Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
86. Terlalu Manis, terlalu sayang dan terlalu cinta




The Surga Villa Estate — Uluwatu


Semua pasangan pengantin di seluruh dunia pasti mendambakan konsep resepsi pernikahan sesuai impian. Tak terkecuali pengantin baru ini, Richard Louis dan Alda Danurdara Louis yang telah resmi menyandang status suami — Istri.


Konsep wedding venue outdoor di atas tebing sore itu. Bukan saja menyajikan pemandangan laut sebagai background termanis, indah dan elegan.  Tapi juga matahari terbenam yang semakin menambah kesan syahdu tak terlupakan. Dengan penataan kursi rectangle dining table, yang mejanya berhiaskan bunga, lilin dan beralaskan kain yang cantik. 


Meskipun waitress akan melayani makanan ke meja mereka. Para tamu pun dipersilahkan menikmati sajian istimewa sepuasnya, dengan banyak pilihan menu. Mulai dari khas Bali yakni ayam betutu hingga menu khas Spanyol dan Kongo.


"Hadirin sekalian, marilah kita sambut mempelai pengantin baru kita. Mr. Richard Louis and Mrs. Alda Danurdara Louis. Mari kita beri tepukan yang meriah!"



Setelah host menyuarakan pengumuman itu, pemain orkestra memainkan musik. Para tamu berdiri bertepuk tangan dan seluruh keluarganya, berbaris di sepanjang karpet putih membentang. Penuh kegembiraan menaburkan kelopak bunga ke arah Rich  dan Alda, yang bergandengan tangan melangkah menuju pelaminan. Diiringi Bridesmaids kecil yakni: Noah, Hazel dan Lord yang berada di depan. Dengan Bridesmaids dan groomsmen di belakang.


"Sweety, istriku tercinta. Apakah kau menyukai lokasi resepsi pernikahan kita?" Rich memandangi Alda yang bibirnya terus mengukir senyum dari awal keluar dari ruang make up.


"Tentu saja suamiku sayang, thank you so much." Alda menyandarkan kepalanya ke bahu Rich yang mencium keningnya setelah itu.


"Semuanya tak gratis cinta …"


Alda menoleh curiga. "Maksudnya apa, nih? Alismu naik turun?"


"Lima ronde, sepuluh ronde."


"Apa?" Alda memekik spontan yang segera dibekap Rich.


Psst …


"Tidak usah heboh, seperti tidak ketagihan saja nantinya. Pasti aku akan membuatmu melayang cintaku." Rich tersenyum licik, otaknya berkeliaran menyusun rencana dan gaya.


Alda menghela napas panjang, berharap pestanya akan bergulir sepanjang malam hingga pagi. Begitu ngerinya ia membayangkan, aksi suaminya itu yang tak akan memberinya ampun.


"Oh God! Sayangku, cintaku, my hooney bunny sweety ... Lihatlah sunset itu!" tunjuk Rich ke atas cakrawala jingga keemasan yang tampak manis dan indah.


Mata cerah Alda berbinar-binar, terisikan kilauan haru. Teringat kenangan manisnya dulu dengan sang papi waktu kecil.


Alda menunduk, Rich yang tahu pun menyeka air matanya penuh kelembutan. Hingga Alda merasa nyaman atas perlakuan dan perhatiannya.


"Istriku my sweety … Sudah, jangan bersedih lagi. Kau teringat papi, ya?" 


Alda mengangguk. 


"Kita berdansa?" tawar Rich menebar senyum, untuk mengalihkan Alda dari kesedihan.


"Tapi, aku tak bisa boo …" ucap Alda menggeleng ragu tapi tak juga menolak. Bagaimanapun permintaan suami, kini perintah wajib bagi Alda.


"Aku akan mengajarkanmu. Ikuti aku ya?"


"Baiklah," jawab Alda menurut.


Tubuh Alda ditariknya ke dalam pelukan, Rich menaikkan kedua tangan Alda ke lehernya. Dengan tangannya sendiri merengkuh pinggang Alda. Setelah ia mengintruksikan pada host untuk meminta pemain musik mendendangkan lagu Beautiful in white dari Shane Filan.


