Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
6. Permainan Takdir



“Nick, pinjam istrimu sebentar?”


Belum sempat Nick merespon. Tetapi tangan istrinya, sudah diseret-seret paksa oleh Richard ke sudut pelaminan dengan tergesa-gesa. Abelle sampai kelimpungan menarik ujung gaunnya yang glamour di resepsi pernikahannya itu. Hingga wajahnya yang cantik terlihat menekuk.


“Ada apa sih, Rich?” desis Abelle mengerutkan bibir, ia terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba


Richard celingukan mengamati sekitar, sambil mengisyaratkan saudari kembarnya itu agar tak mengeraskan suara.


“Tidak bisa aku katakan di sini, Belle. Ikuti aku!” ajaknya pergi, melangkah dengan lebar hingga sulit diimbangi Abelle.


“Jangan cepat-cepat, kau ini!” geram Abelle mencuramkan mata pada Richard yang tak mau memegangi ekor gaunnya.


Melihat adiknya lelet, Richard pun berdecak sambil memutar tubuh. “Ck, astaga! Kalau jalannya persis siput begitu kapan sampainya, Belle? Ribet sekali sih, kau  jadi pengantin!”


“Kau pun tak mau membantuku!” Abelle semakin kesal.


“Fine.” Richard memang membantu, tapi dengan mimik terpaksa dan menggulung ekor gaun Abelle seperti tikar.


Abelle melotot tajam seraya menarik kasar ujung gaunnya kembali dari tangan Rich. “Tidak usah.”


“Lho, memangnya kenapa lagi?”


“Gaun pengantinku ini pemberian dari Uncle Sam dan Uncle Peter sebagai kado pernikahan. Tetapi kau malah merusaknya!” omel Abelle.


Richard meneliti gaun Abelle yang nampak baik-baik saja. “Alasan.”


“Lecak tahu! Dasar Kakak tidak punya perasaan! Aku sumpahi nanti kamu bakal dibuat kerepotan, jika nanti menikah! Tidak ada empatinya sama sekali melihatku begini, bukannya ikhlas membantu tapi malah di olok-olok! Jadi kusut kan, gaunku yang mahal ini kamu gulung begitu. Bisa tidak? Berprilaku lembut sedikit pada wanita, contohlah suamiku–Nick!” kesal Abelle memprotes.


“Hei, tapi tidak usah menyumpahi segala lah, Belle!?” tegur Richard mendadak ngeri sendiri.


Mata Richard berputar malas seraya mendesahkan nafas kasar ke udara. Inilah sifat Abelle yang paling tidak disukai Rich, kembarannya itu super cerewet. Hal sama juga tidak disuka Abelle dari Rich yang selalu terburu-buru jika sedang ada perlu dan tidak sabaran.


“Aku mau bicara penting!”


“Di sini saja!” tolak Abelle yang ngambek sambil melipat tangan, menatap Richard yang dirasanya aneh kali ini.


Richard diam. Ekor matana bergerak kesana-kemari, tidak nyaman di tempatnya. Karena banyak orang berlalu lalang.


“Bagaimana kalau kita bicara di sebelah sana!” putusnya menunjuk ke sudut pelaminan yang agak sepi.


Namun, Abelle menggeleng. Ia menolak sebab diliriknya dari kejauhan. Suaminya itu tengah kewalahan menerima tamu undangan yang terus berdatangan dan para tamu seperti bertanya tentang keberadaannya.


Melihat mempelai pria berdiri seorang diri tanpa pengantin wanita di sisinya. Tetapi malah asyik mengobrol dengan saudara kembarnya.


“Ish, mau bicara apa sih, Rich? Katakan saja, lagi pula kenapa harus sekarang sih? Momennya tidak tepat tahu! Aku ini sedang resepsi pernikahan, tapi kamu malah mengajakku kemari? Ah! sudahlah, pokoknya disini saja. Hanya dua menit aku beri waktu bicara, cepat!” kini Abelle yang tergesa-gesa.


Richard tidak bisa lagi menyela atau membantah, ketika Abelle menerocos seperti kereta lewat.


“Ehem!” dia berdehem menetralisir nervous, “oia, di mana alamat kantor atau rumah MUA yang meriasmu adikku sayang?”


