Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
28. Balasan



“A-apakah yang kau katakan itu b-benar Rich?” Alda bertanya gugup dengan tampang bodohnya, membuat Rich mengernyit. Karena jika benar, maka Alda akan menanggung biaya ketok magic mobilnya sendiri dan terbilang tak murah.


“Hah? Buat apa aku berbohong. Memangnya kau? Sepertinya kau juga perlu masuk taman kanak-kanak lagi, biar otakmu tidak geser!” ejek Richard mempermalukan Alda.


Alda tersinggung atas ucapannya Richard.


“Kasar sekali ucapanmu sekarang, Tuan Rich? Aku tidak menyangka sikap aslimu ternyata seperti ini,” kata Alda sangat kecewa.


“Tidak usah sok merasa tersakiti. Seperti kau orang baik saja. Dasar wanita munafik!” balas Richard meluapkan sakit hatinya selama ini.


“Kalau begitu permisi!” tekan Alda yang tak ada gunanya berada di sana lagi. melonjak dari sofa kemudian pergi membawa kemarahan.


Rich menatapnya acuh tak acuh, sebelum ia sendiri kembali ke ruangannya. Bersinggungan arah tanpa saling menatap, seolah tak kenal dan tak pernah terjalin hubungan serius antara keduanya.


***


Setelah tiba di apartemennya malam itu, Alda memberitahu segalanya lewat video call pada Efrain. Tentang pertemuannya dengan Richard di volayaed insurance.


Tapi Efrain bukan memperhatikan ceritanya, melainkan dari perbincangan itu. Ia senang bisa mengetahui keberadaan saudara kembarnya dan berencana melakukan sesuatu.


Efrain: “Besok kau akan mendapat kejutan dariku sayang!”


Setelah mengetahui mobil Alda mengalami kerusakan parah dan asuransinya tak bisa diklaim. Efrain terpikir untuk memberikannya mobil baru.


Alda: “Kejutan apa, Ef?”


Efrain: "Lihat saja besok. Bye, Alda!”


Pria itu segera memutus video call nya, setelah jarinya selesai berselancar di internet. Tanpa mengetahui wajah masam Alda yang tidak bisa tidur memikirkan teka-teki yang ia tinggalkan hingga dini hari.


**


Keesokan paginya…


Wanita cantik dengan setelah blouse kerja warna creame, stiletto hitam dan rambut diikat bun. Terperanjat saat petugas dealer menyodorinya serah terima dan memintanya segera tanda tangan. Begitu ia tiba di basement.


“I-ini serius untukku?” tanya Alda mengerjap, dagunya terjatuh saat mendapati Bentley Bacalar warna putih terbungkus indah dengan pita pink di depan mata.


“Tentu, Nona Alda Danurdara. Tolong segera tanda tangani,” petugas dealer kembali menyerahkan pena.


Alda menggeleng dengan nafas cepat dan begitu syok. “Katakan, ini dari siapa dulu?” tatapnya pada petugas yang cenderung mendesak.


“Dari Tuan Efrain Louis yang membelinya untuk Anda.”


What?


Mata Alda membulat. Jadi ini jawaban atas teka-teki semalam yang ia berikan? Sampai Alda sulit tidur?


Alda memang sedang menjalin hubungan dengannya. Tapi berharap ini dari Efrain, selain ia tidak ingin disebut perempuan matrealistis.


“Bawa itu kembali, Pak. Dan ... Terima kasih.”


Alda lalu melambai ke taksi yang baru saja berhenti di tepi jalan dan taksi itu langsung menghampirinya masuk ke parkiran.


Dengan tergesa Alda menjauhi petugas itu, akan masuk ke taksi tetapi Petugas dealer menghadang


“Nona, tolong jangan persulit tugas kami. Kalau Anda tidak mau menerimanya, itu akan berakibat buruk pada pekerjaan saya di dealer. Tolong kerjasamanya?" ucap petugas sangat memohon.


Alda lama-lama tak tega melihat wajah melas petugas dealer itu, yang mirip orang habis dijambret.


