
“Honey ...” Rich menghempaskan suaranya yang berhimpun segala rasa menjadi satu. Memanggil dengan nada-nada lembut, bermakna rindunya hati teramat membuncah.
Tak ada yang berubah dari sang empunya jiwa. Seperti pertama bertemu dan berpisah hingga berada di depannya kini. Alda tetaplah sama. Guratan wajahnya masihlah cantik. Pipinya agak chubby, mata legamnya tegas, hidung dan bibir yang penuh itu. Entah kenapa selalu membuat Rich ingin menenggelamkan juga bibirnya di sana.
Rich memangkas jaraknya. Terlihat emosional seketika meraih jemari lentik milik wanita itu dan menggenggamnya erat. Pantulan dirinya tergambar memenuhi kilauan di manik indahnya Alda. “Aku merindukanmu cintaku. Sangat, sangat Alda. Apakah kau juga sama?” setelah berucap, Rich mencium punggung tangan Alda yang lembut tak cukup sekali.
Cup! Cup! Cup!
Tetesan kesedihan Alda terperosok ke pipi. Basah yang kemudian dihapus oleh Rich.
“Jangan menangis lagi?”
Alda menganggukkan kepala. “Aku juga merindukanmu, Rich.”
“Benarkah?” Rich menanyakan itu, mengingat terakhir kalinya hubungan keduanya diliputi kesenjangan. Banyak salah paham, fitnah terbungkus ironi menekan dua kata. Patah Hati.
Di bandara terakhir kali bertemu dan di sanalah juga Rich tak menyangka jika mereka akan berpisah. Rich pikir, kebisuan Alda waktu itu adalah ujung jalinan cinta mereka kandas.
Tetapi, semakin Rich melupakan Alda. Semakin dia berusaha membenci. Dia merasa sakit dan tersiksa oleh kerinduan tak bertepi. Sekarang, Alda —milik Rich telah berdiri nyata di hadapannya. Oleh karena itu, Rich tak akan membiarkannya terlepas.
"Iya."
"Tak kusangka suaramu begitu indah cintaku ...?" Rich memujinya.
"Aku hanya iseng, tapi menyanyi adalah hobiku."
"Tapi aku sangat menyukainya. Kau lebih cocok membawakan lagu itu ketimbang penyanyi aslinya."
Alda terkekeh lucu. Rich gemas mendengar tawanya itu yang lepas.
"Kenapa dulu kau tak menghentikan kepergianku, Rich?" Alda menanyakan ganjalan itu sekarang. Padahal, Alda sangat berharap Rich mengejarnya dan melepaskan Cello saat itu. Sayangnya Rich tak peka. "Kau malah lebih memilih Cello." Alda mengatakannya dengan hati yang rapuh.
"Sayang ..."
Alda berpaling badan membelakangi Rich. Rich menepuk bahunya, tapi Alda agak marah. Dia ingin dirayu dan Rich merealisasikannya dengan berputar posisi menghadap Alda.
"Cemburu tanda cinta."
"Kalau cinta? Kenapa sulit memilih?"
"Aku berada di posisi yang sangat sulit cintaku. Tolong mengertilah ..."
"Dari dulu aku berusaha mengerti tentangmu. Tapi, borok mu terus saja terbuka. Kau yang suka main perempuan, pelacur, duniamu penuh misteri dan kau menjalankan Fire Base hanya demi menutupi semua bisnis gelapmu." Alda menjabarkan semuanya. Rich dibuat bungkam tak bisa mengelak. "Katakan jika itu bohong! Jika aku bohong maka petir akan menyambarku."
Pssssstt ...
Telunjuk Rich mengunci bibir Alda dari sumpah serapah yang tidak berguna.
"Jangan katakan hal bodoh cintaku."
Alda terengah marah dengan nafas tersengal-sengal. "Ya, aku memang bodoh. Aku bodoh karena percaya cintamu yang palsu."
"Cintaku putih, murni, bersih dan tulus Aldaku sayang. Jika tak percaya belah lah dadaku ini?" Rich meraih tangan Alda dan menyentuhkannya ke dadanya yang terbuka.
Alda dapat merasakan debaran jantung milik Rich yang bertalu-talu. Cepat dan entahlah ... Kegugupan menderanya, saat tiba-tiba ia seperti tersengat sesuatu yang membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.
"Jika dibelah, kau pasti mati, Rich. Jangan konyol! Aku tak mau kau mati ..." setelah berucap, Alda membekap mulutnya rapat dengan rona semerah kepiting rebus.
"Berarti kau takut kehilanganku. Ah, masa iya? Jadi, aku masih berpeluang besar untuk menjadi suamimu?"
"Suami?"
"Istri."
Rich menatap Alda lalu bibirnya mendaratkan kecupan kasih di kening yang ternyata setelah itu membuat Alda nyaman dan tenang. Alda mengerjap. Rich sudah tak tahan lagi menahan gaharnya rindu. Rich pun membawa tubuh Alda dalam sekali tarikan menyatu dengan tubuhnya.
“Please, kita tak usah berdebat, ya? Oke. Aku mengaku dan kau memang benar."
