
"Kau tidak bohong kan, Alex?"
"Apa untungnya aku berbohong padamu?”
“Lalu kenapa kau ada di sini? Kebetulan yang aneh.” Yessa mencurigai kalau Alex mengikutinya sampai kemari, atas suruhan bosnya itu.
Alex menghalau pemikiran Yessa yang berkonotasi negatif. “Aku baru saja dari badan pajak dan saat aku melintasi jalanan ini, aku tak sengaja melihatmu sendirian. Jadi, kupikir kenapa aku tak menghampirimu teman?”
Mata Yessa meneliti kesungguhan Alex dari ekspresi wajahnya. Alex tersenyum lantas menyerahkan sesuatu sebagai bukti.
“Lihatlah ini!" Alex menunjukkan surat dari badan pajak, sekaligus agenda jadwal kegiatan Rich hari itu di layar tablet, yang baru saja dikeluarkan Alex dari dalam tas kerjanya.
Yessa akhirnya percaya dan tertarik juga melihat banyaknya deretan rutinitas Rich yang padat hari itu dan hanya satu baris yang Yessa tuju, dengan mata kembali berlinangan. Today 14;00 pm — Fitting gaun dan jas pengantin di Butik Venesia Gordi.
Yessa pun seketika teringat akan Alda. Bosnya itu pasti akan hancur jika mengetahui kabar pernikahan ini. Ia saja sebagai orang terdekatnya ikut bersedih dan begitu sakit hati. Kini, entah mengapa?
Hati kecil Yessa merasa terketuk untuk membantu, mempersatukan jalinan cinta antara Rich dan Alda. Bukan karena uang atau tergiur jabatan yang akan menyelamatkan nyawa ayahnya dan merubah hidupnya jadi lebih baik.
"Aku mau, Lex! Ya, aku sangat mau."
"Mau itu apa maksudnya?” Alex memberi dua gerakan mengerucut saling bertemu, ia tak ingin hingar bingar kendaraan yang berlalu lalang membuatnya salah dengar dan membawa kabar burung untuk Owner ****Fire Base Agency****. “Benarkah kau setuju memberitahu alamat Madam Dara di Indonesia pada Senor Rich?"
Yessa mengangguk, senyum cerah terulas di wajah maskulin Alex yang tanpa disangka-sangka memeluk Yessa secara tiba-tiba. Dekapan hangat Alex seketika mendesirkan aliran darah Yessa menusuk ke otak, dengan jantung berhentak-hentak seperti kuda liar yang tengah berlari. Selain, ini kali pertamanya dalam seumur hidup. Yessa dipeluk seorang pria, sebelum pelukan dari ayahnya.
Oh tidak! Yessa langsung tersadar ketika merasakan jantung Alex pun demikian.
“Ini tempat umum Alex. Maksudku kita jangan berpelukan di sini dan lakukan di … Tidak enak dilihat orang lewat. Astaga! Bukan itu!” Yessa yang kemudian membuat Alex segera melepas pelukannya. Yessa menepuk keningnya dengan keras, ia bingung kenapa dia bisa bicara tergagap seperti ini dan lidahnya terbelit-belit.
Sementara Alex tersenyum kikuk sambil menggosok-gosok tengkuknya saat mendapati pipi Yessa yang semerah tomat. Dia manis sekali, hingga Alex ingin mencubit pipinya itu. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Pikir Alex tak henti meniti senyum.
“Maafkan aku Yessa, tadi aku refleks.”
“Lain kali tolong jangan diulangi lagi.”
“Bagaimana sebagai permintaan maafku ini, kau aku traktir makan es krim?” tawar Alex dan di dalam hatinya merapal doa, supaya Yessa menerima tawarannya.
“Aku ingin langsung menemui Senor Richard dulu, Lex. Jangan sampai terlambat, karena aku ingin pernikahan beliau dan Ms. Cello batal.” Yessa mengatakannya penuh semangat.
Keceriaan Alex seketika luntur, tetapi ia menyembunyikannya di balik senyuman dan ternyata Yessa mengetahui itu.
“Nanti setelah aku menemui Senor Richard, kau temani aku ke rumah sakit ya?”
“Iya.”
“Jika semua urusanku beres. Kita makan es krim bersama,” ucap Yessa membuat hati Alex kembali berbunga-bunga.
“Baiklah, kalau begitu kita ke kantor Fire Base Agency sekarang. Masih ada waktu!” Alex mengajak Yessa bergegas pergi dengan menaiki mobil Alex yang terparkir di pinggir jalan.
