
Masalah cukup pelik berakhir dengan damai. Semua mendapat keadilan sesuai porsinya, membuat Rich dan Alda bernafas lega tersenyum lepas tanpa beban. Menjalani hari-hari seperti biasanya.
Di sawah siang itu ...
"Papi, makan dulu! Aku sudah bawakan makan siang dari rumah!" teriak Alda dari arah gubuk di pinggir sawah.
Rich yang terjun langsung ke dalam sawah mengambil keong yang menjadi hama padi itu, mengangkat sedikit capilnya ke atas. Mendongakkan wajah dan matanya yang silau terkena matahari, untuk menatap Alda nun jauh di sana dengan melempar senyum.
"Ya, Mi. Nanti aku ke sana! Tunggu sebentar lagi," balasnya pula berteriak.
Semua yang mendengar dan melihat keromantisan pengantin baru itu turut senang. Karena semenjak kedatangan bule tampan itu di desanya, semua masalah berat yang mereka hadapi. Perlahan-lahan terselesaikan dengan cara luar biasa.
"Wah! Si Mister tambah semangat, nih! Kedatangan Mbak Alda," goda petani di sebelahnya, bernama Pak Maman.
"Oia jelas, Pak. Well, tolong dilanjutkan lagi ambil keongnya. Saya mau istirahat dulu dan lunch sama istri tercinta," kata Rich.
"Siap Mister!"
Rich berjalan ke arah selang dari bambu di dekat sungai. Di mana bambu itu menyalurkan air yang bersumber langsung dari pegunungan, untuk segera mencuci tangan dan wajahnya.
"Lelah, Pi?" tanya Alda yang perhatian, menyeka keringat Rich dengan tisu di kening sang suami.
"Iya, gerah lagi. Cuacanya panas tapi aku suka, karena aku ingin kulitku sedikit hitam.
Heh?
Alda terhenyak menelan ludah, saat Rich tiba-tiba membuka kaosnya dan sekarang bertelanjang dada. Tubuhnya yang seksi itu membuatnya tak berkedip.
"Hey, terpesona padaku ya?" Rich mengulum senyum melihat Alda yang bengong.
"Pi, pakai lagi kaosnya!" desak Alda kesal.
"Memangnya kenapa, sih? Aku kan, gerah."
"Kau terlalu seksi dan tampan. Aku tak mau semua wanita nanti melirik mu!" omel Alda posesif sambil mengenakan kaos itu ke tubuh Rich.
"Oh ... I see, jadi kau cemburu rupanya?" Rich mencolek gemas dagu Alda yang wajahnya kini cemberut.
Alda tak menjawab, malah sibuk mengeluarkan susunan rantang dan membuka makanan di dalamnya.
"Tidak. Siapa juga yang cemburu. Aku hanya menjaga suamiku dari godaan pelakor."
"Apa itu pelakor?" Rich sungguh tak tahu.
"Perebut laki orang dan para wanita itu tak segan memakai cara apa pun. Baik cara halus, kasar atau pun cara tak kasat mata," jelas Alda mengejutkan Rich.
"Ya ampun, seram juga, ya? Bahaya kalau tahu aku kaya raya dan tampan seperti ini. Apakah aku harus menjadi jelek sweety?"
Alda memiringkan bibir, ide suaminya itu ada-ada saja. Lantas ia pun sambil menyuapi Rich makan.
"Maka dari itu, sikapmu yang suka tebar-tebar pesona dari dulu harus segera dihentikan. Aku takut wanita di luaran jadi salah paham," saran Alda lebih ke permintaan.
"Baiklah. Bukankah aku juga sudah berjanji untuk itu? Tenang saja. Aku tak akan ingkar," ucap Rich dengan mulut penuh mengunyah makanan. "Lagi pula sudah cinta mati padamu."
"Sekarang aku percaya," kata Alda saat ia pun disuapi makan juga oleh Rich dari sendok yang sama.
"Kenapa harus malu mengakui kalau tadi kau cemburu, hum? Sedetik lalu kau baru saja memujiku tampan dan seksi, apa kau lupa cintaku?" Rich sudah beralih ke sisi Alda dan memeluknya erat sambil mencuri ciuman di pipi.
Seketika wajah Alda bersemburat merah lalu menoleh sambil mengusap bekas noda bumbu di ujung bibir Rich.
"Ya, kau memang tampan. Bahkan perutmu yang berlapis seperti roti sobek itu, ingin rasanya aku gigit."
Mata zamrud kehijauan Rich membulat penuh. Bahkan demi menghindari tersedak, ia cepat meminum air setelah mendengar itu. Sekarang ia suka karena Alda tak segan bermanja-manja, memujinya atau jika ia meminta jatahnya tak pernah sekalipun ditolak.
"Digigit? Aw! Aku tak sabar untuk itu?"
