
Permintaan Alda terngiang-ngiang di telinga, hingga membuat kepala Rich menjadi pusing. Alda benar, ternyata dia tak bisa memberi keputusan dengan cepat. Karena ini bukan perkara semudah membalik telapak tangan.
Rich memanggil Alda sambil memijat pelipis. "Bunny!"
Hening, setelah dia menoleh ke setiap sudut ruangan tak ada siapa pun. Rich bangun, telinganya menangkap suara gemericik air dari kamar mandi.
"Oh, rupanya dia ada di sana! Kenapa tak mengajakku sekalian?" Rich tersenyum mengingat pikirannya sendiri yang mesum.
Ingin dia bergabung, baru setapak dua tapak kaki mendekati kamar mandi, getar ponselnya yang di mode silent menyala di atas meja. Niatnya pun urung dan berbalik mengecek ponsel.
"Firheith?" sebut Rich dengan alis terangkat naik dan kening mengernyit. "Ini pasti sangat penting."
Demi supaya Alda tak mendengar pembicaraan-nya. Rich keluar dari kamar dan mengangkat teleponnya di teras yang menghadap ke arah bibir pantai.
Rich, kau harus segera pergi dari resort. Posisimu terlacak dan tak aman.
"Tak aman dari siapa?" pikirannya yang carut marut membuat Rich kurang fokus.
Cello, si gurita betina itu mengerahkan pasukan cumi-cuminya untuk mencarimu. Sekarang mereka telah bersiap dan kau tahu apa yang selanjutnya terjadi?
"Damn it! Bisa bahaya kalau gurita itu tahu aku sedang bersama siapa.” Rich menggeram sambil memukul pinggiran pagar kayu sandarannya berdiri. "Brengsek! Aku tak suka dikekang begini. Sudah di mana mereka sekarang?" tanyanya sebagai ancang-ancang mengatur waktu supaya gagal ditemukan.
Firheith memberitahu bahwa Rich masih memiliki sekitar waktu dua puluh menit.
Oleh karena itu, cepatlah pergi! Anak buah kita mungkin butuh waktu sampai ke sana. Lagi pula membuat keributan di sana, malah memancing khalayak ramai dan menambah buruk citramu nanti.
"Kau benar, Buddy. Terima kasih informasinya," kata Rich sambil memikirkan siasat.
Aku tutup dulu, segeralah pergi! Hati-hati dan jagalah kakak ipar, hehe ...
"Pasti."
Rich pun kembali masuk, segera mengganti pakaian. Ternyata bertepatan pula Alda keluar dari kamar mandi.
"Sudah selesai, Bunny?" tanya Rich melirik Alda yang begitu segar dan ranum itu, kepalanya dibuntal handuk dan telah berganti berpakaian.
Alda membuang muka. "Aku harus pulang."
"Aku antar."
"Tidak, aku mau pulang sendiri!" kekehnya sambil memunggungi Rich saat menyisir rambut.
"Masih marah, Bunny?" tanya Rich yang tak dijawab oleh Alda.
Kesal terus didiamkan, Richard tak tahan lagi dan ia pun lekas memeluk erat Alda dari belakang.
"Ah, lepaskan!" pekik Alda yang berusaha menggoncangkan tubuhnya supaya pelukan Rich terungkai.
"Jangan ngambek terus, dong! Atau mau kuhajar lagi di ranjang?" goda Rich sambil memaksa mencium pipi Alda yang terus diusap.
"Jangan cium aku!"
"Semakin kau memberontak, semakin aku menjadi gila!" ancam Rich.
Alda memutar kepala, posisi wajahnya sekarang menghadap lekat ke wajah Rich. Memandanginya dengan sikap kesal, sementara Rich tersenyum gemas.
"Cup!"
Dengan secepat kilat, Rich mengecup bibir Alda yang manyun. Sehingga Alda yang mendapat kejutan itu secara tiba-tiba, tubuhnya membeku.
