
Derasnya guyuran air hangat dari shower dibiarkan menerjang seluruh tubuh. Matanya terpejam kuat, menginginkan wujud dari mimpi itu kembali terlintas memenuhi pikiran.
Senyuman manis pembangkit jiwa yang layu. Bagaimana perpisahan begitu menyiksa setelah pertemuan yang terbilang singkat? Rindunya malah semakin besar dan bukannya malah teredam karena egoisnya berharap lebih dari sekadar pertemuan. Tidak hanya sekali pertemuan. Namun, berkali-kali terus bertemu. Kenyataannya harapan tak sesuai ekspektasi, waktu lebih cepat berlalu dan Rich benci itu.
"Alda datanglah ..." Rich memeluk tubuhnya sendiri, menyugar rambutnya ke belakang dan menengadahkan wajahnya yang dihujani tetesan air yang bagaikan tusukan keras menyayat kulit. Baginya itu lebih baik, daripada harus tersiksa oleh rindu.
Satu jam lelah pikirannya, kini ia merasa cukup membaik. Rich keluar dari bathroom dengan membalut handuk ke bawah pinggang. Berjalan ke wardrobe, mengambil kaos hitam dengan celana pendek berwarna sama.
📲 Cello calling ...
Bokongnya dihempas ke ranjang, mengerling tak bergairah pada nama di layar ponsel itu. Mengangkatnya dengan terpaksa. “Halo?”
Cello: “Kenapa teleponku tak diangkat calon suami?”
Kelopak mata Rich terbeliak, panggilan suami yang belum sepenuhnya sah itu memuakkan di telinga yang terdengar panas. Satu tangan Rich mencabik-cabik bantal hingga isi kapasnya terburai ke udara. Menggantikan ambisinya ingin merobek mulut Cello yang terlalu menggebu-gebu.
Rich: “Aku tidur, kurang enak badan!”
Cello: “Kau sakit baby? Sakit apa?”
Suara Cello menggambarkan keterkejutan yang berlebih, begitu mengkhawatirkan Rich. Hingga ia memutuskan segera menyambangi Rich ke aparteman. Tetapi, Rich mencegahnya dengan cepat. Kedatangan Cello bukannya malah menyembuhkan Rich, sebaliknya kepala Rich akan bertambah pusing.
Rich: “Kau yang menyebabkan sakit itu, malah balik bertanya?”
Cello: “Aku, tak paham apa maksudmu baby. Jangan berbelit-belit.”
Rich menghembuskan napas naga yang panas itu, merotasikan mata dengan dada naik turun menetralkan gejolak emosi yang mendidih di kepala.
Rich: “Bagaimana kau paham? Sejak dulu kau tak pernah memahamiku? Kau selalu seenaknya sendiri, Cello. Jika otakmu tak geser, cobalah kau pikir! Mana ada orang ngidam hujan-hujanan tiga jam di tengah badai dan petir? Jangan-jangan yang ada di perutmu itu bukan bayiku. Tapi bayi setan!”
Cello: “Rich! Jaga bicaramu! Kau suka memarahiku! Aku kesal, kesal!!”
Rich: “Kau jauh lebih mengesalkan dan menjengkelkan!”
Pria itu tak pernah lembut pada Cello, omongannya kasar dan tak berfilter. Walau begitu, entahlah Cello malah tergila-gila. Keindahan tubuhnya dan obsesi atas sentuhan panas dari Rich lah yang membuat Cello ketagihan.
Cello: “Ah, sudahlah. Aku tak ingin berdebat denganmu yang tak ada habisnya. Ingat, Rich! Ini anakmu bukan anak setan. Jika ini anak setan, maka kaulah setannya.”
Rich ingin makan orang saat ini, Cello membuat mood-nya seketika berantakan dan darah tinggi. Kepalanya makin sakit dan tubuhnya meriang.
Cello: “Oia, besok jangan lupa, Baby. Siang kita harus datang bersama ke butik Venecia Gordi untuk fitting gaun dan jas pengantin. Kau jemput aku atau aku menjemputmu?”
Rich: “Kita datang masing-masing.”
Cello: “Kau sungguh tidak romantis, Rich. Sekali-kali bersikaplah lembut padaku layaknya kekasih pada umumnya. Dimanja-manja dan disayang. Apalagi dalam waktu dekat, kita akan menikah.”
Setelah mendengar itu, Rich terbahak-bahak secara refleks.
Rich: “Kamu tanya? Bertanya-tanya? Kenapa aku bisa begitu? Ya. Jawabannya, karena aku tak pernah mencintaimu. Kekasih? Kapan aku menembakmu? Kapan juga aku memproklamirkanmu sebagai kekasih? Tidak pernah. Bahkan, aku menikahimu juga terpaksa, kalau kau tidak hamil anak setan itu.”
