
Alda menemui Rich yang tengah duduk di teras siang itu, salah satu tangannya menggapai bahu Rich dengan lembut. Tangannya yang lain menyerahkan secangkir kopi.
"Pesananmu boo," ucap Alda diiringi senyuman semanis gula.
"Ah, benar-benar sweet. Thank you." Rich yang gemas menjalin tangan Alda, membawanya duduk ke pangkuan.
Alda tersenyum sambil membelai rahang Rich yang di tumbuhi bulu itu, sungguh terlihat jantan dan macho.
"Gara-gara gabah itu disimpan di garasi, mobil ferrari-mu jadi kepanasan terjemur di bawah terik matahari, maaf ya boo,” sesal Alda melirik ke depan halaman di mana mobil ferrrari mewah itu terparkir dengan penutupnya yang tersingkap angin.
"Tidak masalah sweety. Jika cat mobil itu mengelupas, aku tinggal beli yang baru di showroom," enteng Rich.
Alda membulatkan mata tidak setuju, kepalanya menggeleng. Tapi Rich malah diam-diam mencium bibirnya yang manyun itu. Sehingga ia memukuli dada Rich, ketika mulai kehabisan nafas.
“Kau menciumku berlebihan, bagaimana kalau dilihat orang?” protesnya.
Rich mencubit gemas dagu Alda, rasanya ingin menggigit. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat, ada banyak pekerja berlalu lalang. Tadi mumpung sepi jadi ia bisa mencuri ciuman darinya karena mulutnya terasa asam.
“Biarkan saja, kita sudah menikah dan sah-sah saja.”
“Selalu pintar mengelak.” Alda menggeleng, “oia boo, kapan tengkulaknya akan datang? Sudah jam sebelas siang, sebentar lagi kau kan, harus menjemput Noah dari sekolah.”
“Pak Sahrul sedang dalam perjalanan ke mari, mungkin lima menit lagi sampai. Tolong siapkan satu lagi kopi untuknya, ya?”
“Baiklah suamiku, tapi bagaimana dengan harganya? Apakah dia sudah sepakat?” tanya Alda.
“Sudah, tenang saja. Kalau suamimu yang mengurus semua pasti beres,” jawab Rich sambil meremas bokong Alda saat akan berjalan menuju pintu.
“Auw!” desis Alda terperanjat, kesal lalu memicingkan mata pada Rich yang suka iseng. “Dasar suami mesum!”
Gelak tawa Rich semakin keras, melihat wajah Alda yang memberengut itu. Ia menyukai mimik Alda saat marah, karena pipinya akan semakin bertambah chubby.
**
Dua menit setelah Alda masuk ke dalam rumah, terdengar bunyi klakson dari sebuah mobil pickup yang baru saja terparkir di depan pagar. Satu mobil lain berjenis pajero juga menyusul di belakang pickup itu.
“Selamat siang Mr. Rich,” sapa Chandra yang berjalan dengan Bapak-bapak berpostur sedang yang berkemeja batik dengan rambut disisir menyamping.
Rich mengangguk sambil memperhatikan tampilan pria yang diduga Pak Sahrul itu. Tampilannya rapi dengan kumis melintang lebat dan tersenyum ramah seperti bukan tengkulak gabah pada umumnya. Rich menjabat tangannya, kemudian mempersilahkan duduk ke ruang tamu. Namun, pria setengah baya itu lebih memilih duduk di teras yang katanya udaranya lebih segar.
“Jadi mau dicek langsung gabahnya?” tawar Rich yang sudah deal harganya.
Pak Sahrul setuju, Rich langsung mengantarnya ke garasi ditemani Chandra. Saat itu kebetulan Rukma tengah melintas, sepulang dari rumah Mutia mengantar kue yang dibeli oleh Rich kemarin dari toko.
“Bu, kemarilah! Ada Pak Sahrul yang akan membeli gabah kita,” panggil Rich membuat Rukma menghampiri mereka bertiga.
Rukma berjabat tangan dan memperkenalkan dirinya singkat. Kemudian Rich menyuruh pekerja di sana untuk membuka tali karung untuk menunjukkan bulir gabahnya sebagai contoh.
“Wah! Gabahnya berkualitas Mister, kalau seperti ini sih, saya sangat cocok. Bahkan ke depannya saya mau terus mengambil gabah dari Mr. Rich,” kata Pak Sahrul membuat Rukma terharu.
“Rich, terima kasih banyak ya, Nak. Ini semua berkatmu,” lirih Rukma memandang sang menantu yang dianggap pahlawan.
