Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
75. Pembuktian Cinta



"Tanam semua bibit padi itu!" Morren menunjuk pada tumpukan padi muda di pinggiran sawah, yang baru saja diletakkan oleh petani lain dari pick up. 


Rich menelan ludahnya susah payah, dengan melebarkan mata hijau zamrudnya bulat-bulat. 


"Se-sebanyak itu, Tuan Morren?" kacau Rich lalu bersilang pandang dengan Firheith, membayangkan kapan selesainya semua padi muda tersebut akan ditanam pada sawah seluas itu.


Apakah cukup dengan waktunya yang hanya tersisa empat hari di Bali? Sementara setelah itu, Rich harus kembali ke Kongo untuk menikahi Cello?


Sungguh tidak mungkin.


Mendadak kepala Rich didera pusing memikirkan itu semua. Ketika ia melamun dan melihat ngeri pada banyaknya tumpukan padi muda itu yang menggunung. 


"Kenapa? Kau tak sanggup?" suara tua Morren terdengar meremehkan dan ia sangat berharap Rich mundur. 


Tetapi, Rich secepatnya menggeleng. Ia sudah terlanjur berjanji dan pantang menyerah. "Saya sanggup Tuan Morren. Bahkan, hari ini juga saya akan mulai menanam padi-padi itu!" ucapnya lantang.


Morren tertawa tak yakin. Firheith maju selangkah di samping Rich. "Saya juga akan membantu Rich."


"Tidak bisa!" Morren seketika menolak dengan tegas. "Sesuai kesepakatan, si begajulan itu akan menanam sendirian."


"Kenapa tidak bisa? Jangan Anda kira, kami orang bodoh, Tuan. Menanam padi sebanyak itu dilakukan Rich sendirian? Hah! Punggung Rich bisa encok dan itu namanya penyiksaan. Selama ini, Rich diam bukannya takut. Ia begitu karena menghormati Anda sebagai orang yang lebih tua. Tetapi semakin ke sini ..." Sengaja Firheith menjeda dan melihat reaksi dari pria tua itu.


Morren tampak gelisah di tempatnya berdiri. Siku lengan Rich pun, menyenggol pinggang Firheith.


"Jangan! Kasihan?" kata Rich pelan.


Firheith menempelkan jari ke bibir sambil melirik Rich. "Biarkan kali ini, aku yang bertindak dan mempersuasi dia. Lihatlah wajah pria tua itu sekarang. Mulai pucat, pasti dia sudah terpengaruh dan ketakutan!" bisik Firheith lalu diangguki oleh Rich. 


"Kau benar juga, Fir." Rich setuju.


Firheith melanjutkan ucapan. "Sikap Anda terlalu berlebihan dan keterlaluan. Anda semena-mena. Apakah Anda sadar Tuan Morr? Jika sikap Anda itu sudah mengarah ke diskriminatif dan melanggar HAM. Rich tentu saja bisa menuntut Anda atas dasar laporan itu ke jalur hukum!!" kecam Firheith sudah habis kesabaran, langsung mengunci mulut Morren. "Jika Rich mau dan tinggal menunggu Rich mengatakan iya. Saya akan menelepon pengacara kami!"


Morren berdehem gugup, menatap kedua wajah pria bule di depannya yang ternyata cerdik. Firheith sukses mempengaruhi kejiwaan Morren yang kemudian berubah pikiran.


"Oke. Kau boleh memakai bantuan orang lain. Tetapi ingat! Hari ini juga harus selesai!" Morren tak ingin rugi, jadilah ia terpikir demikian.


Pernyataan itu melukiskan senyum cerah di wajah kebiruan Rich dan Firhith. Bahkan Rich seolah mendapat angin segar, yakin jika sedikit lagi harapannya meminang Alda akan terwujud.


"Terima kasih banyak Tuan Morren," ucap Rich kemudian menoleh pada Firheith. "Fir, sewa petani di sini—"


"Wait! Jangan senang dulu!" tahan Morren mengherankan kedua bule itu.


"Ada apa Tuan?" tanya Firheith dan Rich bersamaan.


"Kalian tak boleh meminta bantuan petani di sekitar sini!" cegahnya sontak membuat Firheith kalang kabut dan bereaksi tak terima.


"Anda curang Tuan Morren!"


Morren berseringai. "Aku yang punya sawah, jadi aku berhak menentukan syaratnya!"


