Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
51. Jebakan



Terlambat. Rich sudah melihat sendiri, semua foto-foto Alda bersama pria di layar ponsel itu, sedang berciuman dan tidur bersamanya di satu ranjang. Mereka sangat mesra seolah memang telah berhubungan lama. 


Dada Rich memanas, hatinya terbakar cemburu. Sebagai pelampiasan amarah, dia melempar botol wine bekasnya minum.


PRAKK ... 


PRAANG!


Lemparannya mengenai kaca penyimpanan minuman beralkohol yang seharga ribuan franc. Kini harus pecah berkeping-keping dengan isinya terbuang percuma. Nahas pula! Seorang bartender yang sedang meramu minuman juga tepat berada di sana.


Mata Firheith melebar, cemas. Ia segera menghampiri bartender yang berjongkok di bawah lantai dengan tubuh gemetar ketakutan. "Kau tidak apa-apa Zallando?"


"I-iya Tuan Fir."


"Oh, syukurlah." Firheith bernapas lega, pasalnya Zallando cepat merunduk dan menghindar. Jika tidak, pasti kepalanya bisa terkena gegar otak karena lemparan botol dari pemilik Sweedie bar.


Namun, ketika dia melirik Rich di tempatnya. Sahabatnya itu  tampak diliputi kemurkaan. Sepertinya belum bisa menerima kenyataan getir bahwa Alda tega bermain belakang dan selingkuh dengan pria lain. Rich jatuh sejatuh-jatuhnya ke dasar, merasa kembali hancur oleh cinta.


"Wanita murahan! Jadi ini caramu membalasku, hah? Kurang ajar kau Alda! Pengkhianat!" teriak Rich sangat kesal, bahkan orang lewat menjadi sasarannya. 


Rich menjambak rambut seorang pria yang tengah berciuman dengan kekasihnya di depan matanya. Sekali tarik ke belakang hingga wajahnya terdongak, lalu menyundulkan kening pria itu  ke meja dengan sangat keras. 


"Aaargh!" otomatis pria tersebut mengerang kesakitan saat kepalanya didera pusing, darah pun mengalir sedangkan pasangan wanitanya  menjerit histeris.


"Tidak Tuan …! Jangan siksa kekasihku. Apa salah dia?" tanya wanitanya berusaha menarik kekasihnya yang kembali akan dihajar oleh Rich.


Otak Rich tak bisa berpikir jernih, antara kehilangan akal sehat karena mabuk. Dia juga tak bisa mengendalikan emosinya.


Firheith menengahi. "Rich, lepaskan pria itu! Dia tak bersalah." 


Akan tetapi tidaklah mudah bagi Firheith menarik pria tak berdosa itu dari amukan Rich yang membabi buta malayangkan tinju ke wajah pria tersebut. Alih-alih berhasil, Firheith pun hampir ditinju juga oleh Rich.


“Hey, Bro. Ini aku Fir, buka matamu lebar-lebar?” pinta Firheith terengah-engah nafas, sulit melawan tenaga Rich yang tak terkalahkan ketika jiwa Rich tengah dikuasai oleh iblis.


“Fir?”


“Ya, ini aku. Tolong lepaskan dia, Rich? Kumohon …” bujuk Firheith mati-matian.


Barulah Rich mau melepaskan pria itu yang nyaris sekarat. Firheith memapah pria itu yang langsung dipapah juga oleh kekasihnya.


“Mewakili temanku, aku minta maaf Nona.” Firheith memberi uang kompensasi tunai untuk pengobatan. “Pergilah cepat. Aku tak bisa lagi menolong jika kalian masih tetap di sini,” pesannya setelah wanita itu menerima uangnya.


^^


Gemuruh di dada belumlah teredam, ingatan foto-foto panas Alda dan pria yang terduga kekasihnya itu membayang dalam ingatan bagai racun mematikan. Walau Rich berusaha menghalau dengan menenggak habis beberapa botol vodka, nyatanya Rich kesulitan melupakan itu.


Jika hanya sekadar berciuman, Rich bisa memberinya maaf. Namun tidak dengan Alda yang bercinta dengan pria lain. Itu membuatnya tak bisa mengampuninya lagi. 


"Bagaimana aku bisa sabar, Fir. Kurang apa aku selama ini?" suara Rich berubah serak, menahan sesak dalam dada dan air mata.


Firheith terdiam mendengarkan keluh kesah Rich. Dia kasihan dan ikut sakit hati. Karena selain saksi hidup, sedikit banyaknya dia tahu perjuangan Rich bangkit dari keterpurukan dan dia pun turut andil membantunya.


