
Helikopter hanya menjadi salah satu kejutan untuk Alda dari Rich, ternyata masih ada lagi kejutan lain. Bukan mimpi tapi nyata, ketika keduanya kini berada di kapal pesiar mewah setelah helikopter itu mendarat di atas helipad.
Berlayar mengarungi samudera, dimanjakan, disayang-sayang dan mendapat perhatian lebih dari Rich yang sangat romantis.
Apa yang tak dilakukan pasangan suami istri. Terutama pengantin baru, selain menyatukan cinta kasih di atas peraduan. Berselimutkan tubuh menjadi satu tak kenal waktu, di tambah suasana private di kapal pesiar mewah itu yang semakin mendukung.
Rich mengalirkan seluruh bukti cintanya, mengalir dan memenuhi rahim Alda tanpa kenal lelah. Ranjang itu sudah tercerai berai, hingga percuma saja dibereskan kalau acapkali menjadi kusut lagi.
"Sweety, hum? Kenapa mandi tidak ajak-ajak?" suara berat khas bangun tidur itu berasal dari Rich.
Pria tampan itu hanya membalut selimut menutupi bawah dirinya, memeluk Alda di depan meja rias dan menghujani seluruh wajahnya dengan banyak kecupan.
"Kau tidur terlalu nyenyak. Aku tak tega membangunkan." Alda tersenyum menatap Rich yang merengek seperti anak kecil itu. "Jangan katakan kau mau lagi suamiku! Dari sore sampai jam sembilan malam kau sudah membuat suaraku hampir habis dan lututku gemetar. Tidak lagi."
Rich menghela nafas panjang, tampak lesu.
"Hmm, ya. Mau ke mana pakai make up segala?" tanya Rich curiga, seakan tak rela melihat kecantikan istrinya dilihat orang lain selain dirinya sendiri.
"Aku lapar, Boo. Bukankah kau janji mengajakku dinner romantis di restoran yang ada di pinggir kapal ini?" ulang Alda sambil membelai rahang Rich.
"Oh, ya. Gara-gara semua otakku hanya berisikan namamu saja, aku jadi lupa segalanya."
Alda terkekeh melihat Rich menyeret kakinya malas ke bathroom setelah bicara. Lima belas menit kemudian keduanya telah siap menuju restoran itu. Rich mengenakan jas yang berwarna senada dengan gaun hitam Alda yang bahunya terbuka bertabur Swarovski. Dia sangat cantik sekali, bahkan semua mata pria di restoran kapal pesiar itu tampak iri melihat pasangan couple itu.
"Silakan duduk Ny. Louis," ucap Rich sangat manis, menggeser kursi untuk Alda duduk.
Alda memandangi Rich dengan senyumnya yang menggoda.
"Terima kasih banyak, Tn. Louis."
Waiters kemudian menghampiri dengan membawa buku menu, Alda memilih menu yang ingin dimakannya malam itu.
"Pilih saja menu yang ingin kau makan sweety, apa pun itu."
Sedikit duduknya digeser lebih rapat posisinya di dekat Rich. Alda tampak membisikkan sesuatu sangat pelan.
"Boo, makanannya sangat mahal. Padahal biasanya di restoran bintang lima yang tidak di kapal pesiar, selisih harganya lebih murah."
Dari gestur yang Rich lihat, Alda sangat menginginkan makanan caviar itu. Tapi menahannya karena tak ingin membebaninya. Oleh karena itu, Rich tersenyum lantas menggenggam tangan Alda, menciumnya sambil menatapnya penuh cinta.
"Apa yang sebenarnya ingin kau makan? Katakan saja sweety?" tanya Rich dengan perhatian penuh. "Tidak apa-apa."
"Menu dengan caviar, tapi harganya $7000?" Alda tampak sedih menyebutkan itu, meletakkan buku menunya kembali dengan lemas.
Hampir saja memilih menu makanan lain yang harganya membuat Rich geleng-geleng, lalu segera ditahannya. Jangan sampai harga dirinya jatuh, gara-gara memesan makanan murah daripada jas dan gaun yang mereka kenakan.
"Sajikan menu makanan termahal di sini yang ada caviar nya, lobster dari Alaska dan lain-lain," pesan Rich pada waiters yang segera mencatat, tak mempedulikan Alda yang menarik jas nya sebagai kode agar tak memesan makanan mahal itu.
"Baik, Sir. Silakan ditunggu," ucap waiters kemudian pergi.
Selepas perginya waiters, Alda yang tampak kesal karena Rich dianggap sembrono sudah menghambur-hamburkan uang, hanya untuk makanan satu malam. Kemudian memprotesnya dengan bibir cemberut.
"Kita kan, mau rencana punya anak lagi boo. Belum lagi biaya pendidikan Noah nanti yang tidak murah, selain juga perlu menabung, kalau seperti ini terus kau bisa bangkrut?" keluh Alda.
"Sweety, itu tidak akan terjadi. Supaya kau tenang, sini aku tunjukkan sesuatu padamu." Rich membuka m-banking di ponsel, menunjukkan saldo tabungannya yang membuat Alda membulatkan mata dengan rahang terjatuh.
