Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
26. Can't do that



Hembusan nafas hangat Efrain, seketika membuat Alda bergelenyar dalam pejam.   Jantung keduanya bergejolak dengan manik biru Efrain yang terbungkus nafsu akan basah bibir Alda yang menggoda.


Alda gemetar  dan tak siap, saat Efrain memadankan bibirnya perlahan ke  permukaan bibirnya.  Ketakutan berlebih  tak ingin dicium olehnya, membuat  Alda tiba-tiba mendorong dada Efrain sekuat tenaga.


Efrain termangu penuh kecewa, sedangkan Alda langsung berpalis, merauk shoulder bag-nya yang sempat terjatuh di atas ranjang.


“Maaf, Ef. A-aku tak bisa,” ucap Alda terengah-engah.


Goddamn it! 


Efrain bertambah kesal, karena setelahnya Alda malah pergi.  Tapi baru sejengkal wanita itu melangkah, Efrain menahan tangannya. Sehingga Alda tercekat di tempatnya berdiri.


“Kenapa kau selalu menolak jika aku ingin menciummu?” 


Alda tak mampu menjawab.  Tersurat kekecewaan dari suara  rendah Efrain, memandang  Alda yang tak juga menoleh.  Bagaimana  mungkin Alda bisa berciuman dengannya?


Jika bayangan Richard selalu saja melintas di depan mata, beraut murka. Seolah melarangnya secara tak langsung untuk tersentuh oleh pria lain. Meskipun itu kembaran-nya sendiri. 


‘Aaaahhh!’ Jerit Alda dalam hati.


“Al, kau tak menjawab pertanyaanku?” Efrain agak mendesak, kemudian memutar Alda berhadapan.  “Sebagai kekasih, kita  telah menjalin hubungan sebulan belakangan, tak naif sebagai pria normal aku … Menginginkan mutual give and take darimu?”


Tubuh  Alda berjengit,  berucap dengan gemetar. “Tapi aku belum … Auw!”


Alda memekik atas tarikan yang dibuat Efrain di pinggangnya, hingga tubuhnya kini berada dalam dekapan Efrain. Bukannya senang, Alda justru  semakin tak nyaman. 


“Bisa tolong lepaskan aku?” pinta Alda, risih mendapat tatapan intens dari Efrain, seakan mendamba itu.


“Do you love me?” cerca Efrain seketika melebarkan netra Alda.


Alda menelusuri  jauh ke dalam iris biru Efrain dengan gugup, banyak harapan di sana terhadapnya. Tetapi sejak ia bertemu Richard lagi  dan membaca ungkapan isi hatinya di balik  foto candid-nya itu. Kini Alda diserang kebimbangan.


 


“Alda.”


Barulah Alda mengangguk dan beralasan, sambil melepaskan diri. “Eeee,  aku lupa jika setengah jam lagi aku ada  janji dengan klien.”


“Klien, siapa? Pria atau wanita?” tanya Efrain bernada cemburu.


“Putri dari Presiden Kongo. Beliau kan,  memilih studio MUA-ku untuk meriasnya nanti di acara pernikahannya, Ef.”  


“Oh …” Efrain menarik nafas lega, tak ada lagi yang perlu diragukan dari Alda yang  terlihat meyakinkan sehingga ia pun percaya.


“Kalau begitu aku pergi dulu. Bye, Ef. Sampai bertemu nanti!” Alda melambaikan tangan dan tergesa-gesa  pergi.


 Efrain tersenyum membalas lambaian-nya. “Hati-hati sayang.”


Sekilas Alda berbalik dan tersenyum pada Efrain. Kemudian turun ke lantai dasar menggunakan lift. Pergi mengendarai mobilnya dari sana, bukan untuk bertemu klien tetapi pulang ke apartemennya.


***


Matahari akan terbenam, langit pun berganti warna orange pertanda beranjak sore. Alda hampir mencapai apartemennya, tapi mendadak kerongkongannya yang kering membuatnya sulit menahan dahaga.


“Itu ada toko klontong, lebih baik aku menepi.”