Sungguh puas Alda mendengarnya. Tangannya juga semakin erat memeluk punggung kokoh Rich sambil menghirup aroma tubuh pria itu yang membuat candu.
"Humm."
"Tahukah kau cintaku ... Aku menjadi frustasi semenjak kepergianmu ke Indonesia? Aku merindukanmu setiap waktu. Duniaku seperti runtuh. Aku hidup tapi separuh jiwaku terbawa olehmu. Aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku ingin kau sayangku, aku juga merindukan semua yang berkaitan denganmu ...” Rich terus melafalkannya tanpa henti. Seolah takut dirinya tak sempat mengutarakan itu dan waktunya terkikis.
Kedua tangannya merengkuh wajah Alda, bibirnya menghujaninya dengan banyak kecupan. Tangis Alda meledak dan berkata sangat lirih, “kenapa takdir mempermainkan kita Rich? Aku kesepian tanpamu.”
“Ya, Honey. Aku pun demikian. Jangan bicara lagi tolong ... Aku ingin terus memelukmu.”
Helaaan nafas tak beraturan, deguban jantung yang sama. Bisa terasakan oleh Alda dan Rich. Mereka berdua tak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya.
Kini, keduanya berdampingan merebahkan diri di atas rerumputan, yang terletak di antara sisi jutaan warna-warni bunga tulip. Tanpa melepaskan genggaman, Rich memetik satu kelopak tulip lalu menyematkannya ke telinga Alda.
“You're very beautiful. The beauty of all the tulips here is less beautiful than yours. You are amazing to me in this world. Your presence gave me many colors and you introduced me to what love means. Love is you and you are my love."
“Thank you.” Alda mengukir senyuman manis. Kedua pipi Alda meronakan semburat merah, layaknya langit di seberang lautan yang akan menuju sunset. “Rich," perlahan suara Alda berubah begitu lembut layaknya suaranya tadi sewaktu bernyanyi. "Oia, bagaimana kau tahu jika aku berada di sini?”
Rich merubah posisi, membawa pandangannya menuju Alda tanpa jarak dengan menyanggah tangan di wajah. Ilalang dieluskan manja ke wajah cantik Alda yang membuat Alda tergelitik.
“Di mana kau bernafas, di situlah aku hadir. Suara merdumu itulah yang mengantarku padamu cintaku.”
Alda tersenyum lebar, ikut menatap Rich sehingga wajah keduanya saling bertemu.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya Alda.
“Aku pun tak tahu.” Lalu Rich mengisahkan perjalanannya bisa tersesat di taman bunga itu. “Tetapi aku bersyukur karena di taman bunga ini, aku bisa bertemu lagi denganmu Alda. Mungkin inilah cara Tuhan menyatukan kita, supaya kau dan aku tak terpisahkan lagi.”
“Tapi ...” Alda menjeda ucapan.
Rich merasakan ada hal penting yang dirahasiakan oleh Alda. Entah kenapa dia merasa Alda akan kembali pergi.
“Tapi apa? Jangan bilang aneh-aneh. Aku baru bertemu denganmu, tidak!” Rich menggeleng. Merengkuh pinggang Alda lebih erat ke tubuhnya dan menyatukan kening dengan nafas berlomba menerpa wajah.
”Waktuku tak banyak. Ada satu hal yang ingin ku beritahukan padamu Rich. Tapi satu hal pasti, aku akan kembali menemuimu lagi dalam waktu dekat. Banyak kejutan, kau akan dihadapkan berbagai pilihan. Setiap pilihan mempunyai sebab —akibat. Yang menentukan masa depan kita.” Alda mengungkapnya serius.
“Apakah itu? Bisa kau katakan sekarang cinta?” desak Rich dibuat penasaran.
“Tidak bisa. Tunggulah aku datang, Rich!” pesan Alda.
“Ya, ya. Aku pasti menunggumu sampai kapanpun. Walau di batas usiaku, aku rela menanti kehadiranmu Alda. Tanpamu hidupku hampa, banyak yang hilang dariku. Aku juga ingin menceritakan sesuatu padamu. Tapi, bisakah kau ikut pulang bersamaku sekarang?” pinta Rich membujuk.
Alda tersenyum, Rich mengerjap. Tepat setelah kedipannya membuka mata. Keberadaan Alda tiba-tiba menghilang dan tergantikan oleh udara kosong.
Rich kebingungan, dia beranjak seperti orang gila yang berteriak menyerukan namanya ke setiap penjuru taman bunga tulip dengan berlarian.
“Aldaaaa!”
Nafas Rich terengah-engah kencang. Dia terduduk mengamati kamarnya sambil mengernyit, menyeka kening hingga sekujur tubuhnya yang bermandikan peluh.
“Ternyata itu hanya sebuah mimpi. Oh, Tuhan ... Kenapa mimpi itu tak Engkau buat nyata saja? Aku ... Sangat merindukan Aldaku, cintaku.” Rich menenggelamkan wajahnya ke celah lututnya yang menekuk, air matanya menetes tanpa dia sadari.