Tidak buang kesempatan, Rich menenggelamkan lagi ciumannya. Namun, kali ini lebih dalam nan bergairah sehingga Alda yang tadinya marah pun luluh. Otaknya tak bisa sinkron dengan hatinya yang meletup-letup kini, mengikuti gerakan bibir Rich yang hangat.
Rasa manis, legit meredamkan segala amarah di jiwa. Berpadu menggetarkan seluruh tubuh. Tiada henti saling berbalas dan membelit. Hingga Alda melupakan semuanya dengan hanya mengingat satu hal.
Jika pria di hadapannya ini cintanya, hidupnya dan pemilik seluruh dirinya. Tanpa sadar ia semakin menikmatinya lebih jauh, dengan erat memeluk Rich ketika kekasihnya membawa ke atas pangkuan.
"Bunny ..." suara parau Rich yang berat sangatlah seksi mendebarkan jantung Alda.
Sekujur kulit Alda meremang, begitu ibu jari Rich mengusap bibirnya yang basah. Alda menelan salivanya, tatapan keduanya penuh cinta beradu nafas terengah-engah usai berciuman.
"Ya?"
Rich menggenggam tangan Alda lalu mencium sambil memandanginya. "Tetaplah di sisiku, apa pun yang terjadi. Percayalah! Hanya namamu yang terukir di hatiku. Di sini!"
"Benarkah?" tanya Alda dengan mata berkaca-kaca, terenyuh akan setiap ulasan dari bibir Rich yang berisi mantra-mantra cinta.
Rich mengangguk. Perlahan, Rich menyentuhkan telapak tangan Alda di dadanya.
Dag, dig, dug.
Alda membuka kelopak matanya lebar. Dia dapat merasakan gerakan jantung Rich memompa sangat cepat, layaknya alunan musik beat.
"Sayang."
Riuh Alda menggaungkan panggilan manis untuk Rich, sebelum ia tak segan menubrukkan dirinya memeluk pria ini. Rich tersenyum senang membalas pelukan Alda. membelai pucuk kepala Alda dan menciumnya.
"Tetaplah seperti ini cintaku. Aku berjanji jawaban yang kau minta akan segera kuberikan, tapi tolong berikan aku waktu?" pinta Rich di sela-sela pelukan.
Alda mengangguk sambil mempererat pelukan, ternyata berada dipelukan Rich sangatlah nyaman dan ia merasa terlindungi. Tak pernah ia rasakan ini sebelumnya, hingga Alda tak ingin waktu berlalu dengan cepat.
"Kau mencintaiku, kan?"
"Sangat!" jawab Alda tanpa ragu lagi akan perasaannya.
"Coba katakan lagi, aku ingin mendengarnya?" pinta Rich begitu berbunga-bunga. Perjuangan dan penantiannya selama ini tak sia-sia.
"Aku mencintaimu sayang. Rich ku yang tampan dan mesum," kata Alda malu-malu, menyembunyikan wajahnya di dada Rich yang ingin dijadikannya sandaran hidup.
"Aku juga sangat mencintaimu," balas Rich, kemudian mengecup kening Alda lama.
"Sayang, sampai kapan kau memberi keputusan? Jangan lama-lama?" tanya Alda membuat senyum Rich terkikis.
Rich seketika teringat akan Cello. Wanita itu punya andil besar di hidupnya. Hatinya terongrong sakit dan tak kuat bila ia harus menyakiti Alda karena sesuatu yang tak bisa dikatakan.
Dibandingkan Cello yang hingga kini tak pernah ia cintai. Hanyalah Alda pemilik seluruh jiwa dan raganya. Bahkan setiap hembusan nafas Rich, teriring nama Alda seorang.
"Tidak akan lama lagi," Rich tak berani menjanjikan sesuatu. Namun, setidaknya ia akan berjuang keras demi masa depannya nanti. "Kau percaya padaku, kan?"
"Iya." Alda menatap Rich yang nampak sedih, kedua tangannya menangkup rahang kokohnya yang diusapnya dengan lembut. "Ada apa?"
