Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
77. Restu



Setelah mendonorkan darah, Rich mendapat telepon dari Kongo yang membuat ia terpaksa harus pulang lebih awal. Alih-alih kembali ke resort berkemas dan mengabari Firheith, bahkan sekadar berpamitan pada Alda pun ia tak sempat karena sudah larut malam. Sehingga Rich pun hanya mengirimkan pesan singkat pada Firheith yang membuat Firheith terperanjat pagi itu. 


***


Di rumah sakit Citra Medika.


Mutia sudah dipindah ke ruang perawatan biasa setelah semalam melewati masa kritis. Bahkan, dokter menyatakan kondisinya lebih stabil setelah mendapatkan donor darah dari Rich.


Ibunya, Wa Kadek membelai rambut Mutia yang sedang melamun ke arah jendela luar. “Bule itu yang sudah mendonorkan darahnya untukmu, sekaligus telah membiayai biaya perawatanmu selama di rumah sakit Mutia,” ungkap Kadek.


Mutia menoleh dengan wajah piasnya dan kepala dibalut perban. 


"Aku berhutang budi padanya, Bu."


Kadek mengangguk lalu menghela napas panjang. "Selama ibu mengenal bule, ibu baru tahu kalau ada bule sebaik Mr. Richard dan kebaikannya melebihi orang-orang pribumi."


"Maksud ibu apa?" Mutia bertanya heran.


"Keluarga Bli Indra datang semalam menjengukmu, ketika kau kritis. Setelah Rendra mengabari kalau kau mengalami kecelakaan dan mereka memutus perjodohan Agung denganmu, begitu tahu kau divonis gegar otak oleh dokter."


Wajah Kadek menunjukkan ekspresi sangat kecewa, dalam hatinya ia sakit hati karena ternyata Juragan sapi itu memandang Mutia dengan sebelah mata. Tetapi anehnya, Kadek melihat putrinya malah tersenyum. 


"Apa gara-gara gegar otak itu sudah bikin kau agak-agak stress, Mut?" celetuk Kadek. 


Bibir Mutia menekuk, dia menggeleng. "Ah, Ibu. Nggaklah! Aku tuh senang, akhirnya Dewa mengabulkan doaku nggak jadi nikah sama Agung yang bau ketek." 


"Hush!" Kadek memotong dengan mata menyipit. "Nggak baik ngomong gitu! Nanti kalau kau nggak laku kek mana? Ibu yang susah."


Kadek tak habis pikir dengan Mutia, selalu menolak jika dijodohkan dan ia memiliki 1001 alasan untuk menolak juga mengelak. 


"Jodoh di tangan Sang Hyang Widi, Bu. Manusia lahir berpasang-pasangan. Nggak mungkin lah, Mutia nggak laku. Siapa tahu nanti Mutia berjodoh sama bule?" kikik Mutia. 


"Amin." Kadek tersenyum. 


Mutia tertawa tak lama, karena kepalanya tiba-tiba nyeri. Kadek menyadarinya dan menyuruhnya beristirahat. Akan tetapi, tiba-tiba saja ia teringat pada Rich. 


"Bu!" Mutia menahan tangan Kadek yang hendak ke toilet sehingga Kadek kembali duduk di sebelah ranjangnya berbaring. 


"Apa aku cerita sejujurnya saja ke Rich soal Noah?" resah Mutia yang merasa dihantui perasaan bersalah. 


"Kau yakin?"


"Aku tak tega sama Noah yang sering bercerita rindu papinya dan pada Rich yang ternyata baik itu, meski kata Alda dia suka main wanita."


Kadek mengusap lengan Mutia, memandanginya lamat-lamat. 


"Nak, jangan takut mengungkap kebenaran. Meskipun Rich punya keburukan di masa lalu atau dia seorang pendosa sekalipun, kita tak berhak menghakimi. Biarkan hal itu menjadi urusannya dengan Dewa. Lihatlah Noah dan sahabatmu Alda! Jangan lihat Tuan Morren! Biarlah ibu yang hadapi jika dia marah." 


Nun jauh Mutia merenungi setiap perkataan ibunya yang dirasanya benar. Terlebih, setelah ia mendengar kenyataan yang tak pernah dia tahu. 


"Mut, Noah itu anak yang cerdas. Dia pasti tak percaya kalau itu makam papinya dan dia pasti akan mendesak Alda untuk mengungkap kebenarannya. Selain itu, Ibu juga kasihan pada Alda, menurutku ia masih mencintai Mr. Rich dan tak menyukai Rendra."


