
Layaknya superhero datang menyelamatkan sang kekasih. Hal yang dilakukannya sungguh di luar dugaan.
Wajah pria itu merah padam karena murka. Melihat wanita yang dicintainya terluka dan mendapat penyiksaan, otaknya mendidih.
Kalap, hanya sekali tarikan saja dengan tangan kekarnya itu. Pria ini mampu menyingkirkan Messy dari atas tubuh Alda. Terhempas jatuh ke lantai berbunyi sangat keras.
"Auw! Rasanya sakit sekali, tulang ekorku juga sepertinya patah." Wanita itu terus mengerang sambil mengusap bokongnya.
Tak peduli akan ocehan busuknya itu, sang pria beralih memusatkan perhatiannya pada Alda yang nampak memprihatinkan.
Rambutnya acak-acakan, bagian blouse depan basah terkena siraman noda orange juice. Di tambah lengketnya pipi karena air mata dan wajah cantiknya itu tersirat murung.
“Apakah aku terlambat menolongmu, hum?”
Pria bertubuh tinggi besar, superhero itu sekaligus penyumbang masalah terbesar Alda saat ini. One and only?
“Rich ...”
Suara Alda bergetar, terdengar serak menyebutkan nama pria itu. Kilauan air matanya pun nampak menggenangi iris legamnya. Tertuang keharuan sekaligus tak percaya. Tuhan mengirimkan pria ini sebagai miracle-nya di waktu yang tepat.
"Jangan takut, Al. Rich mu ada di sini. Bangunlah! Aku akan membantumu?" Richard mengulurkan tangannya ke depan Alda.
Alda mengangguk. Tak ada lagi keraguan dalam dirinya, seketika menerima uluran tangannya itu. Richard memegang telapak tangan Alda, hangat genggaman tangannya bisa dirasakan begitu tulus kali ini. Perlahan membantunya bangun dengan hati-hati. Hingga Alda telah berdiri di sisinya.
Sesaat keduanya terbuai akan suasana. Berhadapan dan saling pandang, tanpa melepas genggaman.
"Apa ada yang sakit?" bibirnya bertanya, tetapi pandangan Richard fokus pada rambut Alda yang kusut.
Jemari pria ini menyisir dan menata rambut Alda yang tergemap di tempatnya dengan tubuh membeku, membiarkan Richard merapikan rambutnya hingga lumayan rapi.
"Aku tak akan pernah membiarkan siapapun merusak rambutmu yang indah, bunny. Tidak akan!" Richard mengecam, giginya bergemeletuk menahan luap amarah di dada ke pelaku itu yang ternyata seorang wanita.
Dia bukan banci yang akan membalasnya setimpal, tentunya jika pria. Bisa saja dia mengantarnya langsung ke alam baka dengan revolver di balik saku jas nya.
"Rich?" panggil Alda sangat pelan hingga tak sampai ke telinga pria itu.
Ternyata perhatian sekecil ini, sukses menggelitik hati Alda. Tanpa sadar pelupuknya kembali tergenang.
"Ah, iya. Noda bekas orange juice itu harus segera dibersihkan. Ikuti aku!" ajak Richard tampak tergesa-gesa.
Alda pasrah, diam menatap pria itu. Sama sekali tak menolak saat Richard menarik tangannya ke arah wastafel.
Kucuran air kran mengalir, setelah Richard membuka. Beberapa lembar tisu diambil, sebelumnya dibasahinya dengan air kran.
"Maaf jika aku lancang, bolehkah?" Mata zamrud itu terangkat pada ekspresi Alda yang masih terpaku memandanginya tanpa berkedip.
Pada Alda yang kemudian mengangguk pelan dan merunduk. Mencuatkan senyuman di bibir Richard yang bahagia, meremas tisu basah yang masih terpegang di tangan.
Richard tak ingin membuang waktu, ia membungkukkan sedikit tubuhnya ke bagian blouse yang terkena noda juice itu, tepat di dada Alda. Ia bersihkan dengan hati-hati.
Walau berkali-kali ia harus meredam gejolak liarnya. Sewaktu tak sengaja tersentuh buah persik itu yang begitu empuk. Apalagi nafas Alda juga tak beraturan dengan dada membusung, seluruh tubuhnya gemetar.
