
Kembali ke Indonesia??
Tiga kata itu memantul sarkas ke dalam otak Rich, terus menggema berulang-ulang hingga menghujam hatinya. Entahlah kenapa ia seakan tidak rela dan ingin wanita itu terus berada di sisinya.
“Serius kau tak akan pernah kembali, Al?” Rich akhirnya menanyakan itu dari pada penasaran.
Anggukan menjadi jawaban Alda dan Rich nampak mendesah kecewa, tapi tidak diutarakan. Sesuatu menahannya, antara berat dan ragu. Katakanlah itu sebuah dilema, hanya Rich yang tahu. Tidak akan ia bagi pada siapapun risalah hatinya kini.
“Lalu bagaimana dengan studio make up milikmu? Apakah kau biarkan mangkrak begitu saja?” alibi inilah yang digunakan Rich secara tidak langsung, tanpa Rich duga jika Alda berharap Rich menahan kepergiannya.
Walau hanya berucap kata Tunggu, Alda pasti membatalkan tiket pesawat itu dan tidak jadi pulang ke Indonesia. Namun, kelihatannya ia harus gigit jari mengubur semua asa dalam perih.
Rich, aku begitu mencintaimu? Batin Alda terasa sakit, dadanya sesak menahan air mata yang akan meluncur.
“Sudah aku titipkan pada sahabatku, Eve.”
“Kau percaya begitu saja dengan orang lain?” nyatanya Rich gunakan itu sebagai alibinya menahan Alda pergi.
“Why not? Eve sudah seperti saudaraku sendiri, Rich. Kau hanya belum mengenalnya, ia begitu baik dan menyayangiku. Oh! Pasti aku merindukannya karena nanti dalam waktu lama tidak bertemu,” Alda menatap Rich sekilas, sebelum menunduk. Fake smile menarik bibirnya memanjang.
“Kau pikir dia saja yang merindukanmu?” tanya Rich.
“Eh!” Alda mengangkat wajah, kini mengaitkan pandangan mata keduanya tanpa berkedip. “Maaf, bulu mataku jatuh. Jadi aku kelilipan,” bohongnya saat buliran basah itu akan menetes. Sekali lagi, Alda tidak kuat berlama-lama memandangi Rich. Pria itu seperti magnet yang jika ditatap, tanpa sadar akan membawa tubuhnya mendekat sendiri dan menggebu-gebu ingin bersandar di bahunya.
“Apa aku bisa membantumu mengambil bulu mata yang jatuh itu?” tangan Rich akan menggapai, namun Alda segera menjauhkan diri.
“Maaf, sudah aku ambil.” Alda pura-pura menggenggam bulu mata yang jelas tidak ada. Senyumnya dipaksakan juga menjaga jarak dari Rich.
Alda takut nantinya malah sulit melupakannya. Takut tidak bisa berpaling, ketergantungan bagai narkoba yang membuatnya selalu gelisah, sulit berkonsentrasi dan kecanduan. Jika penawar itu sendiri pun tidak mau mengobatinya lewat cinta.
“Oh, baiklah.” Rich menarik nafas lesu.
“Kalau begitu, aku pamit dulu Rich.” Alda beranjak dari tempatnya walau berat, melirik arloji demi mengalihkan suasana hatinya yang berkecamuk. “Sudah waktunya aku berangkat ke bandara. Aku harap, setelah ini hubunganmu dengan Ef kembali baik.”
“Hanya itu yang kau inginkan?” tanya Rich. “Tidak ada lainnya?”
“Apa pantas aku meminta lebih dari itu? Memangnya siapa aku?” Alda terkekeh, Rich terus memandanginya diam-diam.
“Setidaknya kau pernah menjadi bagian dari hidupku,” teramat pelan Rich mengatakannya, namun Alda mendengar dengan jelas.
“Maksudnya?” jantung Alda bahkan ingin melompat keluar, bahagia menyerbak lebih ke tersanjung.
“Lupakan! Aku tadi salah bicara, tadi hanya teringat skrips yang akan aku ucapkan pada calon istriku nanti.”
Alda menggigit bibirnya seketika, mendesahkan nafas setelah nyaris tertahan.
“Oh!” ucap Alda gemetar.
“Sayangnya keinginanmu untukku berbaikan dengan Ef, sulit terealisasi. Mungkin butuh waktu, tapi tanpa kau suruh. Jika aku sudah siap, nanti pasti akan berbaikan lagi dengan si keparat itu. Dia saudara kandungku, wajah kami mirip. Sakit dalam hatinya pun bisa kurasakan,” ucapnya sambil meneguk air mineral dalam botol.