"Ja-jadi benar Bli Rendra dijodohkan dengan Alda, Bu?" dari pendar sayu mata Mutia, bermakna kekecewaan mendalam. 


"Ya, tapi Bu Rukma bilang pada Ibu kalau dia menolak. Tapi Tuan Morren terus memaksa."


Mutia memejamkan matanya yang kemudian sudutnya meneteskan buliran bening. Kadek mengusapnya perlahan. 


"Alasan utama Alda menolak, karena tahu kalau kau menyukai Rendra," Lanjutnya membuat netra Mutia menyibak. 


"Persatukan cinta Alda dan Mr. Rich, Mutia. Hanya kau yang bisa … Setidaknya demi Noah." Kadek pun matanya berkaca-kaca sedih. 


"Ya, Bu. Iya, aku akan lakukan itu! Tolong pesankan taxi. Aku ingin menemui Rich di Como Ubud Resort!" seru Mutia, kini ia tampak tak sabar. 


Firheith yang sedari tadi coba mengetuk pintu kamar inap Mutia, terpaksa masuk karena mendengar hal itu. 


"Terlambat, Muti. Rich sudah kembali ke Kongo tadi malam!" sahutnya mengejutkan Mutia dan Kadek yang menoleh ke arahnya. "Maaf, Bu. Saya lancang masuk tanpa permisi," ucap Firheith yang berlanjut berkenalan singkat dengan Kadek. 


"A-apa Fir? Kau tak bercanda, kan?" 


Chat di layar ponselnya yang dikirimkan Rich, ditunjukkan Firheith pada Mutia. "Lihat dan baca sendiri!"


Seketika air mata Mutia pun jatuh setelah membaca pesan itu. Ia terduduk sedih dan sangat menyesal, hingga refleks memeluk tubuh Firheith yang berubah kaku tak bergerak. Selain terkejut, ia tak membalas pelukan Mutia, karena canggung pada Kadek. 


Dan barulah Mutia tersadar, saat ia mencium bau parfum pria di tubuh yang dipeluknya kini. Bukanlah parfum yang biasa ibunya kenakan. 


"Oh, Fir. Maaf-maaf!" sesal Mutia dengan wajahnya yang pucat berubah memerah malu. Karena ia salah peluk. 


Firheith kikuk dipandang Kadek. "I-iya, no problem." Lantas menjaga jarak. "Aku juga minta maaf, Bu, Muti."


Walau kesal telinganya mendengar namanya dipanggil Muti. Rasanya tak tepat kali ini memperdebatkan itu. 


"Sudah tidak apa-apa, namanya tidak sengaja." Kadek memaklumi dan bicara pada Firheith dengan bahasa Inggris— sebab dulunya, ia pernah menjadi tour guide. 


"Kalau begitu, kita harus cepat memberitahu Alda, Fir."


"Tujuanku datang menemuimu juga begitu, Muti. Selain mandat dari Rich untuk memeriksa keadaanmu," ucap Firheith yang sehaluan. 


Mutia mengangguk. "Sekarang aku jauh lebih baikan. Bu, tolong pesankan taxi lewat ponselku." Kemudian Mutia beranjak sambil mencabut selang infusnya dan coba berjalan. 


Dapat tiga langkah, Mutia terhuyung dan hampir menubruk tembok jika Firheith tak sigap menopang tubuhnya. 


"Hati-hati! Jalanmu persis zombi tapi kau kekeh mau berangkat sendiri naik taksi. Tujuan kita sama, ikutlah bersamaku?" tawar Firheith lalu menatap Kadek. 


"Kalau Ibu mengizinkan. Entah Mutia," sahut Kadek tersenyum tipis. 


"Baiklah, aku ikut denganmu, Fir. Tapi sebentar aku tanya posisi Alda ada di mana? Tunggu dulu."


"Oke," jawab Firheith yang melihat Mutia sedang menelepon Alda. Sementara Kadek berpamitan keluar untuk mengurus izin keluar Mutia dari rumah sakit. 


**


**


"Di pemakaman?"


Netra Firheith membulat sekaligus terkejut, setelah Mutia menjelaskan semuanya. Firheith langsung sedih selama perjalanan hingga tiba di pemakaman yang di maksud. Firheith keluar dari mobil, menggendong Mutia duduk di kursi roda lalu mendorongnya ke sebuah pemakaman yang diyakini makam papinya Noah. 


"Alda," panggil Mutia dengan Firheith yang tak sekalipun menoleh pada wanita itu karena sangat kesal. 


Yang dipanggil menoleh bersama dengan Noah yang tampak sembab. 