Tidak masalah bagi Rich yang kemudian tersenyum. Ia tak kehabisan akal untuk memutar balikkan situasi yang membuat Morren terperangah. Rich mengangkat ponselnya dan menelepon Chandra untuk meminta dikirimkan bala bantuan.


"Kau ...!" geram Morren pada Rich yang dianggapnya licik.


Rich tersenyum menatap Morren yang wajahnya merah padam. "Tuan Morren, Anda hanya pernah mengatakan pada saya, bahwa tidak boleh meminta bantuan petani di sekitar sini, bukan? Jadi, saya berhak meminta bantuan petani dari luar."


Setelah Rich mengatakan itu, tampak di tepi jalan raya nun jauh. Dua unit pick up datang, mengangkut sekitar lima puluh orang petani yang kini mulai turun dan berdatangan menuju ke arah sawah Morren bersama Chandra.


"Tenang saja Tuan ..." Rich kembali bicara. "Saya juga ikut turun tangan menanam padi itu dengan tangan saya sendiri dan ya ... Setelah hari ini saya berhasil menanam semua padi itu. Anda tak punya alasan lagi, menghalangi saya mendekati Alda."


Napas Morren berhembus kasar langsung menolak. "Tidak bisa! Ini hanya sebatas—"


"Anda tak pernah mengatakan apa pun soal itu. Hanya pernah akan melaporkan saya ke pihak imigrasi jika saya tak berhasil menanam padi, kan? Lalu Anda menyuruh saya untuk menjauhi Alda. Berarti sebaliknya, jika saya berhasil. Saya berhak mendekati Alda dan Anda tidak boleh melarang." Rich tersenyum penuh kemenangan.


"Saya saksinya!" Firheith semakin menyudutkan Morren.


"Aaarrh!" teriak Morren kesal dan tak berkutik. "Oke, fine! Tapi ..." Ia menuding ke wajah Rich dengan penuh kebencian. "Kalau kau tak berhasil mendekati Alda. Kau harus angkat kaki dari Bali dan jangan pernah tunjukkan lagi wajahmu di hadapanku!"


Rich perlahan maju, lebih dekat di hadapan Morren lalu mengulurkan tangan sebagai syarat kesepakatan. Meskipun mulanya Morren enggan, tetapi karena malu dilihat semua orang. Ia pun akhirnya menjabat tangan Rich untuk pertama kali.


"Sepakat!"


...----------------...


"Go, go, go!" Rich mengajak semua petani mulai menanam padi. Kakinya tak segan masuk ke dalam lumpur dengan menggunakan sepatu boots khusus dan mengikat kepalanya dengan kain.


"Siap Mister!" sahut semua petani kompak berteriak penuh semangat. Langsung mengambil padi muda itu yang terikat penuh dan membawanya terjun ke dalam sawah. Dibantu Firheith dan Chandra.



Sementara Morren duduk layaknya Bossy di saung, mengawasi kinerja mereka semua. Terutama matanya itu menyasar pada Rich untuk mencari-cari kesalahannya.


Tetapi Rich tak peduli, ia menunjukkan keahliannya sesuai yang diajarkan Pak Johan. Sehingga mata Morren dibuat terheran-heran dan mengucek matanya berulang karena hampir tak mempercayai apa yang ia lihat.


"Brengsek! Kapan dia belajar? Kenapa si begajulan itu langsung bisa?" gumam Morren tak habis pikir.



°°Anggap aja ini Rich lagi mode nyebur ke sawah ya, 🤭


**


**


Tengah hari, matahari sedang terik-teriknya. Morren yang tak melakukan apa pun dari pagi. Hanya mengawasi mereka, lantas ketiduran di saung dengan wajah tertutup caping.


"Rich, lihat siapa yang datang!" Firheith menyenggol Rich yang tengah serius menanam padi.


"Hmm, siapa?"


Sebelum mengangkat wajah, Rich mengusap keningnya yang dipenuhi keringat deras. Mengikuti arah telunjuk Firheith dengan senyuman lebar.


"Alda?" matanya berbinar semenyengat sinar matahari.


Wanita pujaan hatinya itu, tengah membawa rantang makanan ditemani seorang ibu-ibu. Hanya sekilas melirik Rich dan tak lama berpaling. Tampak membangunkan Morren yang tertidur.