Cello: “Aaaaahh! Ini bukan anak setan. Ini anakmu. Pokoknya besok kau harus datang. Jika tidak, kau akan kuadukan pada daddy!”
Andalan!
Rich sudah menduganya. Jika Moreno Izakh akan dijadikan senjata ampuh oleh Cello yang membuat Rich tak berkutik.
Rich: “Oke. Aku datang, sudah dulu. Aku mengantuk.”
Rich menyudahi telepon itu sepihak dengan bernapas besar. Ponselnya sengaja di nonaktifkan sementara waktu, supaya Cello tak mengganggu tidur nyenyaknya. Ia pun kembali menarik selimut dan menyambung separuh waktu malam, berharap merajut mimpinya lagi bertemu dengan Alda.
...----------------...
Fire Base Agency, pukul 08.00 Kolwezi.
“Pagi, Senor Rich.” Seorang wanita berpakaian putih menerawang dengan rok span sepaha memasuki ruang kerja Rich. Jalannya dibuat menggoda, berlenggang kaki menunjukkan pahanya yang putih mulus ke arah Rich sambil membawa berkas.
“Pagi Lisa, apa jadwal meeting hari ini?” Rich sibuk mengecek salinan kontrak kerja yang harusnya ditanda tangani olehnya kemarin. Lagi pula tanpa melihat, dia sudah tahu siapa nama wanita yang masuk ke ruang kerjanya. Dikenali dari bau parfum musk yang menusuk hidung. “Coba tunjukkan jadwal meetingku.”
“Baik, Senor.” Lisa merendahkan dadanya ke depan mata Rich saat membungkuk ketika menunjukkan daftar meeting di tablet.
Rich menaikkan pandangannya ke layar tablet itu. Lisa mulai menggeser slide demi slide layarnya. “Pukul delapan, meeting dengan klien dari Glamour Agency. Pukul sembilan dengan klien dari Kamboja dan Vietnam.” Suara Lisa juga sengaja dibuat sensual, selain tiga kancing blus nya yang dibuka hingga dadanya yang besar berhimpitan. “Oia, ada lagi Senor...”
Rich memotong ucapan Lisa. “Kau tidak pakai bra?”
Lisa menggigit bibir bawahnya cekikikan. Kedua pipinya yang putih blushing. “Kelihatan ya, Senor? Ah, jadi malu.”
Rich iseng menggodanya sekalian dengan melempar senyumnya yang menawan dan Lisa langsung belingsatan tak karuan menelan ludah.
“Omong-omong, apakah Senor sudah sarapan?” tanya Lisa yang entah kenapa setiap kalimatnya diakhiri dengan desa**n. Bergerak seperti cacing kepanasan menggoda Rich.
Lisa tahu jika bosnya ini royal soal uang. Bahkan ia jug tahu jika Rich suka menikmati tubuh wanita dan memberikan segalanya asal servisnya memuaskan.
“Sarapan menu apa?” Rich pura-pura tak tahu.
“Susu mungkin, di tambah selai vanilla. Jika belum, saya bisa menyiapkan untuk Senor. Asalkan ...”
“Asalkan apa, hum?” Rich menyilang kaki sambil menopang dagunya di atas meja, menatap Lisa yang semakin mendekat dan sekarang berani duduk di atas mejanya. Dia sudah paham apa yang semua wanita matrealistis inginkan.
“Saya ingin tas Hermes, jalan-jalan keliling Eropa dan shopping. Itu saja Senor Rich,” kata Lisa mulai membuka satu persatu kancing blusnya.
“Ehm!” Rich berdehem dan mengangguk.
Bibir Rich tersenyum licik lalu menarik kursi putarnya mendekati Lisa yang sudah setengah polos. Rich meraih dada itu dan meremasnya.
“Ah! Ah! Senor ... Ah! Lebih cepat!”
Lisa merasakan dirinya tersedot ke dalam pusaran badai tornado yang menghangatkan seluruh tubuhnya jadi basah.
Waktu terus bergulir dan tak terasa menuju makan siang. Rich melupakan sesuatu jika dia mempunyai janji dengan Cello akan pergi fitting gaun pengantin di sebuah butik. Terlalu sibuk bermain-main dengan Lisa membuat Rich tak tahu waktu.
Sementara di luar gedung Fire base, wanita itu datang menemuinya dengan wajah cerah. Tersenyum ketika di sapa setiap karyawan di sana yang mengetahui jika Cello adalah tunangan dari pemilik Fire Base— Richard Louis.
Ting!
