Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
45. Meminta Pembuktian



"Entahlah Rich, bukan aku tak percaya tapi lebih tepatnya takut dan ragu," ucap Alda sambil melepas tangan Rich.


Alda tahu dan bukan hal baru lagi, rumor yang beredar tentang sang casanova yang kerap menjajah wanita. Maka dari itu ia meragukan cintanya.


Bisa saja lain di mulut lain di hati?


"Honey, Sweety, Bunny ..." Rich memang suka menyebut Alda semaunya. Lalu ia menyusul Alda yang terbangun dari ranjang.


Wanita itu tengah memunguti pakaiannya yang berserakan, dengan hanya berbalut selimut. Tapi dengan cepat Rich memeluknya dari belakang dan mencium ceruk Alda hingga menimbulkan sensasi merinding.


"Tolong, jangan lagi ..." Alda menggeleng, nafasnya tersengal.


"Aku sangat mencintaimu, Sweet heart. Kenapa harus ragu dan takut? Apa selama ini yang kau lihat dariku masih kurang?" tanya Rich tak ingin dijauhi Alda, cintanya begitu besar dan sedalam samudera.


"Maybe."


Jantung Rich berdentuman, seketika melepas ciuman sekaligus pelukannya. Alda kemudian berbalik badan dan menghadap Rich. Ia mencari jawaban, lewat pantulan mata hijau zamrud kekasihnya yang tak berkedip saat ini.


"Al ... Please, dengarkan aku. Lihatlah ketulusan cintaku dari mataku ini! Apakah kau menemukan kebohongan?" Rich memegangi bahu Alda berharap dia mau percaya. "Katakan."


Sejenak Alda menarik nafas panjang. "Terlalu banyak berkelintaran wanita di hidupmu. Jujur aku sulit percaya. Dari mantan-mantanmu, kekasih gelap dan ..."


"Dan apa? Siapa? Hanya kau saja sekarang." Rich mendekatkan diri, memangkas jarak.


"Yakin hanya aku?"


Alda tersenyum masam lalu melepas perlahan tangan Rich dari bahunya. Rich sudah berfirasat tak enak, dalam dirinya bergejolak batin saat melihat Alda malah bergeser menjauhinya.


"Apa maksudmu, Bunny? Tentu saja Alda Danurdara seorang yang ada di otak dan hatiku. Namamu tertancap kuat di sini." Rich menepuk kuat tangannya ke dada. Lalu memandang Alda penuh cinta. "Wajahmu selalu bergentayangan dalam ingatan sejak dulu dan kini. Bahkan ... Oh! Damn it! Aku sebenarnya malu mengatakan ini."


Rich bimbang meneruskan ucapannya. Dengan gelisah Alda menunggu, hingga penasarannya tak bisa dicegah.


"Katakan atau aku pergi sekarang juga!" gertak Alda.


"Fine. Aku tak bisa ereksi saat melakukan ..." Rich memberikan tanda kutip dua jari yang membuat mata Alda terbelalak. "Bersama wanita lain jika tidak membayangkan wajahmu."


"Jadi kau menjadikanku fantasi liarmu, brengsek! Tapi kau malah melakukannya dengan wanita lain, begitu?" Alda meluap emosi, menemui bantal di sisinya.


Hatinya tercabik cabik sakit membayangkan Rich bercinta dengan wanita lain. Apalagi saat terang-terangan para wanita menikmati tubuhnya. Alda tak rela!


"Kau jahat! Tega sekali kau Rich!"


Kemudian segera ia lempar ke arah Rich. Sakit hatinya dihujam panas yang mendidihkan otak. Tak tahan mendengar kenyataan pahit, selama ini Rich suka menyedekahkan benihnya pada wanita lain.


"Kau cemburu sayangku?" Rich tersenyum sambil menangkap bantal dan guling yang dilempar Alda dengan mudah.


Hingga habis benda-benda di atas ranjang terlempar, nafas Alda pun terengah-engah lelah.


"Dasar bajingan!" umpat Alda sambil terduduk jengkel di atas sofa. "Aku kesal sekali padamu, kau memuakkan, mesum dan menyebalkan!"


"Tapi itu dulu sayangku, cintaku, my sweet heart? Sekarang aku sudah tobat ..." rayu Rich berusaha memeluk, sayangnya kerap ditepis oleh Alda.


"Lepas! Aku belum bisa percaya. Jangan sentuh aku lagi!" larangnya masih belum bisa memaafkan. Rich terlalu memuakkan, bodohnya pun ia telah jatuh cinta. Cintanya begitu besar walau separuhnya dihimpit kekecewaan.


