati Cello sampai sembuh, menantuku Nick akan mencari cara dan membuat obat anti kanker dengan sentuhan tangan dinginnya—"


"TIDAK PERLU!" Izakh menolak mentah-mentah. "Perjanjian itu akan lunas jika Rich mati di tanganku!"


Gelap mata, Izakh yang membenci situasi ini. Berpikir lain, dengan cepat menodongkan gun. Menarik pelatuknya yang mulanya diarahkan pada Rich. Tapi, kemudian membelot pada Alda. Sehingga Rich pun mengeluarkan revolvernya. Dan Cal pun bersiap menembak Izakh dengan memutar triger yang siap ditarik.


DOORRR!


Jeritan keras menanungi ruangan mansion itu yang hening. Rich salah tembak, pelurunya menyasar pada Cello yang melindungi Izakh tepat di jantungnya.


Cello tersungkur ke lantai, begitupun Izakh yang ambruk di sisinya. Karena Cal pun menembaknya di bagian jantung.


Napas Cello tersendat, tangannya berusaha menggapai tangan Rich dengan air mata berlinang. Rich pun berlari menuju ke arahnya. Refleks melepas genggamannya dari tangan Alda dan menurunkan Noah karena penyesalan itu. Bagaimanapun buruknya Cello, Rich tak pernah lupa. Jika hanya wanita itu saja yang setia mendampinginya walau di hatinya tak pernah ada kata Cinta.


"Rich ... Rich ..." igau Cello di sela helaan nafasnya yang kian menipis.


Izakh yang masih menggenggam gun itu pun tak terima putrinya ditembak oleh Rich. Hingga demi membalas sakit hatinya, ia pun diam-diam akan menembak Rich tepat di saat Rich bersimpuh. Mengangkat kepala Cello kepangkuannya, Alda menggulirkan buliran bening tanpa disadari.


Namun, hal itu diketahui Morren yang menumbalkan dirinya untuk melindungi Rich dari timah panas itu.


DOORRR!


DOORRR!


"Aaarrghh!"


Tubuh Morren seketika terhempas jatuh, ketika peluru itu melubangi jantung dan perutnya yang membuat ia tak stabil lagi berdiri.


Alda histeris, berlari menghampirinya. "PAPI ...!!"


Cal yang murka lalu membalas dengan menembaki Izakh, hingga peluru di revolvernya habis.


"SIR IZAKH TEWAS!" seruan dari para anak buah Black Shadow yang mulai kacau.


"SERANG!" The Blooded mempergunakan kesempatan itu.


Baku tembak kembali berlangsung antara Blooded Killer yang menundukkan kekuasaan Black Shadow.


**


**


"Aku di sini, Cello. Bertahanlah ..." Rich menatapnya sendu, suaranya bergetar. "Maafkan aku Cello. Aku tak bermaksud membunuhmu, aku hanya ..."


Cello tersenyum, menarik napas panjang dengan susah payah. Meraba-raba tangan Rich yang kemudian Rich menggenggam tangan Cello. "Tidak apa Rich ... Aakh!" meringis kesakitan tertambat di wajah Cello. "Aku ikhlas karena akhir hayatku mati di tanganmu, Rich. Aku ... Sangat ... Mencintaimu Rich. Tapi ... Sekarang, aku juga ... mengikhlaskanmu untuk Alda. Maafkan aku yang selama ... Ini, sudah egois Rich ... Maafkan ... Juga daddy—ku ..."


"CELLO... CELLO!" teriak Rich begitu kacau, ketika melihat Cello menghembuskan napas terakhir dan menutup mata untuk selama-lamanya.


Di sebelahnya, Rich pun tersiar lirih suara Morren menyerunya. Hingga ia terpaksa meninggalkan jasad Cello dengan hati-hati dan beralih pada Morren.