Alda tersentil, rasa bersalah membuatnya terdiam. Setelah menguatkan diri, ia pun mengulurkan tangannya ke depan Rich, agak tremor bercampur nervous.
Rich memotongnya cepat. “Hei, sudahlah Al. Mau berapa ratus kali kau mengucapkan itu? Apa bibirmu tidak lelah? Dan aku sudah mengatakan jika hal ini tak ada hubungannya denganmu.” Rich menelan ludahnya paksa, menyudut fokus pada bibir ranum Alda yang menyegarkan bak kelopak mawar merah. Menyimpan embun pagi di atas permukaannya yang basah.
“Tapi Rich?”
Kalimat Alda terjeda, saat telapak tangannya dijabat oleh Rich begitu lama. Setruman listrik tiba-tiba saja terasa menyengat ke sekujur tubuh keduanya, hingga tiada yang melepas jabatan tangan itu. Malah beralih bertemu pandang, sangat jauh menyelami iris zamrud yang memantulkan bayangan tubuhnya di sana.
Gelenyar aneh timbul, debaran jantung kian mengencang. Bahkan dingin di telapak Alda berubah hangat yang tersalurkan dari kulit Rich.
“Selamat tinggal Rich, jaga dirimu baik-baik. Bisakah kita berteman?” pintanya sambil menarik tangannya perlahan dari jabatan yang sangat erat menempel itu.
“Sorry Alda, aku tidak sengaja.” Rich menyadari jika ia kelepasan terbawa suasana.
“It’s oke.”
“Ya, terima kasih. Aku harap kau juga menjaga dirimu di Indonesia dengan baik, tetaplah menjadi wanita yang kuat dan …”
“Apa?” sambung Alda bertanya dengan sabar menunggu Rich meneruskan ucapan, saat pria itu menggantungnya dan terlihat seperti gelisah.
“Semoga kau menemukan pria yang lebih baik untuk menjadi suamimu kelak,” sela Rich sambil menatap Alda yang kini kedua bola matanya nampak basah oleh kemilau kesedihan.
Rich ... Kenapa kau mengatakan itu? Ucapanmu bagai pedang yang menusuk hatiku, membunuhku secara perlahan-lahan. Tidak bisakah kau mendoakan yang lain?
Alda bergeming dengan tubuh bergetar, cepat-cepat ia berbalik badan. “Permisi, aku harus segera pergi. Nanti aku bisa terlambat.”
Sreet!
Rich menahan tangannya sangat erat, hingga tubuh Alda membeku di tempat. Dengan nafas tersendat ia memejamkan mata. Jangankan menoleh, melihat wajah Rich sekarang saja pun ia tak sanggup.
“Biar aku antarkan kau ke bandara, hum?” tawar Rich.
“Tapi?” bibir Alda gemetar.
“Jangan menolak, anggaplah ini salam perpisahan dariku sebagai kenang-kenangan. Belum tentu kita akan bertemu lagi,” Rich mengutarakan itu walau hatinya kini teramat berat ditinggal olehnya.
Tidak ada alasan lagi bagi Alda untuk menolak, karena permintaan Rich bagaikan perintah. Mendesak dan memaksanya harus menurut jika ia tidak ingin Rich membencinya. Ya, itulah ancaman yang diberikan oleh si pria bermanik hijau zamrud itu.
Kendati sepanjang jalan kenangan Kongo menuju bandara, bibir keduanya saling terkunci tidak ada interaksi. Siapa sangka? Lirikan mata Rich diam-diam mengamati wanita itu yang tengah melihat keluar jendela mobil.
Rich bermaksud menggeser shift knob mobil porsche nya. Akan tetapi malah tangan Alda yang ia sentuh dan digenggam. Hingga wanita itu pun menoleh dengan cepat, seketika refleks mempertemukan wajah keduanya berpandangan lekat.
“Maaf,” kata Alda sungkan, akan berpaling karena gelagapan.
Pedal rem diinjak Rich secara mendadak, membuat Alda oleng keseimbangan sebab terantuk akan goncangan itu. Punggungnya menghantam sandaran bangku, kemudian doyong ke bahu Rich.
Jantung Alda semakin tak terkendali saat Rich menatapnya lain, tanpa aba-aba menangkup kedua pipinya dan menenggelamkan ciuman ke bibirnya begitu lembut dan dalam.
Tentu saja Alda begitu terkejut dengan mata terbeliak penuh. Mulanya diam, tapi siapa yang mampu mengindahkan sentuhan panas dari bibir Rich yang menjelajahi mulutnya yang terus melesak masuk. Membuat Alda tanpa sadar ikut membalas ciumannya itu yang memabukkan.
“Alda, please ... Jangan pergi.”