
Richard mencengkram jambul pria babak belur di bawah kakinya itu dan mendongakkan wajahnya ke atas. Pria itu mengerang kesakitan, urat tenggorokannya semakin tercekik seakan ingin muntah.
"Hrrahh! Katakan, siapa ketua komplotanmu!" bentak Rich sangat keras di telinga pria itu hingga telinganya seketika pengang.
"Tidak akan."
Dengan mata hijau zamrudnya yang berkilat merah, Rich menempelkan ujung tajam mata belati ke leher pria itu.
"Arrkhh!” ringisnya beradu nafas sambil mengernyit. "Daddymu lah yang telah menghabisi seluruh komplotanku, kini kau mau membunuhku juga ..." ucap pria ini.
Rich berseringai dalam diam, paling tak suka di dahului siapapun jika menyerang musuhnya dan Firhaith tahu itu, lalu menghampirinya.
Mengiyakan cerita dari pria tadi. Bahwasanya ketika ia dan anak buah Rich sampai di sana. Kondisi markas lengang, hanya dijumpai sisa-sisa mayat bergelimpangan.
Terlebih pria itu baru ditemukannya saat penggeledehan, akan kabur dari sana, setelah bersembunyi di semak-semak belakang markas.
Kemurkaan Rich kian menjadi, mendengarkan hal itu dan tak butuh waktunya baginya untuk menusuk leher pria tersebut dengan sekali tancap.
JLEB!
"Aaaarrggh!"
Bersama erangan sang pria menghembuskan nafas. Rich menarik tuas pistolnya, dan menembaki kepala pria itu dengan membabi-buta.
DORRR!
DORRR!
"Bereskan mayatnya!"
"Iya, Rich." Firheith mengisyaratkan anak buahnya yang lain mengurus itu. Sementara ia menyusul Rich yang tampak keluar dari markas, akan menaiki mobil di halaman.
Mesin mobil dinyalakan, Firheith melompat ke dalam jeep ke sebelah kemudi sambil memperhatikan Rich yang masih dikuasai letupan amarah.
"Biarkan aku yang menyetir?" tawar Firheith saat melihat kondisi Rich yang kurang baik.
"Tidak."
Bruumm!
Jeep melesat layaknya angin. Rich menaikkan kecepatannya secara penuh, odometer bergerak diambang batas normal, seperti hati Rich kini. Dilampiaskannya membawa mobil dengan ugal-ugalan.
"Rich! Kita bisa mati konyol! Pelankan sedikit!" teriak Firheith yang berpegangan pada jeep wrangler. Suaranya tak begitu jelas terdengar oleh Rich, karena berbaur angin.
"Kau memintaku untuk sedikit lagi menambahkan kecepatannya, Fir? Haha, let's go bro!" barulah Rich tertawa keras dan melakukannya, hingga Firhaith menepuk jidat.
"Astaga! Dia mulai sakit jiwa!" dengus Firheith berdecak.
Untunglah jalanan Kinshasa tengah malam itu lengang. Tak ada yang memprotes tindakan Rich merajai jalanan dan kini jeep itu tiba di sebuah tempat.
Salah satu club malam milik Rich, Sweedie Bar yang hanya dijadikan sebuah kamuflase licik.
Dari luar sinkron terdengar ricuh alunan dubsteep mengiringi langkah tegap Rich. Berada di antara lautan orang berdansa, sedang menggoyang pinggul dengan kepala sesuai hentakkan musik.
Rich dan Firheith lenyap. Keduanya menyusup layaknya bayangan, ke sebuah ruangan gelap nan sepi. Terasa dingin, menusuk kulit.
Bahkan semua orang tidak akan ada yang percaya jika mereka tengah menjalankan sebuah organisasi terlarang di sebuah ruang bawah tanah di Sweedie Bar itu.
“Bos, ada barang baru. Apakah Anda mau mencicipinya?” bisik pelan, dua orang berpakaian formal. Menemui Rich begitu hormat dengan menundukkan kepala.
"Oke!" singkat Rich sambil beralih duduk ke sebuah kursi di sana. Tepat di bawah lampu kekuningan yang temaram.
Ciri khas dari seorang mafia atau gangster, mereka akan terlihat seperti orang pada umumnya. Tak akan pernah ada yang tahu jika mereka salah satu penjahat sadis di muka bumi ini.
Lebih suka menunjukkan jati dirinya sebagai pebisnis bersih di balik jas dan pakaian rapi. Bahkan atas kecerdikannya, mereka lebih sering menggunakan otaknya demi menjalankan bisnis gelap. Ketimbang tenaga yang harus dikeluarkan.
“Jenis terbaru sebelum kita edarkan ke negara tetangga, Sir,” senyum satu anak buahnya melapor.
“Bawa kemari Firheith,” perintah Rich sambil menyesap rokoknya.
Seukuran klip kecil 0,5 ml, diberikan Firheith dari dalam koper pada Rich. Sedikit diendusnya dan perlahan halusinasi itu pun muncul. Jiwa terasa damai, tubuh yang ringan tanpa beban.
Entah sejak kapan wanita itu di sana, hanya berdua saja di ruangan bersama Rich tengah memadu kasih tanpa Rich sadari.
