Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
92. Biasakan Memanggil Papi dan Mami



“Mami sudah dengar permintaan putra kita, kan? Apa mami setuju?"


Alda diam dan membuang nafas jengah, menatap Rich yang tersenyum penuh arti dengan sengaja menggodanya itu. Dipikirnya membuat anak semudah membuat mie instan? 


Kalau lelaki sih, enak. Tinggal sebar benih dan tak perlu kesakitan mengandung selama sembilan bulan. Belum lagi morning sickness, mulasnya saat proses persalinan normal dan lain-lain. Alda tak sanggup setahun sekali hamil? Sementara Noah yang tak sabar, beralih kini membingkai wajahnya. 


"Jawab dong, Mi?" desak Noah tak sabar.


Alda coba memberi putranya pengertian. "Sayang, adik sepuluh itu kebanyakan. Noah saja ada di perut mami dulu selama sembilan bulan, baru lahir. Mami harus kasih asi buat Noah, mengajari Noah banyak hal termasuk berjalan, bicara, hingga Noah bisa menjadi anak pintar seperti sekarang."


"Oh … Jadi prosesnya lama banget ya, Mi?" tanya Noah dengan wajah polosnya itu.


Alda mengangguk lalu mencubit gemas hidung sang putra. 


"Kalau gitu, diskon aja buat mami. Aku minta adik lima, gimana idenya aku? Papi setuju, kan?" lirik Noah pada sang papi yang langsung mengangkatnya dan didudukkan ke atas perut. 


"Mami dan papi setuju!" sambar Rich hingga Alda geleng-geleng. 


"Yeay!" Noah bersorak gembira. 


Rich kemudian menggendong putranya sambil berputar-putar di dalam kamar, hingga keheningan malam itu terpecahkan oleh gelak tawa kegembiraan Noah, Alda dan Rich. Melihat keceriaan Noah sekarang, Alda merasa bahagia. Bahkan sangat bahagianya hingga ia mencucurkan air mata. Namun, di balik itu semua di hatinya terbesit sebuah penyesalan. 


Mengapa tak dari dulu saja ia jujur pada Rich soal Noah? Mungkin saja  jika dari awal Alda memberitahunya, Rich akan berubah. Ternyata gelak tawa itu terdengar pula oleh Rukma yang tak sengaja melewati kamar mereka, ketika ia hendak menuju kamarnya sendiri. Rukma tersenyum, akhirnya air mata dan kesengsaraan Alda dan Noah kini terbayar lunas. 


“Sudah, Pi. Noah lelah tertawa terus,” kata Noah yang tergeletak lemas dengan nafas memburu, di sisi Rich berbaring.


Alda menghampiri dua pria yang paling disayanginya itu lalu mengangsurkan dua gelas air untuk mereka berdua.


“Diminum dulu, kalian pasti haus?” 


“Terima kasih, Mami,” ucap Noah dan Rich bersamaan saat menerima gelas air itu dari Alda.


“Noah kan, mau punya adik. Jadi, supaya adiknya cepat diproses mulai besok Noah tidur di kamarnya Noah sendiri ya, Sayang. Noah harus mandiri, tapi untuk malam ini tidak apa-apa tidur berdua dengan mami dan papi.” Rich tersenyum sambil mencium pucuk kepala putranya yang berbaring. “Tidurlah cepat, supaya besok sekolah tidak terlambat.”


“Terima kasih, Pi. Noah sayang papi,” kata Noah yang perlahan memejamkan mata dengan nyaman dipeluk oleh Rich.


“Papi juga sayang sekali dengan Noah dan Mami. Kalian harta berharga yang papi miliki sekarang.” Rich melirik Alda yang melempar senyum. Ia menyatukan tangannya dengan tangan Alda saat bersama-sama memeluk putranya.


Ketiganya tidur malam itu dengan sangat nyenyak. Ya, walaupun Rich harus bersusah payah menidurkan pula miliknya. Tapi demi kebahagiaan sang putra, ia rela mengalah. Hanya semalam saja menahan, tidak masalah. Masih ada besok malam yang akan berkesan dan pastinya ia tak akan pernah melepaskan Alda.


***


Keesokan harinya. 


"Belajar yang pintar ya, Sayang!" pesan Alda dan Rich pada Noah, setelah keduanya mencium pipinya. 


"Iya, Mi, Pi. Noah masuk dulu, bye!" Noah melambaikan tangan sambil berlari menghampiri teman-temannya, yang sudah menunggu di gerbang. 


Pagi itu Rich dan Alda sengaja berboncengan bertiga untuk mengantar Noah ke sekolah. Noah berada di depan Rich yang menyetir motor, sedangkan Alda di belakang memeluk pinggang sang suami dengan erat. 


Aduhai … 


Rasanya momen ini terlalu berharga untuk dilupakan. Walaupun hanya sekadar berboncengan bertiga. Rich merasa jadi suami paling bahagia di dunia ini. Di karuniai istri seksi nan cantik dan putra yang tampan. Apalagi yang kurang? 


Tidak ada. 


Betapa sulitnya memperjuangkan Alda Danurdara hingga ia harus jungkir balik demi bisa mendapatkannya. Sungguh! Putrinya mendiang Tuan Morren ini terlalu meresahkan. 


