
"Tunggu sebentar Tuan Morren. Jujur, saya belum pernah menanam padi atau mengerti tentang pertanian. Namun, jika berkebun atau Anda membahas soal bisnis. Anda tak akan salah memilih orang," ucap Rich dengan wajah bonyoknya itu penuh percaya diri menatap Morren.
Morren sebenarnya melakukan itu hanya bertujuan untuk mengusir Rich dan mereka berdua pun sudah bisa menebaknya dari awal. Tetapi Rich dan Firheith sengaja diam, karena tak ingin salah langkah.
"Aku tak peduli dan aku tak butuh partner bisnis saat ini. Karena aku hanya ingin semua padi-padiku kembali subur dan hijau seperti semula. Apa kau bisa? Itu saja, jika tidak. Kembalilah ke negaramu dan jangan pernah datang lagi kemari!" ucap Morren sarkas.
Firheith yang tadinya diam, kini mulai buka suara. "Why Tuan Morren? Indonesia luas. Anda tak bisa seenaknya mengusir kami. Itu namanya diskriminasi, sedangkan Indonesia terkenal dengan sikap warganya yang ramah. Oh, yes." Firheith kemudian terangguk-angguk. "Aku lupa, jika Anda bukan warga asli pribumi. But, Anda dulunya seperti kami, bukan?"
"Shut out your mouth!" tajam Morren tersinggung.
Firheith tersenyum menyindir. "Santai saja Tuan Morren, tidak usah marah-marah. Ingat! Darah tinggi di usia tua akan membuat stroke?"
“KAU!” geram Morren dengan tangan mengudara bersiap menampar wajah Firheith, tetapi Rich menjadikan tubuhnya sebagai perisai.
“Papi jangan!”
Alda berteriak saat tangan Morren hampir menyentuh wajah Rich, tangannya ditahan oleh putrinya itu yang menggeleng. Sehingga Morren menurunkan tangannya dengan terpaksa begitu Alda memohon. Sedangkan Rich melirik Alda dan tersenyum karena wanita itu membelanya.
“Tidak apa-apa, Al. Aku rela ditampar oleh papimu, jika itu bisa menebus semua kesalahanku dan mendapatkan maafmu.”
Sekalian Rich mengatakannya untuk menarik simpati Alda yang mulai terlihat luluh, ketika ia menatap kesungguhan di mata mantan kekasihnya itu. Berbeda tanggapan Morren yang tak menyukai itu langsung menyindir tajam.
“Hati-hati Alda. Jangan terbujuk lagi dengan mulut buaya sepertinya! Kalau kau tak mau tertipu lagi.”
Rich menunduk, menyeka sudut bibirnya yang masih dialiri darah. Alda tergerak ingin sekali mengobati Rich tapi kemudian ia mundur dan berdiri di sebelah papinya itu.
“Baiklah saya akan melakukan apa yang Tuan Morren mau. Dengan tangan saya sendiri akan menanam padi itu kembali dalam waktu lima hari, jika saya gagal …” pandangan berpendar dari Rich bertemu manik-manik jernih Alda yang berisikan kerinduan di sana. Rich pun melemparinya senyum. “Anda tak perlu melaporkan saya ke pihak imigrasi, karena saya akan kembali sendiri ke Kongo saat itu juga.
Seketika Alda memegangi dadanya yang seakan dihujam tombak, begitu sakit dan perih. Entah kenapa mendengar itu, ia tak setuju. Bahkan, ingin rasanya ia berteriak untuk mencegah Rich berkata demikian. Namun, pembatas jauh lebih tinggi yang membuat kerongkongannya tercekat.
Morren berbalik badan menghadap Rich dengan tersenyum remeh. Hatinya yakin, jika Rich tak akan mampu melakukannya. “Oke, aku sepakat. Kembalilah besok pagi.”
***
Sekembalinya ke Como Ubud Resort, Firheith meminta Chandra untuk memanggil dokter yang langsung mengobati semua luka di sekujur tubuh, terutama di bagian wajah setelah Rich membersihkan tubuh.
“Gusti nu Agung,” pekik Chandra kasihan melihat Rich dan menyayangkan sikap Morren yang keterlaluan. “Kok bisa sampai begini, Mr. Rich? Tuan Morren benar-benar sadis.”
“Bukan hanya sadis Pak Chandra, tapi gila—”
“Hush!” Rich memotong ucapan Firheith yang dianggap tak sopan.
Firheith memijat kepalanya sambil berdecak. “Bela saja mertua laknat seperti itu! Kalau daddy-mu tahu, bisa habis Tuan Morren dibuat bergedel sama beliau!”
“Makanya tutup mulutmu dan biarlah ini menjadi urusanku!” sahut Rich yang tak ingin keluarganya tahu tentang keadaannya yang memprihatinkan.
Dokter tersenyum simpul pada semua orang, setelah ia selesai mengobati Rich. Ia mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena fisik Rich sangat kuat dan lukanya akan sembuh dalam beberapa minggu.
“Jangan lupa minum obatnya secara teratur, Mr. Rich. Kalau Anda mengalami keluhan apa pun, tak usah ragu menghubungi saya,” kata dokter berkacamata itu yang kemudian pamit keluar diantar oleh Chandra yang sekalian pulang.
“Terima kasih banyak, dok, Pak Chandra.”