“Ibu tak perlu berterima kasih padaku, memang sepatutnya aku membantu ibu. Lagi pula gabah ibu berkualitas dan layak mendapat harga yang pantas. Jadi mulai sekarang, ibu jangan pernah berurusan lagi dengan juragan sapi itu. Jika ibu ada masalah atau sesuatu yang perlu dibereskan, serahkan semuanya padaku!” ucap Rich.
“Ya, kau benar Rich.” Rukma mengangguk setuju, setidaknya setelah suaminya tiada. Ada sang menantu yang bisa diandalkan.
Bagaimana ibu mertuanya kini tak semakin bangga punya menantu seperti Rich? Baru satu masalah yang menurut Rukma berat saja dengan mudahnya Rich atasi. Apalagi masalah lain?
“Apakah Mr. Rich setuju dengan tawaran saya untuk bekerjasama?” tanya Pak Sahrul mengurai kesyahduan antara mertua dan menantu itu.
“Pak Sahrul bisa menanyakan langsung pada ibu mertua saya,” jawab Rich yang melirik Rukma yang mengangguk cepat.
“Mulai sekarang, urusan sawah ibu serahkan pada menantu saya, Pak Sahrul.” Rukma memberi mandat, karena pikirnya Rich dianggap lebih ahli. “Kau mau kan, Nak?”
Alda yang selesai menaruh beberapa cangkir kopi di meja, mendengar permintaan ibunya. Lantas menghampiri Rich dan menatapnya intens. Menunjukkan sebuah pengharapan besar dari pantulan puppy eyes nya supaya sang suami mau menerima.
Rich menarik nafas panjang kemudian berucap, “baiklah kalau begitu, Bu. Dan Pak Sahrul, saya juga setuju menjual gabah-gabah saya selanjutnya pada Anda. Kerjasama ini pasti awet, asalkan Pak Sahrul tak mengkhianati saya,” tegasnya.
“Deal!” Pak Sahrul menghentak jabatan tangannya ke tangan Rich, menunjukkan kesepakatan sejak hari itu.
Rich merasa inilah waktu yang tepat baginya untuk membalas budi atas pengorbanan Morren yang pernah menyelamatkan nyawanya. Lebih-lebih hanya dia saja pria yang ada di rumah itu yang harus bertanggung jawab menjaga mereka semua, terutama Alda dan Noah.
***
Kabar soal gabah di sawah Rukma yang terjual dengan harga tinggi, seketika merebak luas di kalangan petani. Mereka pun berbondong-bondong meminta tolong pada Rich untuk menjadi perantaranya dan demi kemanusiaan, Rich mau menolong mereka.
Ternyata hal itu membuat juragan Indra ketar-ketir dan kelabakan. Sehingga ia mendatangi rumah para petani secara dadakan untuk menagih hutang sebelum jatuh tempo bersama para centengnya.
“Keluar kau Pak Udin! Waktunya jatuh tempo! Jangan bersembunyi di balik ketiak istrimu!” teriak dua centeng itu sambil menggedor keras pintu rumah pria tua itu, yang sepenuhnya terbuat dari kayu.
Meskipun rumahnya sederhana terbuat dari kayu, tapi tanah pekarangan dan sawahnya cukup luas. Terlebih rumah Pak Udin yang letaknya strategis di pinggir jalan. Juragan Indra sudah percaya diri, bahwa hari ini semua aset Pak Udin akan menjadi miliknya dengan dalih Pak Udin tak bisa melunasi hutang.
“Pak, itu suara centengnya juragan Indra. Ibu takut,” ucap istri Pak Udin yang gemetar.
“Tenang saja, Bu. Kita nggak usah takut, karena hari ini Bapak akan menyelesaikan urusan kita dengan juragan kejam itu,” jelas Pak Udin membuat istrinya cukup tenang.
Pak Udin membuka pintu, tapi satu centeng itu malah menarik kasar kerah kemeja Pak Udin yang lusuh. Lantas mendorongnya dengan kasar sampai terjatuh di bawah kaki juragan Indra.
“Bangun!” hardik juragan Indra menendang tubuh Pak udin yang ringkih.
Dibantu istrinya, Pak Udin kemudian bangun. Berdiri berhadapan dengan juragan Indra yang kembali mengintimidasinya dengan menjambak rambut Pak Udin.
“Hutangmu sudah jatuh tempo, jadi kau harus mengosongkan rumahmu sekarang juga Pak Udin!” bentaknya, “Nanang, Anto. Keluarkan barang-barang milik pria tua ini sekarang juga!” perintah juragan Indra kepada dua centengnya.
“Siap juragan.”
