Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
65. Pergi ke Indonesia



Rich masih belum menemui Firheith di lokasi janjian. Ia memasuki kawasan bengkel yang ada di tepian kota Kinshasa, desa Matete.


Seseorang bertubuh bengkak menghampiri Rich dengan tangan penuh oli dan kacamata pelindung las. Merendahkan kepalanya yang menengok ke dalam kaca mobil, begitu Rich masih di dalam dan mematikan mesin. "Bos, semuanya aman terkendali?"


"Aman N'sele. Meskipun tadinya, aku sempat diikuti oleh anak buah si Cello— Eagle Fleet." Rich keluar dari mobil.


Bersisian jalan sambil mengobrol dengan N'sele ke dalam bengkelnya. Di mana bengkel itu bukanlah bengkel biasa. Melainkan bengkel yang hanya beroperasi sebagai tempat penadah curian motor dan mobil. Semua organ dan body kendaraan akan dipermak di sini, untuk mengelabui Polisi. Sebelum diambil pemesan dan dibawa ke pasar gelap.


"Untung Bos jagoan!" N'sele memujinya dengan senyuman lebar.


Rich menepuk dadanya sendiri dengan kepalan tangan. "Richard! Mereka bukan tandinganku. Omong-omong apakah motor yang aku minta sudah kau siapkan?"


"Sudah siap Bos. Itu dia!" N'sele menunjuk sebuah motor trail di sebelah bengkel, dengan pengendara yang duduk di atasnya. Berjaket kulit gelap beserta helm full face yang menyapa Rich dengan salam tos.


Rich membalas tos tangan pria itu. "What's up bro! Siapa namamu?"


"Saya baik, Bos. Nama saya Roman." Roman tersenyum pada Rich, setelah membuka separuh helm.


"Oke, tunggu sebentar Roman! Aku akan berganti kostum dulu!" Rich menoleh pada N'sele yang mengarahkan tangannya ke dalam gubuknya.


N'sele mengantar Rich ke sebuah kamar minimalis yang hanya berisi kasur lantai dan sebuah cermin. Begitu Rich masuk ke dalamnya. N'sele kembali ke depan dan bergabung dengan yang lain.


Sebuah kresek hitam yang Rich bawa dari tadi dibuka. Ia mengeluarkan sebuah Trench Coat hitam dari sana, lalu melepas kemeja dan jas formalnya untuk mengenakan kaos hitam biasa yang dilapisi dengan Trench Coat itu.


Demi meyakinkan penyamarannya kali ini. Rich juga memasang kumis dan brewok palsu di wajahnya. Setelah menempel sempurna, Rich melapisi rambutnya dengan sebuah wig mode rambut gondrong sebahu. Di tambah topi rajut yang dipasang ke kepala dan softlens hitam yang membuat penampilannya kini berubah total.


Rich kemudian keluar dari kamar menuju N'sele di luar dan bertanya. "Bagaimana penampilanku?"


"Anda Bos Richard?" N'sele celingukan ke dalam gubuknya begitupun yang lain. Kemudian menatap pria asing di hadapannya dari atas hingga bawah sepatu boots—nya. "Anda muncul dari dalam kamar dan ... Oh! Suara Anda sangat mirip dengan Bos Rich. Apakah Anda sudah menghabisi nyawanya—" N'sele berancang-ancang mengeluarkan senjata api dengan tiba-tiba, diikuti yang lain.


Rich menyenggol bahu N'sele dengan bahunya cukup keras, sampai pria bertubuh bengkak itu terhuyung mundur dan senjatanya terjatuh. "Woi! Hahaha ... Ini aku N'sele? Rich. Baguslah jika kau tak mengenaliku, karena itulah yang aku harapkan." Sambil mengusap brewoknya, Rich tersenyum puas.



"Sempurna, Bos. Kami saja tak mengenali Anda, jika bukan dari suaranya." N'sele dan Roman berdecak kagum saling melempar senyum.


N'sele menambahkan. "Aku yakin, Bos pasti tak mudah dikenali geng Eagle Fleet dan sekarang mereka gigit jari, setelah tak menemukan Anda di mana-mana lalu mereka dihukum oleh Tuan Izakh di tiang gantungan."


"Hahaha ...!" tawa mereka semua membahana.


Rich mengangguk-angguk setuju lalu menagih sesuatu pada Roman. "Mana pasporku, Roman? Apakah Juliot sudah menitipkannya padamu?"


Amplop coklat diberikan Roman dari balik saku jaket kulitnya pada Rich. Rich membuka amplop itu yang berisi paspor palsu dengan wajah dan identitas barunya sekarang.


"Terima kasih, Roman. Kau memang bisa diandalkan. Sekarang mari kita berangkat ke Kinshasa Air port!" ucap Rich yang memegang kendali motor sebagai pengendara dengan helm full face yang diberikan Roman yang kini dibonceng olehnya.


"Sama-sama, Bos."


Beeep! Beepp!


Rich menekan klakson pada N'sele dan melambaikan tangan pada yang lain sebagai tanda berpamitan pergi.


...----------------...



🍃 Kinshasa Air port 🍃


Rich tiba selisih tiga puluh menit sebelum pesawat lepas landas. Firheith yang berdiri di luar menunggunya sambil merokok, lalu mematikan rokoknya dengan diinjak dan menghampirinya dengan menyeret sebuah koper. Begitu Rich turun dari motor trail itu.


"Terima kasih, Roman. Pergilah!" Rich memberinya bonus uang di dalam amplop dan Roman mengucap terima kasih sebelum kembali memacu motor trail nya ke jalanan.


