Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
79. Noah Anakmu Rich



Efrain mengajak Alda dan Tuan Morren duduk bersama di sebuah restoran  di Bandara Kinshasa. Sementara Firheith dan Mutia, menjaga Noah yang diajaknya ke arena bermain khusus di area bandara.


"Kalian bagai pinang dibelah dua. Tetapi pembawaanmu lebih santai, cool dan terlihat intelligent," puji Morren ketika memperhatikan Efrain. 


Efrain tersenyum simpul, tahu jika Morren membandingkannya dengan Rich. "Setiap manusia punya plus minus, Uncle. Tidak ada yang sempurna. By the way, aku malah angkat topi untuk Rich. Karena dia sudah gentleman mendatangi Alda ke Indonesia selama dua kali dan tak menyerah untuk mendapat restumu."


Alda dan Morren terdiam. Dalam hati Morren mengakui hal itu sebagai sindiran halus. Sementara Alda tetap canggung, karena teringat hubungannya yang kurang baik di masa lalu dengan Efrain. 


"Oia, pasti kalian bertanya maksudku mengajak kalian bicara serius," sela Efrain. 


"Sebelumnya, aku minta maaf padamu soal dulu Ef. Aku yang sudah memutuskan hubungan secara sepihak—"


Efrain menjeda cepat lalu menggeleng. 


"Sudah lupakan saja, Al. Dari putusnya hubungan kita, aku banyak belajar. Bahwa cinta tak bisa dipaksakan, sekeras apa pun jika tak berjodoh hasilnya pasti sia-sia. Kini, aku semakin  yakin. Bahwa kau adalah jodoh Rich, setelah adanya Noah." Efrain tulus mengatakan itu, terlebih perasaan cinta di hatinya dulu pada Alda, telah terganti oleh Sierra Avram. 


"Terima kasih banyak karena kau sudah memaafkanku, Ef. Kau bijaksana sekali, pantas saja semua orang mengagumimu termasuk aku," ucap Alda yang membuat Efrain menaikkan alis. Sehingga Alda cepat meralat. "Tapi  itu dulu, hanya sekadar ngefans. Sekarang bolehkah kita berteman?"


"Why not? Bukan sekadar teman … Well, saudari ipar lebih tepatnya." Efrain tersenyum lebar. 


Ketegangan pun mencair. Wajah-wajah Alda dan Morren berubah tak setegang tadi yang sempat mengiranya bukan-bukan. 


"Jadi bagaimana soal tadi yang ingin dibicarakan? Apa ini mengenai Rich?" tanya Morren membelah obrolan. 


"Betul Uncle." Lalu tatapan Efrain yang mengarah pada Morren, berubah menjadi keprihatinan ke Alda. Terutama Noah yang membuat Efrain nekat membocorkan suatu kabar yang dirahasiakan.


"Ada apa Ef? Kenapa kau sepertinya ragu?" terka Alda yang memiliki feeling tak enak. 


"Hari ini … Rich akan menikahi Cello," ucap Efrain berat hati. 


Kedua mata Alda dan Morren terbeliak penuh dengan tubuh menegang kaku. Jantung Alda bergejolak, bahkan rentetan air mata terguyur meluruhi pipinya seketika. 


"Apa??" pekik Morren dan Alda kendati terkejut. 


"Firheith tak tahu itu, bahkan ponsel Rich tak bisa dihubungi." Alda membeberkan jika masih tak percaya dan takut Ef hanya berbohong. 


"Karena semua dilakukannya secara terpaksa, Alda. Selain janji itu yang pasti sudah kau ketahui, ada alasan lain yang memaksa Rich untuk menikahi wanita itu," ungkap Efrain ambigu. 


"Alasan apa Ef?" Morren tak sabar lagi dengan rahang mengetat. 


Efrain menjawab pertanyaan Morren apa adanya yang ia ketahui dari kedua orang tuanya, yang memintanya untuk pulang dan menghadiri acara sakral yang tertutup itu. Hanya dihadiri oleh keluarga inti. 


"Cello mengidap kanker ovarium stadium 4, hidupnya tak lama lagi, Tuan Morren, Alda. Jadi, Rich terpaksa menikahinya walau mulanya Rich enggan. Karena ia merasa tak harus bertanggung jawab lagi, setelah rahim Cello diangkat."


"Harusnya Rich mengelak 'kan bisa?! Dia tak bisa mempermainkan putriku seperti ini, Ef! Apa pun alasannya, Rich tak boleh menikahinya. Apalagi, kami sudah jauh-jauh datang dari Indonesia dan aku tak ingin lagi membuat cucuku kehilangan harapan serta haknya lagi. Cukup!" tekadnya bulat berkata lantang lalu merangkul Alda yang terisak. 


"Pi … Kalau mereka berbuat jahat pada papi bagaimana?" geleng Alda tak mau melihat Morren terluka. Namun, di lain sisi. Papinya juga bersifat keras kepala. Jika sudah maju tak akan pernah mundur lagi. 


"Papi pastikan kau akan mendapatkan cintamu, Nak. Rich hanya boleh menikahimu! Titik!!" Morren membingkai wajah Alda yang sembab. 


Efrain turut sedih dan hatinya terketuk. "Aku akan membantu kalian. Terutama demi Noah."


"Terima kasih banyak Ef," lega Morren menggenggam tangan Efrain—pemuda bermanik indah amber itu.


"Iya Uncle. Kita berangkat sekarang, karena pernikahan mereka  dilangsungkan di mansion Tuan Izakh yang berada di Uganda!" ajak Efrain. "Jangan sampai kita terlambat!"