Lift terbuka, Cello melangkah keluar dengan tergesa menuju ke depan ruangan Rich yang dijaga dua orang security. Tunangannya itu tak bisa dihubungi lagi, semenjak semalam terakhir kali telepon. Sehingga Cello memutuskan datang langsung ke Fire Base Agency.
“Tunggu, Miss.” Dua security mencegah Cello yang akan membuka pintu.
Kening Cello mengerut, menatap tajam mereka semua. “Aku ingin menemui, Rich. Minggir kalian!”
“Tapi Senor tidak ada di dalam. Beliau sedang ada di luar.” Security berwajah seram itu mengatakannya dengan sikap kikuk dan Cello bisa menebak jika mereka berbohong.
“Heldi—resepsionis di bawah mengatakan Rich di tempat. Jadi tak usah mengelak lagi atau kalian aku pecat!” ancam Cello.
Wajah kedua security langsung berubah memucat, tak berani menghalangi Cello dan membiarkan wanita cantik itu bertindak sesuka hati. Membuka pintunya yang ternyata dikunci dari dalam. Sedangkan Rich yang sedang menumbuk di dalam ruangannya yang kedap suara, tak tahu Cello sudah berdiri di depan pintu.
"Benar kata kami, kan, Miss? Senor tidak ada.” Salah seorang security membuka suara.
Cello mengintimidasi lewat tatapan membunuh, mengeluarkan cadangan kunci dari dalam tas mewahnya, yang membuat tubuh dua security langsung gemetar.
“Jika aku melihat Rich ada di dalam. Tamatlah riwayat kalian!” Cello menghardik sambil menekan handle pintu itu ke bawah.
Ceklek!
Cello tergemap di pintu dengan wajah merah padam. Suhu tubuhnya naik drastis menjerit kencang lalu membanting pintunya sangat keras.
“Rich!!!”
“Ya?”
Rich menoleh santai mengetahui kedatangan Cello, ketika tubuh polosnya terekspos berada di atas Lisa yang naked. Tidak Lisa yang mencabut segala kenikmatan duniawi itu dengan wajah pucat, pontang panting memunguti pakaiannya dengan kaki— tangan gemetar dan segera bersembunyi di balik sofa.
“Kenapa datang kemari tak info dulu?” Rich menghempaskan bokongnya dan duduk di sofa. Lalu menutupi bawahnya dengan bantal. Menyulut rokok dan mengepulkannya ke udara.
Sedangkan Cello yang emosi. Bersungut-sungut melangkah cepat, mengedarkan pandangannya ke semua arah mencari sesuatu. Byuurr! secangkir kopi panas di meja Rich, disiramnya ke tubuh Lisa yang seketika histeris.
"Panas! Panas! Auw! To ... Tolong!” Lisa terpaksa keluar dengan tubuh polosnya yang menghitam karena guyuran kopi.
"Cello apa yang kau lakukan?" Rich menahan Cello yang akan menjambak rambut Lisa.
"Dia sudah berani menggoda calon suamiku. Dasar brengsek! Wanita hina, murahan. Sini kau!” hardik Cello tak terima, karena Lisa telah berbuat memalukan dengan Rich. Ia rasa Lisa harus diberi pelajaran setimpal.
"Ampun, Miss. Saya khilaf, aaakh!” pekik Lisa kesakitan saat Cello sudah menjambak rambutnya sangat brutal. Rich bahkan tak menyangka, tak bisa menahan kemarahan Cello yang di luar batas.
"Tidak ada maaf bagimu, pelacur!” Cello menyeret Lisa keluar dari ruangan Rich. Sementara Rich cepat mengenakan celananya lalu menyusul.
Sayangnya terlambat, dia kalah cepat. Karena Cello telah menendang Lisa keluar dari pintu dengan keadaan tak berhelai.
"A-ampun Miss. Ampun ..." Lisa memohon-mohon, tapi Cello bukanlah wanita pemaaf. Dia tak akan membiarkan siapapun merebut miliknya.
Cello membuat Lisa dipermalukan di depan umum. Cello memanggil semua staf Fire Base untuk berkumpul menyaksikan Lisa yang polos, berlutut di bawah kakinya dengan rambutnya yang masih ia jambak.
"Dengar kalian semuanya! Mulai detik ini, jika ada yang berani menggoda calon suamiku— Rich. Maka aku tak segan-segan.” Cello mengeluarkan pisau dari tasnya, lalu dengan cepat menusuk dada Lisa. Hingga wanita itu ambruk ke bawah lantai, kejang-kejang menghembuskan nafas terakhir. “Akan bernasib sama seperti pelacur itu!!”
Semuanya ketakutan, hening menyaksikan teman seprofesinya yang bernasib tragis dan Rich pun hanya bisa menegang di ambang pintu. Melihat wajah asli Cello untuk pertama kali.