
Rich memarkirkan motornya di teras, setibanya di rumah setelah mengantar Noah dari sekolah. Tapi dari luar kondisi rumah tampak sepi dan sepertinya tak ada orang, walau ia sudah coba mengetuk pintu beberapa kali.
"Apa Alda sedang keluar bersama ibu?" pikirnya sambil membuka pintu dengan kunci cadangan.
Kreek …
Sekarang Rich bisa masuk dengan leluasa. Rumah seluas itu benar-benar tak ada orang. Hening dan hanya terendus udara hampa, tapi menyisakan parfum milik Alda.
"Sweety, aku pulang. Kau di mana? teriak Rich sambil celingukan memeriksa sekitar ruang bawah.
Terutama saat Rich mendengar suara alat masak yang beradu di atas penggorengan. Kini Rich sangat yakin jika istrinya itu tengah berada di dapur.
Bau masakan semakin sedap tercium ketika Rich sudah menginjakkan kakinya di sana. Bersandar di pintu dan tersenyum melihat Alda memunggunginya. Alda tampak sibuk memasak sambil bernyanyi dengan headset terpasang di telinga.
"Lagu apa yang didengar? Sampai suaminya memanggil tak di jawab?" Rich sengaja melepas satu bagian headset di telinga Alda, lalu memasang ke telinganya sendiri sambil memeluknya dari samping.
"Eh, sudah pulang rupanya? Maaf, Boo. Aku tak mendengar panggilanmu." Alda menoleh, tersenyum dengan mengecup pipi Rich. "Lagunya Pinkan Mamboo, judulnya kasmaran."
"Enak juga lagunya, tapi yang kau suapkan ke mulutku ini makanan apa?" tanya Rich yang baru pertama kali memakan olahan kedelai itu, seketika berduaan begini membuatnya lupa jika pulang dalam kondisi marah.
"Ini namanya tempe mendoan suamiku. Bagaimana rasanya? Apa kau suka?" tanya Alda sambil memandangi gaya Rich memakan mendoan itu yang tampak berlebihan.
"Hum, yummy."
Rich menghayati kunyahannya dengan mata terpejam, lalu ketagihan tempe mendoan itu dan mencomotnya sendiri di atas saringan yang baru ditiriskan. Tanpa meniup langsung memakannya.
"Hah! Panas, panas!" pekiknya menjulurkan lidah sambil mengibaskan tangan ke depan mulut.
Alda mengulum tawa, tapi ia cepat memberi Rich segelas air.
"Minumlah, Boo?"
Rich mengangguk lalu mengembalikan gelas kosong setelah isinya ditenggaknya habis.
"Terima kasih sweety."
"Apa sekarang kau sudah merasa baikan?" tanya Alda bernada khawatir sambil mengusap rahang suaminya itu.
"Lumayan, aku butuh yang lain." Rich menggosok rahangnya ke kulit tangan Alda dengan manja.
Alda menarik kepala Rich, disandarkan ke dadanya sambil mengusap rambut sang suami. Sekarang Rich cosplay layaknya bayi menggemaskan, setelah jarinya terampil menaikkan dress Alda.
"Uh, Boo … Ini namanya butuh kasih sayang. Kau sungguh ahli mengelabuiku, ya? Katamu lidahmu terbakar. Kenapa … Ah! Ah!" desah Alda tak keruan saat Rich mencumbui dadanya sangat rakus. "Malah aku yang menjadi sasarannya?"
Rich tak menjawab, tanpa melepas dan bergairah tinggi. Pria itu mendorong Alda hingga ke sudut meja makan lalu merebahkan Alda di atasnya.
Tanda merah pekat, jejak basah saliva menandakan pria itu benar-benar kalap. Sekarang lihatlah apa yang bibir Rich lakukan di bawah Alda sana?
Sampai membuat Alda meliuk seperti cacing kepanasan dan menjerit menyebutkan namanya.
"Rich! Cu-cukup. Aku … Sedang menggoreng, nanti hangus? Setidaknya biarkan aku mematikan kompornya dulu," ucapan Alda tersendat-sendat sambil memejamkan mata saat nikmat yang disalurkan suaminya itu, menggetarkan seluruh tubuhnya yang ingin meledak.
"Biarkan saja hangus! Aku masih marah padamu dan sekarang kau harus menerima akibatnya, Mami. Karena kau?" Rich berseringai, berhenti sejenak dari aktifitas kerja kerasnya dengan memandangi Alda yang wajahnya sayu dipenuhi keringat.
"Aku apa?" tanya Alda yang nafasnya terengah-engah, bergidik ngeri melihat tatapan Rich yang berisikan gejolak nafsu membumbung itu.
Soal di sekolah kemudian Rich menceritakannya singkat dan setelah mendengar hal itu. Kini wajah Alda berubah pucat ketakutan, membayangkan dirinya yang akan dijadikan pelampiasan kemarahan suami mesumnya.
"Maaf, Boo … Aku te-terpaksa melakukan itu. Kau juga tahu, bukan?"
"Ya, setidaknya jangan menulis namaku dengan akhiran mendiang juga, Alda. Itu tandanya kau mengharapkanku meninggal, begitukah maksudmu?" ucap Rich sangat kesal.
Alda menggeleng cepat, segera bangun tapi malah semakin ditindih oleh Rich. Sebenarnya apa sih, mau suaminya ini? Semua serba salah di matanya. Baru saja mereka berbaikan dan bermesaraan. Apa sekarang harus pisah ranjang?
"Boo … Please, jangan marah. Apa yang harus aku lakukan supaya aku mendapatkan maaf darimu?" sesal Alda.
Rich yang membelakangi Alda, seketika berbalik badan menghadapnya. Mengusap paha mulus itu, hingga menimbulkan gelenyar merinding pada Alda. Saat jari pria itu bergerak menelusuri yang lain.
