Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
#82. Pertunangan Dadakan



Masih diselimuti duka, isak tangis lirih dari setiap wajah sendu orang-orang berpakaian serba hitam. Terlihat duduk di depan peti jenazah Morren sambil menunggu prosedur izin penerbangan dari pihak terkait, dengan jet pribadi milik Cal nantinya.


Tak terkecuali dua peti mati lain, jenazah dari mendiang Celloraine Delaila Izakh yang berdampingan dengan peti Morreno Izakh di sebelahnya. Sengaja diurus Rich sebagai penghormatan terakhir dan balas budinya karena  selama ini pernah mereka tolong. 


"Bunny.”


Alda menoleh lemah ketika Rich memanggilnya dengan lembut. Netranya membengkak karena terus menangis sejak kepergian Morren yang menyisakan duka mendalam baginya dan Noah. 


“Boo, papiku sudah tiada …” air mata Alda tergulir di pipi. 


Jemari kokoh Rich menyekanya dan membawa kepala Alda bersandar di dadanya. 


“Aku sudah berjanji pada papimu akan selalu menjagamu, mendampingimu dan Noah, hingga di ujung usiaku, Bunny. Jangan bersedih lagi, hum?" 


Alda memandangi Rich, menemukan ketulusan yang terpancar dari beningnya manik hijau zamrudnya itu. 


“Terima kasih banyak, Boo.”


“I love you Alda.”


Dengan lirih dalam pelukan Rich. Alda pun menjawab, “I love you too.”


Kedua orang tuanya telah bersama. Sedangkan Noah sendiri berada di tengah-tengah Grandpa dan Grandma-nya yang senantiasa tak ingin jauh dari sang cucu. 


***


Setelah pemakaman Izakh dan Cello yang hanya dihadiri keluarga Louis. Malam harinya, Nick, Abelle dan kedua buah hatinya. Efrain, Firheith dan Mutia. Melakukan penerbangan kembali ke Indonesia — Bali untuk mengantarkan jenazah Morren yang pernah berwasiat dulu, ingin dimakamkan di sana. 


Tiba dengan selisih waktu lebih cepat di kediaman Rukma keesokan harinya. Jenazah Morren telah disambut deraian air mata oleh Rukma yang sempat pingsan berkali-kali. Karena tak menyangka suami tercintanya telah pergi meninggalkannya, untuk selama-lamanya.


“Sayang!” jerit Rukma yang membuka peti jenazah Morren lalu memeluknya erat dan menciumi wajahnya terakhir kali. 


Alda memeluknya, bahkan Trecy pun berusaha menenangkannya dengan susah payah. 


“Bu, tolong maafkan aku. Demi melindungi putraku, Rich dari tembakan. Tuan Morren mengorbankan nyawanya.” Cal sungguh tak enak hati dan merasa sangat bersalah. 


Meskipun berat bagi Rukma yang pandangannya saat itu tampak kosong. Rukma berlapang dada menatap calon besannya. 


“Takdir hidup suamiku, mungkin sudah digariskan Tuhan seperti ini Tuan Cal. Aku ikhlas, kau jangan menyalahkan dirimu sendiri. Morren sebenarnya tak pernah membenci Rich, dia hanya kecewa saja,” kata Rukma terisak.


Dalam hati, Cal  dan Trecy sangat respect pada Rukma yang berjiwa besar. Rich tertunduk sedih mendengar itu. Mengingat kenangannya sewaktu di sawah waktu lalu.


“Rich sangat beruntung, memiliki calon ibu mertua sepertimu Bu Rukma,” ucap Trecy. 


“Saya hanya manusia biasa Nyonya. Tidak sesempurna Tuhan.” Rukma merendah. 


Hingga kemudian pihak keluarga Rukma mengabarkan, jika proses pemakaman Morren sudah siap. Di pemakaman Kristen yang lumayan jauh dari Ubud, jenazah Morren dikebumikan. 


Tanah menggunung itu, dengan papan salib bertuliskan nama Morren Edinghard yang terbaca. Meluruhkan cairan bening Alda, Rukma, Mutia, Kadek dan yang lain. 


“Selamat jalan Papi, beristirahatlah dalam damai. Kasih Tuhan menyertaimu, I love you so much Papi. Kami semua akan selalu merindukanmu dan terima kasih atas semua  pengorbananmu selama ini. Aku sayang papi.” Alda mengucap perpisahan sambil mengusap nisan Morren. 


