Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
66. I'm Coming My bunny




Hewa Bora Airways penerbangan internasional dari Kongo — Kinshasa. Baru saja tiba di I Gusti Ngurah Rai Air port malam itu, setelah berjam-jam lamanya mengudara.


Setelah dipastikan  pesawat mendarat sempurna di landasan parkir. Pramugari menginstruksi seisi penumpang pesawat untuk beriringan turun melewati Garbarata — Jembatan penghubung ruang tunggu penumpang ke pintu pesawat terbang atau sebaliknya.


Richard dan Firheith pun terlihat berbaur dengan para penumpang lain, hingga sekarang mereka berdua telah berada di lantai dasar ARRIVAL Airport dan sedang menuju ke luar bandara.


“Akhirnya aku bebas! Alda, my bunny, sweety, lovely, honey … I’m coming!” Rich alias Rockie menengadahkan wajahnya ke langit dan berteriak lepas sambil melebarkan kedua tangannya.


Firheith meringis dengan kepala menggeleng. “Rich. oh, ya ampun! Jangan berteriak macam orang gila! Kau seperti anak ayam yang baru lepas dari kandang singa saja? Berlebihan!”


“Kau tak tahu bagaimana rasanya berbunga-bunga itu bagaimana, Fir? Di sini tak ada Cello atau daddy nya yang akan menggangguku. Makanya aku bahagia.  Bahkan sebentar lagi, aku akan bertemu Alda.” Rich tak terima lalu memberi Firheith nasihat dengan seenak jidat. “Jatuh cintalah pada seorang wanita, Fir. Sebelum ajal menjemputmu!”


Napas Firheith pun berhembus kasar, lalu melipat tanga dan melirik sinis pada Rich. “Maksudmu jatuh yang menyakitkan seperti kau itu? Jatuh cinta? Sorry, aku tak berminat.  Kau yang jatuh cinta saja sudah merepotkan aku dan memaksaku ikut untuk mengejar cintamu sampai ke Indonesia ini. Ayolah! Wanita itu hakikatnya dari dulu dijajah pria? Bukan pria yang dijajah wanita, yang seperti kau ini?”


Rich menatap kesal pada Firheith. 


“Brengsek! Aku tak dijajah tapi sekarang mencari lubang jajahan terakhirku. Kau ini cerewet sekali seperti mamamu, Fir. Begini saja, nanti gajimu akan aku naikkan sepuluh kali lipat sebagai gantinya.”


Sehingga setelah mendengar itu, wajah Firheith pun kembali cerah dan tidak merengut lagi. Tetapi saat mereka berdua tak lagi berdebat, tiba-tiba Rich menggaruk brewok palsunya.


“Aduh! Kok mendadak gatal, sih ? Apa kau tidak merasakan itu juga pada janggut palsumu, Fir?” tanya Rich pada Firheith yang terlihat baik-baik saja.


“Janggut palsuku aman-aman saja. Lepaskan saja brewokmu itu nanti setibanya di hotel. Pasti kulitmu yang biasa perawatan dengan sentuhan wanita seksi itu, sekarang iritasi karena tak terjamah!” komen Firheith membuat Rich mengumpat.


“Damn it!”


Firheith tertawa lucu lalu merangkul bahu Rich. “ Ya, sudahlah Bos. Ayo sekarang kita mencari mobil jemputan kita! Aku sudah lelah karena penerbangan lama ini dan ingin segera beristirahat.”


Rich pun mengangguk setuju, kemudian mereka berjalan kembali. Kemudian dari kejauhan, Firheith mendapati seorang bapak-bapak dengan topi khas Bali — Udeng berwarna merah yang mengenakan kaos hitam. Terlihat mengangkat sebuah kertas karton yang bertuliskan nama mereka berdua dengan kepala celingukan.


“Omong-omong. Itu Pak Chandra, kan?” Firheith bertanya pada Rich sambil mengarahkan jari ke arah pria tua di dekat jejeran mobil-mobil taxi.


“Ya, itu Pak Chandra. Ayo kita hampiri dia!” ajak Rich sambil melambaikan tangan pada Pak Chandra dengan antusias.


Chandra — Pria setengah baya — Kenalan Rich dulu saat ia pertama kalinya pergi ke Bali mencari Alda. Kini, Chandra dimintai-nya tolong  selama seminggu Rich berada di Bali. Sekaligus menjadi informannya untuk mengawasi Alda setiap saat. Tepat setelah Yessa memberitahu di mana alamat wanita idamannya itu tinggal.


