Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
100. Godaan Istri Seksi



Godaan itu terlalu dahsyat, seketika tubuh Rich panas dingin. Kepalanya pusing atas bawah, cenat cenut dengan egonya yang hampir saja runtuh. 


Tapi, ah!


Gengsi sekali jika gara-gara itu nanti semakin membesarkan kepala Alda. Maka dari itu, Rich terpaksa memejamkan mata.


Walau setan dalam hati terus menggelitik. Akhirnya Rich tak tahan untuk mengintip kemolekan Alda lewat celah mata yang menyipit.


Ya ampun! Istriku semakin montok saja? Apa maksudnya pakai lingerie merah menyala itu? Hmm, dia pasti sengaja menggodaku!


Rich mendesah dalam hati, jantungnya benar-benar tak aman saat ini dan ia sangat membutuhkan oksigen.


"Hoaam ... Pi, aku ngantuk?" Noah menguap sambil menarik-narik kaos Rich.


Rich menoleh, melihat merahnya mata Noah yang menandakan jika bocah itu sangat mengantuk. Dengan kepala yang terantuk. Saat putranya itu memainkan game di laptop.


Tak tega, Rich lekas menggendong Noah untuk tidur  di kamarnya sendiri.



"Tidurlah yang nyenyak jagoan kecil papi! I love you," ucap Rich setelah meninggalkan jejak kecupan di kening Noah yang telah pulas.


Sampai di kamarnya sendiri, Rich membolakan mata. Mendapati sweater tak lagi membungkus tubuh seksi istrinya. Melainkan lingerie terkutuk itu saja, dengan pose tidur yang sangat menantang.


Persis model wanita di majalah dewasa yang pernah Rich lihat. Kulit Alda yang putih mulus, jujur sangat menggiurkan. Hingga lalat pun akan terpeleset jika mendarat di permukaannya.


Gotcha!


Rich sudah hampir gila menjambak rambutnya sendiri, menahan sesuatu yang sulit ditahan.


Malam itu, Rich sulit tidur.  Ac sudah normal seperti biasanya, tapi mengapa cuacanya teramat panas. Sehingga pemilik perut roti sobek itu, seketika melepas kaosnya dan memutuskan tidur dengan bertelanjang dada.


Sreek, sreek!


Bukan parutan es serut, suara itu justru muncul dari Rich yang berdecak kesal. Menggerutu sendiri sambil terguling-guling di atas ranjang. 


Lima belas menit kemudian, 


Rich memiringkan tubuh yang tak sengaja berhadapan dengan wajah Alda. Entah kenapa posisi seperti ini, membuatnya justru terfokus memandangi bibir Alda yang tertutup itu. Rasanya ingin mencium dan ya ...


Buah dadanya itu sangat ingin diremas lalu dibawanya menjelajah ke dalam mulut sambil memenuhi tubuh wanita seksi itu.


Kini, nafas Rich tersengal-sengal. Mulutnya megap-megap dan  jarinya pun refleks terulur akan menyentuh benda empuk di depannya.


Namun tiba-tiba Alda menggeliat, memaksa Rich yang gugup itu terburu-buru berbalik badan.


Tik, tok!


Denting jam dinding, melebihi detak jantung Rich. Sudah berpikir keras selama lima menit, di tambah tadi dua puluh lima menit. Sungguh menyiksa baginya tatkala waktu berjalan sangat lambat.


Please, si mesum itu kesabarannya sudah diambang batas dan sesuatu dalam dirinya perlu diledakkan.


"Sweety ..." panggil Rich sangat lembut, hingga mungkin kupu-kupu akan hinggap ke arahnya semua.


Tangannya merambat ke bahu Alda dan membuat sebuah gosokan pemicu gairah. Nafasnya yang hangat sengaja ditiupkan ke wajah Alda supaya istrinya itu bangun.


"Hmm, nyamuk ini mengganggu saja!" gerutu Alda yang sangat mengantuk lalu menabok wajah Rich yang dikira nyamuk.


Cplash!


Aduh!


Wajah pria itu meringis menahan sakit dan rasanya kini  hidungnya yang mancung itu  menjadi bengkok. Sangat, sangat kesal tentu saja.


Tapi dia tak bisa marah pada kesayangannya, karena tahu Alda tak sengaja.


"Baiklah ..." Rich terpaksa mengalah dan tidur di sofa meregang kaku, dengan tongkatnya yang kedinginan berteman sepi.


Pagi hari sangat cerah. Tidak menyemangati Rich yang wajahnya tampak kusut. Duduk di tepi kolam renang sambil menunggu Noah berendam dengan bebeknya.