"Itu Rukma— ibunya Alda, Mr. Rich, Mr. Firheith." Chandra memberitahu.


"Ooh ..." kedua bibir pemuda bule itu membulat bersamaan. "My mother-in-law," celetuk Rich.


Chandra menimpali. "Menurut informasi, Mbok Rukma sajalah yang telah melupakan perbuatan Mr. Rich di masa lalu. Ia bahkan sudah ikhlas."


"Really, Pak Chandra?" terkejut Rich.


Chandra menganggukkan kepala. Rich melempar senyum pada Rukma sebagai sapaan, yang ternyata membalas senyum Rich. Walau sebentar, karena Morren meliriknya tajam.



°°Masa mudanya Rukma, karena gak nemu yang tua ya ... hanya visualisasi aja🤭


"Gila! Meskipun sudah setengah baya, ibunya Alda masih terlihat cantik ya, Pak Chandra. Pantas saja Tuan Morren jatuh hati? Alda saja cantik begitu!" cerocos Firheith.


"Dulunya kembang desa di kota Gianyar, Mr. Fir. Dengar-dengar pula, Tuan Morren lah yang mengejar-ngejar Mbok Rukma dari Jerman sampai ke Bali!" lanjut Chandra.


"Ceritanya kok, mirip-mirip Rich dan Alda? Jangan-jangan ... Tuan Morren kena tulah?" kikik Firheith menerawang.


Rich yang sambil menanam padi pun tersenyum-senyum, yang ternyata diperhatikan diam-diam oleh Alda.


Hingga sebelum menjelang sore hari. Semua padi-padi itu telah selesai ditanam oleh mereka dan itu membuat Morren kelabakan.


"Bagaimana bisa secepat ini?" wajah Morren menunjukkan bahwa ia tak percaya dan tak terima. Matanya membulat sambil berkacak pinggang, saat melihat sawahnya sudah ditanami padi dengan sangat rapi.


Jelas saja, karena Rich menyuruh Chandra untuk mendatangkan para petani khusus yang sudah ahli di bidangnya dan telah malang—melintang di dunia persawahan selama beberapa tahun. Mereka pun lebih cekatan menyelesaikannya dari petani pada umumnya. Tentu saja dengan upah yang lebih mahal.


"Bahkan, di luar kesepakatan. Sebelum petang, saya sudah menyelesaikannya Tuan Morren," jawab Rich yang menghampirinya dalam keadaan bertelanjang dada, yang menampilkan susunan perutnya yang kokoh itu. Membuat jantung Alda berdebar-debar segera menundukkan pandangan.


"Wah! Sawah kita terlihat lebih baik dari sebelumnya, Pi!" sahut Rukma.


Rich segera mencuri perhatian wanita paruh baya itu. "Terima kasih, Bu. Boleh saya berkenalan?" tangan Rich terjulur ke depan.


Namun, Morren cepat menggeser tubuh Rukma ke belakang tubuhnya.


"Tak usah sok akrab!"


Tangan Rich kembali ditarik dan menghela napas panjang sambil tersenyum membawa bungkusan nasi dari Alda yang ia lirik.


"Baiklah, Tuan Morren. Saya harap Anda tidak lupa kesepakatan kita berdua. Nanti malam, saya izin main ke rumah Tuan Morren untuk bertemu Alda," ucap Rich yang membuat Alda kembali memandanginya. "Sekarang saya permisi dulu, mau makan siang dengan nasi bungkus yang pastinya lezat ini." Sengaja Rich keraskan sehingga kedua pipi Alda bersemburat merah.


Morren membuang muka tak peduli, ia melanjutkan makan bersama keluarganya. Sedangkan Chandra dan kelima puluh petani tadi pulang lebih dulu. Menyisakan Rich dan Firheith yang duduk menselonjorkan kakinya di bawah pohon pisang tak jauh dari saung mereka.


"Umm, enak banget nasi bungkusnya. Ini yang bulat-bulat apa sih, Rich? Bumbunya hitam tapi agak pahit dan kenyal," celetuk Firheith yang mengunyahnya dengan rakus, setelah Rich membaginya sebungkus.


Malah nasi kotak yang berisi menu mewah dari Chandra. Rich sengaja tak makan dan membagikannya pada petani di sekitarnya duduk. Demi memakan nasi bungkus kiriman dari Alda.