Alda memarkirkan mobilnya di bawah pohon rindang, keluar dengan berlari menuju toko untuk membeli soft drink. Kelihatannya begitu menyegarkan  di balik lemari pendingin. Ia bahkan tidak sabar meminumnya dulu dan membayarnya belakangan.


“Berapa, Bu?” tanya Alda setelah menenggak setengah dari soft drink itu,  sambil mengeluarkan lembaran  uang dari dompet.


Namun, gemuruh petir mengejutkannya. Sampai dompetnya terjatuh kembali dalam tas dan hujan deras tiba-tiba mengguyur. Merubah warna langit orange yang indah itu menjadi mendung pekat.


“Pantas saja udaranya gerah, ternyata akan turun hujan.” Alda berkata pada penjual itu, ketika menerima kembalian uangnya.


“Betul, Nona. Memang akhir-akhir ini di Kinshasa  cuacanya tak bisa diprediksi. Oia, mobil Nona sebaiknya dipindah saja, jangan diparkir di bawah pohon besar itu.” Penjual toko klontong memberi saran.


Belum sempat Alda menjalankan sarannya atau bertanya alasan  si penjual memperingatkannya. Gelegar petir dahsyat pun kembali terdengar. Bahkan kali ini lebih  menggemparkan  sampai Alda refleks menutup kedua telinganya rapat-rapat  dengan tubuh gemetar.


KRAATHAKK!


BRUUGGG…!


Pohon berukuran besar itu tersambar petir dan tumbang menimpa mobil milik Alda yang terparkir di bawahnya.


“Aaaah! Mobilku?!” jerit Alda  begitu syok, refleks akan berlari ke arah mobilnya yang kejatuhan pohon besar itu. Tapi Ibu si penjual toko klontong tersebut mencegahnya.


“Lalu bagaimana dengan mobil saya, Bu? Mobil itu punya saya satu-satunya. Baru saja lunas bulan kemarin?” sedih Alda  menggulirkan air mata penyesalan. Kenapa ia begitu bodoh memarkirkan mobil di bawah pohon.


“Baru lunas?” tersentak penjual kelontong menaruh  iba. Berusaha menenangkan Alda yang menangis histeris.


Setengah jam berlalu…


“Bu, terima kasih sudah memberi tumpangan untuk saya berteduh. Maaf kalau saya merepotkan,” kata Alda sungkan sambil memberi uang sebagai tanda terima kasih.


“Eh, tidak usah, Nona. Saya ikhlas membantu, disimpan saja uangnya buat tambah-tambah perbaikan mobil ke bengkel,” tolaknya halus.


Kening Alda berlipat-lipat, senyumnya kecut. Aduh! Kan, ada asuransi. Buat apa pusing-pusing?


Ya, sudahlah. Demi menghargai Ibu itu. Alda menyimpan lagi uangnya ke dalam tas, ia berpamitan pergi karena taksi pesanannya sudah datang dan mobilnya mulai diderek oleh petugas derek.


***


Tiga hari berikutnya…


“Madame katanya mau mengurus klaim asuransi mobilmu yang penyok ke perusahaan Volayaed Insurance? Apa berkas-berkas nya sudah lengkap dari kepolisian?” tanya Yessa sedang merapikan alat-alat make up ke dalam koper khusus. Ia akan bertugas merias pengantin di Angola, selama seminggu bersama team nya.


“Aku lupa. Tapi berkasnya sudah, cuma ke perusahaan asuransinya saja yang belum,” sahut Alda yang memang belakangan ini sangat sibuk menerima job merias.


“Sebaiknya segera diurus Madam,” usul Yessa.


“Oke, akan aku urus hari ini. Tolong kosongkan jadwalku, Yessa.” Alda mematut dirinya ke depan cermin, sedikit touch up dengan memulas sedikit bedak dan lip balm supaya terlihat lebih fresh.


Udara panas di Kongo, membuat make up nya luntur. Alda tidak mau kharismanya sebagai MUA tercoreng, gara-gara tampil amburadul yang membuat ilfeel pelanggannya dan tidak jadi memilih studio riasnya.


