
Sebuah mobil porsche menerjang gerbang mansion milik— Cello. Hingga gerbang itu terlepas dan mobil porsche tersebut kini berhenti di halaman.
Kegaduhannya seketika memicu para anak buah Cello yang berjaga di luar, lalu bersiap mengarahkan senjata pada si pengendara mobil porsche dari jauh.
Rich turun dari mobil dengan membanting pintunya sangat keras. Tatapan penuh kemarahan menyala di bola matanya pada semua anak buah Cello.
"Itu Senor Rich, kekasih Nona Cello!" salah seorang mengintruksi. Sehingga mereka kemudian menurunkan senjatanya.
"Maaf, Senor. Kami kira, Anda tadi adalah musuh? Maaf sekali lagi ..." tak jadi meneruskan ucapan karena Rich mengitimidasi mereka lewat tatapannya yang tajam.
Perwakilan mereka lalu menunduk hormat, diikuti yang lain. Memberikan akses jalan bagi Rich yang diam dan melewatinya begitu saja dengan nafas memburu, menuju kamar Cello.
"Cello. Buka pintunya cepat!" teriak Rich ketika sudah berdiri di depan kamar wanita itu.
Cello yang sedang berada di kamar mandi, langsung menyambar bathrobe dan keluar. Senyumnya mengembang begitu mendengar suara Rich. Dia mengira jika Rich berubah pikiran dan mengajaknya berbaikan lagi.
"Baby," ucap Cello hendak memeluk Rich setelah membukakan pintu. Tetapi sebelum mendekat, Rich menjauhkan tubuhnya.
"Apa maksudmu dengan memfotoku dalam keadaan tak sadar dengan pose menjijikkan itu, lalu kau kirim pada Alda, hah?" tanya Rich berintonasi tinggi, otaknya hampir meledak sangat ingin menghajar wanita di hadapannya ini seandainya dia seorang pria. "Katakan cepat!" bentaknya.
"Oh ... Rupanya wanita itu telah mengadu padamu yang bukan-bukan. Dasar licik!" maki Cello.
"Kau yang licik! Bukan Alda. Dia wanita baik-baik, bukan sepertimu yang suka menghalalkan segala cara demi bisa menggapai semua yang kau inginkan!" Rich menuduh balik.
Cello membuang muka sambil melipat tangan. Kebenciannya pada Alda semakin membara. Dia tak suka Rich terlalu membela Alda di bandingkan dirinya.
"Wanita baik-baik tidak akan merebutmu dariku!"
"Dia tidak merebutku, dari dulu aku menyukainya!Ingat Cello. Aku tak suka kau ikut campur urusanku dan membatasi ruang gerakku. Bahkan aku pernah mengatakan padamu, kau bisa menikmati tubuhku, tapi tidak dengan hatiku. Camkan itu *****!" hardiknya emosi.
Cello berseringai miring. "Tenang baby, jangan marah? Bukankah kita harus menunjukkan bahwa kita memang sepasang kekasih padanya?" jelas Cello dengan santai akan memeluk Rich lagi.
Belum sempat terjadi, Rich mendorongnya ke atas ranjang. Mencekik lehernya sambil mengepalkan tinju. Tapi dia tertahan omongan Cello yang membuatnya hanya bisa menahan amarah tanpa bisa melampiaskannya.
"Kau mau membunuhku, hah?" dalam kesulitan, Cello menyombongkan diri. "Apa kau lupa perjanjian itu? Perlu ku ingatkan lagi?"
"PERSETAN DENGAN PERJANJIAN!" sambil menggeram, Rich terpaksa melepas cekikan-nya dan batal meninju wajah Cello. Dia tak berkutik jika mengingat janji itu.
Kini, ia terduduk lesu di atas ranjang sambil menyugar rambutnya ke belakang. Saat Rich tenggelam dalam kepayahan diri atas ketidak berdayaan-nya, bayangan Alda menangis dan kecewa padanya pun melintas. Cello memanfaatkan situasi dengan memeluk lengan Rich.
"Baby, kau hanya milikku ... Milikku seorang. Tidak wanita itu!" tekan Cello, tak ingin Rich bersama wanita lain.
"Aku ingat semua janjiku dan ya! Pasti akan aku bayar. Tapi kau tak boleh melarangku berhubungan dengan Alda. Tidak kau! Juga daddy-mu, mengerti!" ancam Rich menyoroti tajam pada Cello yang merenggangkan pelukan.
Nafasnya memburu dan menggeleng. Cello menegapkan badan seolah menentang Rich.
"Tidak boleh! Kau hanya boleh bermain dengan pelacur di luaran sana, tapi tidak dengan Alda!" kecam Cello sarkas.