"Om Frenkie, Mami Mutia di sini? Mau jenguk papinya Noah, ya?" walau iris bocah itu terlihat sedih, tetapi Noah tak ingin dikasihani dan berusaha tegar dengan tetap tersenyum. 


Alda menangkap sikap ketidaksukaan Firheith padanya, tanpa tahu penyebabnya. Ia yang tak tahu jika Mutia kecelakaan pun begitu terkejut, begitupun Noah. 


"Iya, Mami kenapa? Perasaan kemarin baik-baik aja," heran Noah yang kemudian tak menyadari ketiadaan Rich. "Di mana Om Rich, Om Frenkie? Apa dia sedang sibuk?"


"Om Rich sudah kembali ke negaranya sayang," kata Firheith yang membuat Alda membeku dan lemas.


"Apa? Om Rich tak di sini lagi? Yaaah …" suara Noah terdengar sedih.


Kemudian Firheith membungkuk lalu menggendong Noah di atas kedua bahunya dengan binar haru di mata. Sebelum pandangannya tertuju pada Alda. "Boleh kan, aku menggendong keponakanku?"


Deg. 


Hati Alda berdenyut memahami maksud Firheith yang membuat ia tegang. Menoleh nanar dengan anggukan cepat. 


"I-iya boleh."


"Jelaskan pada temanmu itu, Mut! Kalau dia tak ingin menyesal dan sebelum semuanya terlambat!" sindir Firheith yang mengajak Noah menjauh dari kedua wanita itu. 


Mutia menganggukkan kepala dan melihat kebingungan di wajah Alda, selain menemukan kesedihan di sana. 


"Kita bicara di dekat sungai itu, Al." Mutia menunjuk tempat yang pas, ketika Alda mendorong kursi rodanya. 


Sembari ia menjelaskan asal muasalnya mengalami kecelakaan. Mutia juga bercerita jika Rich pergi ke Kongo karena urusan mendadak. 


"Oh, jadi begitu." Alda menggigit bibir lalu menghembuskan napas resah, memandangi aliran sungai yang begitu deras. 


Plung! 


Alda melempar batu ke sungai itu, bertepatan pertanyaan dari Mutia yang mengejutkan dirinya. 


"Kalau masih mencintainya, kejar dia Alda! Tak usah malu, daripada kau terlambat. Aku takut omongan Fir benar, dia pulang ke Kongo dan dipaksa untuk menikahi Cello secepat mungkin."


Alda masih diam yang membuat Mutia jengkel. 


"Kau takut papimu? Sekarang aku tanya lagi. Apa kau tak kasihan pada Noah? Dia juga butuh orang tua yang utuh, Al. Aku yakin kau masih mencintainya. Tak akan sia-sia kau memaafkannya dan memberinya kesempatan terakhir, karena Rich juga mencintaimu. Apa pengorbanannya dua kali datang ke Bali masih kurang membuktikan?" desak Mutia mulai emosi. 


Alda lekas menoleh dengan mata memenuh dan terisak-isak. 


"Iya Mutia. Aku masih mencintainya!" bibir Alda bergetar. "Hingga … Detik ini, cintaku padanya tak pernah pupus. Aku sulit ngelupain Rich. Apalagi setiap melihat Noah, selalu mengingatkanku pada Rich. Lalu? Bagaimana bisa aku ngelupain dia …?" Alda tak kuasa menumpahkan air matanya kemudian memeluk Mutia sangat erat. 


Mutia mengusap lembut punggung Alda, air matanya turut mengalir dan bahagia mendengar Alda mau jujur. 


"Aku takut papi marah dan tak mengizinkan, Mut?" ungkapnya di sela pelukan. 


"Nanti aku akan ikut membantumu menjelaskan ini pada Uncle Morren, Al. Aku yakin kali ini beliau mengizinkan." Mutia sangat yakin. 


"Benarkah?" tatapan Alda terkesan ragu. 


"Kalau belum mencoba, mana tahu hasilnya?" Mutia tersenyum sambil menyeka air mata Alda. "Temanku, kau berhak bahagia. Jangan sedih lagi, oke?"


Alda terharu lalu mengangguk. 


"Kau benar, Mutia."


"Ingat Al, perjuangkan apa yang menjadi hak Noah. Walau sepahit apa pun nantinya, jangan menyerah dan hadapi. Cello tak ada bandingannya denganmu! Selama ini Rich begini karena ada sebabnya dan sekarang kau sudah tahu semuanya!" tekan Mutia menyemangatinya. 