"Astaga, Alda. Harus dengan apalagi aku meyakinkanmu, Bunny?" tanya Rich bingung lalu tercetus suatu hal. "Kau mau barang branded? Mobil mewah atau jalan-jalan ke mana saja. Biar aku tanggung semuanya, asalkan kau pergi hanya denganku."


Dengan penawaran inilah, Rich sangat berharap Alda mau percaya. Karena setahu dia, wanita mana pun akan selalu luluh jika diberikan tawaran itu.


Tiba-tiba Alda merogoh ponselnya dari dalam tasnya di meja, penuh kesal jarinya menggulir dengan cepat laman instagram dan menunjukkan foto Rich waktu lalu. Tengah makan malam romantis dengan Cello.


"Lalu ini apa? Bisa kau jelaskan apa hubunganmu dengan dia?" tanya Alda bernada kecewa.


"Cello."


Setelah menyebut nama Cello, wajah Rich mendadak pucat. Ia duduk tersentak di sofa sebelah Alda, termangu diam yang mengerutkan kecurigaan Alda semakin kuat. Jika Rich tak akan pernah bisa meninggalkan wanita itu.


"Ya, dia. Cello pernah memposting ini! Jika kau mencintaiku, putuskan hubunganmu dengan dia." Alda meminta pembuktian. "Sanggupkah?"


...----------------...


Di sebuah ruangan megah lain, berbentuk kamar serba bernuansa pink. Seorang wanita seksi tengah memegangi ponsel di telinga dengan raut tertekuk.


Kekasihnya tak bisa dihubungi, ia begitu merindukannya dan menginginkan sesuatu darinya. Nyut-nyutan menderu hebat kepalanya, begitu pula gelenyar lain kian tak tertahankan dengan pikiran berkecamuk. Seandainya Rich meninggalkannya begitu saja dan tentu ia tak mau itu terjadi.


"Angkat teleponmu, Rich?"


Tut ... Tut ...


Panggillannya selalu gagal dan ia semakin kesal, ketika terus menerus mendengar suara operator memuakkan itu yang menjawab teleponnya.


"Kenapa dari kemarin kau menonaktifkan ponselmu, Baby? Kau di mana?" Cello membanting tubuhnya ke atas ranjang. Wajahnya menengadah ke atas sambil berdecak lalu membanting ponselnya ke dinding sebagai pelampiasan.


PRAKKK.


Body ponsel jenis terbaru itu pun, hancur berkeping-keping dengan isinya terburai keluar dalam sekejap.


"Aaahhh!" jeritan kemarahannya tertangkap oleh maid yang sedang berjaga di luar begitu cemas, takut terjadi sesuatu pada Nona mudanya.


Tok! Tok!


"Nona? Apakah Anda baik-baik saja?" tanya maid dari luar karena kamar Cello ternyata dikunci.


"Jangan ganggu aku Bibi Cheska! Aku mau Rich! Cepat cari dia!" teriak Cello dari dalam kamar marah-marah.


"Baik, Nona muda. Saya akan menyampaikan ini pada anak buah Anda," sahut maid bergegas ke depan mansion mewah tersebut untuk menemui anak buah Cello yang berjaga di luar.


Mereka melihat Cheska terhuyung-huyung, sangat panik hingga mereka semua menghampirinya.


"Nona Cello baik-baik saja kan, Bibi Cheska?" perwakilan mereka bertanya.


"Dia nampaknya sangat marah besar." Cheska lantas menjelaskan kronologinya. "Kalian ditugaskan Nona muda untuk mencari keberadaan Tuan Richard. Jangan sampai membawa tangan kosong atau kalian tahu sendiri apa akibatnya!"


Membayangkan hukuman itu datang jika gagal. Tangan mereka terpotong, kepala terpenggal atau nyawa melayang saja sudah membuat tubuh mereka ngilu dan ketakutan. Sehingga mereka pun bergegas melakukan perintah.


"Tolong katakan pada Nona muda, jika kami bersiap sekarang." Salah satu anak buah mereka, ketuanya berucap lantang.


Cheska mengangguk. "Kalian berhati-hatilah!"


Kemudian ia kembali masuk ke dalam mansion dan menuju kamar Cello untuk melapor, sedangkan mobil mereka berpencar ke masing-masing tempat untuk mencari Richard.


"Ya, hallo. Bagaimana?"


"Senor terlacak di Commonwealth Resort Hotel di Uganda," lapor hacker pada anak buah Cello.