Rich membuang muka tak kuasa melihat harapan besar di mata Alda yang bisa saja membuat Rich kehilangan akal sehat. Apa pun demi Alda akan dilakukan.
"Tidak ada, Bunny. Ayo kuantarkan kau pulang!"
"Baiklah," Alda turun dari pangkuan Rich.
Berdua bergandengan tangan keluar dari Resort Commonwealth, setelah cekout. Tak pernah sedetik pun mata mereka lepas terpaut, senyum kebahagiaan terpancar.
Hingga sepanjang perjalanan mereka duduk bersebelahan di mobil dan tiba di rumah Alda. Rich membukakan pintu dengan senyum terbaiknya.
"Silakan my bunny."
"Terima kasih sayangku," Alda membalas senyuman Rich.
Sementara Eve yang mendengar deru mesin mobil berhenti di halaman rumah Alda. Ia pun tergerak mengintip dari celah gorden, begitu terperanjat saat melihat sahabatnya tengah berciuman dengan seorang pria yang belum jelas wajahnya.
Eve mengucek mata barangkali takut salah lihat, karena ia merasa aneh. Bukankah Alda telah kembali ke Indonesia? Namun, sekarang sahabatnya itu sudah ada di depan rumah.
Antara bingung dan pusing, Eve pun sempoyongan ke dapur untuk bergegas mengambil obat sakit kepala dan segelas air.
**
"Bye, sayang. Hati-hati di jalan!" Alda melambaikan tangannya pada Rich di dalam mobil.
"Masuklah! Jika tidak, aku akan menginap di rumahmu."
Tentu saja itu sebuah gertakan tapi berhasil membuat Alda segera menurutinya. Jika memungkinkan Rich bisa saja bukan menggertak tapi menjadikannya sebuah kenyataan.
"Kau ini!" desis Alda memanyunkan bibir, membuat Rich gemas dan bernafsu ingin menculiknya. Ketika wajah Alda semakin cantik jika begitu.
"Nanti malam akan aku sempatkan meneleponmu, Bunny."
"Aku tak sabar menunggu itu!" balas Alda.
Oh, Tuhan. Rich tak salah mendengar itu, Alda membuatnya tergila-gila. Lalu ia pum melempar kiss bye dan menekan klakson sebagai tanda ia akan segera pergi setelahnya.
...----------------...
Masuk ke teras rumahnya, Alda bersenandung riang sambil tersenyum sendiri mengingat kebersamaan berdua dengan Rich yang sukar dilupakan.
Tok! Tok!
Alda mengetuk pintu karena ia tak punya akses masuk, ketika ia telah menyerahkan semua kuncinya pada Eve. Begitu pun untuk sekadar menelepon kebetulan baterai ponselnya pun sedang lowbat.
"Ya, tunggu!" sahut Eve dari dalam lalu membuka pintunya.
"Eve!" pekik Alda langsung memeluk sahabatnya itu sangat heboh, Eve sampai kesulitan bernafas akan pelukan Alda yang begitu erat.
"Waduh, waduh! Katanya pulang ke Indonesia? Tapi kok pulangnya sama, oh! Siapa pria itu kok mirip, Efrain? Itu kembarannya si Richard, kan?" tanya Eve.
Alda menganggukkan kepala. Eve menyelidik penampilan Alda yang begitu segar dan nampak cerah. Berbalik dengan dua hari lalu, saat sahabatnya itu berwajah murung.
"Aku tak jadi pulang dan ..."
"Dan jadian dengan Rich?" tebak Eve.
"Iya, kekasihku." Alda menggigit bibir, senyumnya merekah dan berlalu meninggalkan Eve untuk duduk di sofa.
Eve menyusul duduk di sebelahnya, rambut Alda yang menutupi leher pun tiba-tiba tergerai angin. Tanpa sengaja terlihat oleh Eve, di sana menampilkan tanda merah di leher itu yang berjumlah lima.
"Astaga!" Eve membekap mulutnya. "Itu! Kau sudah?"