Semua setuju dengan usulan Efrain. Firheith mengangguk, setelah ia paham siasat yang telah dibuatnya secara singkat.


“Lindungi Noah, Alda, Mutia dan Tuan Morren, Fir. Karena kita bukan sekadar pergi ke pemberkatan nikah biasa, tapi bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan.” Efrain berpesan khusus padanya sambil menyembunyikan revolver di balik jas yang dikenakan. Dengan satunya lagi, diberikan pada Firheith sebelum masuk ke dalam mobil.


“Baik, Tuan Efrain.” Firheith pun merasa, hari ini akan ada pertempuran besar di antara dua kubu.



Tiga jam kemudian.


Dua rombongan mobil itu tiba di mansion mewah berdesain modern yang dijaga ketat berbagai pengawal yang berjas formal hitam rapi. Selain dari pihak Izakh juga dari pihak Cal.


Efrain turun ditemani Firheith, selepas ia mendapat arahan dari sang Daddy yang tiba lebih dulu dan berada di dalam. Bahkan, tampak dari jauh anak buah dari Cal pun turut mendekat.


“Apakah pemberkatan nikah sudah dimulai?” tanya  Efrain hendak menunjukkan tanda pengenal. Tetapi mereka menepis dan malah membungkuk hormat. “ Aku datang membawa rombongan keluarga yang ikut hadir.”


“Berapa orang, Tuan? Soalnya di dalam sudah ada Nyonya Louis, Prof. Nando dan Tuan Cal.” Salah seorang anggota Black Shadow melirik sekilas ke dalam kaca mobil Efrain.


“Berenam dengan aku,” singkat Efrain yang tahu jika Abelle, Brylee dan Heaven tak sudi menghadiri pernikahan itu. Juga keluarga besarnya yang lain, baik keluarga Tanaka Enji dan keluarga Wilson. 


Mereka lolos, Efrain dan rombongannya pun dipersilahkan masuk. 


“Kalian turunlah!” Firheith memberitahu keluarga Morren di dalam mobil. Bahkan persiapan yang terbilang dadakan, membuat Alda beserta keluarganya. Terpaksa turut serta mengenakan baju pesta, demi meminimalisir kecurigaan mereka.


Jantung Alda terus bergejolak abnormal di setiap langkah kakinya yang terbiut. Satu tangannya erat menggenggam tangan Noah yang tegap dengan senyum lebar. Putranya tak tahu apa-apa, yang ia tahu hanya segera ingin bertemu sang Papi dan memeluknya.


“Pi, aku takut …” lirih Alda menatap Morren yang semakin merengkuh pinggangnya dengan kuat. Ketika ia merasakan putrinya gemetar, tergambar dari raut wajahnya yang murung. Saat mendekati pintu masuk mansion mewah itu.


Hening begitu mereka tiba di dalam, lutut Alda melemas saat ia menyaksikan Rich mengenakan jas pengantin putih. Dia sangat gagah dan tampan, walau tampak sekali ekspresinya menunjukkan keterpaksaan. Hingga menjatuhkan seketika  air mata Alda berlinangan deras. 


Pria yang ia cintai tengah berdiri berhadapan dengan Cello yang mengenakan gaun pengantin putih duduk di atas kursi roda. Tepat selesainya pendeta membacakan firman Tuhan.


Genggaman tangan Noah di tangan Alda pun merenggang, anak itu memecah keheningan. Persis ketika Rich yang tak sengaja mengarahkan ekor matanya ke ambang pintu.


“Papi … Papi!"


Semua terkejut mendengar teriakan Noah yang tiba-tiba dan menoleh dengan ekspresinya masing-masing. Waktu seolah  berhenti berotasi, terganti detakan jantung yang bertalu-talu dan tanpa mempedulikan sebab akibat. Kaki  mungil Noah menerjang segala pandangan orang-orang berjas hitam formal itu yang bersiap menarik gun.


"Noah?"


Rich tersenyum lebar sekaligus haru,  setelah ia mendengar jelas bahwa Noah memanggilnya dengan sebutan Papi. Ia pun refleks meninggalkan Cello yang membeku sedih di atas kursi rodanya, dan  lebih mementingkan untuk menyambut langkah Noah tanpa terpikir dua kali.


Jika  Izakh menatapnya murka. Bahkan, ia lalu mengintruksi para anak buahnya yang segera diketahui oleh Cal. Sehingga ia pun juga mengisyaratkan semua anak buahnya di sana.


Tepat setelah Rich berhasil memeluk putranya selepas ia berjongkok. Semua mata tertuju pada keduanya. Alda yang tak tahu itu pun, tergerak ikut menyeret kakinya menghampiri Rich dan setibanya ia di hadapan Rich.


“Noah itu adalah anak kita, Rich. Putra kandungmu,” ucap Alda gemetar, diiringi tenggelam suaranya oleh gelombang air mata.


Rich memandangi Alda dengan sejuta makna. Antara makna kerinduan yang tak bertepi, cinta yang tak pernah lekang dan ingin memeluknya kini. Tapi mata hijau zamrudnya telah menangkap sesuatu yang membuat ia sesak, ketika Izakh yang mengetatkan rahang itu, perlahan menarik gun ke arah Alda.


“Alda, awas!” Rich berteriak mengingatkan, gerakannya yang cepat langsung menarik tubuh Alda dan Noah ambruk ke bawah lantai.


Doorr!


Namun ...


“Daddy!!” pekik Efrain dan Rich begitu terkejut menahan napas saat melihat detik-detik Cal terkena tembakan itu. Demi melindungi Alda dan Noah, sedangkan Trecy yang menyaksikan itu pun langsung berteriak histeris.


🌹 Bersambung,