
"Kalian berempat tidak lolos kualifikasi sebagai sekertarisku dan Nona Yessa lah yang pantas menduduki jabatan sekertaris di Fire Base Agency."
Para wanita itu yang setengah naked walau masih mengenakan bra dan ****** ***** tampak kecewa mendengar keputusan Rich. Lalu mereka pun protes.
"Bagaimana mungkin Anda memilih wanita jelek sepertinya, Senor? Ia tak pantas mendampingimu bekerja dan hanya akan mempermalukanmu di depan klien."
"Lihatlah jidatnya yang lebar? Kita bisa bermain bola di sana!"
"Hey, kau benar! Itu yang aku mau katakan dan baru kali ini aku ledakkan. Dia juga tak pandai merias dirinya. Mana ada datang melamar sebagai sekertaris untuk Senor Rich yang tampan, tapi tampilannya biasa saja begitu! Hah, memalukan!!"
"Tubuhnya juga kurus dan tidak berisi. Aku curiga dia cacingan atau kurang gizi, ups!" Mereka semua cekikikan dan menertawai Yessa.
Yessa masih bersabar meski kedua tangannya mengepal dengan gigi saling bergemeletuk dan seharusnya sesama wanita, mereka saling menghargai. Alex saja yang di sana dari tadi sampai ikut kesal mendengar cemoohan mereka. Tidak Rich yang langsung membentaknya habis-habisan.
"Diam atau kusobek mulut kalian!!"
Mulut mereka berempat seketika merapat. Napas Rich memburu mendekati mereka, menyoroti sinis dan melayangkan tamparan keras di wajah keempatnya rata.
Plakkkkk!
"Auw!" Mereka mengaduh kesakitan, mengusap pipinya dengan ekspresi ngambek. Lirikannya tajam pada Yessa, tak terima jika Rich lebih membelanya.
"Wajah, tampilan dan bentuk tubuh hanya nomor sekian jika bekerja untukku. Kualifikasi utama adalah otak, dan Yessa memiliki itu. Daripada kalian yang nilai akademiknya rendah, serendah derajat kalian di mataku. Pergi sekarang atau kusuruh para bodyguardku memperk*sa kalian secara bergilir!!" Rich mengancam sadis yang membuat wajah-wajah sombong mereka berubah pucat.
Mengenakan pakaiannya secara tergesa, setelahnya lari ketakutan keluar dari ruangan Rich dan Yessa tak pernah menyangka. Rich—mantan kekasih bosnya. Ternyata, memiliki empati yang sangat besar di balik sikap mesumnya itu.
Haruskah Yessa percaya atau itu hanya akal-akalan Rich saja yang merencanakan sesuatu demi ...
"Kau diterima bekerja di sini Yessa Irlandia," suara Rich mengaburkan pikiran Yessa. "Menjadi sekertarisku."
Yessa menoleh ragu ke hadapan pria tampan itu yang mengulaskan senyum dan memintanya duduk kembali ke mejanya.
"Gracias por defenderme Será mejor que no tenga que hacer eso, señor Rich— terima kasih sudah membela saya. Se****baik****nya Anda tak perlu melakukan itu, Tuan Rich." Yessa sedikit membungkuk untuk memberinya hormat.
Rich tahu Yessa gengsi. Tak jauh berbeda dari bosnya— Alda dan Rich tak akan merendahkannya. Punya cara sendiri melobi wanita ini. "Solo para que sepas— asal kau tahu. Aku melakukannya bukan untukmu, tetapi aku memang tidak suka melihat manusia sombong di muka bumi ini."
Yessa mengangguk lega, tersenyum yang tampak manis dilirik oleh Alex secara diam-diam.
"Alex. Ambilkan surat perjanjian kontrak kerjanya!" Rich menyuruh asistennya itu.
"Baik, Senor." Alex menyerahkan berkasnya dan berkata lembut. "Silakan tanda tangani, di sini!" jari Alex menunjuk ke bawah tulisan paling bawah sembari melirik Yessa yang tak sengaja bertatapan dengannya.
Rich memperhatikan signall-signall itu lalu mengulum senyum dan merotasikan mata. Membiarkan udara-udara kosong di sekitarnya, tercemari benih-benih asmara.
