Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
72. Nekat



Jangankan Rich, Firheith yang terbawa emosi itu saja muak melihat Rendra dan tanpa berpikir panjang. Diam-diam, ia mengeluarkan revolver dari balik punggungnya yang seketika diketahui oleh Rich. Rich melarang lewat gelengan kepalanya perlahan. Sehingga Firheith terpaksa memasukkan kembali revolver itu.


"Masih tunangan kan, belum tentu menikah?" Rich menyindir dan tersenyum getir walau hatinya sakit. Untunglah dia mendengarkan Firheith. Setidaknya ia lega, karena ternyata kesimpulannya salah. Ternyata Alda dan Rendra belum menikah, hanya bertunangan saja.


“Apa maksudmu, Rich?” Alda terlihat panik, blingsatan takut Rich tak percaya dan ketahuan berbohong.


Rich maju ke depan Rendra, berdiri menantang sambil mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. “Jadi aku berkesempatan menikungmu Bli Rendra. Lagi pula aku yakin sekali jika Alda masih mencintaiku.” Kemudian Rich mengerlingkan matanya pada Alda yang menunduk gelisah.


Pernyataan Rich barusan, membuat tenggorokan Alda tersumbat hingga ia sulit membantah. Di saat bersamaan pula, Rendra semakin mengencangkan rengkuhan di pinggangnya yang membuat Alda kesal. Harusnya Rendra tak berlebihan, ketika pria itu tahu kalau Alda hanya berpura-pura. Ataukah Rendra menganggapnya serius?  Bila terbukti benar, maka sekarang Alda dalam masalah besar karena ia terjebak rencananya sendiri.


“Seyakin itu Mr. Rich? Kita buktikan, siapa di antara kita yang layak dan pantas untuk Alda. Tetapi sebelum itu kau harus tau. Kalau Tuan Morren sudah merestui hubungan kami, bahkan kau dengar sendiri barusan. Alda telah mengakui bahwa kami sudah bertunangan. Jadi jelas, kau sudah memiliki kesempatan!” Rendra membalas dengan menohok hingga Rich mengepalkan tangannya.


Rich membuang napas kesal. “Alda hanya bicara dari mulutnya Bli Rendra. Isi hatinya kau kan, tidak tahu? Bisa saja dia berbohong demi membuatku cemburu karena kesal dan saat semuanya terbukti. Kau lah yang akan dipermalukan!”


“Ayo Alda, kita pergi! Jangan membuang-buang waktu kita hanya untuk mendengar omong kosong bule sombong ini!” tajam Rendra mengajak Alda berjalan cepat menjauhi Rich, dengan sesekali Alda melirik Rich yang bergeming tak mengejarnya. Justru itu membuat ia penasaran dan entah kenapa ia merasa kecewa.


“Tunggu, Fir. Kita harus bermain halus!” Rich mencekal tangan Firheith, begitu dia akan menyusul Alda dan Rendra yang telah menjauh.


Firheith masih emosi. “Aku tak suka melihat polisi itu! Dia terlalu cerdik memonopoli  keluguan Alda. Dia tahu Alda sengaja berbohong tapi dia memanfaatkannya.”


Rich mengajak Firheith kembali kamar resort mereka sambil berbincang mengenai hal itu.


“Oleh karena itu, Fir. Jangan terlalu transparan menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya, termasuk kau yang kularang mengeluarkan revolver. Sementara di sini, kita harus menjaga sikap. Jangan sampai semua yang kita lakukan sia-sia dan menjadi boomerang untuk kita sendiri,” lanjut Rich yang kini dipahami Firheith.


“Kau benar. Lantas apakah rencanamu selanjutnya?”


Rich menoleh pada Firheith, tersenyum tipis. “Tinggal enam hari lagi kita berada di Bali, waktu kita semakin sempit dan aku harus bergerak cepat sebelum pernikahanku dengan Cello. Besok aku akan menemui Tuan Morren dan meminta Alda untuk menjadi istriku. Jadi, aku memang sengaja membiarkan si Rendra itu kesenangan lebih dulu selain juga ingin menarik ulur perasaan Alda.”


Firheith menelan ludahnya kasar sambil memegangi lehernya. Bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi esok hari ketika Rich bertemu dengan Tuan Morren.


“Semoga berhasil kawan. Bagaimanapun caramu menaklukkan Alda, aku akan mendukungmu. Baik itu cara licik atau jujur.”


Rich menerawang pasti ke langit gelap ubud yang berhiaskan gemerlapnya bintang di malam itu. 


“Cinta akan mengalahkan segalanya, Fir. Lihatlah bintang di angkasa sana!” tunjuknya sehingga Firheith mengikuti dan memandang bintang itu yang berpijar di balik gelapnya malam.


“Banyak bintang di langit, satu bintang paling kecil gemerlapnya kalah dengan semua bintang. Tetapi bintang itu masih terus berpijar dan kini semakin mendekati rembulan yang bahkan sinarnya lebih terang,” kata Firheith yang kemudian merangkul Rich.