“Welcome to Bali pria-pria tampan. Halo Mr. Rich, apa kabar?” tanya Chandra tersenyum ramah juga pada Firheith yang kemudian diajaknya berjabatan tangan. Chandra fasih berbicara dalam bahasa Inggris sehingga mereka akan lebih mudah berkomunikasi.


Tetapi, Rich yang melepas rangkulannya dari Chandra. Malah mengajak Chandra untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Walaupun agak campur-campur dengan bahasa Inggris dan logat lidahnya yang belum terbiasa, sehingga membuat Firheith tercengang dan langsung menanyakan itu.


“Sejak kapan kau bisa berbahasa Indonesia, Rich?”


“Sejak aku menjalin hubungan ku lebih serius bersama Alda. Ya, demi cinta … Ehm! Maksudku demi Alda.” Rich berujar yang membuat Firheith mengulum senyum.


“Amazing! Nanti ajari aku juga ya, Rich.” Kemudian Firheith mencondongkan bibirnya ke telinga pria itu untuk membisikkan sesuatu. “Supaya aku bisa menggaet wanita Indonesia yang katanya cantik-cantik itu. Siapa tahu?” 


Kode-kode berupa alis pria suka jajan sembarangan ini naik turun dengan otak kotornya yang sudah travelling ke mana-mana. Sehingga Rich mengangguk paham.


“Oke, tapi jangan lupa pakai pengaman. Karena kasihan anak orang jangan sampai kau hamili sembarang lalu kau tinggal pergi begitu saja. So …” Rich mengecamnya dengan membuat gerakan dua jari yang diarahkan ke matanya lalu ke mata Firheith. “Aku tak ingin punya keponakan beraneka ras!”


“Haha, beres Bos!” Firheith tertawa senang.


Dan canda gurau mereka pun buyar, begitu mendengar suara khas dari orang tua yang berasal dari Chandra. Seketika menolehkan kedua pria mesum itu.


“Mari masuk ke dalam mobil! Biar saya bawakan barang-barang Anda, Mr. Rich dan Mr. Firheith.” Chandra mempersilahkan kedua pria itu duluan, ketika mobil yang dibawanya diparkir tak jauh dari lokasi mereka berdiri.


**


**


“Well … Apakah ada informasi mengenai Alda, Pak Chandra?” tanya Rich selama di perjalanan menuju hotel.


“Ada Mr. Rich. Menurut informasi yang saya dapat dari informan saya yang  tersebar. Jika Pak Morren— papinya Mbak Alda itu sangat membenci Anda,” jawab Chandra.


Jantung Rich seperti dihujam linggis, bahkan nyaris berhenti berdetak dan membuat ia langsung paham. Bahwa Morren pasti sudah tahu segalanya tentang bagaimana perlakuan buruk Rich di masa lalu pada putrinya dan kini, pria tampan idola sejuta kaum hawa itu menjadi berubah murung.


“Maafkan saya, Mr. Bukan saya bertujuan melukai Anda dengan kabar ini. Tetapi, saya hanya menyampaikan informasi apa adanya tanpa dilebih-lebihkan.” Chandra merasa tak enak hati dan sangat menyesal karena terburu-buru mengatakannya.


Rich tersenyum tipis sambil mengangkat wajahnya yang tampak lesu. “I’ts oke Pak Chandra. Aku fine, kau tak usah cemas.”


 Kemudian Rich mengalihkan tatapannya ke jendela luar, melihat mobil lain berlalu lalang dengan menggigit jarinya dan berpikir keras walau hatinya saat ini dilanda gelisah.


“Sabar, Bro.” Firheith kasihan pada Rich lalu merangkulnya. “Kau harus merayu papinya dan mengambil hatinya, baru setelah itu anaknya. Percayalah! Itu cara terampuh . Jika jurus itu tak berhasil, pakailah jurus yang terakhir. Culik Alda dan ajaklah kawin lari. Beres, kan?” solusinya tak mau ambil pusing. “Hamili Alda kalau perlu dan aku sangat yakin pasti papinya akan memberimu restu!”


“Benar itu!” celetuk Chandra sambil menyetir.


Rich memikirkan solusi Firheith yang ada benarnya. “Tumben otakmu encer dan sejak kapan kau ahli dalam bidang asmara? Well, sepertinya aku perlu berguru padamu Suhu Firheith.”