“Alda ... Ini sungguh nikmat sayang,” Rich melihat wajah wanita itu, dengan tidak sabarnya.
“Yes baby!” Cello memekik. Tak peduli Rich mengiranya siapa, ia hanya peduli jika malam ini Rich hanya miliknya.
“Rich!”
“Sebut namaku lagi Alda, sayang.”
“Alda, menjeritlah! Kau sudah membuatku sakit. Kali ini aku tak akan mengampunimu!” Rich semakin brutal.
"Sakit, Rich! Ampun ...!"
***
Keesokan harinya ...
Malam itu terlalu membuat Richard kelelahan. ia baru tidur dini hari setelah malam panjang itu. Kini setelah cahaya pagi membias kelopak matanya, ia mulai terbangun.
Hal ini tentu saja menjadi kesempatan emas bagi Cello untuk menyambutnya dengan sebuah kecupan lembut di bibir.
“Oh, kau?" Rich tampak kecewa siapa wanita yang kini melingkari tubuhnya.
"Pagi baby."
"Hmm." Rich membalas singkat dan beranjak bangun. Terkekeh pelan ketika melihat wanita itu layaknya ular melilitnya.
“Rich?” Cello memandanginya lain.
Beralih duduk di sebelahnya, sengaja berniat menggoda. Rich menyingkir dan tak berselera berjalan ke arah kamar mandi tapi tertahan pelukan Cello dari belakang.
“Well, aku harus tetap profesional meski bekerja di perusahaan asuransi daddy-mu," ucap Rich tak ingin dianggap benalu.
Cello membuat Rich bingung, kemudian menoleh. Tetapi Cello langsung mendorong Rich ke atas peraduan.
"Maksudmu?" tanya Rich melihat Cello yang agresif.
"Kau hanya perlu menemaniku, baby ...”
Rich membuang nafas. Kalau sudah begini, ia sudah seperti pria tak punya harga diri lagi di depan wanita itu. Terpaksa kali ini ia mengalah, demi kelangsungan bisnisnya agar semakin berjalan mulus.
**
Di tempat berbeda, tepatnya perusahaan asuransi volayared insurance siang itu. Kedatangan tamu penting, pria tampan yang memiliki wajah serupa dengan Richard sengaja ke sana dengan urusan yang jauh lebih penting dan mendesak.
“Maaf, Tuan Rich sudah dipindahkan tugas ke wilayah lain,” ungkap Mila— sekertaris Richard.
“Apa?” Efrain mengernyitkan kening, dengan menjatuhkan rahangnya ke bawah. “Bukankah kemarin, ia masih ditugaskan di sini? Cepat sekali pindahnya?”
“Saya kurang tahu, Tuan Efrain,” kata Mila yang mencuri tatapan lebih dekat dengan jantung berlompatan.
“Masa kau tidak tahu alasannya?” Ef tidak habis pikir. "Saya di sini menanamkan saham 50% tapi untuk menemui Ceo di sini saja dipersulit!"
“Bukan mempersulit Tuan. Namun, kini Tuan Jacob lah yang sekarang menjabat sebagai Ceo Volayaed Insurance. Jika anda berkenan, saya akan mengantarkan Anda ke ruangannya?” tawar Mila.
“Aku maunya Tuan Rich. Dengar Nona, jangan pernah bermain-main dengan C&L Diamond atau perusahaanmu yang segelintir ini akan aku gilas habis dan sahamku di sini juga akan aku cabut!” sentak Efrain penuh ancaman yang membuat Mila ketakutan.
“Ja-jangan Tuan … Nanti saya mau bekerja di mana?” khawatir Mila tidak ingin kehilangan pekerjaan.
Perusahaan raksasa diamond yang terkenal seantero Kongo. Sebutan mafia kelas kakap, bahkan masih berbekas lekat pada founder aslinya—Calvien Louis. Berdarah dingin, tentunya siapapun orang yang berani mempermainkannya besok pulang hanya tinggal nama.
“Kuberi waktu 1 x 24 jam dan katakan pada atasanmu. Supaya Tuan Rich menemuiku secara langsung di kantorku. Mengerti!” perintah Ef.
“I-iya mengerti, T-Tuan.”
Mila masih tampak gemetar dengan buliran sebiji kacang di keningnya yang terus mengalir, sepeninggal Ef. Kakinya tidak bisa bergerak karena lemas, butuh waktu berjam-jam untuk kembali normal.
***
Siang telah bergulir menjadi malam, jalur kereta api Benguela bergerak cepat menembus pekatnya malam dari Angola ke Luau.
Kelas luxury bergaya priority menyuguhkan bar mini untuk setiap pelanggannya. Menguar kebosanan yang melanda selama beberapa jam perjalanan menuju ke tempat tujuan.
“Ada yang dipesan lagi selain kudapan appetizer ini?” Train Attendant menunjuk canape dan soup asparagus di food trolly yang ia dorong.
“Cukup, ini mengenyangkan untukku sebagai santap malam. Kamu tahu udara malam ini begitu dingin,” tawa renyah menghiasi bibir pink alami yang sedikit memucat.