...----------------...
🍃Fire Base Agency🍃
“Alex.”
“Ya?”
Sesaat Yessa menarik napas ketika ia dan Alex berada dalam satu lift yang menuju ke lantai lima di mana ruangan Rich berada.
“Apakah Senor tidak memarahiku nanti saat bertemu? Mengingat terakhir kali, aku pernah menolak untuk membantunya?” Yessa meragu dan agak takut bertemu Rich.
Jemari besar Alex merayap dan menyatukan genggamannya dengan jari-jemari Yessa yang lentik. Beriring ia yang murah senyum, mempersilakan Yessa keluar dari lift. Begitu pintunya terbuka.
Yessa yang belum mendapat jawabannya pun mendesak Alex. “Kau masih belum menjawab pertanyaanku?”
“Senor Richard itu sebenarnya orang yang sangat baik, Yessa. Tetapi jangan sampai membuatnya tersinggung atau merendahkannya, karena stok kesabaran beliau sangat-sangat minimalis.”
“Hah?” Yessa langsung terkejut membolakan mata. “Berarti dia akan menghukumku?” lemasnya seakan menelan batu kerikil.
Alex mengulum senyum dan membiarkan ekspresi ketakutan Yessa semakin menjadi. Ia menekan bell ruangan Rich sebelum masuk dan setelah tahu bahwa anak buahnya berhasil membawa target. Rich pun segera menyuruhnya untuk masuk.
“Silakan duduk.”
Kursi digeser Alex untuk memberi ruang lebih dulu pada Yessa. “Terima kasih,” kiranya itulah yang diucapkan Yessa karena diistimewakan pria tampan itu. Tetapi ia gugup ketika Alex menunjukkan gelagat akan meninggalkannya hanya berdua di ruangan itu dengan Rich.
Yessa menggeleng dan memenjara pergelangan tangan Alex yang kemudian menoleh nanap. Iris jernih Yessa mengemukakan sebuah permintaan agar Alex tetap tinggal, diyakininya pula dengan gelengan wanita itu. Sehingga Alex tak jadi pergi dan ikut menemaninya duduk.
Suara Rich mematahkan saling pandang antara Yessa dan Alex. “Jadi, ada apa kau datang kemari menemuiku Nona Yessa Irlandia?” Rich membuka obrolan sambil berlagak sok sibuk. “Aku hanya punya sedikit waktu meladenimu, jadi jangan buang waktuku!”
Yessa to the point.
“Saya akan memberitahu di mana alamat Madam Dara tinggal di Indonesia Senor. Tetapi dengan satu syarat.”
Rich melepaskan kacamata yang terkatung di kedua bola matanya dan menaruhnya ke atas meja. Menyangga punggung tangannya di bawah dagu lalu mengernyitkan keningnya pada Yessa yang lekas menunduk.
“Aku tak suka dipaksa dan ditekan. Jika kau tak mau mengatakannya, tak masalah. Aku bisa mencari tahu sendiri.” Rich seolah tak butuh, padahal ia hanya menggertak Yessa. Sudah tahu semuanya setelah ia mendapat kabar ini sebelumnya dari Alex dan semua mata-matanya yang menyebar.
Kini, malah Yessa lah yang kelimpungan mendengar pernyataan Rich. Alex juga jadi bingung dengan sikap Yessa yang tiba-tiba ini.
“Ada apa Yessa? Kenapa kau harus mengajukan syarat segala? Bukankah saat kita berangkat kau lah yang setuju untuk membantu Senor?” Alex berbisik amat pelan. begitu pula Yessa.
“Alex, aku begini juga demi kebaikan mereka berdua.”
“Maksudmu?” Alex bingung.
Ehem!!
Rich berdehem keras yang membuat Yessa dan Alex tak lagi berbisik. “Aku tak suka ada yang membicarakanku dari belakang. Lebih baik langsung saja berbicara, karena aku bukan tipe orang yang sabar. Bukankah Alex sudah mengatakan itu padamu, Nona Yessa?”
“Ya, Senor. Alex memang sudah mengatakannya, termasuk Anda yang akan segera menikah dengan Ms. Celloraine Delaila Izakh dan sebagai orang yang pernah dekat dengan Ms. Alda, saya menentang ini. Maka dari itu, sebelum Anda membatalkan pernikahan itu saya tak akan mengatakannya.”