Cello tahu jika Rich mencintai Alda dan demi wanita itu. Rich pasti bersedia melakukan apa pun. Termasuk memberontak dan melakukan penyerangan. Bahkan yang paling ditakutkannya adalah Rich akan meninggalkannya cepat atau lambat.
"Kau egois! Bajingan kau!" tentang Rich, kini ia merasa tak ada gunanya bicara pada wanita tak waras itu. Dia hanya membuang-buang waktu.
Rich berpikir, bahwa dia harus melakukan rencana lain untuk mengatasi hal ini dan membujuk Alda supaya mau mengerti kondisinya yang sulit.
"Karena aku sangat mencintaimu!"
Tiba-tiba mendengar teriakan Cello itu, Rich begitu muak. Menatapnya sinis sambil mengeratkan gigi lalu mencengkram dagunya tinggi-tinggi.
"Akh!" desis Cello kesakitan, cekikan Rich seakan meremukkan tulang dagunya. "Lepaskan aku Rich! Kau menyakitiku? Uhuk!"
"**** it! Kau gila! Dasar wanita sinting sialan!" umpat Rich sambil melepas cengkramannya dan pergi keluar meninggalkan Cello. Membanting pintunya dengan keras hingga tubuh wanita itu berjingkat kaget.
Seolah tak kapok, Cello pun memanggil Rich dari kejauhan yang melangkah begitu lebar. Dia tak mau Rich lepas dari hidupnya. "Baby tunggu!"
Cello menyusul Rich ke depan teras. Dia semakin naik pitam ketika melihat Rich yang sudah masuk ke dalam mobil dan melajukannya kencang, jauh dari mansion-nya. "Rich ...!" jerit Cello meraung-raung seperti orang gila, saat Rich mengabaikannya. Hatinya sakit dan ia tidak menerima penghinaan ini.
...----------------...
Alda memang sangat bersedih, pasca memutuskan hubungan dengan Rich. Begitu pun hatinya yang tak sejalan, ketika ia berusaha keras mengubur semua kenangan indahnya bersama Rich. Maka semakin sakit pula hatinya dan ia pun sulit mengusir jejak pria itu dari hidupnya.
Nomor ponsel Rich sudah diblokir. Setiap kali Rich mendatangi studio make up-nya pun, dia selalu menghindar dan tak ingin bertemu. Bahkan supaya Rich tak bisa menemukan keberadaannya. Alda memutuskan untuk menginap di rumah Eve sementara waktu.
"Madam, nanti siang kita ada pertemuan dengan klien yang akan menyewa jasa make up kita ke luar kota," Yessa mengingatkan jadwal meeting Alda.
Namun, Alda yang melamun tak merespon ucapan Yessa. Dia sedang teringat Rich, begitu melihat bekas 1000 missed call dari pria itu dua hari yang lalu di ponselnya.
"Kau mendengarku, Madam?" Yessa agak mengencangkan suaranya kali ini. Hingga Alda sadar dari lamunan.
"Soal klien, ya?" tanya Alda menatap Yessa yang mengangguk.
"Aku kira, Madam tak mendengarkan aku? Maaf kalau begitu," jawab Yessa tak enak.
"Oh tidak apa-apa. Lalu bagaimana? Kau yang datang kan? Karena aku harus mengurus yang lain."
Yessa menjelaskan jika siang nanti tak bisa datang menemui klien itu. Karena dia harus ikut menghandle rias pengantin di Muanda. Begitu pun yang lain, mengingat make up Danurdara Studio belakangan ini banjir orderan saat musim pernikahan tiba.
"Baiklah. Terpaksa aku yang menemui Nyonya Fransiska kalau begitu di lobi hotel Santiano," putus Alda.
"Oke." Alda memaklumi itu, sepertinya dia harus merekrut karyawan baru yang lebih berpengalaman untuk membantunya supaya tak kewalahan.
Siang itu Alda telah berangkat ke hotel Santiano. Ponselnya berdering ketika dia sampai lobi yang sudah menjadi tempat janjian dia bertemu Nyonya Fransiska. Kebetulan wanita itu tengah menginap di sana, selama perjalanan bisnis ke Kongo.
"Nyonya Fransiska menelepon?" Alda mengerutkan kening setelah ia celingukan tak menemukan keberadaan-nya di lobi. "Halo, Nyonya. Anda di mana?"
[Oh, maafkan aku Madam Dara. Vertigoku tiba-tiba kambuh, jadi aku tak kuat berjalan ke lobi. Bisakah kau menemuiku di kamarku?]
"Di kamar?"
[Iya, tidak apa-apa, kan? Apakah kau mau? Jangan cemas. Di kamar hanya ada aku dan asistenku Meriam, tidak ada seorang pria di sini.]