"Ahh …" Alda memekik seksi, suaranya membelai erotis ke telinga Rich yang semakin memacu adrenalinnya.
"Serius mau?" tanya Rich tak sabar.
Alda menganggukkan kepala.
"Baiklah … Mau di sini apa di kamar Boo?"
"Di sini," jawab Rich tersenyum sambil menggigit bibir dan bersemangat menurunkan resleting celana.
"Alda? Apa kau lupa mematikan kompor?" teriak Rukma sambil berjalan cepat.
Rich yang hampir mengarahkan miliknya pun terhenyak membulatkan mata, terpaksa menyembunyikannya lagi. Begitu halnya Alda, yang cepat menurunkan dressnya. Kemudian memisahkan diri dengan tergesa-gesa.
"I-itu suara ibu, Rich. Aduh! Bagaimana ini?" Alda mengatakannya gugup juga takut di marahi.
Rich meringis, "benar sweety. Tidak apa-apa tenang, ya. Kita hadapi bersama-sama. Ayo kubantu turun dari atas meja!"
Setelah Alda turun, Rich mengajak Alda berjalan cepat menuju kompor itu yang ternyata minyaknya telah kering. Bahkan asap telah mengepul tinggi dengan api yang melalap di sekitar wajan.
Jantung Rich dan Alda berloncatan, ketika Rukma lebih dulu mematikan kompornya. Kini, selain takut rumahnya kebakaran. Mereka berdua menunduk takut ditatap oleh Rukma yang berkacak pinggang, saat mendapati wajah keduanya yang berkeringat dengan tampilan berantakan.
"Astaga! Kalian ini? Mau tidur di gubuk area sawah kalau rumahnya kebakaran?" tanya Rukma cukup tenang, meski mulanya syok atas kelakuan anak menantunya yang sembrono.
Bukan Rukma tak tahu jika Rich dan Alda sedang melakukan apa. Karena mereka berdua masih pengantin baru. Terlebih jika seandainya rumahnya pun kebakaran, Rich bisa membangunnya lagi dan menginap di hotel sementara waktu atau membeli rumah baru. Namun, demi menghargai perasaan ibu mertuanya. Kali ini, Rich lebih baik diam.
"Maafkan kami, Bu … Lain kali janji tidak begitu lagi," sesal Alda dan Rich bersamaan.
Rukma menarik nafas panjang sebelum menatap keduanya satu persatu. "Baiklah, lain kali jangan begitu lagi."
"Terima kasih banyak, Bu."
"Hmm."
Alda merangsek pada Rukma, merengkuh lengannya dan bergelayut manja supaya ibunya itu tak marah lagi.
"Senyum dong, Bu. Kalau udah maafin kami? Lain kali, aku tak bakal ceroboh lagi," rayu Alda melembutkan suaranya.
Rich memecah suasana dengan berdehem.
"Aku pamit dulu mau jemput Noah ya, Bu."
"Hati-hati, Boo!" pesan Alda dengan tersenyum sambil melambaikan tangan.
Rich membalas senyuman Alda sebelum keluar dari pintu utama. Menyalakan motornya dan menaikinya menuju ke sekolah.
***
"Akhirnya, malam ini kita bisa berduaan sweety," bisik Rich ke dekat telinga Alda sambil melingkarkan tangannya di perut sang istri.
"Um, Boo …"
Alda menggeliat manja, menghadapkan wajahnya memandangi Rich. Jari lentiknya bergerak menelusuri rahang suaminya itu kemudian memejamkan mata, akan menempelkan bibirnya dan Rich pun menyambutnya dengan tak sabar.
Tetapi …
Tok, tok, tok!
"Mami, Papi. Ini Noah, buka pintunya?"
Seketika bibir yang baru saja saling memagut itu pun terlepas paksa. Alda beranjak dari ranjang dengan pipi yang bersemu merah lalu membuka pintu.
Kreek …
"Sayang, kok masih belum tidur?" tanya Alda sambil menggandeng tangan putranya untuk duduk di ranjang yang sama.
Sementara Noah langsung nyempil ke tengah-tengah kedua orang tuanya lalu memeluk Rich.
"Pi, aku malam ini aku mau tidur sama kalian," ucap Noah merengek.
Mata hijau zamrud Rich membola lebar, sementara Alda terdengar cekikikan. Ternyata hal itu meresahkan sekali bagi Rich, yang sudah menghayalkan tidur dengan selimut kulit hangat malam ini.
"Noah kan, sudah besar. Harus tidur sendiri di kamar, ya?" bujuk Rich.
"Tapi selama ini, aku gak pernah tidur sama papi dan biasanya hanya mami yang nemenin aku. Sekarang Noah sudah punya papi, jadi pengen tidur bareng? Boleh, ya?"
Mendengar rengekan putranya, Rich jadi tak tega. Tapi bagaimana dengan nasib dirinya sendiri yang sudah menahan ketegangan itu sedari siang? Sungguh sangat menyiksa jiwa dan raga.
"Oia, by the way. Noah mau punya adik tidak?" akhirnya Rich terpikir ide cemerlang, diliriknya sang istri menggeleng kesal dengan idenya yang terlewat cerdas.
"Adik?" Noah yang memeluk Rich, melepas pelukannya segera dan menatap wajah sang papi yang tampan itu. "Mau, Pi. Noah mau punya adik! Yang banyak ya, Pi. Kalau perlu sepuluh! Jadi di tambah aku totalnya sebelas dan kita nanti bisa main sepak bola bareng, deh!"
Apa?
Alda sangat terkejut mendengar permintaan putranya yang melebihi ekspektasi. Satu saja sudah membuat kalang kabut, apalagi sebelas?