"Sampai kapan kalian berpandangan? Jika kelamaan, bisa-bisa rambutku tumbuh uban!" sindir Rich pada akhirnya.
Alex menjauhkan diri dan Yessa tampak kikuk menjaga jarak.
"Maaf, Senor."
"Hmm. Oia, Yessa. Baca isi perjanjian kontraknya dengan baik sebelum kau tanda tangani. Gajimu 1500 ₣ per bulan, belum tunjangan dan ketika mengikutiku selama perjalanan bisnis. Akomodasimu juga akan ditanggung perusahaan, jadi kau tak perlu mengeluarkan biaya sendiri dan ya ... Tiga bulan training, itu jika kau lolos. Tapi khusus untukmu, aku mengecualikannya dengan satu syarat!" Rich memutar kursinya dan menatapnya serius. "Asalkan ..."
"Jika ini mengenai Madam Dara. Maaf, saya tidak bisa Senor." Yessa mempertegas.
"Aku hanya memintamu untuk memberitahu di mana Alda tinggal, itu saja dan kau akan mendapat posisi ini." Rich bernegoisasi, berharap Yessa terbujuk. "Tidak mudah diterima bekerja di sini, Yessa. Banyak yang mengantre dan kau kuberikan jalan pintas tanpa perlu bersusah payah. Mobil baru juga akan kuberikan, asalkan kau mau bekerjasama."
Yessa membisu lalu menarik napas dan membuangnya. "Saya bukan pengkhianat, Senor. Apalagi ini berhubungan dengan Madam Dara. Mohon maaf, saya tak akan menjual informasi di mana Madam Dara tinggal di Indonesia. Permisi!"
"Tunggu, Yessa!" panggil Rich, tetapi wanita itu terus melangkah dan tak mempedulikannya. Hingga Yessa terkatung di tempat, setelah mendengar ancaman Rich yang membuatnya sempat goyah. "Sekali kau keluar dari Fire Base Agency. Maka pintu perusahaan lain di Kongo akan tertutup untukmu dan hanya aku saja yang sanggup menolongmu Nona Yessa Irlandia. Ingat baik-baik! Saat itu datang. Jangan pernah berharap aku mau berbaik hati, karena aku tak suka mengulang penawaranku lebih dari dua kali!"
Yessa menguatkan diri lalu melirik kesal. "Oh, jadi begini taktik Anda Senor Rich yang terhormat. Menyogok kesetiaan seseorang dengan uang Anda? Kalau begitu. Maaf, Anda salah orang!"
Rich tersinggung atas ucapan Yessa yang dianggapnya sombong. Tetapi dia punya banyak cara demi menggapai ambisinya. Rich tidak suka diremehkan, sekarang ia merasa tertantang untuk membuktikan ucapannya.
"Alex, keluar dari ruanganku!"
Alex mengangguk. Tak lama kemudian, Rich mengangkat ponselnya dan menghubungi seseorang yang akan menghubungkan koneksinya pada seluruh jaringan bisnisnya di Kongo.
...----------------...
"Nona Yessa. Nona!" Alex terus memanggil namanya sambil mengejarnya hingga ke luar lobi Fire Base Agency.
Yessa mengangkat wajahnya malas pada Alex yang telah berdiri di hadapannya, dengan napas berderu dan melempar senyumnya yang manis.
Ah! Yessa benci pria itu yang seketika mengingatkannya pada Rich.
"Kenapa lagi?!" galak Yessa melipat tangan. "Pasti kau disuruh bosmu itu kan, menghampiriku?"
Alex terkejut menautkan alis, menanggapinya dengan tenang. "Sabar dulu, Nona. Saya datang atas dasar kemauan saya sendiri. Karena ..."
"Karena apa?!" bentak Yessa kemudian melengos pergi begitu saja. Tetapi Alex masih mengekorinya hingga Yessa mendampratnya lagi. "Astaga! Kau ini—"
Alex cepat memotong ucapan Yessa sebelum menyembur. Dari saku jasnya, Alex mengulurkan sebuah sapu tangan warna merah jambu pada Yessa. "Ini milikmu, bukan?"
"Oh ... Iya," ucap Yessa memelankan suaranya karena malu, telah salah sangka pada Alex dan menerima sapu tangan miliknya. "Te-terima kasih banyak, Tuan Alex."