Rukma mencium nisannya. “Sayang, meskipun ragamu telah pergi. Tapi cintaku padamu akan terus bersemayam di hatiku. Love  you Morren, semoga kita secepatnya bertemu di surga.”


“Bye, Nono. Noah sayang Nono!” Anak itu seakan tak rela meninggalkan pemakaman, ketika mata polosnya seakan melihat sekelebat bayangan Morren yang melambaikan tangan pada Noah sambil tersenyum. “Papi, lihat! Itu di sebelah pohon kamboja ada Nono!” pekiknya memberitahu Rich yang ikut melihat. 


Semua orang memusatkan atensi sesuai petunjuk Noah. Tapi Rich dan Alda tak menemukan apa pun di sekitar pohon kamboja itu. Hanya semilir angin yang berhembus sejuk melewati belakang tengkuk, yang seketika membuat bulu kuduk berdiri. 


“Mungkin Noah benar, Bunny. Papimu berpamitan sebelum pergi ke surga bersama malaikat.” Rich memperkirakan. 


Alda tak menampik dan mengangguk. Lalu Rich mengangkat putranya untuk digendong, mengikuti yang lain masuk ke dalam mobil untuk pergi dari pemakaman. 


***


Suasana duka berbaur hilir mudik tamu, belum ada habisnya semenjak kemarin. Hingga malam tiba, sepi itu dirasakan oleh Rukma yang kemudian ditemani oleh Trecy atas suruhan Cal. Supaya sang besan tak kesepian dan merasa terhibur. 


Di ruang keluarga, kini tersisa hanya keluarga Louis. Terutama Rich, Alda dan Noah yang terus lengket pada papinya itu. Cal kira, inilah waktu yang tepat mengutarakan wasiat dari Morren. 


“Bu Rukma, sebelumnya kami mohon maaf jika waktunya kurang tepat. Selaku perwakilan keluarga. Aku sebagai daddy dari Rich, ingin menyampaikan hal penting terkait wasiat dari Tuan Morren.”


Rukma mengangguk. “Ya Tuan. Alda pun sudah menyampaikan hal itu. Begitupun suamiku sebelum pergi ke Kongo, pernah membahas soal ini denganku.”


Bibir Rich mengulum senyum ketika melirik Alda yang menunduk dengan menautkan jari jemari. Wanita itu tampak malu dan bagi Rich, dia sangat menggemaskan dan tetap cantik, walau wajahnya sembab. 


“Syukurlah kalau begitu. Jadi, kami tidak ragu lagi melanjutkan niat baik kami.” Trecy lega, terlebih atensinya mengamati Rich yang sepertinya sudah tak sabaran. Ia hanya takut, Noah memiliki adik lagi sebelum pernikahan berlangsung. Karena kali ini, dia menginginkan Rich berada di jalan yang benar. 


Cal membuat semua mata tertuju padanya kini setelah mengeraskan suaranya. 


“Alangkah baiknya pernikahan Alda dan Rich segera dipercepat, sebelum adik Noah on the proses."


Wajah Rich yang putih itu langsung dibubuhi warna kemerahan yang diikuti pula kekehan dari Efrain. Menggodanya dengan menyiku lengan saudara kembarnya itu. 


“Kena kau! Sabar sedikit lagi, dasar otak mesum!” sindir Efrain pelan. 


“Apaan sih?! Jomlo dilarang iri!” balas Rich. 


“Siapa juga yang iri. Fir itu yang iri!” 


“Karena kalian sama-sama buaya darat!” setelah menahan senyum dan berkat candaan Efrain, Rukma yang sedih pun perlahan ikut tersenyum. 


Rukma memberi keputusan. Ia  menggenggam tangan Alda dan menatap semua orang. 


“Saya setuju saja Tuan Cal, tapi semua tergantung Alda.” Melirik Alda, ekspresi Rukma menuntut jawaban. “Bagaimana Al? Kau mau dipinang papinya Noah?”


Noah malah yang menjawab. “Setuju!”


“Eh?”


Rich dan Alda terkejut kemudian saling lirik, menahan tawanya yang gemas pada putranya itu yang suka ceplas ceplos. Di susul tawa pelan semua orang yang menggelengkan kepala melihat tingkah Noah yang dirasa Cal sangat mirip dengan Rich. 


Alda berbisik pada Rich. “Duplikatmu boo.”


“Itu hasil kerja kerasku selama dulu menanam benih di rahimmu my bunny. The power of kepepet, eh! Tidak tahunya jadi?” godanya pada Alda sambil alisnya naik turun yang membuat pinggangnya seketika dicubit oleh Alda. 


