
Rich mendatangi Sweedie Bar pukul 16:00 sore itu. Kejenuhannya akan ditumpahkannya ke Club malam ini yang baru akan buka satu jam lagi. Namun, para bartender telah bersiap-siap dan mulai bersih-bersih.
Zelensky Major— Manajer Sweedie Bar langsung menghampiri Rich, begitu melihatnya memasuki Club dengan pengawalan dua orang bodyguard. "Tuan Firheith sudah ada di ruangannya, Senor. Beliau berpesan begitu, jika saya bertemu dengan Anda. Apakah Anda akan menemuinya sekarang?"
"Fir sudah di sini, dari jam berapa?" Rich menunjukkan ekspresi keterkejutannya itu, karena Firheith biasa datang saat malam hari dan jika dia berada di Sweedie Bar lebih awal. Itu pertanda terjadinya musibah besar.
Zelensky mengangguk. "Sudah semenjak jam makan siang, Senor."
"Owh. Ini sungguh kejadian langka, mari kita usut tuntas." Rich manggut-manggut.
"Mari saya antar?" Zelensky membuka jalan, mengawal Rich dari belakang bersama dua bodyguard-nya yang setia setiap saat.
°°
°°
Aura maskulin dan kharismatik di samping casanova yang melekat sejak lahir memang diwarisi Rich dari sang Daddy. Tetapi jangan salah, jika mengenai bisnis. Rich akan bekerja secara profesional dan terstruktur.
Setiap Bartender dan staf membungkuk hormat, ketika berpapasan dengan owner Sweedie Bar yang berjalan gagah itu. Kini telah berdiri di depan pintu ruangan Firheith. Telinganya menangkap sesuatu. Ya, itu sebuah erangan kenikmatan dan sangat keras.
"Tunggu!" Rich melarang Zelensky yang hendak menekan bell ruangan Firheith.
"Kenapa, Senor?" polos Zelensky, mungkin saat itu telinganya belum dikorek atau karena sering mendengar suara mistis sehingga ia terbiasa dan biasa saja.
"Pergilah! Biar aku saja yang membukanya!" Rich mengusir Zelensky. Dalam hatinya tiba-tiba tercetus ide, ingin mengerjai sahabat seperjuangannya yang sebelas lima belas dengannya.
Tanpa membantah, Zelensky pamit. Rich bersiap mundur dan berancang-ancang dengan gaya memiringkan tubuh, kedua tangannya mengepal silang. Tenaganya dipusatkan pada sebelah kaki kanan-nya.
BRAKKK!
Pintunya terbuka lebar karena tendangan dahsyat dari Rich. Firheith yang melebarkan kaki dengan mata terpejam mulanya pun terkaget-kaget, sampai kedua peliharaannya yang sedang berkaraoke ria dalam posisi polos pun lari terbirit-birit dan gemetar di pojokan.
"Bajingan tengik! Holly ****!!" umpat Firheith dalam kondisi tanggung berdiri di hadapan Rich yang tertawa terpingkal-pingkal.
Rich melihat tongkat sakti yang tadinya menegang kini layu. Dia semakin tertawa, apalagi melihat ekspresi kecut dari Firheith.
"Sorry! Aku kira pintunya macet, Bro! Jadi kutendang," ucap Rich tanpa dosa.
Firheith merotasikan bola matanya, sebelum ia berjalan menghampiri dua wanitanya lalu merangkulnya mesra. "Lanjutkan sekarang dan bangunkan dia di surgamu, Sayangku!" tanpa mempedulikan Rich yang kini berubah sinis.
Ketika salah seorang wanita itu mencumbu bibir Firheith dan yang lain mencium area lain dengan sangat lapar.
"Dasar kadal brengsek! Harusnya kau tunda dulu. Di sini ada aku, kau malah sengaja berbuat begitu! Memalukan." Rich marah-marah lalu berbalik badan akan keluar. Namun, suara Firtheith mencekatkan kakinya.
"Ough ... Yes baby! Faster! Nanti ... Ah ... Aku menyusulmu ... Rich!"
"PERSETAN, MATILAH KAU!"
Rich membanting pintunya lagi sebelum ia benar-benar terbebas dari pintu neraka tadi. Memutuskan kembali pulang ke apartemen-nya, daripada menunggu Firheith yang hanya berbasa-basi.
...----------------...
"Pagi, Senor. Tim HRD sudah melakukan interview pada sejumlah kandidat pelamar hari ini. Tersisa lima orang yang memenuhi kriteria." Asisten Rich melapor sembari menunjukkan berkas lamaran mereka ke mejanya.
Rich memeriksa setiap lembar berkas itu dan terhenyak begitu melihat foto seorang wanita di antara lima pelamar tersebut yang membuatnya teringat akan sesuatu.
