Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
98. Membuka Kenangan lama



Atas kuasa Rich, semua berjalan sesuai rencana. Visa dan pasport telah selesai diurus tanpa perlu banyak drama.


Dua hari kemudian mereka berempat, yakni Rich, Alda, Noah dan Rukma berangkat ke Kongo, Kinshasa, Afrika Tengah. Dengan menaiki pesawat jet pribadi yang dikirimkan oleh Calvien Louis.



...----------------...



Kinshasa, Kongo.


Senyuman lepas melandai indah menghiasi setiap wajah bahagia dari keluarga kecil Rich, ketika hadirnya Noah melengkapi segalanya.


Noah yang digandengnya semenjak keluar dari pesawat setibanya mereka berempat di bandara N'Djili—Kinshasa, Kongo pagi itu.


Selalu ceria dan tak pernah rewel selama perjalanan jauh. Bahkan sangat antusias dengan liburannya kali ini, mengunjungi Grandma dan grandpa-nya.


"Mami, Papi, lihatlah Itu! Grandma Trecy dan grandpa Cal berjalan kemari menjemput kita!" teriak Noah senang sambil menunjuk-nunjuk ke arah depan. 


Alda, Rich dan Rukma mengikuti petunjuk Noah. Menatap Trecy dan Cal yang setengah berlari menghampiri, terutama Cal yang langsung menggendong sang cucu kesayangan. 


"Ya ampun! Jagoan grandpa tambah tinggi dan tampan sekali," puji Cal memandangi Noah dengan senyum menawan.


"Aku memang tampan, Grandpa." Noah berucap sambil bergaya menyugar rambutnya ke belakang dengan alis turun naik.


Wajahnya yang tampan itu perpaduan dari Rich dan Alda, sementara keahlian Noah  dalam memikat hati siapa pun menurun dari Rich.



Ketengilannya, gaya recehnya jika menggoda seseorang dan satu hal yang paling mendekati Rich. Yakni Noah memiliki sikap narsis di atas rata-rata.


"Oh God! Sayang, kita seperti kembali ke masa kecil Rich! Jangan-jangan ... Noah ini reinkarnasinya—Rich?"


Pemikiran Trecy itu pun disambut tawa renyah semua orang, tak terkecuali Rich sendiri yang membenarkan.


"Maybe, Mom." Rich mengedipkan mata pada sang istri. "Buktinya, istriku yang dulunya ini membenciku, sekarang balik tak bisa jauh dariku. Apalagi jika sudah merasakan kegagahanku saat—"


"Ah! Sudahlah, Boo. Kau mulai narsis lagi!" protes Alda dengan wajah bersemburat merah, membuat Rich semakin tak sabar ingin mencium bibirnya yang menekuk itu.


Noah pun ikut tertawa cekikikan, saat pinggangnya digelitik oleh grandma dan grandpa nya. Sehingga pipinya yang agak chubby itu tampak merona. Tak ayal membuat Trecy gemas, lalu mencium pipinya dengan bertubi-tubi.


Melihat hal itu desiran bahagia menerpa hati Alda dan Rukma. Kehadiran Noah ternyata diterima dengan sangat baik oleh Trecy dan Cal. Menghujaninya penuh kasih sayang tanpa menilik asal usulnya bagaimana.


"Mom, Dad!" sapa Rich dan Alda mengurai canda tawa.


Memeluk kedua orang tuanya penuh kerinduan. Rasanya sebulan tak bertemu semenjak pernikahan mereka itu, seperti bertahun-tahun berpisah.


"Kalian apa kabar sayang?" tanya Trecy, memandangi Rich dan Alda yang tampak harmonis.


Wanita paruh baya itu merasa damai, tenang dan tersenyum lepas sambil membingkai wajah Alda dan Rich. Akhirnya sang putra kini menemukan kebahagiaannya, setelah perjalanan panjangnya mencari cinta sejati.


"Baik, Mom, Dad. Kalian sendiri bagaimana?" 


"Kami sehat," jawab Trecy lalu tak sengaja melihat keberadaan Rukma yang mengulas senyum. "Eh! Ada besan?" sapanya ramah.


Suasana hiruk pikuk di bandara seketika berubah layaknya reuni keluarga. Keharuan dan kegembiraan bercampur menjadi satu. Trecy yang baik hati, mudah bergaul menguraikan kecanggungan Rukma. Sehingga keduanya cepat menjadi akrab dalam hitungan menit.


"Ayo semuanya kita pergi dari bandara! Kalian pasti lelah selama di perjalanan dan harus segera beristirahat!" ajak Cal sambil menggendong Noah yang tak ingin diturunkan.


"Pulang ke kastilnya grandpa yang istana itu, kan?" sela Noah dengan senyum semanis jelly.


Cal mencubit ringan hidung Noah yang mungil. "Iya sayangku. Kalau tidak suka, grandpa akan menyewakan hotel untukmu menginap?"


Noah menggeleng cepat. "Tidak grandpa, grandma. Aku malah sudah tak sabar ingin ke sana lagi. Let's go!" serunya mengacungkan tangan ke atas.


Menerbitkan rentetan senyum di wajah mereka semua mendengar celotehan bocah itu yang polos.


"Come on guys!"


Cal menggendong Noah sambil berlari menuju mobil di mana sopir telah bersiap membuka pintu. Di susul mereka semua dari belakang.


...----------------...



Anoola Castel


"Selamat datang kembali di Anoola Castel!" seru Cal sambil merentangkan tangannya, menunjuk ke sepenjuru kastilnya yang megah.


Ini menjadi kali kedua bagi Noah dan ketiga bagi Alda berada di kastil itu. Pasca tragedi penembakan yang menewaskan Morren Eginhard. Tidak lama mereka harus kembali ke Bali karena harus memakamkan mendiang Morren, sekaligus menikahkan Rich dan Alda.