Kening Abelle berkerut, dengan mata menyipit. Wajahnya maju tepat di depan wajah Richard yang mendadak gugup, di tambah keringat dingin yang mulai turun dari keningngnya itu.


“Ada urusan apa?” tanya Abelle penuh curiga.


Richard membuang nafas. “Cuma tanya saja boleh, kan?”


“Boleh kalau jelas urusannya. Jika tidak bagaimana ya? Kau tahu kan, jika aku orangnya tidak gampang dibujuk?” goda Abelle menaik turunkan alis.


“Oke, Bebell matre. Apa yang kau minta dariku sebagai imbalan?”


“Aku tidak matre, hanya realistis saja. Kamu butuh informasi, aku beri. Tapi ya, tidak gratis buaya buntung! Mau atau tidak? Kalau tidak ya, tidak masalah.” Abelle beranjak pergi meninggalkan Richard yang berpikir lama.


Richard yang butuh, bukan Abelle. Jadi harus jual mahal. Lagi pula ia harus segera kembali ke pelaminan, karena Nick terus memanggil dengan kode lambaian tangan.


“Tunggu adikku yang cantik, baiklah aku setuju. Apapun permintaanmu pasti aku turuti!” sergah Richard.


Bibir Abelle tertarik ke atas membingkai senyum cerah, berbalik badan kemudian merogoh ponsel milik Richard dari saku celananya.


“Eh! Kamu mau apa Belle, geli tahu? Hahaha! Awas tersenggol senjata nuklirku?” desis Richard tubuhnya belenggak-lenggok menghindari tangan Abelle yang merayap.


“Idih!” Abelle seakan jijik, tapi ia tidak menggubris karena sibuk mengetik sesuatu di layar ponsel Richard. “Nah! Ambil ini dan jangan ganggu aku lagi. Oia Rich, jangan sampai lupakan satu milyar harus di transfer ke rekeningku detik ini juga!” tagihnya.


Hah?


Bola mata hijau zamrud Rich terbelalak lebar, terkejut dengan jumlah nominal uang yang diminta. Apa dia kira Rich owner dari Bank Swiss atau penanam saham terbesar di perusahaan raksasa Febe temannya Mark Zickerbag, sehingga seenak jidat ia meminta imbalan sebesar itu?


Ya, tapi demi cintanya yang belumlah layu pada Alda Danurdara. Malah kian hari kuncupnya semakin mekar, seperti bunga sakura bertebaran di musim semi. Rich terpaksa memberikan uang itu pada adiknya secara cuma-cuma, untuk mendapatkan alamat sang pujaan hati.


Tring!


Laporan sms banking masuk ke ponsel Rich dan dikirimkannya juga ke ponsel Abelle, dengan sistem RTGS (Real Time Gross Settlement) melalui Bank yang terhubung. Richard menunjukkan notif di layar ponselnya itu kepada Abelle.


Senyum Abelle kian lebar, lalu mencubit gemas ke pipi Richard.


“Terimakasih kakak-ku tersayang, kau memang tampan!” puji Abelle atas transferannya bukan berniat memuji wajah Richard yang tak ada bedanya dengan dirinya versi pria.


“Hmm, sama-sama. Bilang tampan jika ada maunya saja?” jawab Richard dengan irit kemudian melenggang turun dari pelaminan.


Pergi dengan sejuta rasa bahagia dalam hatinya. Membaca alamat Alda yang telah diketik oleh Abelle. Sedangkan Abelle menautkan lengannya di lengan Nick, seraya mengesek-gesekkan kepala. Ternyata diamatinya keheranan.


Mengapa sikap istrinya nampak bahagia sekali?


“Darling, kamu sudah tidak tahan ya, sampai terus memepetku begini?” goda Nick mengedipkan sebelah mata.


Pikiran mesum dari Nick seketika ditepis Abelle dengan bibir menjebik serta gelengan cepat.


“Dasar ketularan, Rich! Aku bahagia bukan meminta itu beibeb. Tapi karena baru saja mendapat rejeki nomplok. Hihihi … lumayan buat shopping nanti sewaktu keliling Eropa, yeay!” girang Abelle mengulum senyumnya lagi.


“Habis merampok Rich, ya?” tanya Nick menduga.


Abelle langsung menyangkalnya dengan cerdas. “Nah! Kalau merampok Bank itu dosa beib. Tapi jika merampok kakak-ku sendiri tidak masalah dan tidak melanggar hukum, karena tidak merugikan siapapun. Malah diwajibkan!”


