Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
73. Syarat Berat



Rich memasrahkan diri, siap menerima pukulan itu dengan mata terpejam dari Tuan Morren. Meskipun resikonya terlampau besar, ketampanannya akan pudar dan butuh waktu  berbulan-bulan lamanya untuk Rich harus mentreatment wajahnya. Supaya kembali tampan seperti sedia kala. Tak apa, ia rela demi pembuktian cintanya kepada Alda.


BUKH!


Satu bogem mentah diarahkan kuat ke perut Rich. "Aaargh ..." wajah pria itu meringis, menahan sakit tanpa suara dan Firheith membuang muka karena tak kuasa menyaksikan Rich yang tersiksa.


Bukan hanya sekali.


Rich menjadi bulan-bulanan Tuan Morren yang darahnya telah mendidih sampai ke otak. Pria tua itu kalap, seolah menemukan tempat pelampiasan tepat sasaran. Rich terus dihajarnya tanpa ampun.


Wajahnya dipukul dengan kepalan tangan penuh.


BUKH!


Rich terhuyung beberapa langkah. Namun, tetap berdiri tegak dan hal itu membuat Tuan Morren naik pitam.


Mata merah berkilat dendam kesumat, tampaknya menandakan jika Tuan Morren belum puas. Sebelum ia melihat Rich menderita seperti yang putrinya rasakan. Ia pun lalu mendekati Rich, dan menendang dadanya sekuat tenaga.


DUGH!


Rich pun akhirnya tumbang, tubuhnya yang besar terhempas ke sawah dan menindih padi-padi kehijauan itu hingga menjadi rusak parah.


Kaosnya yang putih menggelap kotor karena lumpur. Wajahnya telah kebiruan— ungu dengan sudut bibir yang berdarah, bahkan matanya pun terlihat membengkak tak sanggup melihat jelas.


Sungguh!


Miris sekali kondisi Rich saat ini, dengan wajah tampannya yang tak terbentuk. Firheith menjauh karena tangannya gatal ingin membalas. Tetapi dirinya terhalang larangan sahabatnya itu.


"Hhhh ..." napas tua Morren tersengal-sengal, akhirnya ia kelelahan sendiri melepaskan Rich yang sudah dibuatnya babak belur. Ia menyorotinya tajam. "Kenapa kau tak membalas bodoh!?" herannya melihat Rich yang belum sekalipun pingsan atau meninggal.


Fisik pria itu, diakunya terlalu kuat untuk seukuran pemuda biasa yang ia tahu bisa saja membalasnya jika mau.


Rich tersenyum mengatur napas. "Jika ini balasan untuk saya, demi menebus semua kesalahan di masa lalu. Saya ikhlas Tuan Morren, saya tak ingin mengganggu ... Uhuk! Saya ... Mencintai Alda Tuan ..."


"HALAH. PERSETAN!" hardiknya muak lalu memberinya ancaman. "Kau pikir aku itu Alda yang percaya dengan bujuk rayumu dan mulut busukmu itu! Dengar dan buka telingamu lebar-lebar! Jauhi Alda atau kau akan mati di tanganku!"


Masih di atas padi itu Rich membalas dengan tersenyum perih menahan luka. Ia bangkit dibantu oleh Firheith yang mengawasinya dari tadi.


Kemudian ia menghampiri Tuan Morren dan mengulurkan telapak tangannya yang kotor. Tampak memerah dipenuhi banyak goresan, bekas tersayat pinggiran padi yang tajam.


Morren menatap sinis. Ia tak sudi menerima uluran tangan dari Rich lalu berdiri sendiri dari bawah tanah. "Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu!" bentaknya.


"Jangan keterlaluan, Tuan!" akhirnya Firheith tak kuat lagi menahan kecamuk dalam dada yang tak menyukai sikap Morren yang semena-mena. "Anda pikir hanya putri Tuan saja bidadari di dunia ini yang bisa Rich dapatkan? Sehingga Anda sekonyong-konyong membalas Rich tanpa perikemanusiaan!"


"Apa kau bilang?" Tuan Morren mendelik tajam.


Firheith membusungkan dadanya ke depan tak takut. "Anda pikir saya takut? Orang tua memang dihormati. Tapi yang bagaimana dulu? Tuhan saja maha pemaaf kenapa Anda tidak?"


"Shut up! Aku bukan Tuhan dan kau belum tahu rasanya jadi orang tua, brengsek!" maki Tuan Morren tak terima.


Rich seketika menarik tangannya lagi dengan perlahan menundukkan wajah. Ia mengelap sudut bibirnya yang berdarah, dengan kerah kaosnya yang masih bersih. Menyuruh Firheith mundur ke belakang.