“Sebentar aku telepon Ef dulu,” sela Alda diangguki petugas dealer.


Tapi ponsel Efrain tidak aktif, walau Alda sudah mencoba meneleponnya sebanyak lima kali.


“Sialan. Di mana Ef kini? Sudah mengirimkan hal yang membuatku sport jantung, kini ia menghilang begitu saja?!” marahnya kesal.


“Nona, bagaimana?” suara petugas dealer membuatnya sadar.


Ia berpikir sesuatu lalu tidak lama ia memberi usul pada petugas agar meninggalkannya di sana saja.


Tapi dengan ia memberikan kartu namanya sebagai jaminan, belum mau  menerima atau menandatangani sebelum memastikan bertemu Ef lebih dulu.


“Oke Ef. Makan siang nanti aku akan menemuimu di kantor C&L Diamond dan bertanya tentang maksudmu ini,” desis Alda setelah mengirimkan pesan ke nomor Efrain. Kemudian bergegas menaiki taksi karena ia sudah terlambat ke studio-nya.


**


Pekerjaan Alda terhandle semua siang itu. Jadi, ia bisa meninggalkan Danurdara MUA Studio dengan cepat.


Beberapa menit berlalu, kini ia pun telah berpindah tempat di depan gedung pencakar langit C&L Diamond.


Setiap entakkan stiletto—nya yang beradu lantai keramik. Membuat leher siapapun di perusahaan diamond ingin menoleh.


Tentu hanya bisa memandang sambil berdecak kagum, tanpa berani menyapa. Sebab tahu dari gosip yang beredar, jika wanita itu merupakan kekasih dari Ceo tempatnya bekerja.


“Nona Alda, bukan?” tebak Meylin—resepsionis itu, menyambut Alda dengan tersenyum ramah.


“Ah! Siapa yang tidak mengenal Anda, Nona.” Meylin berbisik pelan. “Skandal Anda dengan dua Ceo kami, santer berhembus. Putus dari Tuan Rich, Anda jatuh kepelukan Tuan Ef.”


Suara geraman Alda, berikut tatapan sinisnya membuat  Meylin pucat. Pantas saja semua karyawan di sini menatapnya lain. Ternyata ini lah jawaban sebenarnya.


Tadinya ia sempat berpikir, mereka tahu mungkin karena studio make up nya yang belakangan ini viral. Oh! Rupanya karena skandal.


Brengsek.


“Jangan sok tahu dan menyebar gosip sembarangan. Sebelum terbukti kebenarannya, Nona. Anda bisa diperkarakan atas tuduhan pencemaran nama baik dan bila Tuan Ef tahu, kamu bisa dipecat!” sungut Alda mengancam.


Meylin mengambil langkah seribu, keluar dari meja resepsionisnya untuk meminta maaf secara langsung.


“Tolong Nona Alda, jangan adukan ini ke Tuan Rich? Kumohon…” Meylin tak ingin dipecat gara-gara ini.


Alda mendengkus kesal sambil melipat tangan. “Di mana Ef, sekarang? Apa aku bisa menemuinya? Akan kupikirkan permohonan maafmu nanti.”


“Beliau sedang ada urusan di luar dan baru kembali nanti pukul dua, Nona,” jawab Meylin takut-takut.


Tanpa permisi lagi, Alda menyenggol bahu resepsionis itu sebagai peringatan. Berlalu pergi meninggalkan perusahaan diamond itu, begitu marah. Tanpa menghiraukan panggilan dari Meylin yang mengejar.


***


Efrain menemui Richard ke volayaed insurance dengan sengaja menunggunya hingga keluar dari perusahaan itu tanpa membuat janji. Karena yakin, kalau Richard tidak akan sudi menemuinya bila tahu ia yang datang.


“Rich!” panggil  Ef segera, begitu melihat Rich keluar dari lift di pintu lobi utama.


Teo dan seorang security langsung menghadang Efrain, menghalanginya untuk mendekat.


“Maaf Tuan,” ragu-ragu Teo bertanya, ketika ia masih terkejut melihat kloningan bosnya yang seperti pinang di belah dua.