Wanita itu memegangi dada sampai syok, setelah tahu banyaknya uang Rich yang tak habis sampai sebelas turunan.
"Ini hanya uang tabunganku saja, Sweety. Belum lagi warisan yang diberikan daddy padaku dan Noah sendiri, juga anak kita yang lain. Keluargaku sangat kaya raya, kalau hanya sekadar makan seperti ini. Kecil ..." entengnya.
Alda mengangguk tak bisa bicara, sampai semua pesanan makanan itu tersaji, dihidangkan oleh waiters.
"Masih ada kejutan lain untukmu sweet heart," bisik Rich di telinga Alda begitu mesra, dengan tangannya yang merengkuh rapat pinggang berbentu biola Spanyol itu.
"Apa boo?" tanya Alda tampak bersemangat sambil mengikuti langkah kaki Rich sesuai irama musik.
Sebelum tangan Alda dinaikkan ke atas lalu diputarnya dan terjatuh dipelukannya lagi, berciuman bibir sampai nafasnya terengah-engah dan tanpa aba-aba Rich menggendongnya ke ujung deck kapal.
Di mana sekarang Alda dapat melihat kembang api berwarna warni menghiasi pekatnya malam. Rich menurunkan Alda hati-hati. Berpose seperti yang ada di film titanic. Kedua tangan mereka berdua saling menyatu. Rich berdiri di belakang Alda, sedangkan Alda memejamkan mata. Menikmati segarnya angin malam yang berhembus menerpa kulit.
Lelah itu terbayar lunas, kesyahduan panorama laut sungguh memanah hati Alda yang sangat bahagia di malam itu. Bahkan, suatu kebetulan yang tak disangka-sangka.
Rich dan Alda dapat melihat secara langsung lumba-lumba bermigrasi, sehingga tak luput mereka abadikan lewat kamera.
"Astaga! Indah sekali?" ucap Alda begitu kagum, melihat lumba-lumba itu dengan teropong.
"Tidak terlalu indah dan kalah jauh darimu sweety. Kebahagiaanku ada padamu, jangan pernah bersedih mulai sekarang dan katakan apa pun yang kau inginkan. Maka suamimu ini akan mengabulkannya," kata Rich sangat tulus.
"Manis sekali boo?"
Keduanya pun berbagi udara lewat ciuman, sedikit menggeliat Alda kemudian saat bibir sensual suaminya menjelajahi lehernya dengan kecupan-kecupan basah yang semakin kuat.
"Iya, aku janji akan mengatakannya. Terima kasih banyak sudah mencintaiku dengan tulus, aku harap selamanya kita terus mesra begini boo," pinta Alda dengan suara serak-serak basah, seksi menantang.
"Humm, ya. Aku juga berjanji."
Rich mengendus parfum floral-fruity dari ceruk Alda yang seketika memberdirikan sesuatu dari dirinya. Kegagahannya itu membuat Alda resah, yang sekejap telah membawanya kembali ke kamar.
Bergelung di atas ranjang, melepas semua balutan kain dan menerjangnya seperti kelaparan. Menusuk-nusuk, mendorong pinggulnya sangat cepat ketika puncak itu mulai menjepit miliknya sangat kuat.
Kedua tubuh mereka bergetar hebat, lenguhannya memenuhi sepenjuru kamar. Saling mengisi dan memberi hingga terkapar lemas, setelah derasnya tembakan cairan itu habis tak tersisa. Rich mengeratkan pelukan di perut Alda, mengusapnya lembut lalu mengecupnya.
"Hallo sayangnya papi, apakah kau sudah ada di sana?"
Alda terkekeh mendengar itu, mengelus punggung Rich. Keduanya bertatapan melempar senyum.
"Belum ada boo, mungkin butuh waktu."
"Hum, tapi aku ingin melihat perutmu membesar karena waktu kau hamil Noah dulu. Aku belum pernah melihatnya dan aku menyesal melewatkan momen-momen spesial itu," sesalnya. "Aku memang suami payah!"
Kedua tangan Alda membingkai wajah Rich, menggeleng tak setuju.
"Jangan bicara begitu. Sabar, ya. Memangnya apa yang kau lakukan jika aku hamil? Apa kau tahu boo? Wanita hamil itu mood nya sering berubah-ubah, sensitif dan butuh banyak perhatian," terang Alda.
"Aku akan lebih memperhatikanmu."
Alda tersenyum, mengangguk percaya.
"Terkadang wanita hamil juga mengalami ngidam, bahkan sampai ada yang aneh-aneh. Apa kau sanggup mewujudkannya?" tanya Alda mencerca.
"Aku akan mewujudkan semuanya, ngidam apa pun akan aku turuti. Asalkan jatahku tidak dikurangi?"
"Haha, selalu begitu." Alda merotasikan bola matanya, membuat Rich ikut tertawa.
"Aku ... um, sebentar boo. Aku mau ..." sela Alda cepat melepaskan tangan Rich dari perutnya.
Alda berlari menuju wastafel kemudian muntah-muntah, perutnya merasa tak nyaman dan mengeluarkan semua makanan yang tadi ia makan.