Rich merasakan punggungnya ditepuk oleh seseorang dari belakang. "Rokok habis sebungkus. Kau baru sampai, brengsek! Apa pelacurmu itu minta jatah dulu sebelum kau ke bandara?!" tuding suara itu yang amat dikenali oleh Rich. Siapa lagi kalau bukan si teman reptilnya itu yang sama-sama bajingan.



Firheith yang kali ini ikut merubah penampilan demi sahabat brengseknya itu pun, bergaya menye-menye. "Oh, Tuhan. Gembel dari mana ini? Berapa penghasilanmu sehari memulung sampah Tuan Rockie? Sampai brewokmu tumbuh lebat!"


"Lumayan buat membeli cangcutmu Frenkie." Rich menggodanya balik dengan santai.


"Dasar brengsek! Cangcutku bermerek tahu!"


"Percuma bermerek tapi kau jarang mengenakannya. Untung tidak kendor!"


Rich kabur sambil tertawa lucu dan berjalan di depan Firheith, tetapi mendadak lehernya kemudian diapit kencang oleh sahabatnya itu dan keduanya lalu berjalan cekikikan menuju Boarding past untuk menjalani pemeriksaan.


"Letakkan dompet, cincin dan ponselmu Tuan-tuan! " petugas bandara memberi perintah sambil mengerjapkan mata pada Rockie dan Frenkie. Si kembar beda Ayah dan Ibu, tetapi memiliki Nenek moyang yang sama.


Tentu saja petugas bandara itu adalah kenalan Rich yang membantunya, agar lolos dari pemeriksaan ketat pihak bandara. Ketika yang mengecek pasport milik Rockie dan Frankie juga bagian dari rencananya.


"Silakan lewat Tuan, dan jangan lupa mengambil barang-barang kalian," kata petugas bandara itu sambil melihat ke arah Rockie.


Rockie mengangguk sambil melirik name tag di dada petugas. "Terima kasih banyak Mr. Colin Voyage."


Setelah Rockie dan Frankie palsu aman dari serangkaian pemeriksaan bandara. Mereka berdua duduk dengan damai di kursi penumpang VIP First Class—nya. Menikmati penerbangannya selama berjam-jam dari Kongo menuju Indonesia.


...----------------...


Cresh!


"Auw!" desis Alda setengah menjerit begitu ujung jarinya teriris mata pisau, ketika ia sedang memotong sayuran di dapur sore itu.


"Kenapa sayang?" tanya Rukma yang cemas lalu mendekati Alda. "Tanganmu berdarah? Morren, kemarilah dan bawa plester!" teriaknya kemudian sambil menghisap darah yang masih keluar dari ujung jari Alda.


"Tidak apa-apa, Bu. Nanti juga sembuh sendiri, aku bisa mengatasinya." Alda tak ingin merepotkan ibunya.


"Hatimu sudah terluka, masa jarimu kau biarkan juga? Jangan membantah dan menurut pada Ibu!" kecam Rukma sambil mendelik, sehingga wajah Alda pun menunduk tak enak.


Hatinya merasa tak tenang, entah kenapa Alda pun tak tahu sebabnya. Tetapi ia hanya teringat akan satu hal. Tiba-tiba saat memotong sayuran itu, bayangan Rich tengah melintas, sehingga ia pun seketika terkejut dan memotong tangannya sendiri tanpa sadar.


"Lain kali hati-hati, Sayang!" Morren memperingati sambil memasang plester di jari putri keduanya itu. Melihat Alda terdiam melamun, Morren saling melirik dengan Rukma yang mengedikkan bahu.


"Sudah istirahat saja di kamar, Al. Nanti kalau masakannya matang, Ibu panggil." Rukma menyentuh bahu Alda yang kemudian membuat Alda tersadar.


"Iya, Bu."


Diantar Morren ke kamar. Rukma melanjutkan memasak dibantu ART—nya. Sementara Morren lalu membuka obrolan saat menuju kamar yang hanya berjarak satu meter dari dapur.


"Kau masih memikirkan si brengsek itu?" tanya Morren curiga. Morren membenci Richard Louis yang sudah banyak menyakiti hati putri kesayangannya itu.


"Ti-tidak, Pi. Aku hanya lelah, itu saja." Alda tersenyum dan terpaksa berbohong.


Morren meneliti kesungguhan Alda. "Ingat, Al. Banyak yang harus kau pikirkan daripada memikirkan si brengsek itu. Lebih baik kau lupakan dia dan bukalah lembaran baru."


"Apa maksud Papi bicara begitu?" Alda tercekat di ambang pintu dengan jantung bergejolak. Ia tampak tak setuju mendengar perkataan papinya.


"Sudahlah, besok saja papi bicara denganmu lagi. Kelihatannya sekarang, kau butuh istirahat!" Morren pergi begitu saja, meninggalkan segudang teka-teki yang membuat Alda penasaran.


Alda menghadang Morren dengan tangan merentang.


"Sekarang saja, Pi. Tolong katakan maksud papi. Lembaran baru yang bagaimana? Apakah aku harus membuka salon seperti kata Mutia atau papi menyuruhku mengurus sawah dan menjadi petani?" cerca Alda menebak-nebak sendiri.


Morren menggelengkan kepala dan tersenyum. Tangannya menepuk bahu Alda dengan lembut.


"Kau masih muda Alda. Masih cantik dan belum ada yang tahu setelah kepindahan kita di sini, kau memiliki masa lalu yang kelam. Papi dan Ibu semakin tua, kakakmu Jennifer juga sudah memiliki suami. Apakah kau tak berniat membina rumah tangga?"