"Alex saja, tidak perlu pakai Tuan. Kita statusnya sama, bolehkah kita berkenalan?" tanya Alex dengan perhatian yang membuat Yessa tak ragu menjabat tangannya lalu tersenyum.
Rich serius memperhatikan interaksi keduanya lewat CCTV di ruangannya. Bagaimana Alex mengakrabkan diri pada Yessa dan membujuk wanita itu supaya mau menerima tawaran dari Rich. Tetapi agaknya Yessa masih berkeras hati dan kekeh pada pendiriannya.
"Ya sudah kalau begitu. Jika kau berubah pikiran, simpan nomer ponselku ini. Aku akan membantumu, Yessa." Alex memberikan kartu namanya. Berharap wanita manis itu tak menolak kesempatan emas yang diberikan bosnya.
"Terima kasih Alex, aku pergi dulu."
Di malam harinya, Yessa dibuat dilema oleh penawaran Rich. Menimang-nimang kartu nama Alex dengan kepala pusing.
"Jangan tolak kesempatan ini Yessa. Banyak orang mendambakan pekerjaan ini dengan gaji se fantastis itu dan kau tak akan pernah menemukannya di perusahaan manapun. Kau tahu kan? Di Kongo gajinya kecil semua? Terkecuali hanya di Fire Base dan C&L Diamond. Namun, masuk ke dua perusahaan besar itu tidaklah mudah. Banyak orang saling sikut dan menghalalkan segala cara demi bisa diterima di sana."
Yessa menarik napas panjang. Selama ini, Alda sudah banyak membantu kehidupannya dan ia tak tega mengkhinatinya hanya demi kepentingannya sendiri. Ia juga sudah menanyakan lowongan kerja pada Eve, tetapi sahabat bosnya itu mengatakan jika masih belum ada lowongan.
Belum mau berputus asa. Yessa mencari lowongan lagi di internet dan surat kabar, maupun dari teman-temannya. Malam itu juga. Ia mengirimkan email surat lamaran dan berharap, Tuhan masih memberinya jalan tengah.
Sebuah email masuk keesokan harinya. Yessa pun bersemangat mendatangi perusahaan properti itu, meski antreannya tak terlalu panjang dan ia yakin akan diterima. Karena ijazahnya memenuhi kualifikasi.
"Yessa Irlandia, silahkan masuk!" seorang staf memanggil gilirannya diinterview.
Baru saja duduk, Yessa dibuat tercengang keputusan tim HRD itu.
"Maaf, Anda tak memenuhi kualifikasi bekerja di perusahaan kami. Semoga Anda memperoleh keberuntungan di tempat lain," tolak HRD itu secara halus.
Yessa yang lesu pun mengangguk. "Baiklah, Tuan. Terima kasih banyak."
Seminggu ini sepuluh perusahaan tak ada yang menerimanya dan hanya tersisa satu perusahaan lagi, Yessa menggantungkan harapan.
...----------------...
****DIT. Inc****
Yessa menghalau panasnya matahari yang menyilaukan mata dengan telapak tangan. Menyebrang jalanan setelah lampu merah dan memasuki perusahaan raksasa di bidang Diamond itu sambil menyeka keringat dengan sapu tangan.
"Sesi interview-nya masih berlangsung kan, Nona?" tanya Yessa pada bagian resepsionis. Memastikan jika ia tak terlambat, karena menurutnya masih pukul sepuluh siang dan security di luar mengatakan, jika interview masih berlangsung.
"Nama Anda siapa, Nona?" balik resepsionis di lobi bertanya.
"Yessa Irlandia."
☎ Kriiing ...
Dering telepon nirkabel menjeda resepsionis dan menyuruh Yessa menunggu, sementara dia mengangkat telepon.
"Silakan duduk dulu, Nona Yessa." Resepsionis sembari meletakkan telepon di telinga.
"Baik," Yessa tersenyum lalu duduk dan bergabung dengan yang lain.
Hallo ...
Setelah mendengar suara di telepon. Wajah resepsionis mengerut dan sedikit mencuri tatap pada Yessa. Ia mengangguk paham, hanya berkata baik dan baik.
"Nona Yessa, tolong kemari." Resepsionis memanggil.
"Iya, bagaimana?" Yessa mendekat dengan wajah penuh pengharapan.