“Tapi-tapi, aku tidak bisa menemanimu ke sana, Madame?” sela Yessa.


“Ditemani Zeina sepertinya bisa,” cetus Alda sambil mengatupkan bibir, setelah mengaplikasikan lip balm di bibir.


“Zeina kan, ikut saya, Madame?”


“Bonita, Henji, Ale dan Pevita? Masa semuanya pergi. Lalu bagaimana dengan studio ini kalau kosong.”


Yessa meringis, memamerkan deretan kawat giginya.


“Ada Pevita, tapi ia bagian resepsionis. Kalau ada reservasi untuk make up, bagaimana Madame? Apa ditutup saja seharian?” terang Yessa mengingatkan.


“Oia, kau benar. Sayang menolak rejeki, mencari uang itu sulit tapi menghabiskannya gampang. Seperti kapas yang terberai angin,” kekeh pelan Alda. “Ya, sudah. Aku berangkat sendiri saja, bye Yessa. Bekerjalah yang benar dan jangan permalukan Danurdara make up studio!” Teriaknya sambil melenggang pergi, sementara anak buahnya itu menjawab dengan sahutan beres.


***


Waktu tempuh kurang dari tiga puluh menit. Mengantarkan taksi yang membawa Alda tiba  bebas hambatan di sebuah perusahaan asuransi. Berpapan reklame besar yang bertuliskan Volayaed Insurance.


Satpam mengantarkannya ke bagian lobi, kemudian ia diarahkan ke sofa tunggu yang berada di jarak dua meter dari ruangan Ceo Asuransi itu. Kata mereka, Ceo nya sedang makan siang di ruangan tersebut  dan sedang  tidak mau diganggu.


Tapi aneh!


Hingga pukul dua siang, makan siang Ceo tersebut tidak kunjung selesai. Kaki Alda pegal duduk terus, ia berdiri meluruskan kaki agar tidak varises. Mondar-mandir di depan pintunya, sambil melirik jam di tangan.


“Lama sekali? Apa yang Ceo itu makan? Apakah ia sedang mengunyah kerikil?” kesal Alda.


Security yang berjaga di depan pintu terlihat mengelap wajahnya sering, terkadang melirik Alda diam-diam, hingga  Alda yang menyadari itu pun lekas menurunkan rok nya lebih ke bawah dan tak menyilangkan kakinya yang mulus itu lagi.


“Pak, kapan saya bisa bertemu Ceo Volayaed Insurance. Kalau begini caranya waktu saya habis terbuang. Tidak bisakah kau beritahu dia, ada tamu penting?” mengingat hanya Alda saja yang tersisa di sana.


“Iya Nona, tunggu saja sebentar lagi. Sabar ya,” tahan Security  sambil melirik tipis ke dalam kaca buram di pintu Ceo itu nampak gugup.


Seandainya dia tidak butuh tanda tangan Ceo itu, malas sekali Alda untuk menunggu. Karena menunggu adalah hal paling membosankan di dunia ini. Apalagi menunggu kepastian dari seseorang yang hanya memberikan janji palsu.


“Sabar-sabar. Bisa beruban saya di sini terus, Pak! Memangnya saya tak punya kerjaan lain apa?!”  sangkal Alda agak emosi namun security mengabaikannya.


Kini Alda yang kesal mulai menaruh curiga dengan apa yang terjadi di dalam ruangan Ceo tersebut. Hingga ketika Security yang teledor itu mengangkat handy talkie-nya dengan berjalan menjauhi pintu.


Alda menggunakan kesempatan tersebut untuk diam-diam memutar knop pintu sang Ceo, yang ternyata tidak di kunci.


Astaga, astaga!


Bola mata Alda seakan tercongkel keluar dari retina. Saat ia melihat pemandangan yang membuatnya bergidik ngeri dan tidak pernah ia duga sebelumnya.


Kemarahannya naik drastis ke ubun-ubun. Hingga nekat menyeret salah seorang di antaranya untuk keluar dari ruang Ceo itu, tak peduli jika keadaan-nya tengah polos.