
"Alda?" pekik Eve tercengang di sofa, hingga berdiri mematung.
Melihat Alda pulang dalam keadaan basah kuyup dengan tubuh menggigil. Bersin-bersin karena dua jam lebih, ia berada di bawah guyuran hujan deras. Pulang berjalan kaki yang berjarak satu kilometer hingga sampai ke rumahnya.
Demi mengeluarkan bayangan dua pria yang ada dalam otaknya itu. Tapi bukannya hilang, kini kepalanya semakin terasa pusing.
Hatsiih!
"Kenapa kau nekat begini, Al?" tanya Eve prihatin.
Alda menatap Eve dengan wajah sembab dan buliran deras dari matanya.
"Dia marah sekali."
"Efrain?" tebak Eve.
Alda menganggukkan kepala dan terduduk lemas di atas sofa. Layaknya orang linglung dengan pandangan kosong.
"Astaga! Dia tidak terima kau putuskan? Apa kau tak menjelaskannya secara baik-baik?" cerca Eve merasa hal ini terlalu rumit, ia kasihan melihat Alda yang seperti mayat hidup itu.
"Bahkan Ef sekarang membenciku, Eve. Dia menggantungkan hubungan kami," terang Alda lalu mengungkap detail, semua yang terjadi di Borgoutta Cafe.
Eve membekap mulutnya dengan mata terbeliak. Meninggalkan Alda sendiri ke dalam dan tak lama kembali membawakan sebuah handuk.
“Cepat keringkan rambutmu dan mandilah pakai air hangat!” suruh Eve, tak sanggup menyaksikan sahabatnya itu yang kusut dan menyedihkan.
“Iya Eve,” jawab Alda lemas, menerima handuk itu dan menggunakannya.
"Sabar, Al. Aku yakin lambat laun, Ef pasti menerima keputusanmu. Kali ini aku mendukungmu dan aku rasa yang kau lakukan hari ini sudahlah benar." Eve menguatkan Alda.
"Semoga saja, tapi kurasa tidak semudah itu baginya. Karena kulihat dia begitu murka dan telah berharap banyak dariku," timpal Alda dengan suaranya yang hampir habis.
"Maksudnya?"
"Sepertinya dia mengharapkan hubungan yang lebih serius."
Kening Eve mengernyit, dia mendekatkan duduknya ke sebelah Alda.
"Apakah dia ingin menikahimu?" tebak Eve dengan jantung berdebar. Berpikir tebakannya salah.
"Kau benar," Alda menjawabnya, kemudian berlalu pergi dengan langkah sempoyongan menuju kamarnya.
Eve memperhatikan Alda dari jauh sambil membuang nafas panjang, kepalanya dipegangi dan kini ia ikut pusing tujuh keliling. Tidak bisa berkata apa-apa lagi dan menghempaskan punggungnya ke sofa.
"Oh my God! Aku butuh obat sakit kepala! Ya, masalah Alda membuatku terserang migrain dadakan!" desis Eve turut ke kamarnya untuk mencari obat itu.
...----------------...
Di bawah titik air hangat menyiram tubuh, Alda memejamkan mata. Bayangan sekelebat kemurkaan Efrain memaksanya membuka kelopak mata, ia kembali menangis. Menyentuh dada yang terasa sakit, tapi wajah Richard lah yang muncul dengan senyuman.
“Aku tak pantas untuk mereka berdua, hiks...” lirih Alda gemetar, merangkul tubuhnya sendiri yang berjongkok di bawah guyuran shower air hangat.
Eve di luar pintu kamar mandi nampak khawatir. Dua jam Alda mengurung dirinya di dalam sana da n tak keluar, lalu ia pun mengetuk pintunya. Tepat akan terlaksana, Alda pun muncul dengan wajah pucatnya. Bergelung handuk di kepala dan bathrobe yang membalut tubuh.
“Al, aku membuatkanmu wedang jahe hangat. Segera kuambilkan! Kau beristirahatlah ke atas ranjang, hum?” peringat Eve perhatian.
Alda menganggukkan kepala tanpa menjawab, merebahkan diri sambil menarik selimut dengan pandangan kosong.
“Eve, aku titip Studio MUA Danurdara padamu. Karena aku mau pulang ke Indonesia saja,” ucapnya diiringi tangisan pelan yang berkali-kali ia usap.
"Astaga! Kamu bicara apa sih, Al?" jengkel Eve.
Sahabatnya itu menghembuskan nafas berat, menatap Alda yang tak bersemangat. “Kau menyerah?”
“Aku sudah menyakiti keduanya. Tak pantas bagiku juga memilih Rich, dia berhak bahagia dengan wanita lain dan Ef nanti pun terluka. Jadi, lebih baik aku pergi dari kehidupan mereka berdua. Itulah yang adil,” putus Alda sambil mengusap air matanya dengan tisu.