Trecy menepuk bahu Rukma yang kemudian menoleh, baru menyadari jika besannya itu ternyata sudah ditemani beberapa wanita berpakaian ala maid.


"Waktu Anda bisa habis jika memuji kediamanku yang biasa saja ini, Bu Rukma." Trecy terkekeh, "meskipun sebesar dan semegah apa pun, jikalau kami hanya tinggal berdua di sini. Apa artinya?"


Rukma mengangguk, Rich dan Alda merasa tersindir. Terutama Rich yang telah lama meninggalkan kastil itu.


"Noah bisa tinggal di sini, sekalian sekolah di sini kalau mau?" Cal menyibak situasi yang sedikit rancu itu.


"Tapi bagaimana dengan sekolahku yang ada di Bali, Grandpa? Nenek Rukma juga pasti sendirian," jawab Noah cepat.


Rich mendesahkan nafas berat ke udara yang mengulas senyum tipis, saat merangkul bahu mommy dan daddy-nya.


Cal dan Trecy menatap sang putra dengan pandangan berkabut.


"Nanti kita cari solusi sama-sama ya, Mom, Dad. Bukankah anak-anak Abelle juga kerap menginap kemari?" tanya Rich.


"Ya, tapi hanya sebentar. Mereka tidak betah lama-lama berjauhan dari Abelle dan Nick, meskipun daddy sudah menyuruh saudaramu itu untuk pindah ke sini. Tapi mereka pun enggan, you know lah. Mereka juga sudah punya rumah sendiri?" balas Cal merasa sedih. "Harapanku bergantung pada Bree saja."


"Eh! Tidak masalah, kenapa harus membahas hal itu sekarang? Lebih baik kalian semua istirahat. Maid!" panggil Trecy hingga sepuluh maid itu mendekat.


"Ya, Nyonya besar."


"Antar mereka semua ke kamarnya masing-masing!" suruhnya yang diangguki para maid itu.


Rich dan Alda langsung menaiki lift setelah berpamitan pada semua untuk beristirahat.


Mencium pipi putranya, karena Noah akan tidur sendiri di kamarnya. Sementara itu, Rukma diantarkan oleh maid.


"Ah, iya. Grandpa hampir saja lupa. Noah, suka mainan mobil-mobilan, kan?" Cal mengalihkan kesedihannya dengan menggandeng tangan Noah.


Noah mengangguk sambil memeluk lengan grandpa-nya.


"Seluruh uncle, aunty-mu dan granpa sudah membelikanmu banyak mainan di dalam kamarmu. Ayo kita lihat sama-sama!" ajak Cal.


Kegembiraan terpancar dari manik hitam legam Noah. Seketika bocah menggemaskan itu mengangguk yang menunjukkan rasa ketidak sabaran. Sehingga Cal langsung mengajaknya pergi ke kamar itu.


...----------------...



Di kamar bernuansa dominan biru dan emas itu, Alda tersenyum memandangi sekeliling teringat suatu kenangan.


Rengkuhan erat berupa lilitan di perutnya, sedikit menjingkatkan tubuh. Ketika merasakan tiupan nafas dari Rich yang menyandarkan kepala di bahunya.


"Di kamar ini aku menemukan rahasia tentangmu."


"Soal?"


Rich belum tahu karena Alda belum sempat bercerita. Tiba-tiba saja Alda melepas pelukan darinya yang membuat Rich heran, mengamati istrinya yang membuka laci dan mengeluarkan beberapa lembar postcard foto dari sana.


"Hey, bagaimana kau bisa tahu soal foto itu?" terkejut Rich dengan rona malu yang memerahkan pipinya.


Seketika merebut foto itu dari tangan Alda, sayangnya kalah cepat. Alda menyembunyikan itu di belakang punggung.


"Boo ..." Alda mengusap rahang kokoh Rich. "Sini duduk bersamaku," ajaknya sangat manis.


Rich mengikutinya walau gusar, duduk di sofa panjang berwarna putih itu sambil mendengarkan Alda sedikit bercerita.


"Jadi apa yang pernah kau lakukan di sini bersama, Ef!" tekan Rich bernada tinggi, dadanya terbakar saat ini.


Membayangkan Alda berduaan di kamar dengan pria lain, walau itu saudara kembarnya yang notabene pernah menjadi mantan kekasihnya. Tentu saja Rich sangat cemburu.


"Boo, aku hanya bilang kalau berkat fotoku yang kau tuliskan pernyataan cintamu ini. Aku menyadari perasaanku hanya untukmu saja, maka dari itu aku memutuskan hubungan dengan Ef dan memilihmu," bujuk Alda sambil menggenggam tangannya.


Rich tidak menjawab, deruan nafasnya yang memburu sudah mewakili. Kalau Rich sekarang marah besar.


"Aku tak pernah macam-macam dengan Ef. Hanya ... hanya ..." ragu Alda mengatakan.


"HANYA APA!"


Alda mengerjap kaget mendengar bentakan Rich. Ini konsekuensinya jika jujur, tapi lebih baik dia tahu darinya ketimbang tahu dari orang lain.


"Hanya pernah ciuman bibir, satu kali waktu dulu kau melihatnya dan sekali di kamar ini—"


"You are an *******!" sentak Rich diikuti gerakannya menepis kasar genggaman tangan Alda.


"Boo ... please dengarkan aku dulu ...."


Bukannya mendengar. Rich berdiri dari duduk penuh emosi, berjalan keluar meninggalkan Alda dan tak mempedulikannya yang mengejar sambil membanting pintu dengan keras.