"Terima kasih Mutia, selama ini kau selalu menguatkanku dan menjaga Noah seperti anakmu sendiri," ucap Alda memeluknya lagi. 


"Aku sangat menyayangi kalian. Apalagi Noah yang badung itu dan genit! Ternyata tak membuang jauh dari sifat papinya!"


Alda tertawa sambil menyeka air matanya yang menetes, teringat benar yang dikatakan oleh Mutia. 


"Sebaiknya kita berangkat ke rumahmu sekarang untuk menemui Uncle. Agar kau bisa segera mengambil penerbangan secepat mungkin!" usul Mutia tak ingin buang waktu. 


Ternyata Firheith juga sepakat, karena baru saja ia mencoba menghubungi Rich untuk Noah tetapi nomornya tak aktif. Sehingga mereka pun detik itu pergi ke rumah Alda. 


***


"Sekali tidak tetap tidak!" tolak Morren saat Alda menjelaskan bahwa ia masih mencintai Rich dan ingin menyusulnya ke Kongo. 


"Papi …. Hiks, kali ini saja. Tolong restui kami …" isak Alda yang bersimpuh di bawah kaki Morren.


Mutia tak tahan lagi. Ia pun maju ke hadapan Morren sambil didorong Rukma. 


"Kecelakaan yang aku alami mungkin karma dari Dewa, Uncle. Karena aku sudah berbohong pada Rich, tepatnya pada bocah tak berdosa itu. Setidaknya lihat Noah? Dia butuh papinya … kita semua membohonginya jika papinya sudah meninggal. Tetapi nyatanya masih hidup," ungkap Mutia. 


Morren terdiam dan sepertinya mulai terpengaruh. Terlebih Noah yang tak sengaja mendengar pertikaian itu dan pernyataan terakhir Mutia, selepas ia bermain dan masuk ke dalam bersama Firheith. 


"Jadi papinya Noah masih hidup Nono? Di mana? Benarkah? Lalu itu makam siapa?" mata Noah berkaca-kaca menanyakan itu. "Kenapa Nono diam saja mami?" tatapnya pada Alda yang menangis. 


Alda membingkai wajah putranya itu. "Sayang, benar. Papimu masih hidup, ceritanya panjang. Suatu saat jika kau sudah dewasa, mami akan menjelaskan padamu."


"Kenapa tidak sekarang?" air mata Noah berderaian. 


Lalu Alda menyekanya dan memeluknya erat. "Kau ingin bertemu papimu kan, Sayang?"


"Sungguh? Iya mami. Noah mau!" serunya antusias. "Noah bahkan selalu berdoa untuk itu pada Tuhan sebelum tidur. Supaya mami nggak sedih terus? Aku ingin punya papi seperti teman-temanku yang lain. Setiap libur selalu menemani bermain dan mengajak kita tamasya bareng."


"Astaga!" pekik Rukma mengelus dada lalu menatap Morren.


Seketika semua yang di sana pun menangis, tak terkecuali Morren yang pura-pura melihat ke arah lain. Rukma kemudian berusaha membujuk suaminya. 


"Ikut aku!" Rukma menarik tangan Morren dan diajaknya masuk ke dalam kamar untuk berunding, sementara Morren tak menolak dan diam saja. 


"Honey …" mesra Morren saat istrinya itu marah lalu memunggunginya. "Kenapa sekarang kau yang marah?"


Rukma menoleh jengkel. "Kau terlalu egois Pi!"


Sejenak Morren membuang napas berat ke udara.


"Aku begini juga demi kebaikan Alda dan Noah—"


"Dengan caramu yang salah? Memaksanya menikahi Rendra? Kau  malah akan menambah penderitaannya!" sentak Rukma.


"Tapi honey?"


"Dengar sayang. Kali ini sepertinya kita harus memberi Rich kesempatan. Kau tega melihat Noah terus bersedih dan Alda … Kita sudah tua. Bukankah kebahagiaan kita jika melihat anak-anak menikah dengan pria yang mereka cintai?"


Lama Morren mendengar penuturan Rukma, pelan-pelan hatinya yang sekeras batuan marmer pun melunak. Keluar dari kamar dan memberi keputusan. 


"Papi akan memesankan tiket ke Kongo. Aku, Mutia, kau— Alda dan Noah."


"Bertemu Om Rich?" gembira Noah bersorak kegirangan menatap Morren. 


Saat Alda hampir saja mengatakan fakta. Ternyata Morren tiba-tiba memangku cucunya itu sambil mencium pipinya. "Bukan Om, sayang. Tetapi bertemu papimu.