Richard mengatur nafas dan menidurkan bawah sana yang terus saja nakal ingin mengintip keluar dari persembunyian.
Come on Rich! Ini bukan saatnya memanfaatkan situasi.
Alda terpaku memperhatikan Richard yang telaten membersihkan noda itu, meskipun ia begitu risih. Tetapi entah kenapa untuk sekadar melarangnya pun suaranya tiba-tiba hilang.
"Selesai." Blouse Alda kini terlihat sedikit bersih walau basah, press bentukan persik itu makin tercetak nyata. Richard meneguk paksa salivanya yang segera ia alihkan. "Pakai jasku ini sementara waktu?"
"A-apa tak merepotkan?"
"Untukmu tak ada yang repot."
Lagi-lagi Richard meronakan pipi Alda. Bahkan nyaris menahan nafas, saat Richard melepas jasnya.
Berjalan memutari Alda lalu menyampirkan jas itu pada bahunya dari belakang. Tanpa sadar perlakuan manis Richard itu telah diperhatikan sejak tadi oleh Messy yang masih tak terima.
"Hei, kau? Kenapa ikut campur urusanku!" omelnya pada Richard penuh kesumat.
Rich membalik tubuh, di mana posisinya memunggungi Messy. Alangkah terkejut wanita itu melihat Richard. Netra dan mulutnya sampai terbuka lebar. Seketika kemarahannya luntur, berganti kekaguman akan paras Richard yang teramat tampan.
"Ya ampun, astaga!" Messy refleks hendak menyentuh ke wajah Richard, tapi dengan cepat pria itu mengelak.
"Jangan pernah sentuhkan tanganmu di wajahku!" tajamnya tak sudi, sementara tubuh Alda disembunyikan di belakang punggung untuk dilindungi.
"Sombong sekali tampan?" decih Messy masih curi-curi pandang.
"Pria tampan sepertiku bebas menyombongkan diri!" gayanya dibuat segagah mungkin dan membusungkan dada tegap.
"By the way, aku suka gayamu yang sok jual mahal begini." Messy berucap sensual, merayapkan tangannya ke dada Rich, turun semakin turun. Sengaja menyenggol ke bawah perut itu sebentar.
Ehem!
"Jangan lancang kau!" Richard tak mau Alda cemburu, cepat-cepat ia merogoh sebuah cek dari balik saku jas yang kemudian diberikan ke hadapan Messy.
"Apa ini?" tanya Messy keningnya berkerut menatap Richard, belum melihat isi cek itu.
"Ganti rugi denda penalti kontrak kerjamu yang harus kau bayarkan pada Fashion Desainer Mellaney Robert. Sekaligus memperbaiki rambutmu yang jelek itu!" jelas Richard.
Menohok Messy langsung melihat isi ceknya dengan sekali lagi membolakan mata. "Seratus juta franc?"
"Uang itu bahkan lebih dari sekadar ganti rugimu. Kau pun bisa men transplantasi ekor kuda berpindah ke kepalamu setelah ini. I don't care. Tapi ingat! Jangan pernah lagi kau mengganggu Madam Dara atau kau langsung berhadapan denganku. Paham!" bentak Richard membuat Messy bergidik ngeri.
Tidak Alda yang tadinya murung, kini tanpa sadar menahan tawa. Berkat mendengar ancaman Richard itu yang menurutnya lucu. Sementara Messy berpikir keras ada hubungan apa antara Owner Firebase itu dengan si biang kerok
perusak rambutnya.
"Ayo bunny kita keluar!" ajak Richard menggandeng tangan Alda.
Langsung diikutinya tanpa membantah, dibawanya masuk ke dalam mobilnya. Pergi ke sebuah tempat yang belum pernah Alda datangi sebelumnya. Kendati selama perjalanan, ia terus dihantui banyak pertanyaan.
Kenapa Richard berani menggelontorkan uang sebanyak itu demi membantunya, tanpa menyinggung Alda sedikitpun untuk melunasinya?
***
"Kedai es krim?"