"Maaf, Nona. Lowongan di DIT. Inc, sudah ditutup. Anda terlambat lima menit," putus resepsionis mengecewakan Yessa.
"Tapi kata security tadi?" Yessa masih belum percaya apa yang dia dengar. "Ini pasti ada yang tidak beres. Jangan main-main, Nona. Tidak lucu, saya sudah jauh-jauh datang kemari. Naik bus sebanyak dua kali dan sekarang Anda memusnahkan harapan saya? Ayah saya sedang di rumah sakit dan saya butuh pekerjaan ini? Tolonglah beri saya kesempatan ..."
Resepsionis kasihan tetapi dia tak bisa membantu. Security datang melerai, atas suruhan pimpinan pusat.
"Bapak tolong jelaskan pada Nona resepsionis ini. Jika saya tidak bohong, kan?" Mata Yessa berkaca-kaca mengatakan itu, dia sangat terpukul. Sedih dan lelah, ditolak berkali-kali di perusahaan manapun.
Security mengernyit, tapi wajah garangnya menutupi rasa ibanya. "Saya hanya staf rendah, Nona. Jika saya salah memberikan informasi itu wajar. Apalagi saya berada di luar. Jadi, infonya bisa saja tidak valid."
"Tapi, Pak? Hiks, hiks." Yessa menjatuhkan bulir air matanya tanpa sengaja.
"Maaf Nona. Jangan buat keributan yang akan membuat saya terkena imbas dipecat dari perusahaan ini. Tolong mengerti posisi saya juga," Security mengajak Yessa keluar dari lobi.
Terpaksa Yessa menyeret kakinya lemas. Sesekali menoleh pada gedung raksasa DIT. Inc sambil menyeka air mata. Di halte kini duduk. Yessa menerawang nanar ke jalanan berdebu menunggu bus datang.
Drrrt ...
"Pihak rumah sakit?!" Yessa terpekik dan buru-buru mengangkatnya. Hallo? Ada apa, Sus?
Ayah Anda kritis, Nona Yessa. Kami harus segera melakukan tindakan darurat dan Anda harus menyiapkan dana secepatnya.
Baik-baik, saya akan usahakan secepatnya!
Air mata Yessa banjir. Entah dapat keberanian dari mana dia menjanjikan itu padahal di rekeningnya hanya cukup untuk makan sebulan.
"Yessa, kau di sini?"
"Alex!" Yessa terkejut mengetahui pria itu berada di depannya. Ia pun buru-buru akan menghapus wajahnya yang basah. Tetapi kalah cepat dengan Alex yang membasuh wajahnya dengan sapu tangan milik pria itu.
Yessa terkesiap akan perlakuan Alex. Membeku hingga tak mampu bicara.
"Maaf, jika aku lancang. Sebenarnya ada apa?" tanya Alex duduk di sebelah Yessa.
Yessa tak canggung menceritakan semuanya karena berpikir Alex adalah pria baik-baik. Alex mengangguk paham dan merasa prihatin lalu memberinya nasihat.
"Begini Yessa, lowongan di Fire Base masih ada jika kau mau. Tetapi aku tak memaksamu kali ini, semua terserah kau baiknya bagaimana. Aku hanya ingin ayahmu selamat dan asal kau tahu. Sebenarnya Senor Rich itu sangat mencintai Madam Dara—"
"Kalau dia mencintainya, kenapa dia masih sering gonta-ganti wanita? Dan berkhianat?" Yessa mencerca, sulit percaya.
Alex menarik napas panjang. "Ada suatu hal rahasia yang tidak bisa aku katakan. Aku takut nyawa kita terancam. Tapi, yang aku lihat dan dengar selama ini. Senor telah mencarinya ke mana-mana dan sangat menyesal. Ia bahkan telah menggali informasi ke mana saja, demi bisa menemukannya. Hasilnya sia-sia. Madam Eve yang temannya juga tak mau memberitahunya. Jika kau sayang dengan Madam Dara dan ingin melihat mereka bersatu. Sebelum pernikahan antara Senor Rich dan Ms. Cello berlangsung. Tolonglah bantu Senor, Yessa? Karena kau tak akan tahu, betapa sakitnya jauh dari orang yang kita cintai."
"Apa? Senor akan menikah?" Yessa sangat terkejut.
Menurut kalian, apakah Yessa akan bersedia?