“Oh! Sayang sekali, Miss. Grand marnier di kitchen kami sedang kosong. Tapi Anda tidak perlu khawatir, mini bar kami memiliki itu?” ungkapnya dengan ramah.
Alda melirik Yessa, Pevita dan Ale yang pulas di tempatnya. Sebenarnya ia berkeinginan mengajak mereka untuk minum. Tapi kelihatannya sulit untuk membangunkan mereka yang telah bergelung selimut tebal.
“Bagaimana Miss, mau saya ambilkan?” tawar Train Attendant menunggu.
“Aku mau ke toilet dulu, bisakah kamu tunjukkan di mana tempatnya?” balik Alda bertanya. Udara dingin ini membuat kandung kemihnya penuh dan tidak berkeringat, padahal woll coats berlapis biasanya terasa panas.
“Oh tentu Miss. Anda hanya perlu berjalan lurus, melewati dua gerbong di depan. Kebetulan gerbong kedua itulah mini bar berada dan toiletnya ada di gerbong pertama,” katanya pelan.
“Wah! Kebetulan yang menyenangkan, sekalian aku pergi sendiri untuk membeli grand marnier.” Alda beranjak pergi.
Train Attendant memberinya ucapan selamat bersenang-senang. Alda melambaikan tangan padanya. Kehidupan seolah berhenti, di waktu semuanya tertidur. Hanya Alda dan segelintir orang yang masih terjaga.
Keluar dari toilet, Alda meneruskan langkahnya menuju mini bar di gerbong kedua. Mengambil duduk persis di dekat jendela kaca, ia bisa melihat pemandangan malam kota berhiaskan lampu yang kemudian gelap saat memasuki terowongan.
“Ah! Haus sekali, barkeep!” panggil Alda, suaranya yang halus menyita pasang mata pria di tiap sudut mini bar. Hanya ia sendiri wanita di sana, dan ia masa bodoh dengan kerlingan mata yang curi-curi pandang. Tanpa awasnya tahu, jika seseorang dari mereka tengah mengawasinya.
“Ya, Miss. Anda mau pesan apa?” Barkeep mendekatinya, dengan membawa sebuah catatan dan pena.
“Kata Train Attendant, kamu punya grand marnier. Apa itu benar?"
“Sure.”
“Aku mau itu,” jawab Alda.
“Tunggu sebentar, aku kembali tidak lama. But anyway, anda wanita sendiri apakah tidak takut digoda oleh para pria mata lapar di sana?” dagu barkeep mengedik ke deretan kursi agak jauh dari Alda duduk.
“Ya, aku tahu. Tapi aku tidak peduli, ada kamu di sini dan petugas keamanan. Kamu pasti melindungi customermu, bukan?”
“Oh tentu saja. Aku hanya memperingatkanmu, mereka bukan pria sembarangan.” Bisiknya amat pelan.
Alda mengerutkan kening dengan alis terangkat naik. Sedikit melirik ke arah mereka yang berwajah sangar, tengah menyesap alkohol. Lalu ia membawa pandangannya kembali ke meja dengan meneguk grand marniernya yang telah dibawakan barkeep.
“Sendirian saja Nona, apa boleh aku temani?” pria yang tadi memerhatikan Alda, berani menunjukkan batang hidungnya.
“Bukankah masih tersisa banyak tempat kosong di sini? Maaf, aku hanya ingin sendiri. Jadi, tolong jangan ganggu aku Tuan!” usir Alda dengan halus bergeser duduk agak menjauh.
“Sombong!” cibirnya nampak marah.
Alda tak peduli ocehannya, seseorang menabrak bahu pria yang mengatakan Alda sombong. Hingga pecahlah sour glass beserta goblet milik Alda dan pria itu.
“Hei!” tegur pria itu marah, berdiri mensejajari pria yang tidak kalah tinggi darinya. Posturnya juga gagah, bahkan tampilannya lebih berkelas hanya dilihat dari belakang saja.
“Apa-apaan ini? Kau menjatuhkan minumanku, Tuan?” Alda juga turut kesal.
Tapi tunggu, pria itu tidak banyak bicara. Pandangan Alda yang mulai kabur bahkan membuatnya cuma bisa melihat sekilas dan samar-samar mendengar orang tengah berkelahi. Berikut mengikis perlahan-lahan kesadarannya, dengan kepala yang terasa berat.
“Lain kali, kalau tidak kuat minum. Tidak usah sok-sok an!” dingin pria itu menahan pinggangnya yang hampir roboh.
“Kau Rich, bukan?”
“Hmm, siapa lagi kalau bukan aku. Dasar menyusahkan!” Rich segera memanggul tubuh Alda di pundaknya, seperti memanggul karung beras.
Alda sudah hilang kesadaran, ia tidak tahu jika menyelamatkanya tidaklah gratis. Ada harga yang harus Rich bayar, dengan mendapat todongan senjata di kepalanya seperti saat ini.
“Berhenti atau kuledakkan isi kepalamu!"
Tuasnya makin ditarik, kurang sedikit lagi dari lobang senjata api meloloskan peluru yang menembus bahkan merusak organ tubuh.