“Akulah bintang kecil itu, Fir.”


***


Motor vario yang dikendarai oleh Rich bukannya berhenti di rumah Tuan Morren di pagi itu, tetapi berhenti di persawahan. 


“Apakah ini benar sawah milik Tuan Morren, Pak?” tanya Rich memastikan ulang pada seorang petani di sana, setelah ia mendapat informasi dari Chandra semalam.


“Iya, Mister. Itu Tuan Morren-nya ada di dalam saung sana!” tunjuk petani itu ke sebuah gubuk yang atapnya dari jerami dengan struktur bangunan dari kayu yang sangat sederhana, berjarak sekitar tiga ratus meteran. “Memangnya ada perlu apa Mister-mister ini cari beliau? Kerabatnya, ya?”


“Saya ada perlu, Pak.”


“Oh, kalau begitu mari saya antar!” 


“Terima kasih banyak, Pak.” 


Petani itu tersenyum, Rich dan Firheith mengikutinya berjalan dari belakang dengan susah payah. Melewati pinggiran sawah yang licin sangat hati-hati karena seumur-umur baru kali ini, Rich masuk ke area persawahan.


“Eee, awas Rich!” pekik Firheith pada Rich yang akan tergelincir masuk ke dalam  parit, tapi petani itu langsung memegangi tangannya sehingga Rich pun tak jadi terjatuh.


“Untung ada Bapak. selamat-selamat!” kata Rich dengan nafas ngos-ngosan memegangi dada. Terang saja, karena jalan nya cuma setapak, becek dan sangat licin terkena guyuran hujan semalaman. “Makasih ya, Pak.”


Petani itu mengangguk. “Kenapa nggak nemuin Tuan Morren ke rumahnya aja sih, Mister? Kalau di sini agak repot. Kelihatannya kalian ini belum terbiasa blusukan ke sawah?” 


Dan kedua bule ini cengar-cengir mengakui hal itu. Hingga perjalanan terjal penuh rintangan itu terbayar lunas ketika mereka bertiga sampai di saung yang di maksud. Kini, jantung Rich lah yang tidak aman. Bahkan tampak sesekali keningnya diusap karena berkeringat dingin saat bertemu muka langsung dengan Tuan Morren yang beranjak dari duduk menatap Rich dan Firheith seolah tak asing.


“Tuan, ada dua Mister-mister ini yang ingin bertemu. Katanya sih, ada perlu.” Petani itu menunjuk Firheith yang terpaku diam dan Rich yang berkali-kali menelan ludah seakan Tuan Morren adalah malaikat pencabut nyawa yang terus menyoroti Rich dengan tajam.


“Aku tahu siapa mereka, terutama dia!” jari telunjuk Morren mengarah pada Rich yang seketika menahan napas. 


Firheith sudah ketar-ketir, memberi kode untuk mengajak Rich kembali dengan menarik menyenggol pinggangnya. Tetapi Rich menepis senggolan Firheith karena ia tak mau kalah sebelum berperang.


“Tinggalkan kami bertiga, Pak Joni dan kembalilah bekerja.” Setelah mengatakan itu, Pak Joni pamit hingga menyisakan Rich, Firheith dan Morren di saung sana.


“Selamat pagi, Tuan Mo—”


Morren memotong ucapan Rich. “Katakan, apa maumu datang ke sini? Belum puaskah kau menyakiti putriku dan sekarang ingin mengganggunya lagi?!  Aku heran dengan Alda, apa yang dilihat darimu yang biasa saja sampai dia dengan mudahnya terbujuk rayuan buaya menjijikkan sepertimu!”


Rich terdiam menunduk, mendengarkan kemarahan Morren yang terus mengeluarkan unek-uneknya. Ia paham bagaimana pria itu kecewa dan itu sangat wajar. 


“Bajingan!!!” teriak Morren sangat keras, lalu mencengkram kaos Rich tiba-tiba hingga mencekik lehernya. "Kau pikir mentang-mentang kau itu anak orang kaya. Lalu bisa merendahkan kami, hah?" nafas Morren memburu, giginya mengerat tajam sangat muak melihat Rich yang dianggap kurang ajar. "Setelah kau memperk*sa Alda. Kau pun mempermainkan hatinya. Apa kesalahan putriku, Rich? Dan … Sekarang kau kembali lagi ke kehidupannya di saat anakku mulai melupakanmu!"


Bugh!


Bugh!


Morren melayangkan tinju ke wajah Rich berkali-kali. Hingga Rich tersungkur ke dalam sawah.


"Rich!!" pekik Firheith akan menolong tapi Rich menghalau dari pendar matanya yang menyuruh Firheith untuk diam. 


"Tuan Morren, t-tolong maafkan aku … Aku … Aku …"


"Aku apa, hah?! Dasar bastard! Akan kuhancurkan wajahmu supaya kau tak lagi berlagak sombong dengan memamerkan ketampananmu itu pada semua wanita!" bentak Morren yang menarik Rich dari dalam sawah dengan tinjunya akan mengarah lagi ke wajah Rich yang sudah membiru.