"Sudah Fir, tidak apa-apa. Jangan dibalas." Rich melarang.


Firheith mengerang emosi lalu berbalik badan. "Arrgh!" teriaknya ke langit. "I hate this silliness— aku benci kekonyolan ini."


Sementara Morren menggunakan kesempatan itu untuk memukul wajah Rich lagi.


Buggh!


Gubrakk, srrakkk!


Tubuh Rich kembali terjungkal ke atas persawahan. Pertikaian itu pun seketika mengail atensi para buruh tani— Morren yang ada di sekitar. Memperhatikan dari jauh sambil menurunkan kupluk tani, tanpa ada yang berani mendekat.


"Kasihan ya, bule itu." Seorang petani berkasak-kusuk.


"Apa masih hidup?"


"Entahlah." Yang ditanya mengedikkan bahu.


Alda dan Mutia saling berpandangan lalu bertanya daripada penasaran.


"Ada apa Bapak-bapak?" itu suara Alda— yang memecah di antara mereka.


Mereka pun seketika memberi celah jalan dan menunjuk pada Firheith, karena tubuh Rich yang masih terkapar di atas padi. Terhalang pinggiran sawah yang tinggi, sehingga Alda hanya bisa melihat Firheith dari kejauhan.


"Fir?" sebut Alda dengan perasaan tak menentu. Ia pun mendadak teringat Rich, karena dua pria itu selalu saling melengkapi dan berdampingan.


Mutia menatap Alda dengan mata membulat penuh. "Kau mengenalinya, Al?"


Alda mengangguk kemudian berbisik, karena ia tak tahu jika Firheith itu alias Frenkie yang pernah diceritakannya waktu lalu. Kini, Mutia pun memberitahukannya.


"Oh God ...!" pekik Alda tertahan, membekap mulut.


Salah seorang petani menepis, berpikir jika Alda mengira Firheith yang dihajar Tuan Morren.


Wajah Alda semakin pucat, kakinya berlari tanpa menunggu aba-aba sambil membawa rantang makanan untuk papinya bersama Mutia.


Rantang makanan terlepas dari tangan Alda dan terjatuh berserakan hingga menimbulkan bunyi keras. "R-Rich ..." sebut Alda dengan suara serak. Berdiri terpaku, berbiaskan kilau air matanya berderai ke pipi. Saat ia melihat Rich yang babak belur.


"Alda?" Rich tersenyum sambil meringis menahan perih di sekitar wajah.


Dan tanpa disangka-sangka, Alda pun segera menyingsing roknya untuk turun ke dalam sawah. Ia mengulurkan tangan, ingin membantu Rich keluar dari sana. "Ayo Rich, naiklah!"


Betapa bahagia sekali hati Rich, ia pun tak segan membalas uluran tangan Alda. Hingga membuat wajah Morren, Firheith dan Mutia terbengang-bengong. Tetapi, Morren tak membiarkan itu terjadi.


Morren gegas bertindak dan menarik Alda untuk menjauhi Rich. "Sudah papi katakan. Jangan pernah memberi kesempatan pada pria itu lagi Alda!"


"Tapi, Pi?" Alda terisak.


Rich menggigit bibir berusaha tegar, hatinya semakin hancur melihat Tuan Morren yang mematahkan harapannya lagi.


"Bangun Rich," kata Firheith setelah membantunya keluar dari dalam sawah. "Kita harus kembali ke resort untuk mengobati lukamu, sebelum terjadi infeksi."


Alda melirik diam-diam pada Rich yang juga memandanginya dengan wajah tak keruan itu. Ia dapat melihat kesedihan dari wajah cantik sang pujaan hati yang menaruh simpati padanya.


"Mutia, ajak Alda pulang!" suruh Morren bersikeras suara.


Tubuh Mutia berjengit. "I-iya Uncle." Tak berani membantah. Ia pun lekas menuruti perintahnya dan menggandeng tangan Alda. Meski ia tahu sahabatnya itu berat pergi dari sana.


Baru beberapa langkah Rich mendekat, kemudian memanggil Alda. "Tunggu Al—"


"ASTAGA!" teriak Morren membuat semua mata tertuju padanya, saat suara Morren terdengar meninggi dan ditengarai emosi. "Padi-padiku ... Aarggh! Semuanya rusak gara-gara si bajingan tengik ini!!"


Morren menuding Rich. Rich mendekat dengan langkah terseok-seok, membuat Alda yang terus memperhatikannya jadi semakin sedih.