Musik pun mulai dimainkan, kedua  pengantin ini terkecoh. Begitu mendengar suara pria paruh baya yang tak asing, lalu menoleh ke arah panggung orkestra itu.


"Lagu Beautiful In White ini, aku persembahkan khusus untuk anak-anakku yang berdiri di atas pelaminan. Rich dan Alda," Cal mengerling ke arah mereka berdua yang terenyuh. 


Rich mengambil mic setelah memberikan kiss bye pada daddy‐nya itu. "I love you so much daddy, you're my everything."


"Love you too my son." Kemudian Cal juga mengirimkan tanda cintanya pada wanita cantik yang berdiri di sebelah Abelle, Nick, ketiga cucunya, Brylee, Heaven dan Efrain. "Lagu ini pun … Untukmu istriku tercinta. Trecy Louis yang telah setia menemaniku dan memberiku banyak cinta. Dengan tulus menghadirkan anak-anak luar biasa seperti mereka." 


Air mata Trecy berguguran, terlintas momen Cal pernah melamarnya dengan sebuah lagu di sebuah resto berikutnya kejutannya yang sangat romantis.


"Song as long as I live I love you, we have and hold you. You look so beautiful in white  …"


Bukan hanya Alda dan Rich saja yang berdansa saat Calvien Louis bernyanyi. Semua tamu undangan yang memiliki pasangan pun tergerak tanpa sadar, turut berdansa. Seolah suara merdu Cal, meski di usia senja itu memiliki hipnotis. Hingga membuat siapa pun, jatuh cinta lagi dan lagi pada pasangannya.


"Suara daddy, merdu dan seksi ya boo?" Alda memuji sambil bertatapan intim dengan Rich yang terus meniupkan nafas hangat. Ketika ia tengah menahan sesuatu yang sangat berat.


"Itu baru daddy-nya, belum putranya. Kau bisa gila setelah tahu nanti," sahut Rich tak mau kalah saing.


"Sungguh?" Alda masih tak percaya.


"Nanti akan ku buktikan."


Alda menelan salivanya ketika Rich mulai mendekatkan wajah lalu mencumbu bibirnya dengan lembut. Kemudian pagutan itu terlepas setelah lagu yang dinyanyikan Cal selesai.


Berlanjut setelah dansa, para tamu yang telah menikmati sajian menu pun mulai berpamitan dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Terutama Rendra yang berada di antrean paling belakang, lalu menyalami tangan Rich secara gentle.


"Selamat menempuh hidup baru, Rich dan Alda—"


Rich memotong dengan senyum bangga. "Bukan Alda, Bli. Tapi, Nyonya Richard. Thank you sudah menyempatkan diri untuk hadir di pesta pernikahan kami." Gantilah tangannya dijabatkan ke Rendra ketika pihak berwajib itu akan menyalami tangan Alda.


"Ka-kalau begitu, aku permisi. Karena harus bertugas!" Rendra buru-buru menghilang dari hadapan mereka.


Sementara Alda langsung mencubit pinggang Rich. "Aduh! Sakit ayang?" desisnya manja.


"Ayang? Banyak sekali panggilanmu untukku. Mulai dari cinta, istri, sweety, bunny, honey dan ah!" Alda pusing memikirkannya dan Rich malah tertawa.


Abelle yang berada di sisi mereka menyahut lirih. "Saudari ipar, kau harus banyak-banyak bersabar dan mengkonsumsi daging setelah ini. Karena hidupmu akan penuh dengan kejutan dari kembaranku yang mesum itu, hahaha!"


Nick, Efrain, Himesh dan semua saudaranya itu terbahak-bahak ketika tak sengaja mendengar godaan Abelle pada Alda yang kedua pipinya langsung bersemu merah.


"Sesi foto dengan mempelai pengantin, bagi seluruh keluarga harap berkumpul ke atas pelaminan!" seru host dari mic.


Cekrek!


Cekrek!


