
Firheith yang semula di sebelah Rich pun minggir. Ia tahu diri, beralih menyandarkan punggungnya di tembok untuk memberi kesempatan pada Rich dan Alda saling meluapkan rindu. Menyaksikan dari belakang pertemuan mereka dengan decakan kesal lalu menggerutu. "Mau sampai kapan si bodoh itu terus berpandangan? Apa sampai kiamat? Lama. Kalau aku jadi Rich, langsung kuseret Alda ke kamar hotel."
Tak lama, senyum Firheith mengembang ketika Rich sudah beraksi.
"Apakah ka-kau benar, Rich?" telunjuk Alda mengarah ke depan wajah Rich yang kini mulai tersenyum.
Perlahan, tanpa melepas pandangannya dari mata Alda yang berisikan banyak makna. Rich meraih kedua telapak tangan Alda dan menggenggamnya.
"Kalau bukan aku, siapa lagi bunny?" Rich memelankan suara baritonnya dengan lembut, hingga jantung Alda yang masih melaju cepat bertambah meledak-ledak.
Alda sangat canggung, canggung sekali. Bahkan, sebenarnya ia risih dipegang tangannya seperti ini oleh Rich. Namun, apalah daya. Hanya sekadar menarik tangannya dari Rich, hatinya berlawanan arah. "Ke-kenapa kau bisa ada di sini?"
"Untuk menemuimu Alda."
"Aku?" pekik Alda tertahan.
Cup!
Rich mencium punggung tangan Alda tiba-tiba, hingga Alda kembali terkejut dengan perasaan tak menentu. Antara bahagia, sedih, malu dan risih menjadi satu.
"Ya, aku sengaja datang ke sini khusus untuk menemuimu my bunny. Aku …"
Perkataan Rich terpotong seketika, begitu Alda menarik tangannya dari genggaman. Hingga Rich tampak keheranan.
"Bukankah kita sudah putus?" Alda membelakangi Rich sambil memegangi dadanya yang berdebar-debar, seluruh tubuhnya menjadi dingin.
Rich langsung menepis itu. "Aku tak pernah memutuskan hubungan kita, bunny. Kita masih menjalin hubungan dan kau tetap kekasihku hingga detik ini."
"Tapi … Tapi … Aku sudah memutuskanmu Rich, sejak fotomu dan Cello …"
Dua langkah, Rich maju dan berpindah haluan. Kini berada tepat di hadapan Alda lagi, hingga tubuh wanita itu berjingkat.
"Bisa kita bicara sebentar, berdua dan menyelesaikan semua permasalahan kita bunny?" tanya Rich menunggu Alda menjawab, saat ia melihat keraguan di mata Alda. Rich ingin bar-bar rasanya, memeluk wanita itu sangat erat.
Tetapi tunggu. Jiwa agresif ini harus diredam dulu, supaya tak mengacaukan situasi yang sudah agak kondusif.
"A-aku sedang sibuk, jadi tidak bisa."
"Sesibuk apa, hum?" mesra sekali suara Rich saat bicara dan terdengar seksi. Hingga Alda hampir saja luluh karena pesona pria memabukkan ini.
"Kau tak lihat gaun pesta yang kukenakan?" Alda memperlihatkan dirinya dengan ekspresi yang dibuat garang.
Rich mengamati penampilan Alda dari wajahnya yang sangat cantik dan manis. Matanya yang bulat cerah itu, bibir penuhnya yang ingin sekali Rich cium dan tepat berhenti di bagian dadanya yang tumpah-tumpah melebihi kapasitas.
Mata hijau zamrud membola penuh, dengan sekali teguk ia menelan ludahnya susah payah. 'Astaga! Dadanya itulah yang membuatku cocok dan tak ingin berpindah ke merek lain. Ya ampun!' meronta-ronta Rich dalam hati pada bagian Alda yang itu.
Rich gagal fokus, tangannya terulur akan menggapainya hingga mengesiapkan Firheith yang tahu teman mesumnya itu mau apa. Ia memberi siulan pelan supaya Rich membatalkan niatnya.
"Aduh! Si mesum itu, matanya tak bisa dikondisikan kalau sudah melihat gunung kembar!" gerutu Firheith sambil menutup matanya dengan lima jari yang sedikit mengintip. Ia tak kuat melihat Rich akan segera kena tabok oleh Alda. "Psst … Pstt … Rich … Hey!"
Malah Alda lah yang mengerti kode dari Firheith. "Rich, jangan macam-macam, ya!!" omelnya segera menyilangkan tangan ke dada dan mengancam. "Atau aku berteriak dan … Memanggil security!"
Rich segera sadar dari kebodohannya dan menarik tangannya lagi, saat melihat Alda yang ketakutan. "Bunny, jangan berpikir negatif. Aku tidak ada niat seperti itu." Setelahnya, Rich cepat berjalan ke arah Firheith dan menarik paksa jas yang dikenakannya. "Pinjam!" ucapnya sangat pelan dengan mata melotot.
"Iya, iya. Sabar!" terpaksa Firheith melepasnya. "Makanya, Rich. Lain kali harus selalu perfeksionis. Jangan pakai kaos dan celana saja kalau sedang nongkrong."
"Hmm, iya bawel!" sahut Rich.