Pernyataan Abelle mengejutkan Nick tidak habis pikir, menggaruk kepalanya meski tidak gatal.


***


Belgisch Street No. 507 Katangaise, Danurdara MUA Studio. Contact Person +243 XXX.


Richard membaca alamat yang diberikan oleh Abelle dengan serius. Sedetik kemudian ia tersenyum-senyum sendiri, mengingat perjuangan kerasnya mencari Alda sampai berkeliling Indonesia Raya dan menyebarkan detektif ke setiap penjuru kota yang tidak membuahkan hasil.


Sampai lelah dan berujung frustasi, tapi ternyata gadis yang dicarinya dengan susah payah itu. Selama ini malah berada di Kongo? Bukan main takdir mempermainkannya.


“Honey, aku merindukanmu?” gumam Richard memeluk ponselnya seolah Alda, lalu dengan percaya diri ia mencoba untuk mengubungi nomor tersebut.


Kedengarannya terhubung, tapi Alda masih belum mengangkatnya. Rich tidak menyerah dan mengulangi panggilannya lagi sampai kelima kali.


“Hallo.”


Baru mendengar suara Alda saja, tubuh Richard seolah terterpa angin pantai di pagi hari yang menyejukkan. Ia terdiam dengan tubuh membeku, menikmati suara demi suara Alda yang indah. Membelai telinganya berucap kata ‘Halo’ tidak kurang dari, lima kali juga.


Sehingga lama-kelamaan Alda pun kesal, langsung menutup sambungan teleponnya begitu saja. Mengira dari orang iseng atau sekadar salah sambung.


“Yeah! Kok dimatikan sih, honey?” lamunan Richard terpecah kecewa. Wajahnya berubah menekuk dengan bibir melengkung ke bawah. “Angkat teleponku Alda—my bunny? Ayo angkat!”


Richard mengulangi panggilannya lagi, sementara Alda disana mengabaikan dering ponselnya karena sedang mengobrol dengan seseorang.


“Kenapa tidak diangkat?” tanya pria yang berbicara pada Alda.


“Oh, biarkan saja. Pasti orang iseng atau mungkin anak kecil yang tidak sengaja memainkan ponsel ibunya dan menyasar ke ponselku?” terka Alda meringis malu.


Drrrt... 


“Jadi—”


Perkataan pria itu terpotong saat ponsel Alda terus menerus berdering. Alda yang jengah hendak menonaktifkan ponselnya tapi pria di hadapananya itu mencegah.


“Angkat saja Al, kalau orang iseng aku rasa tidak mungkin sampai menelpon berulang-ulang?” terkanya.


“Baiklah. Aku akan mengangkatnya,” balas Alda menerima teleponnya lalu menempelkannya di telinga.


[Ini siapa, sih?! Dari tadi telepon terus! Kalau kau orang iseng tidak punya pekerjaan atau anak kecil yang sedang mainan ponsel. Tolong jangan ganggu saya, maaf saya sibuk!] ketus Alda.


Lidah Rich kelu meski sekadar hanya menyapa, ia tidak menyangka jika  nyalinya mendadak berubah ciut menghadapi gadis yang ia cintai.


“H-halo Alda, ini aku … Rich …”


Mata Alda terbelalak sempurna, tarikan syaraf di otaknya seketika bekerja secara refleks memaksa jantungnya berdetak seperti alunan musik beat.


Di mana Richard yang serius dengan ponselnya, sampai tidak mengamati keadaan sekitar ketika berjalan. Tanpa sengaja menubruk tubuh seseorang begitu keras.


“Auw! Punya mata tidak, sih?” desis gadis yang ditabrak Richard terlihat marah-marah.


Bergurat linglung Richard mengangkat wajahnya perlahan dan bertambah memucat. Dengan kedua alisnya terangkat naik disertai mata terbelalak dan mulut sedikit terbuka. Saat mengetahui siapa gadis yang berdiri di hadapannya.


Glek!


“Zoya.”


Terdengar juga Rich menyebut nama gadis itu di telinga Alda, kendati sambungan teleponnya masih terhubung.


“Sayang, kamu kenapa datang ke pernikahan saudara kembarmu tidak bilang padaku dan tidak mengajakku datang bersama sekalian?”