“Siapa dulu lah? Firheith!” timpalnya menyombongkan diri sambil menepuk-nepuk dada.


“Maaf, kalau boleh tahu. Apakah Mr. Fir sudah beristri? Idenya sangat brilian. Saya takjub mendengarnya?” tanya Chandra yang menurutnya Firheith sangat berpengalaman.


Mendengar perkataan Chandra. Rich yang murung, kini mendadak terpingkal-pingkal. Sehingga raut Firheith langsung merengut.


“Haha, jangankan beristri, Pak Chandra. Sahabatku menikah saja belum? Tapi sudah sering menghabiskan malam pertama sampai malam-malamnya basi.” Rich puas mengatai Firheith, sedangkan Chandra hanya berani menahan tawa.


“Terserah, terserah! Dasar si paling alim. Kita ini sama-sama bastard. Tetapi kau yang paling parah? Istri tak punya, sudah bercita-cita memiliki dua istri.’ Firheith yang tersinggung pun lalu menyindir Rich dalam bahasa Spanyol, sehingga Chandra tidak mengerti.


Hingga tak terasa mereka bertiga sudah tiba di tujuan. COMO Ubud Bali — Ubud Bali Luxury Resort. 



Rich dan Firheith kemudian keluar dari mobil dengan wajah-wajah penuh kebahagiaan dan tersenyum lebar, melihat resort itu yang menakjubkan. Bahkan Firheith, langsung jatuh cinta pada pesona Bali sejak pandangan pertama kalinya ini.


“Wow! Oh … My God!!” Firheith berseru lalu memutar tubuhnya menghadap Rich. “Melihat resort ini membuatku ingin berenang. Oia, Pak Chandra. Apakah pantai jauh dari sini?” tanya Firheith yang tampak tak sabaran, ingin menceburkan dirinya ke laut. Setelah dipenuhi berbagai rencana dadakan yang diubahnya menjadi liburan dengan snorkeling, diving dan berselancar atau apapun itu yang berkaitan dengan pantai.


“Hanya beberapa menit dari resort Como, Mr. Fir. Besok saya bisa mengantar Anda jika mau,” jawab Chandra.


Rich menimpali, “sudah malam, Fir. Katamu lelah, besok saja.”


“Ayolah!” rengek Firheith seperti anak kecil yang malah membuat Rich berubah haluan dan emosi.


“No. Tujuanku ke sini bukan berlibur tapi untuk sebuah misi dan jika tujuanku belum tercapai maka kau …” Rich menuding Firheith dengan tajam. “Tidak boleh ke pantai dulu atau keluyuran, sebelum aku berhasil merebut bidadariku dan membawanya kembali ke Kongo!”


Tubuh Firheith langsung lemas dan membuang nafas panjang.


“Baiklah Senor Richard.”


“GOOD! Sekarang ayo kita masuk ke dalam resort! Mandi dan makan malam lalu tidur!” setelah mengatakan itu, Rich melenggang pergi meninggalkan Firheith di belakang. 


Disusul Chandra yang membereskan semua. Termasuk awal kedatangannya hingga check in dan kebutuhannya selama seminggu mereka berdua di Bali.


...----------------...



Tipe Luxury per malam yang berkisar tiga juta rupiah lebih, dipilih Rich untuk melepas lelahnya malam itu. Baginya ini terbilang murah, dibandingkan biasanya ia menginap di negara-negara lain dan Rich memang tak pernah pelit mengenai uang demi menyenangkan diri. Karena Rich memiliki prinsip, hidup cuma sekali dan uang tak akan bisa dibawa mati. Jadi, selagi uangnya masih banyak. Rich akan menghabiskannya.


“Alda sayangku …” Rich menggeser layar galeri sambil memeluk guling, memandangi foto selfie-nya bersama Alda waktu lalu yang membuatnya tiba-tiba terserang malarindu.


Rich pun mengelus-ngelus foto itu lalu menciumnya dalam-dalam sebagai pengantar tidur.


“Tunggu Bli Richard datang my bunny. Apapun yang terjadi, kau harus menjadi milikku. Meskipun nanti, aku harus melawan papimu atas penolakannya. Aku, Richard Louis bersumpah. Kali ini, aku tak akan menyerah sebelum bisa membawamu pulang ke negaraku!!”


Bersambung ...