***


"Akhirnya resepsi itu berakhir!" teriak Rich bereuforia, setelah ia berhasil membawa kabur Alda dari resepsi itu. Sambil berlari ia menggendongnya ala bridal ke dalam kamar hotel.


Klik.


Rich mengunci pintunya kamarnya dengan card lock. Berputar tubuh menghadap Alda dengan senyuman penuh makna. Tak tahu jika jantung Alda berdentuman, begitu ia melihat Rich yang tiba-tiba memeluknya dari pantulan cermin. Ketika ia membersihkan sisa make up.


"Biarkan seperti itu bunny. Kau akan selalu terlihat cantik di mataku." Rich menciumi leher Alda dengan suaranya yang berat dan parau.


"Tapi, tapi … nanti aku jerawatan?"


"Daripada bawahku yang berjerawat ini meledak sembarangan. Apa kau mau?!" ancamnya dengan kepala berdenyut-denyut atas bawah.


"Jangan macam-macam! Ah, ah!" Alda seketika cemburu.


Rich senang mendengarnya, ternyata istrinya itu tak rela jika dia bersama wanita lain. Lalu ia meremas dadanya dengan seduktif. Alda pun menengadahkan wajahnya ke atas. Wajah sayu itu, membuat tangan Rich terampil menurunkan resleting gaunnya ke bawah.


"Boo, mandi dulu …" tunda Alda nervous.


"Kelamaan bunny, aku sudah tak tahan."


Rich kemudian mencium bibir Alda sambil menuntunnya ke peraduan. Merebahkannya lembut dan menindihnya.


"I love you bunny," Rich suka memandangi Alda yang tersengal nafas, dengan banyak jejak kepemilikan di lehernya itu.


Sehelai benang pun nyaris tak ditemukan lagi dari tubuh keduanya yang licin. Rich bahagia dengan otak mesumnya. Kini ia bisa melihat tubuh seksi Alda secara bebas dan puas.


Tiap jengkalnya dari leher hingga ke paha, lidahnya berselancar di sana. Meliuk, menari, menusuk dan menyentuh panas di titik paling sensitif hingga Alda melonjak bagai cacing kepanasan.


"Boo, ahhhh!" 


Alda telah menggila, ketika Rich membuat ia mengeluarkan banyak peluh. Sedangkan suaminya itu tak pernah melepas bagian favoritnya yang terus di-hi-sap. Getaran hebat meledakkan sesuatu dari Alda, yang kini telah disapu bersih olehnya.


"Oooh … Bunny! Kau sangat seksi, manis dan legit!" Rich yang berada di atas mulai memposisikan diri.


Alda menggeleng takut, namun Rich menenangkan Alda dengan keahliannya. 


"Boo …" rengeknya. "Nanti, sakit?"


"Aku akan pelan-pelan, Bunny." Rich berjanji. "Jika sakit katakan. Aku akan berhenti, hum?"


Alda pun percaya dan  …


Kelopak mata Alda terpejam, begitu ia merasakan terobosan hangat yang amat sesak memenuhi dirinya. Menembus batas mulanya pelan, bergerak hati-hati sesuai janji dan Rich mencium dadanya begitu rakus.


Tapi menit berikutnya, Rich sulit terkontrol. Suaminya itu membuatnya terguncang seperti badai, menghempasnya ke setiap sisi. Rich ingkar janji. Menumbuk-numbuk, menghentak hingga kedua suara pecinta yang dimabuk gelora itu memecah kesunyian kamar.


"Aaahhh! Ah! Boo …"


"Alda … Bu … Bunny, aku … Oohh!" Rich memejamkan matanya ketika puncak itu menggetarkan seluruh tubuhnya.


Meremas dan menjepit kuat, hingga ketegangan itu berubah menjadi semburan deras yang menembak ke rahim Alda berkali-kali.


Rich menimpa tubuh Alda, terjatuh lembut. Dengan senyuman kepuasan memandangi Alda yang juga tersenyum padanya dan berterima kasih lewat ciuman.


"Aku lelah, Boo ..." lirih Alda mengatur nafas dalam pelukan Rich.


"Baru dua sesi cintaku."


"Apa?"