Yang membedakan hanya warna bola mata mereka berdua, juga style dalam mengenakan pakaian. Richard cenderung santai dan pria kembaran bosnya ini sangat perfeksionis.


“Aku saudaranya. Minggir kalian! Aku ada urusan dengan Rich!” Efrain menerobos paksa, sehingga kini ia berhasil menarik tangan Rich.


Mata Rich menyorot tajam, tangan Ef dihempasnya dengan kasar. Ia harus mencari tahu, siapa yang telah memberitahunya kalau ia bekerja di perusahaan asuransi ini.


’Oh! Ini pasti ulah si wanita murahan itu,' batin Richard mulai paham.


“Tidak ada bosan-bosannya kau mengganggu hidupku. Bukankah semuanya sudah kau rebut dariku? Apa itu masih belum cukup, hah?!” ucap Richard dengan intonasi tinggi pada Efrain.


“Rich dengarkan aku dulu, ada hal penting yang perlu kita bicarakan?” bujuknya. “Ada coffee shop di sini, sebaiknya kita pergi ke sana!” telunjuknya mengarah ke sebelah kanan perusahaan asuransi itu. “Tentang Abelle,,,”


Barulah Richard luluh dan menuruti ajakannya, setelah nama saudara kembarnya di sebut. Kemudian Rich menyuruh supaya Teo dan security itu pergi dengan isyarat tangannya.


Kini dua saudara kembar itu duduk berhadapan canggung. Richard tidak sedikitpun menatap Efrain. Lebih fokus menyeruput kopinya yang terasa hambar.


Sedangkan Efrain berharap banyak dari pertemuan ini. Naluri kecilnya meronta, sebenarnya ingin sekali memeluk dan akrab lagi seperti dulu.


Tapi apakah itu mungkin?


“Katakan cepat apa maumu. Aku tidak punya banyak waktu!” ucap Richrd sok sibuk dan malas menanggapi.


Efrain menghela nafas berat, mendengar nada suara kasar Richard. Itu terdengar menyakitkan. Jangankan marah, untuk menegurnya pun ia tak mampu.


“Jawab dengan jujur. Apakah kau yang telah mendonorkan darah untuk Bebelle?”


“Ada apa dengan Bebelle?” tanya Rich terlihat cemas.


“Kau tidak tahu?”


“Bagaimana aku tahu kalau kau tidak memberi tahuku bodoh!" bentak Rich.


"Oke."


Kemudian Efrain menceritakan kejadian tragis yang dialami Abelle pada Richard. Sehingga wajah pria ini langsung berubah merah dan mengepal tangannya hingga menggebrak meja dengan keras.


“Bajingan mereka semua!" umpat Richard murka. "Golongan darahku memang O negatif, Untuk orang lain saja kuberikan dengan senang hati, apalagi demi saudariku sendiri? Bahkan nyawaku saja jika Bebelle minta akan kuberikan dengan suka rela!" ucap Richard sekalian menyindir pada Efrain.


Efrain mengatupkan bibir, menarik nafas panjang dan serba salah. Tapi jadi kian bertambah curiga. “Berarti benar kalau kau yang mendonorkan darah untuk Bebelle?”


“No. Aku memang ke sana, tapi sudah keduluan orang lain,” jawab Richard yang terlihat jujur.


***


Setelah pertemuan tadi siang, Richard langsung menghubungi anak buahnya. “Cari dia dan aku mau kau bawa dia hidup atau mati ke hadapanku malam ini!”


[Baik, Bos!]


Kini di markasnya yang temaram. Richard duduk sambil menyilangkan kakinya di atas meja, mengepulkan asap rokoknya ke udara.


Tak lama seorang pria didorong kasar oleh Firhaith masuk ke ruangan itu. Hingga wajahnya yang babak belur, tersungkur ke depan kaki Richard.


"Ampun, Tuan ...” mohon pria itu, ketakutan melihat Richard yang memainkan belati di bawah janggutnya dan berseringai layaknya seorang psikopat.