Lagi dan lagi Alda dibuat terperangah atas kejutan Rich. Bukan hanya sekedar kedai es krim biasa. Di parkiran depan saja, sebelum masuk kedai. Terdapat mobil-mobil mewah keluaran terbaru berbaris rapi di sana.
Kini ia duduk berhadapan dengan Rich, di sebuah meja yang terletak di dekat danau privelege. Hanya kalangan elite saja yang boleh masuk, berpakaian jas bagi pria dan wanitanya mengenakan pakaian branded.
Alda jadi risih sendiri mengenakan baju kotor begini?
Sengaja Richard memilih lokasi kedai es krim 'Strawberry Romaund' yang menurutnya cocok dan memiliki view bagus. Tidak masalah ia harus merogoh koceknya lebih dalam lagi, untuk merubah mood Alda kembali baik.
"Apa kau suka, Al?" Richard bertanya balik dengan lembut, sambil tak bosan memandangi Alda yang sejak tadi sibuk memperhatikan sekeliling.
Senyumnya yang manis tentunya sangat mahal bagi Richard. Tak lebih mahal dari harga es krim di sini yang berkisar jutaan franc.
"Um... Suka," kata Alda mengatakannya berbalut gengsi. Menggigit bibir bawahnya, agak nervous dipandangi Richard begitu intens.
Richard terangguk-angguk sambil tersenyum simpul. Pelayan kedai es krim menghampiri mereka berdua untuk menyerahkan buku menu.
"Kau mau makan es krim apa, Alda?"
Alda masih bingung memilih menu-menu di buku itu. Gemetar melihat harga es krim yang terlampau mahal. Sehingga ia menggeser duduknya ke dekat Richard yang terkejut salah paham, terlebih ketika Alda mendekatkan tubuhnya.
Richard kegerahan. Matanya juga tak luput pada belahan khas yang mengintip dari blouse depan Alda yang padat berisi itu. Saat Alda agak menundukkan kepala.
"Harganya mahal-mahal, Rich. Kita pindah ke kedai es krim yang lain saja, yuk! Bagaimana jika aku yang mentraktir mu? Ya, aku tahu di mana letak es krim enak dengan harga terjangkau?" usul Alda.
"Bunny ..."
Mata Alda langsung bereaksi. Melotot dengan bibir mencebik itu, sehingga Richard mengalah dan cepat meralat panggilannya.
"Pilih saja yang kau mau. Hanya es krim, tenang aku yang bayar nanti. Uangmu simpan saja, oke."
"Memangnya kau tak takut bangkrut?" heran Alda melihat Richard yang malah santai, sedangkan dia saja berpikir dua kali untuk memesan semangkuk kecil es krim. Harganya tiga juta franc, setara membeli dua buah motor.
Perlahan Richard menggenggam kedua tangan Alda sambil memandangnya mesra. Tapi Alda mendadak was-was, menarik tangannya lagi.
"Jangan pegang-pegang!" omelnya ketus, membuat kesimpulan sendiri. "Oh! Pasti kau ini sengaja membantuku tadi, karena ingin meminta jaminan lain sebagai ganti, kan? Jangan-jangan ..." Alda menyilangkan tangan ke dadanya.
Richard menggelengkan kepala.
"Aku masih ingat jelas. Tumpangan mu itu pun kau bilang tak ada yang gratis!"
Emosi Alda naik, Rich kebingungan mengatasi Alda yang salah paham. Sampai pelayan itu harus terpaku tak berani menanyakan pesanan es krim mereka berdua.
"Bukan begitu Alda..." Rich berusaha menjelaskan, tetapi Alda tak mau mendengar.
"Oke, akan kuganti semua hutangku." Alda menaruh kecewa yang tergambar dari matanya yang berkaca-kaca.
Menyambar tasnya di atas meja dan dia pun berdiri dari tempatnya duduk, memutuskan pergi tergesa-gesa. Hingga kakinya tersandung pilar meja.
Pyakk, byuuurrr!
Alda tercebur ke dalam danau itu, dia tenggelam dan kepalanya timbul ke permukaan ketakutan.
"Help me! Help. Aahhh!" teriak Alda meminta pertolongan, karena ia tak bisa berenang.
Richard terkejut membolakan mata melihat itu.