"Alex. Panggil mereka berlima untuk masuk ke ruanganku sekarang!"
"Baik, Senor."
Alex segera keluar untuk menemui mereka berlima yang duduk di depan ruangan CEO sekaligus Owner Fire Base itu. Mereka sibuk memikirkan dirinya sendiri. Keempat-nya memiliki wajah cantik dan tubuh semampai, sehingga mereka tak tak terlalu gelisah seperti wanita satunya yang tampak minder akan penampilannya yang biasa.
Hanya ijazah, skill, sertifikat dan pengalamannya bekerja selama lima tahun itulah yang membuatnya cukup berani melamar di Fire Base Agency. Meski usut punya usut, CEO itu tidak terlalu mementingkan kualitas tapi mengutamakan penampilan.
Dia tahu siapa owner dan CEO-nya. Mengenal betul sepak terjangnya selama ini, bagaimana kisah asmaranya yang rumit seperti benang layangan. Namun, dia terpaksa mencoba peruntungannya di sini. Bukan lantaran rekam jejaknya di masa lalu dengan mantan bosnya. Melainkan terpaksa demi kelangsungan hidupnya yang dalam keadaan sulit.
"Kalian berlima, dipanggil Senor Rich untuk masuk!" Alex membuyarkan ketegangan wanita itu.
Memasuki ruangan yang ber— Ac dingin. Yang entah kenapa kali ini, atmosfernya berubah memanas. Bahkan wanita itu lebih memilih menunduk dan berjalan di urutan terakhir. Berdiri paling ujung sengaja menutupi keberadaannya, di antara para rekanan-nya yang lebih percaya diri dan terpukau oleh ketampanan Richard Louis.
"Selamat pagi." Rich menyapa mereka semua dengan suara beratnya yang terdengar seksi oleh mereka berempat. Tapi tidak bagi wanita itu, yang bagaikan mendengar suara hakim di persidangan, mendakwanya dengan hukuman berat.
"Pagi, Senor Rich." Mereka berempat menjawab Rich dengan gaya menggoda, tersipu malu dan kerap membenahi penampilan. Berharap dirinya terpilih menjadi sekertaris CEO itu.
"Duduk!"
Semua menghadap Rich, terkecuali wanita tersebut yang masih menunduk dan meremas tangannya gugup. Rich meliriknya tanpa dia tahu, dengan sikap datar sembari memanggil nama mereka satu persatu untuk diinterview. Hingga tersisalah wanita itu yang kemudian namanya dipanggil.
"Yessa Irlandia."
"Sa-saya Senor," jawab Yessa terbata-bata.
Rich pura-pura mengecek lagi kelengkapan berkas milik Yessa dengan terangguk-angguk. Sedangkan keempat wanita di sebelahnya, menatap rendah pada Yessa dan berpikir jika saingannya itu akan segera tersisih.
"Oke, semuanya memenuhi kriteria menjadi sekertarisku. Tapi dari kalian berlima, hanya satu yang akan aku pilih." Rich sukes membuat jantung mereka semua berdebar-debar. "Satu permintaan saya yang harus dan ... Wajib kalian lakukan. Bahkan kalian tak boleh menolak jika saya menginginkannya!"
"Apa itu Senor?" salah satu dari wanita itu yang sangat penasaran, memberanikan diri bertanya.
Rich beranjak dari tempatnya, beralih ke meja dan duduk miring di hadapan mereka semua sangat dekat. Jantung mereka sudah mau copot dan salah tingkah. Berbeda Yessa yang berkeringat dingin dan berniat mengurungkan niatnya menjadi kandidat sekertaris. Namun, pantang baginya kalah sebelum berperang. Jadilah Yessa masih bertahan di sana.
"Buka baju kalian sekarang."
Tanpa ragu lagi, keempat wanita itu berdiri dan mulai melalukan perintah Rich. Hanya Yessa saja yang masih tetap duduk dengan pikirannya yang carut marut. Berat melakukan ini dan dalam hatinya mengecam keras perbuatan Rich. Akhirnya dia memutuskan sesuatu yang dianggapnya tepat.
Greett!
Yessa menggeser kursi, berikut terhentinya keempat wanita itu yang sudah hampir polos. Mengalihkan pandangannya pada Yessa yang menyambar tas dan menarik berkas lamarannya lagi dari atas meja Rich.
"Maaf, Senor Rich. Saya membatalkan lamaran kerja saya. Permisi!" Yessa buru-buru pergi dan tak ingin lagi kembali ke ruangan itu. Pantas saja, Madam Dara kecewa pada Senor Rich. Ternyata bukan hanya playboy? Otaknya juga kotor. Cih!' jengkel Yessa dalam hati.
"Tunggu!" Rich mencegahnya, sehingga Yessa terpaku di tempat.