"Tolong maafkan saya, Tuan Morren. Saya ... Akan ..." Rich menarik napas sesaat, ketika dadanya terasa sesak dan Alda hampir sekali lagi lepas kontrol akan mendekatinya. Tapi ia tertahan oleh Mutia yang menunjukkan wajah garang papinya itu.


Morren sudah hilang kesabaran, meremas rambutnya kesal sambil melipat lengan kemejanya ke atas dan membentak Rich. "Saya apa!?"


"Berapa pun kerugiannya, tolong sebutkan saja Tuan Morren. Semuanya akan saya ganti rugi," kata Rich menoleh Firheith. "Tolong Fir, transfer uang ke rekening Tuan Morren."


Alda mencegah.


"Pi—"


Mata Tuan Morren semakin melotot tajam hingga Alda mengatupkan bibir dan menunduk. Dalam hati Rich berbunga-bunga karena kini ia tahu, jika Alda masih memberi ruang untuknya berlabuh.


"Hey, brengsek. Jaga mata liarmu itu. Tidak usah jelalatan melirik putriku! Sudah wajahmu jelek begitu masih tebar-tebar pesona!!" jengkel Morren berdiri dan menghalangi jarak pandang Rich dari tubuh Alda.


Rich pun menunduk, menjaga pandangan. Sekarang ini, lebih baik ia banyak bersabar, walaupun biasanya ia tak bisa sesabar itu dan selalu emosian. Entahlah, jika di depan Morren ia menjadi tak berkutik.


"Berapa saya harus mengganti rugi Tuan Morren?"


"Kau pikir semua ini bisa kau ganti dengan uang, hah? Enak saja. Padi ini aku tanam dengan susah payah, tidak hanya membutuhkan uang banyak tapi juga mengeluarkan tenaga dan menyita waktu!" Morren meluapkan kekesalan dan kekecewaan yang menumpuk pada Rich.


Firheith membuang napas berat. Begitu ia melihat Rich yang seperti pria gila dan tak punya harga diri di depan papinya— Alda itu. Jika dia di posisi Rich— maka Firheith akan menyerah dan mencari wanita lain.


Sesimpel itu hidup bagi Firheith. Sementara Morren masih terus mengomel.


"Baru empat bulan!!" sambil keempat jarinya ditodongkan gemas ke wajah Rich yang diam saja tak membalas. "Semua padi yang kau rusakkan itu bisa dipanen dan sekarang kau dengan sombongnya memamerkan uangmu itu! Sorry, aku tak butuh!"


Firheith merotasikan malas matanya. "Bukankah Anda sendiri yang menjatuhkan Rich ke sawah, Tuan? Rich sudah berbaik hati mengganti rugi. Lalu, sekarang Anda sendiri yang mempersulit. Apa sih, sebenarnya mau Anda?" geramnya yang membuat ia kemudian ditempeleng oleh Morren tiba-tiba. "Ouch!" ringisnya mendelik pada Morren sambil mengusap kepala.


"Dasar mulutnya tak tahu adab! Kurang ajar!" maki Morren ketika Firheith berekspresi marah akan membalas.


"Hey, Tuan. Jangan—"


Rich menahan. "Fir ..."


"Hmm. Iya, iya. Sabar ... Sabar saja terus, hingga kau masuk ke UGD, Rich?!" celoteh Firheith yang membuat Mutia terkikik geli melihat gerakan bibir Firheith yang menekuk itu.


Rich menarik napas panjang. "Tuan Morren maunya apa jika tidak mau uang? Apakah saya harus membetulkan padi-padi itu supaya kembali menjadi seperti semula?" tanyanya sudah lelah menatap pria tua itu yang banyak maunya. "Itu tentu tidak mungkin—"


"Mungkin saja dan ya! Kau harus membetulkan padi-padi itu sendiri, tanpa bantuan dari orang lain!"


Rich mematung bingung dengan Firheith yang juga tak paham.


"Maksud T-Tuan Morren bagaimana? Apa Rich Anda suruh menjadi semacam Bapak petani itu yang nyebur ke dalam sawah?" Tanya Firheith asal sambil menunjuk para petani di sekitar.


"Iya."


Seketika wajah Rich semakin pucat. Ia syok mendengar hal itu karena ia tak pernah melakukannya seumur hidup. Bagaimana caranya dan apa itu menanam padi?


"Ja-jadi saya harus menanam sendirian? Tidak boleh dibantu siapa pun??" Rich menunjuk dirinya sendiri dengan menelan ludahnya ke kerongkongan begitu sulit.


"Kau menolak?! Jika kau tak mau. Aku akan melaporkanmu ke pihak Imigrasi agar kau dideportasi dari Indonesia dan tak boleh lagi kembali ke sini!" ancam Morren tak main-main.