Alda lega, tadi sempat dia berpikiran buruk dan menolak untuk menemuinya di kamar. Berjaga-jaga karena ia hanya datang sendiri ke hotel itu, sementara menelepon Yessa pun tak diangkat dari tadi.
"Baiklah, Nyonya. Saya akan ke sana," kata Alda setelah diberitahu nomor kamarnya. Ia pun langsung pergi ke kamar Nyonya Fransiska.
°°
"Masuklah, Madam." Nyonya Fransiska mempersilahkan Alda, dia terlihat pucat sambil memegangi kepalanya.
"Terima kasih," ucap Alda, melirik ke setiap sudut ruang kamar yang sepi. Benar, hanya ada Nyonya Fransiska dan Meriam— asistennya di kamar itu.
Mereka pun berbincang tentang kesepakatan kerjasama. Selama seminggu menyewa jasa make up Alda untuk sebuah event fashion show di Kikwit. Tidak ada hal mencurigakan dan semuanya berjalan lancar.
"Senang berbisnis denganmu Madam, ternyata kau orang yang ramah. Terima kasih juga sudah memberi discount," ucap Nyonya Fransiska begitu senang sambil menyerahkan sebuah cek pada Alda.
"Untuk pelanggan baru kami akan memberikan discount. Anda juga tak perlu khawatir, karena tim make up kami sangat berpengalaman di bidangnya," terang Alda membuat Nyonya Fransiska percaya.
"Ya, aku sudah melihat hasil riasanmu yang sangat bagus. Tanganmu seperti punya magic, Madam. Wow! Mereka langsung berubah 180 derajat. Dari biasa menjadi sangat cantik, sepertimu juga?" puji Nyonya Fransiska.
Alda tersenyum mendengar itu dan tidak tinggi hati.
"Anda juga cantik di usia Anda Nyonya Fransiska," balik Alda memujinya.
"Ah, biasa saja. Kita terus saja mengobrol, pasti kau haus, kan?" tanya Nyonya Fransiska yang asyik mengobrol dengan Alda.
"Terima kasih, Nyonya. Tapi saya harus pergi, saya banyak urusan hari ini," kata Alda menolak halus.
"Ayolah Madam! Ini teh hijau dari China yang sengaja kubawa sendiri. Kau harus mencobanya," Nyonya Fransiska menawarkan sambil dia meminum teh nya duluan.
Tak enak menolak, akhirnya Alda meminum teh nya demi menghargai Nyonya Fransiska.
"Auw! Kenapa kepalaku mendadak pusing begini?" gumam Alda dengan pandangan berkunang-kunang.
Tanpa disangka-sangka, seorang pria muncul dan berdiri di sebelah Alda tengah memeganginya dengan pose mesra.
Cekrek!
Meriam memfotonya, lalu pria itu duduk di hadapan Alda berpose lagi seolah mereka tengah berciuman.
Cekrek!
"Apa-apaan kalian?" setengah sadar Alda berteriak lirih menanyai mereka. Dia sangat marah, kemudian bangkit hendak keluar dari kamar itu dengan langkahnya yang gontai.
Namun, beberapa langkah dia pun pingsan. Pria itu langsung membopong Alda ke atas ranjang. Nyonya Fransiska bersama Meriam cepat membantunya untuk membuka baju atasan Alda, hingga terkesan polos tapi masih mengenakan dalaman.
Pria itu pun bertelanjang dada kemudian tidur di sebelah Alda seolah memeluk.
Cekrek!
Sent.
...----------------...
Tring!
Pop up di ponsel Rich menyala. "Ada pesan dari nomor asing?" gumam Rich yang pada waktu itu tengah mabuk di sweedie bar ditemani Firheith.
"Siapa Rich?" tanya Firheith yang sedang makan kacang.
"Entahlah!"
"Coba dibuka! Siapa tahu penting?" suruh Firheith tapi tidak ditanggapi Rich yang sedang kalut, karena tak menemukan keberadaan Alda belakangan ini. "Kalau begitu aku saja!"
Firheith mengambil ponsel Rich yang dibiarkan tergeletak. Sudah tahu sandinya, dia pun mudah membuka akses whatsapp di ponsel Rich. Namun, begitu melihat isi chat itu yang berisi foto-foto Alda dengan pria tadi. Wajah Firheith langsung berubah pucat, dia melirik Rich yang kebetulan tengah menatapnya.
"Kenapa wajahmu mirip zombie sedang anemia?" tanya Rich.
Firheith menggeleng. "Tidak apa-apa!" sambil berpikir akan menghapus foto-foto itu.
Tapi Rich yang tak percaya dan hampir saja Firheith akan menghapusnya. Rich merebut ponselnya lagi.
"Rich jangan!"