Kemudian Alda yang memperhatikan itu pun seketika bergeming kaku dengan jantung nyaris berhenti. Sewaktu Rich mengenakan jas milik Firheith ke belakang punggungnya.
Wajah Alda bersemburat merah, kemudian merunduk dan memandangi dirinya sendiri yang terlihat aneh. Jas kedodoran sehingga gaun indahnya tak terlihat dan ia ingin melepasnya. Tapi tertahan oleh Rich yang menggeleng.
"Jangan dilepas!" larangnya.
"Rich! Gaunku jadi tak terlihat bagus. Aku harus cepat ke pesta supaya aku tak terlambat dan aku tidak mungkin pergi dalam keadaan seperti ini!" geram Alda merasa tak nyaman.
Rich menggandeng tangan Alda. "Di sekitar Como Ubud ini, kurasa ada butik. Aku akan membelikanmu gaun di sana, ayo!"
"Tidak usah!" Alda melepas tangannya dari Rich. "Oke, aku akan mengenakannya karena aku sudah terlambat ke pesta. Permisi!"
Betapa bahagia Rich mendengar hal itu, lalu Rich menyusul Alda dan berjalan di sisinya.
"Kenapa kau mengikuti ku, Rich? Pergilah!" usir Alda yang masih marah pada Rich.
"Aku akan menemanimu ke pesta dan setelah itu kita harus bicara," putus Rich yang tak ingin hilang kesempatan.
Alda menunjuk Rich dengan mata menyipit. "Dengan kaos dan celana pendek ala pantai begitu? Oh, astaga Rich! Kau salah kostum. Aku bisa malu!"
"Kenapa harus malu berjalan dengan pria tampan sepertiku bunny? Yang ada meski aku bertelanjang dada sekalipun ke sana. Mereka semua akan meminta foto padaku dan seharusnya kau malah bangga." Rich sangat percaya diri sehingga Alda membuang napas kesal.
"Oh, ya ampun! Kau masih saja narsis!" Alda menepuk kening. "Tidak! Aku tidak mau."
Alda meninggalkannya terburu-buru dan berjalan penuh emosi menjauhinya. Namun, Rich menghadangnya lagi.
"Tunggu lima menit, aku akan berganti pakaian dan menemanimu ke pesta bunny. Bagaimana?"
Alda menggelengkan kepala. Ia harus menghindari Rich, karena ia tak ingin sakit hati untuk kesekian kalinya. Lebih-lebih, ia teringat pesan papinya yang harus melupakan pria itu. Jika kali ini ia memberinya kesempatan untuk menemaninya ke pesta. Itu artinya dia memberi peluang dan semuanya akan menjadi rumit.
"No! Tolong minggir, aku sudah terlambat!" bentak Alda mencari celah lain untuk lewat. Tetapi Rich kembali menghalanginya.
"Alda ... Beri aku satu kesempatan. Please?"
"Sekali tidak tetap tidak. Kita sudah putus dan aku sudah melupakanmu!" bohongnya.
Rich menatap kesungguhan ucapan Alda dari wajahnya yang menunduk. "Sungguh? Lalu kenapa saat aku mencium tanganmu, kau tak marah bunny?"
Ekor mata Alda bergerak gelisah. Lidahnya kelu tak bisa menjawab dan saat Rich akan meraih tangan Alda. Suara maskulin dari seorang pria membuat Rich dan Alda menoleh, berikut tindakannya yang merebut tangan Alda dari tangan Rich dan menggerakkan tubuh Alda di belakang punggungnya dengan cepat.
"Jangan ganggu dia Mr. Kau tak boleh bertindak kriminal di negara orang!" peringatnya yang membuat Rich menatapnya tajam dan mengail atensi Firheith turut mendekat.
"Bli Rendra ..." lirih Alda terkejut melihat pria itu ternyata datang juga di pesta yang sama.
Rich segera merebut kembali tangan Alda dari genggaman Rendra dengan mata menghunus. Seolah dari matanya itu memberi peringatan keras, jika Rendra tak boleh menyentuh miliknya.
"Siapa yang mengganggu?! Alda adalah kekasihku!" Rich berkata lantang, kini Rendra mengerti arah pembicaraannya. Bahwa pria bule di depannya inilah yang membuat Alda sedih hingga pulang kembali ke Indonesia.
Rendra terdiam karena ia jelas tak punya status apapun di mata Alda. Wanita ini saja selalu menghindar saat didekati. Meskipun restu dari Tuan Morren sudah ia dapat.
Tapi siapa sangka, kali ini Rendra dikejutkan oleh pernyataan Alda yang membuatnya terasa menjadi pria paling beruntung di dunia ini.
Begitu Alda memproklamirkan diri bahwa ia adalah tunangannya. Setelah melepas tangannya dari genggaman Rich dan beralih mengapit lengan Rendra sangat mesra.
"Perkenalkan Rich, ini namanya Bli Rendra— tunanganku." Alda menatap ke wajah Rendra seolah ia benar-benar menyukai pria itu.
Rendra tersenyum memandang Alda yang cantik. Ia pun tak segan langsung membalas Alda, dengan beralih merengkuh pinggangnya. Hingga Alda terhenyak risih dan hal itu sukses membakar api cemburu di hati Rich, terlihat dari kilatan mata hijau zamrudnya yang berapi-api tak terima.