“Tu-tunggu juragan, saya rasa ini belum waktunya jatuh tempo. Lagi pula hari ini saya mau melunasi hutang-hutang saya dan menebus sertifikat milik saya pada juragan. Hutang saya dua puluh juta, kan?” sergah Pak udin.
Mendengar hal itu membuat Juragan Indra menghembuskan nafas murka, giginya mengerat dan tak sekalipun melepas cengkramannya pada Pak Udin yang kini semakin tercekik.
“Tolong lepaskan suami saya juragan, saya mohon…” desis istri Pak Udin memohon dengan terisak-isak.
Bukannya melepas, justru juragan Indra membentaknya. Mata juragan Indra melotot tajam yang mengarah pada Pak Udin dan Istrinya yang menunduk ketakutan.
“Diam kau dan jangan ikut campur! Enak saja dua puluh juta!” sentak juragan Indra. “Anto, bawa surat perjanjian hutang Pak Udin dan perlihatkan padanya berapa hutangnya sekarang!”
“Baik juragan,” sahut Anto yang kemudian memperlihatkan surat itu dengan melemparnya ke muka Pak Udin.
Pak Udin seolah dipaksa menelan batu kerikil saat melihat nominal hutangnya yang berbunga selangit, dari dua puluh juta rupiah menjadi lima puluh juta rupiah. Ia pun seketika syok berat dengan tubuhnya yang merosot lemas.
Sungguh! Si lintah darat itu sudah membuatnya syok dan memeras-nya habis-habisan. Memanfaatkan kebodohannya untuk dijadikan sebuah keuntungan sepihak. Dari mana ia bisa mendapatkan uang lima puluh juta secepat itu? Karena sekarang ia hanya mengantongi uang tiga puluh juta rupiah.
Dan gara-gara keributan itu, akhirnya menuai atensi para tetangga yang seketika berkumpul di luar pagar Pak Udin. Mereka kasihan tapi hanya bisa menyaksikan tanpa berani menolong. Takut sekali akan berimbas pada diri mereka sendiri, sebab juragan Indra memiliki koneksi kuat yang bisa menghancurkan mereka dengan sekali tepuk.
Bukh!
Bukh!
“Aaaargh!”
Beriring erangan Pak Udin yang kesakitan dipukuli para centeng saat melawan mereka yang mengeluarkan barang-barangnya keluar secara paksa dari rumah. Rich yang berboncengan dengan Alda pun kebetulan melintas dan melihat kerumunan para warga.
“Sweety, kenapa para warga berkerumun di sana? Apakah ada pertunjukan?” tanya Rich yang tak mendengar suara apa pun sebab telinganya tersumpal earphone.
“Bukan pertunjukan, Boo. Tapi sepertinya Pak Udin dalam masalah, kita bantu dia, ya?” pinta Alda tak tega.
“Oh..." Rich terkekeh.
"Jadi mau bantu tidak? Kasihan dia, Boo. Please," rayu Alda dengan lemah lembut.
"Baiklah. Apa sih, yang Bli Rich tidak bisa kabulkan demi istrinya yang cantik dan seksi ini?” godanya melirik Alda yang wajahnya blushing.
Rich memarkirkan motornya lalu mengajak Alda turun dari motor. Sementara para warga hanya bisa melongo setelah itu, saat Rich langsung menepis tangan Nanang dan Anto yang hendak memukul wajah Pak Udin.
“Hey, bule sok kegantengan. Jangan ikut campur urusan kami, ya!” maki Anto dan Nanang yang bersiap menyerang Rich.
Pak Udin dan istrinya langsung berlindung ketakutan di belakang tubuh Rich yang tinggi menjulang. Sementara Alda cekatan mengeluarkan ponselnya dari tas dengan camera on, bersiap merekam kejadian itu.
“Aku memang ganteng. Baru tahu, ya? Kasihan. Dan kalian itu kenapa berbuat semena-mena pada Pak tua ini, hah? Tak bisakah menyelesaikan semuanya dengan cara manusiawi?” tanya Rich masih bersikap tenang.
Anto dan Nanang tertawa keras sambil menggosok hidungnya dengan gaya sok jagoan.
“Mau cari mati rupanya? Belum tahu siapa kita?” kelakar mereka berdua.
Rich menyunggingkan senyum smirk, melipat lengan kemejanya hingga ke siku dan memasang badan untuk melindungi Pak Udin. Melangkah semakin mendekati dua centeng itu, menantang dengan sengaja menabrakkan tubuhnya yang kekar ke bahu mereka begitu keras.
“Oh, jadi superheronya para petani sudah datang?”