“Nakal!” kata Alda mencebik. 


“Meski aku nakal, kau suka 'kan?”


Ehm!


Cal berdehem keras memperingati putranya yang ganjen itu. 


“Rich! Tahan dulu. Apa kau tak sungkan pada Bu Rukma yang duduk di sebelah Alda?” peringatnya agak malu. 


Rich meringis, menggigit bibir saat semua saudaranya itu membully—nya habis-habisan. Mengatakan Rich mesum dan ya, begitulah. Tahu sendiri 'kan Rich bagaimana orangnya? 


“Jadi bagaimana calon menantu? Bagaimana jawabanmu. Apakah kau menerima pinangan Rich?” ulang Trecy ingin memperjelas. 


“Noah sudah menjawabnya tadi, Mom.” Alda  memanggilnya begitu atas permintaan dari Trecy. 


Rich sangat bahagia dan tak bisa menyembunyikan lagi ekspresinya hingga refleks melompat dari tempatnya duduk. Hingga semua orang pun tertawa. 


“Uncle Rich lucu!” Hazel menertawainya. 


Rich mencubit pipinya gemas lalu mencium pipi Hazel juga Lord yang sudah dianggap keponakan sendiri. 


“Noah, tolong ambilkan kotak warna merah di dalam koper papi tadi, Nak?” pintanya yang langsung disambut Noah dengan gerakan hormat tangan di kening. 


“Siap papi!” kemudian Noah berlari menuju kamar dan kembali dengan wajah sedih. 


Sontak Rich dan Alda heran tapi hatinya pun mendadak tak enak. Sehingga langsung menanyakannya. 


“Kenapa sayang?” tanya Alda membelai wajah Noah. 


Noah menghadap Rich sambil menjewer tangannya dengan satu tangan. Duduk dipangkuannya memasang raut ingin menangis. 


“Papi maaf. Kotaknya hilang.”


Mata hijau zamrud Rich terbelalak. Berikut terkejutnya semua orang yang seketika lemas, mengingat acara pemasangan cincin pengikat itu yang jadinya tertunda. 


“Sudah tidak apa-apa, Sayang.” Alda tak mempermasalahkan.


“Itu hanya simbolis. Tanpa cincin pun, papi akan menikahi mamimu,” Rich berlapang dada. 


“Papi tak marah?” tanya Noah keheranan. 


Rich mengangguk, “buat apa papi marah? Nanti papi bisa ambil lagi di pabrik.”


Kening Noah mengernyit bingung. Tak tahu jika Grandpa-nya adalah Raja diamond seantero Kongo. 


“Apa maksudnya tinggal ambil? Memangnya papi punya pabrik berlian?” tanya Noah dengan polosnya. 


“Bukan papi.” Rich  menunjuk Cal yang tersenyum secerah C&L Diamond miliknya. “Tapi Grandpa mu lah yang punya pabrik itu. Bukan hanya satu tapi lima.”


Langsung berbinar-binar mata Noah mendengar hal itu. 


“Wow! Amazing. Grandpa adalah King Diamond!” serunya membuat semua tertawa pelan. “Tapi papi gak perlu repot ambil ke sana 'kan jauh. Karena …” Noah mengeluarkan sesuatu dari balik saku celana belakangnya. “Hehe, aku bercanda. Kotaknya gak hilang. Aku hanya menggoda papi.”


“Ya ampun!” pekik Trecy dan Cal menggeleng akan sikap cucunya yang suka iseng itu. 


Memicu Abelle langsung menskak Rich. “Itu baru keisengan Noah sekali. Selanjutnya kau akan dibuat sport jantung Rich. Kau kena karma, karena saat kau kecil suka mengerjaiku sekarang anakmu lah yang membalasmu.”


“Apa sih, Bebelle!” Rich menggerutu, lantas mencubit gemas pipi Noah. “Terima kasih sudah mengerjai papi.”


Noah meringis kikuk karena papinya tak marah sama sekali. Rich pun memasangkan cincin berlian indah itu di jari manis Alda. Semua keluarganya mengucapkan selamat. Terutama dari Abelle yang puas melihat Rich terus tersudut. 


“Gelar jomblo telah dicabut. Akhirnya, casanova tengik ini sudah bertemu pawangnya!”


“Belle!” 


“Apa? Hah?! Mau marah? Aku akan mengadukanmu pada Alda, supaya menunda pernikahanmu!” kecam Abelle pura-pura. 


“Jangan dong, Belle!” Rich terlihat kalang kabut.