"Dulu dia mempermainkanku dengan Ef. Bahkan gara-gara aku patah hati darinya, aku salah jalan. Lalu setelah dia putus dari Ef, wanita itu mengaku sadar bahwa dia ternyata salah dan memilihku. Aku menerimanya walau aku sudah mulai bisa melupakannya. Aku memberikan seluruh cintaku ... Hatiku ... Seluruh jiwa dan ragaku. Tapi sekarang? Dia tega mengkhianati kepercayaanku? Dia tak tahu betapa sulitnya aku selama ini berjuang demi dia. Ini balasannya! Bajingan bukan?" Rich tersenyum, dalam hati menertawakan kebodohannya sendiri. 


Firheith mengangguk, kali ini dia tak bisa memberikan saran apa pun. Dia tahu segalanya bahwa sahabatnya itu sangat mencintai Alda. Walau berkali-kali hatinya sering dipatahkan oleh wanita itu. Rich masih menerimanya dengan lapang dada. 


"Rich, apakah kau ingin mencari tahu keberadaan wanita itu? Kalau iya, aku bisa bertanya pada Paman Crush?" bujuk Firheith sambil mencegah sahabatnya itu yang akan mengeluarkan senjata, jangan sampai karena kemarahan ini berpikir pendek. 


"Tidak perlu, Fir. Aku sudah muak dengannya," ucap Rich yang bangun dari tempatnya duduk agak sempoyongan karena terlalu banyak minum. "Sekali wanita murahan tetaplah murahan. Mau dia selingkuh atau jadi pelacur. Terserah dia. Itu hidupnya dan aku tak berhak mengatur. Lagi pula dia juga sudah meminta putus dariku. Sekarang dia bebas mau menjajakan tubuhnya dengan pria mana pun. Aku tak peduli!" 


"Kau mau ke mana, Rich?" tanya Firheith menyusul. “Jangan melakukan sesuatu di saat kau marah?”


Rich membuang nafas kasar ke udara. "Aku butuh pelampiasan, Fir.”


“Apa yang kau butuhkan?” tanya Firheith.


"Siapkan dua pelacur untukku sekarang!" perintahnya.


Firheith tak bisa berbuat apa pun saat ini selain menuruti permintaannya. "Oke, tunggu di tempat biasanya. Aku akan mengirim mereka."


***


Obat tidur itu terlalu kuat. Berjam-jam lamanya Alda tertidur, pukul sembilan malam dia mulai membuka mata dengan kepala berdenyut-denyut.


“Sakit sekali?” lirih Alda mengernyitkan kening, dengan pandangan memburam ia mengamati sekitar ruangan yang terlihat kosong. “Nyonya Fransiska, Nona Meriam?” satu persatu Alda memanggil nama mereka, tetapi satu pun tak ada yang menjawab.


Ruangan itu terasa sepi seperti tak ada seorang pun di sana. Padahal Alda ingat betul jika dua wanita itu tadi bersamanya sebelum dia pingsan. Kini, Alda mengerti semua yang terjadi. Ada yang menjebaknya sehingga Alda yang terkejut melihat bagian atas tubuhnya yang polos. Dia langsung mengintip bawah selimut dengan tangan gemetar. Dia takut seandainya dia diperk*sa.


Alda pun bersyukur, celananya masih terpakai dan intinya juga dalam keadaan aman tak seperti yang ia cemaskan. Hanya saja dia tak mengenakan pakaian dan berbalut bra.


“Kenapa mereka tega berbuat ini padaku? Hiks, kurang ajar!” rutuk Alda sambil mencengkram selimutnya dengan kuat.


Tak lama ia mengucurkan air mata, ponselnya berdering dalam tas. Alda cekatan meraih ponselnya meski tangannya masih dingin dan gemetar.


“H-Hallo Yessa? Kau di mana?” 


Lima puluh kali missed call dari Yessa, lima puluh kali juga missed call dari Eve berikut chat darinya yang menanyakan keberadaan Alda.


“Aku menunggu Madam di hotel dari tadi siang, tapi Madam tidak mengangkat teleponnya. Madam ada di mana? Setelah kutanya reservasi kamar di hotel ini atas nama Nyonya Fransiska, resepsionis juga mengatakan tidak ada dengan nama itu yang mereservasi kamar di hotel ini? Aku jadi bingung,” ungkap Yessa mengejutkan Alda.


“A-apa katamu?” pekik Alda tubuhnya langsung lemas tak bertenaga.