“Lalu dia? Kau tak boleh egois Alda?” peringat Eve menyentuh bahunya, membuat Alda menoleh dengan tatapan sendu.
“Ya terus menurutmu. Aku seperti ****** begitu? Setelah mengecewakan Ef, percaya dirinya aku menemui Rich. Iya kalau dia mencintaiku, kalau tidak? Mau ditaruh ke mana wajahku ini Eve?” ungkap Alda sambil menekan dadanya keras-keras.
Tangan Eve meraih tangan Alda, supaya jangan menyakiti dirinya sendiri. Memeluk sahabatnya itu yang kemudian menumpahkan air mata di bahunya begitu deras.
“Menangislah sepuasmu, agar hatimu menjadi lega. Jangan ditahan-tahan,” ucap Eve di sela pelukan ikut bersedih atas kehidupan Alda yang sekusut benang.
“Aku jahat Eve!” umpat Alda membenci dirinya sendiri.
“Tidak, kau hanya melakukan hal yang tepat. Sebelum cinta tumbuh di hati Efrain terlalu jauh, obor cintanya harus segera dipadamkan supaya dia berproses move on dan kembali membuka hatinya untuk wanita lain. Sedangkan Rich? Setidaknya dia harus tahu perasaanmu, agar kau pun tak terbebani. Masalah diterima atau tidak itu urusan nanti. Barulah kau pulang ke Indonesia,” saran Eve memberi jalan tengah.
“Mengucap perpisahan?” tanya Alda lemah, dengan suaranya yang serak menahan kesedihan.
“Anggaplah begitu."
Eve bisa melihat kekosongan di mata Alda. Ia merasa kasihan, tapi juga kesal. Kenapa dulu sahabatnya itu gegabah mengambil sikap. Tak berpikir panjang dulu, bertanya ke hatinya. Sebenarnya dari kedua pria itu, mana yang paling ia cintai.
Gara-gara terlalu ngefans dengan Efrain, sampai tak menyadari perasaannya sendiri. Akibatnya kini ia lah yang merasa rugi dan jadi menyakiti keduanya.
Ah! Rumit sekali cinta itu. Muak Eve rasanya dan tak ingin jatuh cinta. Baginya, cinta adalah momok yang mengerikan.
“Sudahlah, minum wedang jahemu selagi hangat dan beristirahat!” suruh Eve.
“Terima kasih Eve.” Alda meminum wedang jahenya sedikit.
"Aku tak akan pulang dan menginap lagi di rumahmu untuk sementara waktu," putus Eve hanya diangguki oleh Alda.
Eve rasa, sekarang Alda butuh ditemani dan tak bisa ditinggalkan sendirian di rumahnya itu. Apalagi belakangan ini, banyak masalah yang menimpa sahabatnya. Di mulai pelecehan itu, hingga persoalan cintanya yang kandas.
"Eve, terima kasih kau telah menjadi sahabat terbaik untukku," lirih Alda memeluknya dengan erat.
"Alda, kita sudah bersahabat lama. Kesedihanmu adalah kesedihanku juga. Apa yang kau rasakan, tentu aku sangat memahaminya. Tegarlah my buddy, masa depanmu masih panjang. Jangan terlalu larut dalam kesedihan," pesan Eva di sela pelukan sambil mengusap lembut punggung Alda.
"Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu, Eve." Alda menitikkan air matanya lagi.
"Sudah-sudah. Cukup menangisnya! Nanti cantikmu hilang!" Eve mencoba mengurai kesedihan Alda dengan candaan-nya yang garing. Mengusap air mata di wajah Alda.
Alda memaksakan senyum demi Eve, walau hatinya masih diliputi duka.
"Selamat malam, Alda. Tidurlah, kau harus menjaga kesehatanmu. Jangan sampai gara-gara masalah ini kau menjadi sakit?" pesan Eve sebelum keluar kamar.
"Iya. Selamat malam juga, Eve."
Sunyi dirasakan Alda di kamarnya selepas kepergian Eve. Lantas Alda menenggelamkan dirinya ke dalam selimut.
Diam-diam coba menghubungi Efrain untuk di telepon tapi ternyata nomor Efrain tidak aktif.
"Apakah dia sudah memblokir nomorku?" terka Alda terisak-isak lagi. Meraung kesal dalam selimutnya dan membekap suara tangisannya dengan guling, supaya Eve tak mendengar.
Ia tak mau mengganggu tidur lelap sahabatnya dan menyusahkannya lagi. Alhasil, semalaman ia tidak bisa tidur. Melainkan kembali menangis hingga matanya bengkak.
Ketika bayangan dua pria kembar itu seperti hantu bergentayangan, silih berganti mengisi otaknya. Menghalangi Alda memejam mata, dengan berbagai ucapan Efrain yang menusuk dan belaian kata manis dari Rich yang seperti obat.