"Apa sih, genit?" kekeh Alda malu-malu.
"Kita belum honeymoon, Sweety. Besok Noah sudah selesai ujian akhir semester. Bagaimana kalau kita pergi berlibur?" suara Rich berubah parau mengatakan itu.
"Apa setiap malam dan setiap ada kesempatan tak cukup, Boo?"
"Berbeda suasananya sweety. Kau mau honeymoon ke mana? Maldives, Dubai, Hawai, keliling Eropa atau ...."
"Kok, malah diam? Maunya ke mana sweety?"
"Nanti aku pikirkan lagi. Tapi Noah dan ibu diajak, kan? Kasihan kalau mereka berdua ditinggal di sini."
Rich membuang nafas ke udara yang menerpa wajah Alda. Sensasinya bau mint dari mulutnya itu bercampur bumbu masakan, justru membuat pori-pori kulit Alda berdiri dan jantungnya berdebar lebih cepat lima kali dari biasanya.
Ah! Kenapa pria itu sangat menggoda, sih? Tidak ada minusnya. Malah plusnya yang kelebihan dosis.
"Sweety?"
"Hmm, ya. Ya suamiku sayang?"
"Manisnya ... Aku jadi ingin mencium bibirmu. Tapi sayangnya di sini banyak petani, takutnya mereka ingin dan malah mencium keong itu."
"Hahaha."
Tak kuat lagi Alda membludakkan tawanya, saat mendengar ocehan suaminya yang absurd.
"Begini loh, Sweety. Kita itu honeymoon, dalam rangka bermesraan dan memproses adiknya Noah. Jadi kita butuh quality time berdua. Apakah sampai di sini istriku yang cantik ini paham?"
Alda mengangguk.
”Nanti ibu dan Noah tetap diajak, tapi ke Kongo saja. Pasti mommy dan daddy ku senang kalau mendengar cucunya mau datang. Nah! Biar kedua orang tuaku yang mengajak Noah ke disney land, ibu juga boleh ikut kalau mau."
Setelah mengatakan maksudnya itu setibanya di rumah. Putra yang setali lima uang dengannya pun sangat bersemangat. Hingga tak sabar menunggu hari itu tiba.
"Beneran, Pi. Kita liburan ke disney land?" tanya Noah memastikan ulang.
"Iya sayangku. Tapi papi akan mengurus pasport dan visa-nya dulu sebelum berangkat," jawab Rich.
"Hore!" teriak Noah sambil melompat-lompat.
"Bagaimana dengan ibu? Mau ikut, kan?" tanya Rich pada sang mertua yang sama-sama duduk di sofa ruang keluarga malam itu.
"Tapi sawah kita siapa yang mengurusnya? Aku tak bisa langsung mempercayakan itu pada mandor," jawab Rukma yang bingung.
Mutia tidak bisa mengurus itu dan keluarganya kebanyakan tinggal di luar Bali. Jika dibiarkan begitu saja, sawahnya pasti akan rusak. Terlebih sebentar lagi akan panen.
"Sawah ibu akan diurus Pak Chandra dan Firheith, Bu. Ibu tenang saja," kata Rich memberi solusi.
"Ayolah, Bu! Mau ya? Ibu harus refreshing. Lagi pula ibu belum pernah ke Kongo dan Jepang," rayu Alda bergelayut ke tangan Rukma yang berpikir.
Rukma tersenyum dan menyetujui hal itu, karena tak ada alasan lagi untuk menolak. Ketika sang menantu sudah mengurus segala kerisauan hatinya.
"Iya, aku ikut," kata Rukma membuat anak, menantu dan cucunya senang sekali.
"Terima kasih, Bu." Alda memeluk ibunya dengan erat, diikuti oleh Noah.
...----------------...
Klik!
Bunyi kunci diputar sangat pelan oleh Rich, setelah perjuangannya tadi menidurkan sang putra yang terus menanyakan soal liburan. Kini, usahanya tak sia-sia bisa berduaan di dalam kamar dengan sang istri.
"Ayo sweety, bukalah dress mu itu?"
"Sebentar boo, agak sulit karena sekarang aku agak gemukan," kata Alda yang sulit menurunkan resletingnya di punggung.
"Biar aku bantu," kata Rich yang malah membawa gunting.
Sontak saja Alda terkejut melihat hal itu. Bukankah keduanya akan bercinta, lalu buat apa guntingnya?
Bahkan belum sempat Alda bertanya. Rich malah menggunting dress Alda menjadi dua bagian. Hingga kini menunjukkan tubuh polos Alda, yang hanya terbalut bra dan segitiga itu.
"Ya ampun! Dress ku yang baru aku beli rusak. Boo—"
Hmmpt.
Jeritan Alda terhenti karena Rich dengan cepat mencium bibirnya sambil menerjang Alda ke atas ranjang.