"Ayo, Pi. Kita berenang! Airnya segar loh!" ajak Noah yang terlalu asyik berputar-putar di dalam air. Sebenarnya bisa berenang, tapi sedang malas-malasan.


"Tidak sayang. Papi sedang tidak mood."


"Yeahh!" kecewa Noah cemberut.


"Hey, Sayang! Tidak usah sedih. Papi mungkin sedang tak enak badan. Bagaimana kalau mami saja yang  menemanimu?" 


Kemunculan Alda disambut tawa riang sang putra, tidak Rich yang awalnya tiduran di kursi malas itu seketika menegakkan punggungnya  dengan mata melotot. Menyaksikan Alda yang berbikini, perlahan menenggelamkan tubuh ke dalam air.


"Goddamn it! Dia sungguh meresahkan!" desis Rich yang meraup wajahnya dengan kasar, menenggak jus alpukat di meja hingga tandas sambil berdebar-debar jantungnya menyaksikan Alda yang hampir membuatnya hilang kewarasan. "Ya ampun aku sudah tak kuat lagi!"


Dan ternyata Trecy memperhatikan secara  diam-diam putranya yang resah dari balik daun pintu menuju kolam renang. Ia menahan tawa sekaligus kasihan, lalu memiliki ide dan berniat membantu dengan segera menghampiri mereka ke sana.


"Noah sayang, kita pergi ke peternakan kuda, yuk! Grandpa punya kuda poni yang baru datang dari Skotlandia. Apakah kau mau melihatnya, Sayang?" tawar Trecy.


"Kuda poni?" 


Trecy mengangguk dan tersenyum, mencubit hidung Noah yang matanya kini berbinar-binar cerah. Bocah tampan itu tampak  senang sekali dan bisa diajak bekerjasama.


Buktinya, tanpa perlu disuruh. Noah langsung keluar dari kolam renang dan menyambut uluran tangannya.


"Pi, tolong jaga mami! Aku mau ke peternakan lihat kuda poni dengan grandma dan grandpa dulu, ya?" izinnya sekaligus berpesan.


"Ya, Sayang! Jangan lupa bawa sisir!" teriak Rich membuat Trecy dan Noah saling pandang bertautan alis.


"Buat apa, Pi?" tanya Noah sementara Alda yang sibuk berenang tak mengetahui hal itu.


"Untuk menyisir rambut kuda poninya, lah!" goda Rich seketika menimbulkan tawa kecil dari Noah dan mommy-nya.


Setelah kepergian Trecy dan Noah, kini suasana di sekitar kolam renang mendadak sepi.


Benar-benar mendukung atau sengaja dibuat begitu oleh mommy-nya itu. Hingga Rich yang tak ingin membuang waktu, lantas melepas kaosnya.


BYUURR!


Pria seksi yang hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada itu pun seketika melompat ke dalam air. Sedikit menuju dasar untuk mendekati Alda yang belum menyadari kehadirannya.


Bahkan Alda mengira jika sosoknya adalah Noah, akan tetapi Alda seketika terhenyak saat melihat wajah Rich yang tiba-tiba sudah ada di depan mata.


"Boo?"


Rich tersenyum memandanginya penuh maksud lalu menekan rahang Alda dan mencium bibirnya tiba-tiba.


Sontak membulatkan mata Alda. Karena ciuman itu pertama kalinya dilakukan keduanya di dalam air.


Rich memimpin dengan sangat ahli, mengulum bibir Alda dengan lembut. Justru memberi sensasi berbeda yang merubah ciuman itu semakin memanas. Ketika Alda mulai menikmati, membalas ciuman Rich  dengan sangat menggairahkan.


"Sudah tak marah lagi?" 


Alda tersenyum menatap Rich yang tampak dirundung nafsu berkepanjangan dari pantulan matanya yang sayu. Setelah ciuman keduanya terlepas dan mengeluarkan kepalanya dari dalam air karena hilangnya oksigen.


"Bagaimana aku bisa marah terlalu lama padamu sweety? Kalau kau saja terus membuatku terjatuh ke dalam jebakanmu?" suara bariton Rich terdengar serak-serak basah.


Tak lama selepas bicara. Pria itu menyambar bibir Alda lagi dengan gerakan agresif.


Alda kewalahan mengimbangi ciuman Rich yang rakus itu. Suaminya tak memberi celah untuknya mengambil nafas.


Menjelajah lidahnya berupa lilitan panas dan  tanpa melepas pagutannya sambil mendorongnya ke tepi dinding kolam renang.


Ciuman berlangsung lama itu pun berpindah ke leher, decapan kuat terlalu mudah membekaskan jejak merah ketika kulit Alda basah. Wajah cantik itu mendongak, memberi akses Rich untuk bertindak semaunya.