Sepeninggal dokter, Rich mulai mencari tahu informasi seputar cara menanam padi lewat youtube. Ia tampak serius mengamati step by stepnya, karena tadi Chandra juga sempat memberitahunya tentang trik-trik dasar itu.
“Taruh saja di meja, nanti aku akan memakannya.”
“Oke, kalau begitu aku kembali dulu ke kamarku. Karena aku sudah lelah—”
“Lelah?” Rich mengernyitkan kening. “Setahuku kau tidak melakukan apa pun hari ini, selain melihatku digebukin sama papinya Alda.”
Firheith yang kepalanya nongol di cela pintu, mencebikkan bibir.
“Lelah melihatmu menderita, Rich!” celetuknya yang akhirnya mendapat lemparan bantal dari Rich. “Hahaha.”
“Sialan!”
Dan Firheith pun kabur supaya tak terkena tinju oleh Rich yang sedang sensitif dalam memperjuangkan cintanya itu. Ternyata di kamarnya pun, ia sedang belajar tata cara bercocok tanam demi membantu Rich esok hari. Bahkan, ia sampai menelpon papanya yang pernah memiliki perkebunan gandum di Belgia.
***
Pukul 05:00 WIB, udara terasa segar menusuk kulit itu tak menyurutkan niat Rich datang lebih pagi ke sawah Tuan Morren, ditemani Firheith yang masih menguap. Mulanya berpikir mereka lah yang paling awal datang, ternyata salah.
Dan itu malah menjadi keberuntungan untuk Rich. Saat ia melihat seorang petani di sawah lain yang kebetulan membetulkan tanaman padinya yang roboh terkena angin, sehingga ia bisa meminta tolong padanya untuk diajarkan secara langsung.
“Nah! Betul itu Mister, nanam nya kayak gitu. Bapak nggak nyangka, kalau Mister cepet juga ya, belajarnya!” ucap Petani yang bernama Pak Johan itu sudah mengajari Rich selama satu jam, praktek di sawahnya.
“Well… Pak Johan, kok sudah ada di sawah jam segini. Apa memang biasanya begitu?” tanya Rich dalam bahasa Indonesia.
“Nggak juga sih, Mister. Kadang-kadang aja, biasanya saya datang jam tujuh setelah mencari rumput di lereng gunung sana!” tunjuknya dengan ekspresi seakan merahasiakan sesuatu ketika Rich memperhatikannya seksama.
Tetapi Rich tak mau ambil pusing, sudah dibantu saja ia banyak bersyukur dan sebagai tanda terima kasih. Ia pun kemudian memberinya sejumlah uang sebagai upah yang mulanya ditolak oleh Pak Johan. Firheith yang tertidur di saung milik Tuan Morren akhirnya terbangun, menghampiri Rich di sana sambil mengucek mata. Bahkan menggosok tangannya yang bentol-bentol.
“Just take it Sir!” celetuk Firheith yang kemudian diterjemahkan oleh Rich— yang menyuruhnya untuk mengambil saja uang itu.
“Makasih banyak, Mister. Sekarang Anda berdua harus kembali ke sawah Tuan Morren. Soalnya sebentar lagi, Tuan Morren akan datang. Nanti si Mister kena masalah lagi,” peringat Pak Johan yang netranya mengamati segala penjuru sawah.
Dan benar saja, begitu Rich dan Firheith sampai di sawah Tuan Morren, keduanya mendengar suara mesin kendaraan bermotor dari tepi jalan. Namun, bukan Tuan Morren yang datang melainkan Mutia.
“Hey Rockie, Frankie. Huh!” desis Mutia yang mencebikkan bibir sambil mengangsurkan kantong kresek berisi dua bungkus nasi pada Rich yang meringis karena ketahuan berbohong. “Dasar bule edan!” umpatnya dalam bahasa Jawa yang Rich tak mengerti, sehingga Rich dan Firheith malah cengengesan.
“Apa ini?” tanya Rich yang tak tahu isinya apa setelah menerima.
Firheith mengendus-ngendus bau pembungkus nasi itu yang begitu sedap. “Sepertinya isi kertas itu adalah makanan? Benar tidak Muti-muti?”
Mata Mutia melotot. “Namaku Mutia, you know? Bukan Muti-muti. Sekali lagi kau katakan itu, ku selepet kau!”
“What is slepet?”
Rich terpingkal-pingkal memegangi perutnya, ketika melihat Firheith dan Mutia yang berdebat. Sebelum ia gugup begitu melihat Tuan Morren dari kejauhan, datang bersama mobil pick up yang membawa bibit padi yang memenuhi bak belakang.
“Eh, eh! Udah dulu. Aku harus cepat pergi sebelum ketahuan Uncle Morren, ntar aku bisa kena damprat!” Mutia ketakutan. “Dan kau Rich, itu nasi bungkus kiriman dari Alda untukmu yang dititipkan padaku, jangan lupa dimakan!” lanjutnya kemudian lari tunggang langgang, melewati jalanan lain agar tak bertemu langsung dengan Tuan Morren.
Rich langsung memeluk kantong kresek itu seolah memeluk Alda. “Apa-apa, Fir? Nasi bungkus ini … Dari my bunny, Alda?”
“Kedengarannya sih, begitu. Jangan lupa berbagi padaku, Rich!”