"I don't know, Fir. Aku lupa bertanya pada mbak-mbak cantik yang berjualan nasi itu?" Rich melirik Alda yang salah tingkah, tak tahu jika diperhatikan oleh Rukma. Saat putrinya itu hanya mengaduk-ngaduk makanannya dari tadi tanpa dimakan.


Salah seorang petani menimpali. "Oh ... Itu namanya rendang jengkol Mister!"


"Jengkol?" kening Firheith dan Rich mengernyit, karena baru kali ini mereka memakan jengkol.


"Ya, Mister. Biasanya kalau tidak pintar memasaknya pasti masih keras, bau dan jarang orang suka. Saya yakin yang masak ini sudah ahli dan rasanya enak. Maka dari itu, Mister-mister langsung suka!" ungkap petani tersebut yang kemudian diterjemahkan Rich pada Firheith.


Ehem! Ehem!


"Boleh tidak ya, Pak. Seandainya saya bertemu yang masak jengkol ini?" goda Rich ternyata tak sengaja didengar oleh Morren yang menunya ternyata sama.


"Tentu boleh dong, Mister. Tapi belinya di mana? Kalau warung makan di sini saya tahu semua nama penjualnya."


"Wah! Saya suka penjual nasinya. Eh! Maksud saya, suka sekali masakannya yang lezat. Andai bisa dijadikan istri?" goda Rich lagi.


Alda tersenyum malu-malu. Morren pun mulai curiga, jangan-jangan Alda lah yang dimaksud. Karena menu yang dimakan juga ada rendang jengkolnya. Namun, ia sengaja diam karena memikirkan suatu rencana.


...----------------...


Brakk!


Seiring bunyi pintu mobil ditutup. Beberapa saat kemudian, pintu rumah Morren juga terdengar diketuk.


Noah yang sedang belajar di ruang tamu langsung menyibak gorden dan mengintip ke luar jendela. "Woah! Ada mobil sport ferari tiffany blue yang terparkir di halaman rumah kita, Mami!" serunya menunjuk-nunjuk.


"Ferrari?" sahut Alda yang hendak mengintip.


Namun, ia terhalang oleh Morren yang meliriknya dengan tajam dan menyuruh Noah dan Alda masuk ke dalam kamar.


"Yeah? Nono. Noah kan, ingin lihat mobil sport itu!" kecewa Noah yang terpaksa mengikuti Alda setelah dibujuk.


"Nono bilang masuk, Noah. Jangan membantah!" kecam Morren.


"Baik, Nono."


Setelah mereka di pastikan sudah masuk. Morren pun membukakan pintu dan terlihatlah Rich berdiri di ambang pintu itu, dengan tersenyum hangat. Membawa bungkusan paper bag besar di tangan kanannya.


"Malam Tuan Morren," sapa Rich.


"Hmm, masuklah!" suruh Morren ketus, lalu ia memanggil Alda. "Al, keluarlah! Ada si kutu busuk kemari!"


Alda di dalam kamar membujuk Noah supaya tetap tinggal. Sementara Alda mulai keluar, berjalan dengan langkah resah saat menghampiri Rich.


Morren memperhatikan tajam mereka berdua yang saling lirik. "Duduk!" suruhnya pada Rich.


Sehingga Alda dan Rich duduk di ruang tamu, tetapi ia mengatur posisi mereka dengan jarak berjauhan. Apalagi ia yang berada di tengah-tengah, mengawasi mereka berdua yang membuat Rich menjadi canggung.


Tetapi Rich tak peduli, yang penting ia diizinkan bertemu dengan Alda lagi. "Al, apa kabar?"


"Baik," jawab Alda sambil menyelipkan rambutnya ke telinga.


Rich menyodorkan satu buah paper bag dan buket bunga tulip yang sengaja disembunyikannya dari tadi di belakang punggung sejak ia datang.


"Ini untukmu, Alda. Apakah kau suka?" tanya Rich saat Alda menerima buket bunganya dan mencium harum bunga tulip merah itu dengan wajah berseri.


"Terima kasih, seharusnya tidak perlu repot—"


Tiba-tiba Noah menyembul di sebelah Alda. "Wah! Ada Om Rockie! Jadi mobil ferrari itu punya, Om?"


"Noah? Kau juga ada di sini sayang?" heran Rich yang membuat ia sangat penasaran langsung bertanya. "Al, sebenarnya Noah ini anaknya siapa?"