“Bagaimana Anda bisa tahu?” kaget Yessa.
“Tidak perlu tahu aku mendapat informasi itu dari mana, karena yang harus kamu tahu … Aku sangat mencintai Alda melebihi apapun. Masalah pernikahanku batal atau tidak? Itu urusanku dan aku yang akan mengatasinya, Yessa. Terkadang lebih baik menjadi orang yang tidak tahu sama sekali daripada tahu tetapi ketakutan dan hidup menjadi tidak tentram. Sesuatu yang terlihat baik-baik saja dari luar, belum tentu di dalamnya terlihat baik.”
“Saya tidak mengerti—” ucapan Yessa terpotong oleh Rich.
“Lebih baik kau tak perlu mengerti. So, aku akan membantu biaya operasi ayahmu tanpa usah kau memberitahu keberadaan Alda daripada aku berhutang janji. Sekarang berikan nomor rekeningmu dan akan ku transfer nominalnya,” putus Rich sudah pasrah, melirik jam yang ternyata sudah berlalu menuju pukul satu siang. Satu jam lagi dia harus pergi bersama Cello ke butik untuk fitting gaun pengantin.
Rich mengambil ponselnya, men—schroll menu m-banking. Sementara Yessa bergelut pikir dan mulai bisa mencerna kehidupan pria ini yang penuh teka-teki. Meneliti kesungguhannya dari gambaran kesedihan yang membayang di mata hijau zamrud pria itu yang tampak kosong.
Mungkin, Yessa salah mengambil sikap. Tetapi di lain sisi, hatinya mendorongnya untuk mengalah dan memberitahu segalanya dengan segenap keyakinan kuat jika Rich tak akan mengecewakan Alda lagi.
Madam Dara, tolong maafkan aku telah mengkhianatimu. Jangan dendam padaku dan aku berharap kau akan menemukan kebahagiaanmu setelah ini.
Yessa menarik nafas panjang, menguatkan hati. “Senor, saya akan memberitahu Anda dan pertolongan Anda membantu ayah saya. Anggaplah itu sebagai hutang, saya akan segera melunasinya tapi butuh waktu untukku mencicilnya. Bolehkah?”
Rich tersenyum tulus, Yessa bertambah yakin jika dia tak salah mengambil keputusan. “Kenapa harus berhutang? Apakah kau tak mau bekerja denganku?”
“Memangnya masih boleh?” polos Yessa. “Kata Senor Rich, jika kesempatan dari Anda tidak datang dua kali?”
“Kau lupa jika kedua kali ini kau menemuiku? Itu artinya kesempatanmu masih ada, bodoh!” Rich kemudian tertawa sambil menggeleng. Di sinilah Alex yang bersorak dalam hati, karena secara otomatis ia bisa bertemu dengan Yessa setiap hari.
Yessa terharu hingga bulir-bulir air matanya jatuh berderaian. Benar kata Alex, jika Rich adalah orang yang sangat baik setelah perlahan mengenalnya. Terlepas dari sifat slengekan dan casanova yang melekat di wajah mesum pria itu.
Jl. Cinta 115, Ubud. Gianyar – Bali, Indonesia Raya.
Sent!
Yessa mengirimkan alamat lengkap rumah Alda di Indonesia dan juga telah menandatangani kontrak kerja di Fire Base Agency sebagai sekretaris – Rich.
Sent!
Rich juga sudah mentransfer sejumlah uang untuk deposit biaya rumah sakit ayahnya— Yessa. Bahkan ia melebihinya sebagai tanda terima kasih.
“Senor, ini terlalu banyak!” pekik Yessa sungguh terkejut, gajinya dua bulan diberikan di muka.
“Itu bukan gajimu, tapi pemberian dariku.”
“Hah?” mata Yessa membulat penuh, lalu melirik ke arah Alex yang mengangguk. “Ambil saja. Itu rejeki untuk wanita baik sepertimu!” suruh Alex.
“Terima kasih banyak, Senor. Terima kasih …”
Rich tersenyum lega telah mengantongi alamat Alda. Mendadak ada kebahagiaan lain juga merasukinya karena kali ini, berkesempatan membantu orang lain yang berada dalam kesusahan.
“Sama-sama, Yessa. Selamat bergabung di Fire Base dan bekerjalah mulai besok. Jika kau mengalami kendala nanti, hubungilah Alex dan kau Lex. Bantulah Yessa kapan saja dia membutuhkan bantuan!” perintah Rich.