"Duh, pengantin baru. Berduaan terus?" goda tetangga Alda yang kebetulan saat berpapasan mengantar anaknya juga ke sekolah itu. 


"Ah! Bu Devi bisa saja," sahut Alda malu-malu. 


"Kita serasi kan, Bu?" celetuk Rich ikut bersuara sambil menarik tangan Alda supaya lebih erat melingkari pinggangnya. 


"Apa sih, Boo? Tak enak dilihat Bu Devi. jangan genit, ih?" bisik Alda lalu tersenyum mengangguk pada Bu Devi yang terkekeh mengamati dirinya dan Rich. 


Ternyata Bu Devi mendengarnya lalu tertawa, "kalian berdua itu sangat, sangat serasi. Pakai banget! Nggak usah malu Mbak Alda, Ibu juga pernah jadi pengantin baru, kok. Jadi mengerti gimana perasaannya Bli Rich," puji Bu Devi jujur. 


Rich langsung besar kepala, terus melirik Alda dari balik kaca spion yang pipinya blushing. 


"Tuh! Kan, Mi. Apa Papi bilang? Tidak usah malu. Bu Devi saja mengakui kalau kita ini pasangan serasi," kata Rich mengedipkan sebelah matanya pada Alda yang semakin hanyut akan rayuan mautnya itu. 


"Oia, kapan nih, adiknya Noah lounching? Saya gak sabar pengen lihat made in Bli Rich ini kalau bayinya nanti perempuan. Lebih mirip ke siapa, ya?" lanjut Bu Devi penasaran. 


"Segera, Bu!" sahut Rich seketika membolakan mata Alda yang hanya bisa meringis, begitu mendengar sang suami yang terlalu percaya diri. 


"Papi maminya aja bibitnya unggul, pasti anak kami nanti sangat cantik perpaduan dari kami. Iya kan, Mi?" lanjut Rich bertanya pada Alda. 


Jika berada di luar, kini Rich membiasakan diri saling memanggil dengan sebutan Papi dan Mami. Selain untuk mengajari Noah, Rich ingin se-Bali tahu kalau Alda adalah istri sahnya dan hanya miliknya seorang. 


Alda meringis, "i-iya."


"Ya, sudah. Kalau begitu saya duluan ya, Mbak Alda, Bli. Soalnya saya mau ke pasar," pamit Bu Devi kemudian melajukan motornya ke arah berlawanan. 


Sementara Rich dan Alda langsung menuju ke sawah milik kedua orang tuanya. Melewati jalanan yang diapit persawahan itu, udaranya sangat sejuk dengan pemandangan yang masih asri. Hingga membuat Rich merasa betah tinggal di Bali. 


"Pegangan yang erat, Sweety. Aku mau ngebut!" peringat Rich kemudian menutup helm-nya. 


"Aaaahh!" jerit Alda yang duduk menyamping itu tak mendengar suara Rich yang berbaur dengan kencangnya angin. Hingga ia yang tak siap, seketika mengencangkan ekstra pelukannya di pinggang Rich. 


Melewati polisi tidur, Rich sengaja menerobosnya hingga dada Alda membentur punggungnya. Bahkan Alda tahu, kalau itu hanya akal-akalan suaminya saja yang suka memanfaatkan keadaan.


"Ih! Nakal!" kesal Alda memukul bahu suami mesumnya itu. 


"Hahaha," Rich tertawa senang berhasil menggoda Alda yang bibirnya terlihat manyun dari kaca spion. 


"Lain kali kalau ngebut begitu, aku tak mau kau bonceng boo!" protes Alda.


Rich menarik nafas pelan, menoleh pada istrinya itu yang cemberut.


"Jangan marah, Bunny. Nanti cantiknya hilang? Ayo turun! Atau mau aku gendong?" tawar Rich coba merayu.


Tentu saja Alda tak mau karena risih jika dilihat banyak orang. Sehingga ia turun sendiri. Meski begitu, keduanya telah kembali akur karena Rich yang pintar merayu Alda. Kini keduanya tampak bergandengan tangan mesra. Melewati jalan setapak pinggiran sawah, untuk menuju sawahnya yang berada di sisi sungai yang padinya sedang di panen. 


"Itu dia Mbak Alda dan si Mister sudah datang, Bu Rukma!" tunjuk salah seorang buruh tani memberitahu. 


"Ada apa ya, Bu? Kok sepertinya ibu sedang cemas?" tanya Alda setelah ia dan Rich telah berada di sisi Rukma.


"Al, Rich. Juragan yang biasa membeli padi kita tiba-tiba membatalkan sepihak membeli padi-padi kita. Jadi, sekarang ibu terpaksa menjual hasil panen kita pada Juragan Indra," ungkap Rukma bersedih.


"Memangnya berapa harga yang ditawarkan juragan Indra untuk membeli hasil panen kita, Bu?" tanya Alda mendadak perasaannya tak enak, sementara Rich masih diam mencerna situasi.


Rukma menatap bergantian anak menantunya itu dengan tatapan lesu, lalu menunjukkan coretan kertas yang berisi taksiran harga yang akan ditawarkan juragan Indra. Setelah menghitung total hasil panen sawah itu.


"Apa? Rendah sekali harganya, Bu? Dan sejak kapan Juragan Indra beralih profesi dari juragan sapi ke tengkulak gabah?!" terkejut Alda ikut kecewa.