"Papi jangan tinggalkan aku ..." Alda terisak sedih bahkan dadanya sesak, tak sanggup menyaksikan papinya meregang nyawa. Kenangan manis di waktu kecil, betapa papinya itu yang sangat menyayanginya dan menjaga Noah ketika ia tak ada. Bagaimana Morren menguatkannya di saat ia terpuruk hamil anak Rich. Alda tak bisa menggambarkan betapa baiknya papinya itu. "Bertahanlah papi? Ingat Ibu di rumah yang menunggumu pulang ..."


"Nono ...! Jangan pergi ninggalin Noah. Noah sayang Nono!" Noah memeluk kaki Morren sambil bercucuran air mata.


Cal yang menyesal karena terlambat menyelamatkan besannya itu pun meminta maaf, sambil mendekap tubuh cucunya. "Sayang, sini sama Grandpa.


"Apa ... Nono akan baik-baik saja, Grandpa?" polos Noah bertanya pada Cal yang terpaksa mengangguk bohong.


Morren tersenyum lega sekali. Melihat Cal menyayangi Noah dengan tulus, ia sudah ikhlas untuk pergi menemui Tuhan ketika tanggung jawabnya di dunia telah selesai.


"Uncle Nick akan menyembuhkannya," kata Cal yang sebenarnya terpaksa. Sehingga cukup meredam tangisan Noah, tapi tidak Alda yang memeluk Morren sangat erat.


Sama halnya Mutia yang syok melihat Morren terkapar bersimbah darah pun tak kalah sedih, hingga ia pun terus menangis sambil direngkuh oleh Firheith yang tak pernah jauh darinya.


"Tuan Morren. Bertahanlah ... Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang?" pinta Rich begitu Nick memeriksa denyut nadinya lalu menggeleng lemas.


"Tipis Rich, Al. Ikhlaskan Tuan Morren," kata Nick dengan berat hati.


Alda menggeleng tak rela jika papinya akan pergi secepat ini. "Tidak Prof. Nick. Tolong ... Lakukan apa pun? Atau tukar nyawa papi dengan nyawaku saja!" desak Alda yang tampak hancur sehancurnya meluruhkan segala air mata dengan wajahnya yang sembab dan mata membengkak.


Morren memanggil pelan, "Alda sayang ... Anak papi ..." nyaris tak terdengar jika Alda tak mendekat. Morren berupaya meraih tangan Alda dan Rich. Setelah berhasil, ia pun menyatukan kedua tangan mereka di atas dadanya yang berlumuran darah. "Rich ..."


"Iya Tuan Morren, maafkan aku selama ini pernah mengecewakan Anda dan sudah menghamili Alda. Aku ... Sangat menyesal." Rich menundukkan wajahnya sambil memejamkan mata.


Rich merasakan tangannya semakin digenggam kuat oleh Morren. Tapi sedetik berikutnya, genggaman Morren perlahan lemah.


"Tolong cintai Alda dan Noah. Jagalah mereka dengan baik ... Demi aku dan jangan pernah sia-siakan mereka lagi. Aku ..." Morren menjeda napas.


"Papi," Alda menyandarkan kepalanya di sebelah Morren. Seperti kebiasaanya sewaktu kecil dulu.


"Aku berjanji papi. Aku akan menjaga calon istriku dan anakku melebihi nyawaku sendiri," ucap Rich meyakinkan.


Sesaat Morren mencari napas. Ia kesulitan bicara, "Nikahi Alda setelah aku tiada. Jangan duakan dia dan jangan kecewakan aku. Aku ... Merestuimu. Aku merestui kalian ... Alda, titip salam untuk Rukma. Aku ... Sangat mencintainya ..."


Morren tersenyum, perlahan kelopak matanya terpejam dan genggaman tangannya pada Rich dan Alda pun jatuh. Berikut helaan napasnya yang tak terdengar lagi di telinga Alda.


"PAPI ... JANGAN PERGI!! PAPI ..." Alda memeluk tubuh tak bernyawa Morren, Rich menyedekapkan kedua tangan Morren di dada, setelah Nick menyatakan jika dia sudah tutup usia.


***


😭😭😭


RIP Morren Edinghard.