“Siap, Senor. Dengan senang hati!” lantang Alex bersemangat.
...----------------...
Tiba di butik Venesia Gordi, Cello mencoba beberapa gaun yang menurutnya pas di badannya yang agak berisi. Kehamilannya telah menginjak usia tiga bulan tetapi perutnya sudah terlihat besar dan ia sungguh merasa tak nyaman. Karena tak bisa mengenakan pakaian seksi seperti biasanya.
“Baby? Bagaimana dengan gaun ini?” tanya Cello yang menghampiri Rich dengan kepayahannya mengangkat gaunnya yang panjang.
Rich tak menjawab kendati sibuk dengan ponselnya. Ia sedang mengirim chat pada Firheith dan memaksanya untuk ikut menemaninya ke Indonesia, sekalian disuruhnya untuk memesan tiket pesawat Vip First Class.
“Baby!” teriak Cello yang kemudian baru didengar oleh Rich yang malah senyum-senyum sendiri membaca chat dari Firheith, terlebih hatinya yang dikini bagai dipenuhi kupu-kupu berterbangan.
“Apa? Kenapa harus berteriak? Memangnya kau pikir aku tuli!”
“Kenapa tidak merespon saat kupanggil?” Cello mendengus kesal, bibirnya mengerucut.
Pegawai butik menahan tawa saat mendengar Rich dan Cello berdebat. Tetapi atensi mereka sepenuhnya tertuju pada Rich yang tampan. Sedikitpun mereka tak berkedip begitu melihatnya dari tadi yang dijadikannya sebagai ajang cuci mata.
“Aku sedang membalas chat dengan klien. Selama satu minggu aku akan keluar negeri. Omong-omong gaun mana yang kau pilih? Kenapa lama sekali?” protesnya, karena sudah dua jam lebih Cello menghabiskan waktunya di butik.
“Belum ada yang cocok, Baby. Kau sendiri bagaimana?”
“Ck, aku terserah kau saja yang mana.”
“Jas ini? Apa kau suka?” tanya Cello, menunjukkan jas warna putih dengan dasi kupu-kupu.
“Hmm, terserah.” Rich mengacungkan jempol.
“Tapi kurasa yang model tuxedo akan cocok untukmu baby. Ah! Yang mana, ya? Aku jadi bingung.” Cello meminta pendapat Designer itu dan akhirnya Venesia memilihkan mode jas dan gaun yang menurutnya serasi untuk klien-nya.
Rich menghela napas panjang. Beginilah tak sukanya Rich jika sedang mengantar wanita berbelanja pakaian. Dia akan menghabiskan waktu seharian penuh hanya untuk mencocokkan baju, sedangkan pria akan mengambil seperlunya saja. Membayar dan beres.
“Kau suka jas yang dipilih Tante Venesia, Baby? Jika kau tidak suka, kau bisa memilihnya lagi.” Cello membuat kepala Rich pusing dan hilang mood.
“Astaga Cello! Lalu buat apa aku memilih lagi jika Tante sudah memilihkan untukku? Dia designer ternama jadi sudah pasti pilihannya bagus.” Rich tak peduli sekalipun ia harus mengenakan kaos dan celana pendek untuk pemberkatan nikahnya nanti. “Aku tampan dan gagah, jas apapun dan pakaian mana saja yang kupakai pastilah cocok.”
“Betul, betul, betul!” sahut pegawai butik terkekeh.
“Shut up!” bentak Cello pada mereka dengan mata melotot, karena melihat kegenitan mereka pada Rich dan ia tak menyukainya. Sehingga mereka pun seketika diam menundukkan pandangan, tak berani lagi kurang ajar.
“Tenanglah, Cello. Sekarang gaun mana yang kau suka, Sayang?” Venesia menenangkannya, karena ia paham jika ibu hamil muda terlalu sensitif.
“Aku mau gaun yang ini, Tante. Tapi jika aku mengenakannya?” wajah Cello muram. “Maka perutku akan terlihat membesar?”
Cello merengek dan memaksa ingin mengenakan gaun yang mencetak lekukan tubuhnya seperti biola Spanyol itu. Meski Venesia sudah memberi solusi akan melonggarkannya tapi dasar Cello yang keras kepala tetap saja tak mau mengerti.
Rich yang sudah beruap hilang kesabaran lalu mengancamnya. “Kalau kau tetap kekeh mengenakan gaun itu dan mempermalukan aku di depan umum. Lebih baik kita tidak usah menikah!”